Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 57


__ADS_3

Esok paginya …


"Tuan, Nona Elsa sudah sadar!" seru perawat Bramantyo setelah melihat sepasang mata Elsa yang kini perlahan terbuka.


Bramantyo langsung tersenyum sendu saat melihat Elsa perlahan terbangun dari posisinya dengan sedikit meringis pelan karena ia masih sedikit merasakan sakit di beberapa bagian.


"El," panggil Bramantyo lembut.


Elsa berusaha menelisik suara itu dan ia kenal dengan suara khasnya. "Om?" sebutnya dengan nada tanya.


"Syukurlah, kau sudah sadar." ucap Bramantyo dengan bibir bergetar dengan disertai air mata yang berlinangan.


Meskipun Elsa tak dapat melihat, tapi ia masih bisa menangkap dengan jelas bagaimana suara Ayah Alden yang seperti sedang menangis. Tentu karena hal itu pun membuat Elsa khawatir.


"Om, Om baik-baik saja 'kan?" tanya Elsa mencoba memastikan.


"Om, minta maaf padamu, Nak." seketika saja Bramantyo pun langsung menggenggam kedua tangan Elsa dengan erat. Kepalanya tenggelam di kedua tangan Elsa sementara Bramantyo tak berhenti menangis sesegukan.


"Om, Om kenapa? Kenapa Om minta maaf?" tanya Elsa panik dengan perasaannya yang tak tega pada Bramantyo.


Bramantyo tak mengatakan apapun lagi selain ia hanya bisa menangis dan menangis, seakan tangisannya mengisyaratkan sesuatu dan membuat Elsa merasakan denyutan nyeri mengenai ulu atinya.


Sementara di suasana Alden perlahan matanya pun terbuka, pandangannya langsung menerawang langit-langit ruangan yang ia sendiri belum tahu dirinya berada dimana.


Ia melirik ke samping dan melihat cairan infus yang menetes lalu mengalir menuju selang infus yang langsung tertuju pada punggung tangannya. Ia memegang kepalanya yang terbalut perban hingga membuatnya meringis karena rasa sakit di kepalanya sungguh tak tertahankan.


Perlahan ia pun beringsut duduk di brankar, ia melihat situasi ruangan yang sangat begitu sepi. Sampai akhirnya air matanya pun tak berhenti menetes, ia pikir bahwa ia telah tewas tapi ternyata Tuhan masih memberikan ia kesempatan untuk tetap hidup.


"Aragggh!" seketika saja Alden berteriak bersamaan dengan terputarnya cuplikan dimana ia telah membunuh Dirly dan mencelakai Elsa, hingga membuat rasa bersalahnya kian besar. Terlebih saat cuplikan Elsa mengatakan bahwa ia hamil, sungguh berhasil membuat Alden semakin begitu kacau.


Alden menangis seraya meremas rambutnya kuat-kuat, ia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia sering kali dihantui rasa bersalah. Ia pikir sekarang ia telah mati, setidaknya jika ia telah mati ia bisa menebus sedikit kesalahannya dan Tuhan akan menghukumnya di neraka. Akan tetapi, hal itu sungguh tak terjadi dan itu artinya Tuhan ingin ia segera menebus dosanya pada Elsa.


"El, aku mencoba untuk melarikan diri dari hukuman dunia tapi ternyata aku tak bisa. Entah mengapa disaat aku benar-benar ingin menebus semua dosaku padamu, rasa takut kehilanganmu kini malah semakin besar. Aku takut kau akan marah padaku, aku takut kau akan membenci diriku dan aku takut kehilangan cintamu. Aku masih belum sanggup menerima resiko itu, aku benar-benar seorang pengecut!" Alden bermonolog sendiri seraya sesegukan, ia menyugar rambutnya gelisah kemudian ia pun berteriak lagi. "Arggghhhh!"


Dua hari kemudian …


Elsa terlihat sedang duduk di kursi roda tanpa ditemani siapapun dan ia hanya diam tepat di depan jendela kaca yang yang berembun, seakan-akan ia sedang melihat ke arah sana meskipun kenyataannya ia tak dapat melihat pemandangan semacam itu.


Sepasang matanya hanya bisa menatap lurus ke depan dengan kedua bola matanya yang kini mulai diselimuti lapisan bening, hingga akhirnya air matanya pun jatuh membasahi pipi dengan bibirnya yang bergetar seakan ia sedang menahan isakan agar tak lolos dari bibirnya.


Ku kumpulkan kepingan hati


Yang kau hancurkan jadi serpihan

__ADS_1


Kali ini kamu terlalu


Hingga harga diriku terinjak


Elsa teringat dimana ia mencium bibir Alden malam itu sampai akhirnya mereka benar-benar terbuai dengan cumbu. Elsa masih ingat bagaimana Alden mengutarakan perasaannya setelah sesi cumbu itu berakhir di atas tempat tidur dengan tubuh mereka yang sama-sama telanjang dan berpelukan.


Menancapkan di hati ini


Perihnya meradang tak sembuh sembuh


Walau aku s'lalu bertahan


Tapi kali ini aku runtuh


"El," panggil Alden dengan nada lembut.


"Hm?"


"Aku mencintaimu," ungkap Alden berterus terang, hingga membuat kepala Elsa tengadah meskipun ia takkan bisa melihat rupa Alden.


"Itu tidak mungkin, Al." tepis Elsa sadar diri.


"Kenapa kau berpikir bahwa semua itu tidak mungkin?" Alden balik bertanya dengan suara paraunya.


"Kau salah, El." sahut Alden seketika.


"Aku benar, Al." balas Elsa yang tak ingin melambung terlalu tinggi.


