
"Halo Sam, segera buat salinan video tentang kematian Daren. Aku dalam bahaya sekarang!" suara Willy terdengar seperti sesak nafas saat ia berbicara dengan salah satu anak buahnya melalui seluler, sementara tangannya yang lain sibuk mengemudi.
"Apakah Alden mengejarmu?" tanya Sam di seberang sana.
"Jangan khawatir, aku bisa menyelamatkan diri jadi aku tidak butuh bantuanmu."
"Apakah kau serius?"
"Tentu saja,"
Tut...
Tak lama kemudian Willy memutus sambungan telepon secara sepihak, karena ia sangat terkejut dengan sekelompok kalajengking hitam yang kini tengah mengejar mobilnya dari belakang dengan kecepatan penuh.
"Sial," kata Willy yang kini menambah kecepatan mobilnya.
Jalanan yang sepi mulai membentang sementara suara peluru yang dimuntahkan dari pelatuk memantul dari bumper belakang mobilnya.
"Sialan mereka menembak," umpat Willy semakin tak karuan.
Dengan satu tangan ia mengambil alih untuk memeriksa sesuatu di bawah dasbor mobil Alden. Willy berdoa agar dia bisa mendapatkan revolver milik Alden disana. Ia berharap semoga keberuntungan memihak padanya. Willy ingin membalas tembakan demi tembakan yang dimuntahkan oleh kelompok kalajengking hitam yang tak kunjung berhenti, sementara Willy berusaha menghindar meski bidikan senjatanya tak pernah meleset sedikit pun.
Dengan gerakan cepat, akhirnya Willy pun dapat menemukan apa yang dicarinya, sebuah pistol dan peluru terletak berdekatan di dashboard. Tanpa pikir panjang, Willy langsung mengambil pistol dan mengisi kembali pelurunya. Sebelum ia bisa mengokang amunisi, tembakan yang dimuntahkan oleh Alden pun malah mengenai kaca pintu mobilnya hingga pecah berkeping-keping. Tapi untungnya Willy dapat menghindar dengan cepat, jika tidak pelipisnya nyaris saja terkena tembakan. Dan tanpa disadari, ternyata mobil Alden kini sudah berdampingan dengannya.
"Berhenti sekarang! Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku!" teriak Alden yang membuat gigi Willy gemeretak karena benci dan marah.
Bukannya mendengarkan perintah Alden, Willy malah lebih tancap gas. Dan tentu saja halĀ itu membuat Alden sangat marah. Hingga terjadilah adu kecepatan antara mereka. Suara tembakan terdengar berkali-kali mengenai bemper belakang mobilnya hingga semakin penyok. Emosi Willy menguap, akhirnya ia pun menyembulkan kepalanya keluar jendela mobil dan segera membalas tembakan yang dilayangkan Alden hingga akhirnya mengenai kaca mobil Alden sampai akhirnya pecah berkeping-keping.
"Bajingan," umpat Alden marah.
Alden tidak terima dengan tembakan Willy, sehingga ia pun membalas tembakan dan menabrak sisi mobil yang dikemudikan Willy hingga mereka saling menyalip satu sama lain. Willy masih belum puas dan tidak mau kalah dengan Alden, ia tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi lalu mengarahkan senjatanya tepat ke arah Alden yang sedang mengemudi.
"Bos, hati-hati!" Tito yang duduk di belakangnya langsung berteriak keras saat melihat Willy baru saja menyemburkan tembakan.
Alden refleks banting setir berniat menghindari peluru namun yang terjadi justru mobilnya kini berputar-putar hingga berhenti di tengah jalan sambil berteriak kesakitan karena tertembak di tangan. Tembakan Willy kali ini tepat sasaran, sedangkan Willy hanya tertawa puas setelah menengok ke belakang karena sepertinya kini ia telah lolos dari kejaran kalajengking hitam.
"Aw!" Alden meringis kesakitan sambil mengumpat pada Willy.
Melihat Alden yang terluka, kedua anak buahnya langsung membantunya. Robbin merobek bajunya untuk mengikat lengan Alden guna menghentikan darah yang terus mengalir.
"Sebaiknya kita lanjutkan nanti, Bos cedera cukup parah." saran Robbin yang membuat Alden mengerang frustasi.
"Argh, sial dia kabur!" Alden memukul setir dengan satu tangan dengan tatapan dendam di matanya.
