
Kini Alden dan Elsa terlihat sedang duduk di bawah pohon rindang yang teduh, Alden sama sekali tak mengalihkan pandangannya pada Elsa yang sedang menikmati mie cup dengan lahap, ia yakin pasti Elsa benar-benar sangat kelaparan. Tadi Alden memang sempat menawarinya makan di restoran ataupun warung nasi, namun Elsa langsung menolaknya dengan dalih bahwa ia malu dan takut jika para pelanggan disana kabur melihatnya karena ia kumal dan juga lusuh hingga mereka tak berselera makan. Maka Alden pun langsung menuruti apa kata Elsa yang hanya menginginkan mie cup dengan porsi besar serta minuman dingin.
"Al?" sebut Elsa setelah ia menyeruput kuah mie itu sampai tandas, hingga membuat Alden yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecil setelah melihat tingkah Elsa yang begitu sangat menggemaskan.
"Hm?" Alden meresponnya seraya menaikan satu alis tebalnya kearah Elsa yang sedang menyesap satu botol teh menggunakan sedotan.
Setelah semuanya tandas, Elsa pun merekahkan senyuman kearah Alden dengan binar mata yang diselimuti lapisan bening. "Kau benar,"
"Apa?"
"Jika perut sudah kenyang, ternyata rasa sedih kita langsung menghilang."
Mendengar hal itu Alden pun langsung tertawa ringan seraya mengusap puncak rambut Elsa dengan cepat. "Apa mienya masih kurang?" tawar Alden lagi yang lang dijawab Elsa dengan gelengan kepala.
Hening.
"Katanya kau akan menceritakan semuanya setelah kau selesai makan," Alden membuka suara kembali, hingga membuat Elsa terdiam untuk sesaat.
"Apa kau mau berjanji padaku, Al?" tanya Elsa yang membuat Alden sedikit berpikir.
"Berjanji apa?"
"Kau akan melakukan apapun yang ku mau?" lanjut Elsa.
"Yes!" setuju Alden tanpa embel-embel berpikir lagi.
"Jefry yang telah menculikku dan kelompoknya kini sudah di bantai, tapi tolong bantu aku untuk membalaskan dendamku pada Budi karena dia telah mencuri kekayaan milik Ayahku dan dia juga telah membunuh Willy yang sudah kuanggap sebagai saudara terbaikku, tolong bunuh dia!" pinta Elsa dengan raut wajah serius hingga membuat tenggorokan Alden seketika tercekat setelah mendengarnya.
"Willy tewas?" tanya Alden sedikit terkejut.
"Dia adalah pria baik yang selalu melindungiku selama ini, dan saat-saat terakhirnya pun dia rela mempertaruhkan nyawanya sendiri demi aku. Dan apa kau tau Al, Budi telah memperkosaku."
Deg!
Seketika saja rahang Alden langsung mengeras setelah ia mendengar Elsa menceritakan semuanya, ia tak peduli jika Willy mati tapi jika Budi melakukan sesuatu pada Elsa termasuk menodainya tentu semua itu tak dapat ditoleransi sedikitpun.
"Ayo!" seketika saja Alden langsung menarik tubuh Elsa ke atas punggungnya, hingga membuat Elsa sedikit terkejut karenanya.
"Kau akan membawaku kemana?" tanya Elsa yang kini tengah digendong oleh Alden di punggung tegapnya seraya berjalan dan entah kemana, karena hanya Alden lah yang tahu tujuannya.
"Aku akan memperkenalkanmu pada seseorang,"
"Siapa?" tanya Elsa dengan dahi mengernyit.
Alden tersenyum miris seketika, jika ia mengingat masa lalu kelam itu. Namun bagaimanapun ia harus segera meminta maaf dan mengakui semua kesalahan yang selama ini pernah diperbuat hingga membuat perdebatan dan perselisihan itu terjadi.
Dan jujur, Alden merasa bahwa ia benar-benar tak sabar untuk menemui orang yang selama ini ia sayangi karena setelah bertahun-tahun lamanya mereka tak bertemu. Dan bahkan ia kini sudah tidak sabar untuk mempertemukan dan mengenalkan Elsa padanya.
__ADS_1
"Dia malaikat penjagaku," jawab Alden akhirnya.
Elsa tersenyum. "Aku rasa aku tak sabar bertemu dengannya. Aku yakin pasti dia baik seperti dirimu." ucap Elsa yang membuat Aden tersenyum kecil.
"Ya, aku rasa kau akan aman disana, sementara aku akan membunuh Budi dan para anak buahnya." ikrar Alden sungguh-sungguh dengan rahang yang mengeras, gigi bergemeletuk serta tatapan mata tajam yang disertai dengan emosi yang membara namun ia berusaha untuk tetap tenang.
****
"Tuan Alden? Apa itu benar Tuan Alden?" riuh seorang penjaga rumah sekaligus pekerja di sana, mereka sungguh tak percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang.
