Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 42


__ADS_3

Bugh!


Bugh!


Bugh!


Tiada henti Alden disiksa secara brutal oleh sekelompok anggota dari Budi karena ia berani melarikan diri, akibat karena kakinya yang pincang akhirnya ia pun dapat diburu dengan mudah saat ia mulai terseok-seok dalam pengejaran. Bisa saja ia dibunuh oleh mereka dengan mudah, hanya saja sepertinya mereka masih mempertimbangkan dan lebih baik menunggu perintah dari atasan.


Semburan darah keluar dari mulut Alden dengan seketika, saat satu anak buah dari mereka melayangkan bogeman tepat mengenai ulu hatinya, pandangannya mulai mengabur dan sedari tadi ia sama sekali tak berhenti berteriak karena kesakitan, namun mereka sama sekali tak ada niatan untuk menghentikan pukulan.


Wajahnya dipenuhi lebam dan beberapa luka hampir di seluruh bagian terlihat mendominasi. Alden yang terduduk dalam belenggu tak mampu berontak sedikitpun, ia harus pasrah menerima setiap serangan yang membabi buta dan terus menghujaninya. Ia tak bisa melakukan apapun, sungguh ia belum siap jika harus mati dengan cepat. Bukan tanpa alasan karena masih banyak hal yang harus ia lakukan, termasuk ia ingin menebus kesalahannya pada Elsa namun ia masih belum bisa mendapatkan kesempatan itu. Rasanya terlalu banyak sekali rintangan yang tak mudah untuk dilalui.


Sementara Elsa dan Willy yang baru saja sampai di mansion dengan hati-hati Willy memapah Elsa. Dan seketika saja mereka langsung disambut dengan suara teriakan dan erangan kesakitan dan juga suara-suara pukulan yang begitu keras yang terdengar sangat kasar. Elsa yang melintasi ruangan itu benar-benar merasa ngeri sendiri tatkala mendengar suara seorang pria yang merintih kesakitan, sementara Willy terlihat begitu santai menanggapi suasana yang sedang terjadi.


"Itu suara apa?" tanya Elsa pada Willy dengan sedikit berbisik.


"Hm, abaikan saja." kata Willy acuh.


Seketika saja Ela langsung menghentikan langkahnya, dan ekspresinya terlihat berubah.


"Ada apa, El?" tanya Willy beralasan.


"Dia seperti kesakitan," ucap Elsa pelan.


"Itu wajar El, pria itu sedang di pukul. Apa kau ingin berbicara dengannya?" tawar Willy yang membuat kening alis Elsa menyatu di tengah. Ia tak mengerti mengapa Willy menawarinya untuk berbicara dengan pria yang sama sekali tak ia kenal.


"Kenapa aku harus berbicara dengannya?" tanya Elsa beralasan.

__ADS_1


"Sebenarnya kau pasti akan terkejut mendengarnya, El."


"Karena?" tanya Elsa yang semakin penasaran.


Willy terdiam sesaat sebelum akhirnya ia berbicara. "Dia adalah pelaku dari pembunuhan Ayahmu dan yang telah membuatmu buta, El." jawab Willy jujur yang membuat Elsa terperangah seketika.


"Apa?" kejutnya.


"Aku berhasil membawanya kesini, itu demi janjiku padamu, El. Percayalah, aku akan membunuhnya secara perlahan. Agar dia bisa merasakan kepedihan yang kau alami selama ini." ujar Willy seraya meraih kedua bahu Elsa dan menatap matanya lamat-lamat, sementara sepasang mata Elsa terlihat mulai berkaca-kaca.


Tangan Elsa mengepal kuat di samping tubuhnya, sungguh ia merasakan amarah itu tengah menggebu sekarang. Masih tercetak jelas bagaimana peristiwa malam itu, tentu membuat hatinya tercabik dan terasa perih.


"Aku ingin bicara dengannya, Will!" pinta Elsa serupa lirihan namun terdengar tegas dengan diiringi air mata yang jatuh berlinang.


Willy terlihat mengangguk seraya menghapus air mata Elsa dengan jarinya. "Baiklah, ayo ikut aku."


Willy dan Elsa masuk kedalam ruangan, suara pukulan dan teriakan terdengar begitu mendominasi membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa ngeri. Sedari tadi air matanya sama sekali tak berhenti berlinang dan tak dapat ditepis lagi betapa ia begitu merasa sedih dan juga merasa sakit hati.


"Akh..." teriakan kesakitan terdengar saat pukulan itu kembali dilayangkan pada wajah Alden, hingga mengenai pangkal hidungnya lalu mengucurkan darah.


Wajah Alden semakin babak belur dan siapapun yang melihatnya pasti takan mengenali wajahnya. Karena sekarang wajahnya tak berupa karena dipenuhi luka dan juga bengkak.


Bugh!


"Akh..." ringis Alden dengan kepala tertunduk lemah.