*****
Malam berganti pagi, pagi menjadi siang dan kini Elsa sedang duduk sendirian di taman belakang rumahnya. Menangis diam-diam dengan dress mini putih dan rambut panjang tergerai angin. Ia masih ingat saat-saat indah bersama ayahnya sangat sulit baginya untuk bertahan, hidupnya kosong dan semangat hidup telah hilang dalam dirinya.
__ADS_1
"Ayahku yang tampan, bisakah Elsa memiliki benda seperti ini?" tiba-tiba Elsa bocah 12 tahun itu menunjukkan sesuatu di belakang punggungnya, yaitu revolver hitam yang membuat mata Dirly langsung melebar.
"Sayang letakkan benda itu, itu sangat berbahaya sayang!" Dirly memberi peringatan pada Elsa, sementara putrinya malah tertawa.
"Tapi benda ini sangat cantik, ayah," senyuman Elsa terlihat menantang bahkan ia sedikit bermain-main sebentar dengan benda itu hingga membuat ayahnya khawatir.
"Sayang hati-hati, ayo letakkan kembali benda itu!" pinta Dirly yang membuat Elsa langsung mengerucutkan bibirnya.
"Ayah bilang itu berbahaya, tapi aku sering melihat benda ini di ruang kerja ayah bukan satu atau dua. Jujur, aku baru saja melakukan tur dadakan ke kamar Ayah dan aku menyukainya." cerita Elsa dengan tangan terlipat di dadanya, melihat tingkah anaknya yang seperti itu membuat Dirly langsung mencubit hidung anaknya karena gemas.
"Kau cocok jadi penerus ayah," komentar ayahnya di sela tawanya.
Alis Elsa menyatu di tengah. "Menjadi pengusaha tekstil seperti ayah?"
Dilly terkekeh. "Pengusaha tekstil, hm.. persis."
"Apakah pengusaha tekstil benar-benar membutuhkan senjata?" tanya Elsa heran.
Dirly tersenyum tipis mendengar pertanyaan anaknya, lalu mengangguk. "Tentu saja, kami tidak tahu berapa banyak musuh yang tidak menyukai usaha kami. Ya, jadi kami membutuhkan senjata. Tidak lucu jika Ayah menggunakan kain sebagai senjata." Dilly terkekeh pelan.
Elsa langsung tertawa terbahak-bahak sambil geleng-geleng kepala setelah mendengar candaan yang baru saja keluar dari bibir ayahnya. "Ayah sangat imut"
"Oke, kau masih kecil. Jadi kembalikan pistolnya, saat kau dewasa kau bisa memilikinya."
"Really?" tanya Elsa dengan mata berbinar penuh semangat.
"Hore, Elsa tidak sabar untuk tumbuh dewasa lalu menggunakan senjata ini." soraknya yang terlihat begitu heboh sementara Dirly hanya tertawa melihat tingkah anaknya.
Mengingat masa kecil itu, Elsa mengepalkan tangannya erat-erat, giginya bergetar karena kebencian, sementara air mata itu mengalir di pipinya.
"Ayah, sekarang Elsa sudah besar, bisakah Elsa menggunakan senjatamu untuk membunuh musuhmu?" Elsa berbicara pada dirinya sendiri dengan nada gemetar karena marah. "Bisakah aku yang buta mengendalikan senjata? Aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri Ayah, aku tidak ingin musuhmu hidup bahagia diatas penderitaan kita." kata Elsa dengan bibir gemetar sambil menyeka air matanya dengan cepat.
Rupanya Willy kini berada di belakang Elsa setelah sekian lama, ia mendengar apa yang dibicarakan Elsa. Ia tertunduk sesaat lalu mengangkat kepalanya lagi dan ia pun menarik nafas panjang lalu berniat mendekati Elsa.
Elsa merasakan kursinya sedang diduduki seseorang, ia tidak bisa melihat tapi ia bisa menyelidikinya dengan sepasang telinga dan rasa.
"Elsa," suara Willy memanggil namanya, tapi Elsa malah mengabaikannya. "Apa, kau marah?" tanya Willy setelah ia melihat sikap Elsa yang sangat dingin terhadapnya.
"Menurutmu?" Elsa malah berbalik bertanya dengan nada marah.
"Tapi kenapa? Boleh aku tahu alasannya?" tanya Willy berbicara selembut mungkin.