Alden melangkahkan kaki dengan gontai saat ia melintasi mereka seraya menggendong Elsa di punggungnya,entah berapa kilometer Alden terus menggendong Elsa tanpa ada niatan untuk menurunkannya, dan bahkan Elsa pun sampai tertidur.
Dan saat kepala Alden terangkat, pandangan matanya langsung bertemu dengan pandangan mata seseorang. Pria paruh baya itu tengah terduduk di kursi roda di teras sendirian, dengan wajahnya yang muram, rambutnya yang hampir memutih semua, badannya yang cenderung kurus dan tubuhnya yang tak lagi gagah seperti dulu.
Seketika langkah Alden berhenti tepat di depannya, sorot mata keduanya sungguh tak bisa berbohong. Kedua bola mata mereka berselimut lapisan bening yang meremang, sementara senyuman bahagia langsung terpatri dari wajah pria paruh baya itu.
Kilatan senang langsung terpancar dari mata Alden saat ini yang berbaur dengan rasa haru yang menjadi satu.
"Alden," sebut pria paruh baya itu dengan nada rendah.
Menyadari langkah Alden yang terhenti, tentu membuat Elsa langsung terbangun dari tidurnya seraya mengerang.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Elsa membuka suaranya yang parau khas orang yang baru bangun tidur.
Seketika saja Elsa pun langsung turun perlahan dari gendongan Alden, sementara pria paruh baya itu menatap Alden bingung. Seolah tak ingin melewati kesempatan Alden pun langsung bersimpuh di kaki pria itu seraya menangis tersedu-sedu.
Sementara pria paruh baya itu yang ternyata merupakan Ayah dari Alden langsung ikut menangis haru sambil sesegukan dan mengusap puncak rambut putranya itu dengan sayang.
"Alden kau kembali, Nak?" desis pria paruh baya itu di sela isak tangisnya.
"Ayah, sungguh Alden sangat menyesal dengan apa yang pernah Alden lakukan pada keluarga ini dan terutama pada Ayah. Entah harus dengan apa caranya agar Alden bisa menebus semua kesalahan Alden selama ini. Alden sangat begitu menyesal, tolong ampuni Alden!" mohon Alden seraya menatap mata Bramantyo dengan tatapan nanar.
Bramantyo mengangguk mantap, seraya sesegukan lalu merangkum kedua pipi anaknya itu dengan lembut. Bagaimanapun momen seperti ini adalah momen yang selama ini ia nantikan. Ia sungguh tak percaya bahwa putranya itu akan kembali setelah perselisihan mereka terjadi sudah cukup lama.
"Nak, sudahlah. Semua orang pasti pernah berbuat salah dan semua orang berhak meminta maaf dan juga memaafkan. Lalu bagaimana kabarmu, apa kau baik-baik saja?"
Jari-jemari Alden terulur dan bergerak menghapus butiran air mata sang Ayah dengan lembut, kemudian ia pun tersenyum pahit dan menjawabnya dengan lirih.
"Jalan hidup Alden selama ini sangatlah suram, jadi tidak mungkin kalau Alden selalu baik-baik saja. Tapi kali ini Alden sedang mendapatkan pengajaran atas apa yang selama ini Alden lakukan. Dan tentunya Alden harus bertanggung jawab untuk menerima segala konsekuensinya."
Bramantyo menghela nafas panjang lalu berkata dengan lembut. "Lebih baik kau perbaiki diri, minta maaflah pada Tuhan dan berbuat baiklah. Agar kau senantiasa dilindungi oleh-Nya." nasihat Bramantyo sementara Alden hanya mengangguk lemah.
Jika Alden dapat mengingat kembali masa-masa kelamnya, ia akan semakin merasa bahwa selama ini ia terlambat menyadari, betapa berdosanya ia selama ini. Namun disatu sisi ia tak dapat mengingkari ikrarnya pada Elsa untuk menghabisi Budi.
"Alden, lalu siapa gadis ini, kenapa dia–" tanya Bramantyo dengan ucapannya yang menggantung, hingga membuat Elsa langsung menundukan kepalanya malu.
"Dia Elsa, dia adalah gadis malang yang baik. Alden ingin Elsa tinggal disini, apa Ayah mengizinkannya?" Alden memperkenalkan Elsa pada Bramantyo seraya bangkit dari posisinya lalu merangkul Elsa dengan sepenuh hati.
__ADS_1
"Tapi–"
"Please," mohon Alden dengan tatapan mengiba, hingga membuat Bramantyo pun langsung mengangguk. Tanda bahwa ia mengizinkan Elsa untuk tinggal dirumahnya. "Terimakasih atas segala kebaikan Ayah karena telah menerima Elsa, semoga Tuhan senantiasa membalas semua kebaikan Ayah." ucap Alden seraya berhambur memeluk Bramantyo dengan segenap hatinya, lalu mereka pun menangis bersama.