"Tolong hentikan! Nona ini ingin bicara dengan pria terkutuk itu!" teriak Willy seketika yang membuat semua mata tertuju padanya. Termasuk kepala Alden yang kini perlahan terangkat.

__ADS_1


Seketika saja Alden pun langsung tersentak bercampur dengan rasa rindu yang berbarengan hadir secara bersamaan, saat ia melihat dengan mata kepalanya langsung bahwa sosok gadis itu adalah Elsa.


"Elsa?" Alden berbicara tanpa suara, ada perasaan campur aduk yang tak bisa ia gambarkan. Sungguh ia sangat begitu merindukan Elsa.


Tapi, kenapa wajah Elsa terlihat menyala? Alden bisa menebaknya pasti Willy sudah mengatakan fakta yang sebenarnya.


"Elsa? Apa kau baik-baik saja? El, apa kau sudah tahu semuanya?" batin Alden berkata dengan lirih seolah ia tak kuasa menahan rasa sedih bercampur dengan rasa sesal yang sama sekali tak pernah bertepi. "Tidak mungkin secepat ini," batin Alden berkata resah seraya menggeleng samar.


Tangan Elsa mengepal kuat, rahangnya terlihat mengeras, bibirnya bergetar, sepasang matanya terlihat nyalang dan wajahnya menyala. Menandakan bahwa akan ada ledakan amarah yang seperti sudah tak terkendali lagi disana.


"K-kau? Apa itu kau?!" Elsa berseru keras, sementara Willy langsung merangkul bahu Elsa dengan erat seolah ia ingin menguatkannya. "Apa kau pelakunya?!" sentak Elsa keras. "Kau yang telah membunuh ayahku dan kau yang telah membuatku buta?! Apa kau sama sekali tak pernah merasa bersalah setelah apa yang kau lakukan ternyata membuatku menjadi seperti ini?!" Elsa meluapkan segala emosi yang ada sambil bercucuran air mata.


Alden mendengar kemarahan Elsa, sungguh ia pun tak dapat membendung kesedihannya. Air mata penyesalan darinya sungguh sama sekali tak berguna sekarang, ia mengerti bagaimana rapuhnya Elsa saat ini. Siapapun pasti tidak terima dengan tindakan kriminal yang pernah ia buat, apalagi ini menyangkut nyawa orang yang disayangi.


"Kau jahat, aku yakin kau pasti tidak pernah merasa bersalah karena kau sudah kehilangan hati nurani! Setelah apa yang kau lakukan kepada ayahku, dan juga kepadaku, aku begitu menderita. Apa kau puas, hah?! Seandainya aku bisa melihat rupamu aku takan membiarkanmu tertawa licik saat itu! Apa kau merasa bangga dengan apa yang kau lakukan, hah?!" berang Elsa berucap dengan bibir bergetar dan sebuah isakan pun lolos dari bibirnya. Sungguh ia tak sanggup menahan isakan yang semakin membuat dadanya terasa sesak.


Willy menatap wajah Elsa dengan perasaan iba yang sama sekali tak bisa disembunyikan, sungguh ia tak tega melihat Elsa Bersedih seperti ini. Alden tertunduk ia berusaha untuk tidak terisak meskipun air matanya mulai jatuh membasahi pipinya. Dadanya sesak, penyesalan itu semakin tak berhenti menggerogotinya. Kini Elsa sudah tahu bahwa ia pelakunya. Musnah, musnah sudah harapannya untuk membuat Elsa bahagia sebelum kebenaran itu terbongkar, nyatanya kebenaran itu terbongkar lebih cepat itulah pikiran Alden seraya ia tak berhenti merutuki diri.


"Aku harap aku bisa mengirimmu ke neraka, kau harus menanggung akibatnya! Kau jahat! Jahat!" tangisan Elsa pecah seketika, ia memegang dadanya yang terasa sangat sesak seraya menangis dengan menyayat hati. Ia tak bisa membendung kesedihannya sekarang. Marah, sedih, bercampur menjadi satu.


Seketika saja Willy langsung berhambur memeluk Elsa dengan sepasang matanya yang ikut berkaca-kaca, ia tak sanggup jika melihat Elsa seperti ini.


"Sudah El, biarkan yang lainnya menghajar pria keparat itu! Kau tenang saja, sebaiknya kau istirahat." bisik Willy menenangkan dengan gigi bergemeletuk seraya menatap Alden dengan tajam dan penuh dengan dendam. Sementara Elsa tetap saja menangis.


"Kalian semua dengar! Jangan berikan dia makanan atau minuman! Wajib untuk kalian semua untuk menyiksanya! Biarkan dia mati secara perlahan dan awasi dia!" perintah Willy tegas sementara anak buah pun mengangguk paham.


"Baik!" sahut mereka serempak.

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Willy langsung memboyong Elsa untuk segera meninggalkan ruangan itu, terus terang ia semakin tak kuasa jika harus melihat Elsa terus bersedih seperti itu.


__ADS_2