"Apa? Tapi kenapa kau bilang, hah?!" bentak Elsa langsung. "Tidakkah kau sadar bahwa aku sangat terpukul, Will! Aku hanya ingin kematian ayahku diurus oleh polisi, aku ingin menangkap siapa yang membunuh ayah! Apa aku salah, Will? Tapi kenapa kau malah melarangku untuk menyelidiki kasus pada polisi? Tahukah kau ayahku meninggal dan aku buta, apakah kau senang melihatku menderita seperti ini, Will?!" Elsa mendengus sambil meraba-raba tubuh Willy sampai akhirnya ia mengangkat kerah baju Willy dengan kasar dan air matanya pun mulai berlinang.
Terlihat Willy hanya menghela nafas dan bingung harus berkata apa pada Elsa. Haruskah ia berterus terang tentang pekerjaan ayahnya, atau haruskah ia menyembunyikan fakta yang sebenarnya.
"Elsa bahkan jika kau ingin menyelidiki kejadian ini dengan polisi, itu akan membuatmu semakin tidak aman." desis Willy sambil meraih bahu Elsa dengan lembut.
__ADS_1
"Apa maksudmu tidak aman?!" seru Elsa sambil menepis kasar tangan Willy dari bahunya.
"Elsa, tolong jangan seperti ini." Willy memohon.
"Jawab pertanyaanku, Will! Kenapa aku malah tidak aman?!"
Willy terdiam sesaat dan tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia membungkukkan badannya sambil memijat pelipisnya yang terasa sangat pusing, ia bingung harus berkata apa.
"Will?" panggil Elsa yang semakin penasaran.
"Sebenarnya, ayahmu adalah seorang gembong narkoba," jawab Willy, terpaksa jujur.
Astaga!
Mendengar ucapan Willy barusan, Elsa merasa sesak nafas, terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang dikatakan Willy.
Elsa menggelengkan kepalanya. "Jangan bohong, Will!" bentaknya lagi.
"Aku serius." Willy berkata perlahan.
Bibir Elsa bergetar hebat, air matanya mulai berlinang dan berubah menjadi isak tangis. Sesak dan ulu hatinya terasa seperti dihantam benda tajam yang tidak kasat mata. Tidak mungkin pria yang paling ia percayai di dunia ini bisa berubah menjadi seorang gembong narkoba, dan tidak mungkin ayahnya yang ia tahu adalah seorang pengusaha tekstil bisa berubah menjadi gembong narkoba. Tidak mungkin, Elsa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia ingin berteriak dan menjerit, tapi rasanya lidahnya mati rasa karena terlalu shock.
"Jadi ayah pembohong," desis Elsa dan Willy pun langsung berhambur memeluk Elsa dengan erat.
"Maafkankan aku," bisik Willy pelan.
Elsa dengan cepat melepaskan pelukan Willy dengan marah. "Kau jahat, jadi selama ini kau menyembunyikan semuanya dariku?! Tapi kenapa?!" bentak Elsa begitu menggebu-gebu.
"Karena kau tidak perlu tahu,"
"Tapi kenapa?!" lanjut Elsa cepat dengan nada protes.
"Karena kau tidak berhak tahu!" kata Willy dengan volume suara tinggi.
"Jadi kalian anggota mafia?! Dan Ayah juga? Tidak, semua ini tidak mungkin." Elsa menggelengkan kepalanya.
"Tapi itu fakta," kata Willy.
"Kau jahat! Kau jahat!" teriak Elsa yang langsung berdiri dan mencoba berlari menggunakan tongkatnya, hingga akhirnya kakinya pun terkilir dan terjatuh.
Secepat itu, Willy langsung mengejar Elsa dan menghampirinya dengan cemas. "Elsa,"
"Jangan sentuh aku!" Elsa berteriak keras, hingga dengan terpaksa Willy pun langsung melepaskan tangannya yang bertengger di pinggang Elsa.
"Elsa jangan seperti ini,"
"Cukup Will, kalian semua pembohong besar!" teriak Elsa dan berusaha bangun dengan tertatih-tatih. "Jangan pernah bertemu denganku lagi!" gerutu Elsa berapi-api lalu meninggalkan Willy dengan kaki yang terpincang-pincang.
__ADS_1
"Elsa dengar, aku akan selalu ada untukmu. Aku berjanji pada ayahmu. Bahkan jika kau mengusirku, aku akan tetap ada untukmu apa kau dengar itu Elsa!" teriak Willy namun Elsa yang kini sudah masuk ke rumahnya sama sekali tak menghiraukan. "Ah, bajingan!" umpat Willy kasar.