Begitupun dengan Elsa yang ikut tersenyum haru, seakan ia dapat merasakan apa yang sedang dirasakan Alden kini. Terlebih Elsa juga merasakan bagaimana ia ketika merindukan sang Ayah yang sudah lama tiada.
*****
Malam yang dingin dengan hembusan angin telah berhasil memporak porandakan poni milik Alden yang kini sedang menikmati semilir angin dari atas balkon kamar. Sungguh, malam ini dan ia sama sekali tidak bisa tidur karena memikirkan sesuatu. Terkadang perasaan semacam ini selalu membuatnya merasa gelisah dan tak nyaman, banyak hal yang ia pikirkan. Bahkan rencana yang telah ia susun sudah ia persiapkan masak-masak untuk hari esok.
"Al?"
Seketika saja Alden menangkap suara samar dari Elsa yang berada di luar ruangan yang memanggil namanya serupa bisikan. Maka ia pun langsung bergegas membuka pintu kamarnya dan mendapati Elsa sedang mencari-carinya.
"Aku disini," Alden membuka suara hingga membuat Elsa tersenyum seraya menghampirinya dengan perasaan menerawang, lalu seketika itu pula Alden langsung meraih tangannya dan membawa Elsa masuk kedalam kamarnya.
Alden menutup pintu, sementara Elsa terus berjalan hingga ia pun langsung duduk dibibir kasur.
"Ada apa, El?" tanya Alden seraya menghampiri Elsa, hingga Elsa dapat merasakan kasur nya bergerak dan itu artinya Alden kini sedang duduk disampingnya.
"Aku sulit untuk tidur lagi," jawab Elsa dengan binar mata sendunya.
"Apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Alden menatap Elsa dengan sorot mata khawatir.
"Ada banyak hal dan di setiap jam-jam tengah malam seperti ini, aku selalu terbangun dari tidurku lalu aku tak dapat memejamkan mataku kembali. Tidurku tak pernah nyenyak." jawab Elsa dengan nada sedihnya.
Mendengar hal itu, Alden semakin merasa iba dan ia pun langsung merangkul pundak Elsa lalu menyandarkan kepala Elsa di bahunya.
"Tidurlah di pundakku, nanti aku akan menggendongmu dan membawamu ke kamarmu lagi." kata Alden seraya mengusap-usap rambut Elsa dengan sepenuh hati.
Detik itu Elsa pun menyentuh tangan Alden yang sedang mengusap-usap rambutnya, hingga aktivitasnya langsung terhenti lalu pandangan Alden pun langsung menatap kearah Elsa.
"Seandainya aku bisa melihat wajahmu," lirih Elsa seraya menerawang seraya menyentuh wajah Alden dengan jari-jemarinya, menelusuri setiap inci wajah Alden. Mulai dari matanya, hidungnya lalu bibirnya.
Namun yang membuat Alden terpaku adalah ketika ia merasakan bibirnya dikecup Elsa, awalnya sekilas namun ciuman itu malah diteruskannya hingga membuat Alden tak dapat melakukan apapun karena jujur ia pun menginginkannya.
Semula Alden tak membalas ciuman itu dan ia lebih memilih Elsa untuk melakukannya sendiri. Alden melihat sepasang mata Elsa terpejam, kemudian ia pun beralih menatap wajah Elsa dengan seksama, sungguh ia sama sekali tak dapat mengira bahwa Elsa jauh lebih cantik saat ia melihatnya dalam jarak sedekat ini.
Perlahan tangan Alden bergerak merangkum kedua pipi Elsa untuk memperdalam ciumannya dan kali ini ia pun membalas setiap kecupan, *******, dan setiap pagutan yang Elsa lakukan padanya.
Alden mulai terbuai hingga ciuman itu pun semakin terasa liar, namun secepat itu pula ia merasa kehilangan saat Elsa menghentikan ciumannya.
"Dulu aku sama sekali tak pernah melakukan hal semacam ini dengan seseorang, tapi sekarang aku melakukannya. Apakah aku adalah gadis jala*ng bagimu, Al?" tanya Elsa dengan nada rendah, namun Alden tak menjawab dengan sepatah kata apapun karena ia hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
Hening.
Lapisan bening itu jatuh membasahi pelupuk pipi Elsa dengan senyuman getir yang terulas dari bibirnya, namun detik itu bibir Alden pun langsung meraup kembali bibir Elsa tanpa embel-embel nafsu semata, karena apa yang ia lakukan adalah bentuk dari cinta tulusnya untuk Elsa.
__ADS_1
Dalam keheningan malam hanya decapan ciuman merekalah yang terdengar yang berbaur dengan nafas yang sama-sama terengah ketika ciuman itu berhenti sesaat, kemudian mereka berdua pun berciuman kembali dengan jauh lebih liar dari sebelumnya, hingga dengan seiring gairah yang sama-sama memuncak mereka berdua pun akhirnya melepaskan pakaian mereka masing-masing hingga tak ada sehelai benangpun yang membungkus tubuh mereka.