"Mungkin kau merasa demikian, tapi aku memang sangat mencintaimu, El. Terlepas dari bagaimana kondisimu saat ini. Entah mengapa aku sangat begitu mencintaimu dan aku mohon kau jangan bertanya alasannya apa."


"Tapi aku ingin bertanya, Al. Apa alasanmu mencintaiku?" sambung Elsa cepat.


Alden terdiam sesaat, ia tahu apa yang dipikirkan Elsa saat ini. Sampai akhirnya ia pun menjawab pertanyaan itu sesuai dengan apa yang sedang ia rasakan saat ini.


"Alasannya karena saat bersamamu aku merasa bahwa aku melihat dosa-dosaku di masa lalu dan aku ingin memperbaikinya. Bersamamu aku bisa menyadari kesalahan apa yang telah aku perbuat selama ini, dan aku berharap cinta ini takkan pernah pudar seiring dengan berjalannya waktu." jawabnya lugas dan berkata dengan apa adanya.


"Al–" Elsa hendak berbicara namun detik berikutnya Alden pun langsung menghentikan ucapannya dengan jari telunjuknya yang kini menempel di bibir Elsa.


"Ssuuuutt … El, apa kau percaya cinta tulus?" tanya Alden seraya menatap wajah Elsa dengan tatapan tulusnya.


Elsa menggeleng. "Ketidakpercayaan diriku membuatku sulit untuk percaya dengan adanya cinta tulus, Al." jawab Elsa dengan nada rendah.


"Kalau begitu izinkan aku untuk membuktikannya padamu, El." mohon Alden terdengar sangat begitu bersungguh-sungguh.

__ADS_1


"Bukti apa? Apa kau mencintaiku karena kau merasa bersalah karena kita telah bercumbu? Dan kau ingin menebusnya?" tuduh Elsa seketika.


Alden menggeleng samar, kemudian dengan perlahan ia pun menghapus air mata Elsa yang baru saja jatuh membasahi pipinya.


"Aku mencintaimu dengan segenap hatiku, El. Bukan karena kau buta, bukan karena kita telah tidur bersama dan bukan seperti apa yang kau pikirkan sekarang. Tapi, aku mencintaimu karena kau sendiri yang telah membuatku jatuh cinta, El." papar Alden menjelaskan dengan hatinya yang kian menggebu.


"Aku tak melakukan apapun untuk membuatmu jatuh cinta, Al."


"Dan mungkin kau tak menyadarinya, El." sambung Alden langsung, hingga membuat Elsa terdiam seketika. "Semua itu karena kau, karena kau telah membuatku jatuh cinta. Jika kau ingin bertanya, sebaiknya kau tanyakan pada dirimu sendiri, hal apa yang telah kau lakukan padaku sehingga aku malah jatuh cinta padamu!"


Air mata Elsa semakin berlinangan dengan cukup deras, sementara suara isakannya pun meluncur dari bibirnya seakan ia tak kuasa menahan rasa bahagia yang bercampur haru yang tengah ia rasakan saat ini.


"Aku ingin bersamamu, El. Apa kau mau menerima cintaku?" tanya Alden saat itu.


Elsa menggeleng lemah. "Aku tak tahu jawaban apa yang harus aku berikan padamu, Al."


"Tapi aku tahu, El. Dan jika kau ingin aku memaksamu lebih baik kita menikah saja."


"Apa?" kejut Elsa saat itu.


"Kenapa kau terkejut, El? Apakah aku tak pantas untukmu?"


Elsa menggeleng kuat. "Bukan itu maksudku, Al." tepis Elsa saat itu juga.


"Kalau begitu terimalah cintaku dan kita menikah! Percaya padaku bahwa aku akan menjagamu dan membuatmu bahagia bersamaku, El."


Saat itu, entah mengapa Elsa sangat begitu yakin dengan keputusannya sampai akhirnya ia malah menganggukan kepala seakan ia menyetujui ajakan Alden yang telah mengajaknya untuk menikah. Dan malam itu pun mereka saling berpelukan seakan pelukan itu sebagai pengikat batin antara mereka berdua.


Kamu terlalu tau lemah aku


Mencintaimu dan mudah maafkan


Hanya bila nanti kamu terluka


Seperti yang kurasakan


Anggaplah ini karmamu


-Shanna Shannon_Karma-


Namun entah mengapa semua itu malah berujung penyesalan bagi Elsa, karena pada kenyataannya Alden sama sekali tak terlihat di sini untuk menemaninya. Wujudnya seakan menghilang dengan janji-janjinya, bahkan ketika ia meminta pertanggung jawaban padanya Alden sama sekali tak memberikan jawaban apapun. Seakan dirinya seperti telah tersadar dari mimpi buruknya, dan Elsa merasa bahwa ketika malam itu Alden berkata demikian hanyalah karena dirinya yang terbawa suasana. Elsa berpikir bahwa Alden tak mungkin mau menikahi gadis buta seperti dirinya yang tak dapat melakukan apapun selayaknya gadis sempurna di luaran sana.


"Kau bohong karena ternyata kau hanyalah seorang pria yang bermulut manis. Kau sama sekali tidak bisa menepati janjimu, kau pergi dengan janji-janji palsumu dengan meninggalkanku dalam keadaan yang terpuruk seperti ini. Bisakah aku menghabisi nyawaku sendiri untuk yang kesekian kalinya?" Elsa bergumam sendirian, sampai akhirnya tangannya pun mulai mengelus perutnya yang masih rata. Perut yang sudah berisi benih Alden di dalamnya yang ternyata menurut dokter kandungannya baik-baik saja setelah percobaan bunuh diri yang telah dilakukannya.

__ADS_1


__ADS_2