Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 59


__ADS_3

Dua Hari Kemudian  …


Elsa terlihat duduk di atas brankar ditemani oleh Bramantyo dan juga dokter, saat itu sang dokter terlihat sedang membuka perlahan perban yang menutup kedua mata Elsa.


Sampai akhirnya seluruh perban itu benar-benar terlepas dan dengan sangat hati-hati Elsa mendengarkan instruksi dari sang dokter untuk membuka matanya secara perlahan.


Awalnya pandangannya terlihat sangat begitu mengabur, sampai akhirnya pandangannya terlihat berubah sangat begitu jelas. Setelah kedua matanya terbuka dengan lebar sang dokter pun langsung memeriksa kedua mata Elsa menggunakan penlight, kemudian mencoba menunjukan jarinya sementara Elsa menghitung jari itu sesuai dengan instruksi yang dilihatnya.


Saat itu, Elsa terperangah dan menatap sekitar dengan tatapan tak percaya karena setelah sekian lama ia bisa melihat kembali. Bramantyo yang setiap saat selalu menemani Elsa pun langsung tersenyum haru, karena ia bisa melihat secara langsung bagaimana ekspresi Elsa yang sangat begitu antusias setelah ia dapat melihat kembali.


"Aku bisa melihat, aku bisa melihat!" seru Elsa riang yang bercampur dengan haru.


"Syukurlah, dan itu artinya operasi berjalan dengan lancar. Selamat untuk Nona Elsa karena sekarang sudah bisa melihat kembali, dan kalau begitu saya izin pamit lebih dulu karena saya akan menyelesaikan tugas saya selanjutnya pada beberapa pasien." tukas sang dokter yang ikut senang dengan kondisi Elsa yang sudah bisa melihat kembali.


"Iya, dok. Terima kasih untuk semuanya." ucap Elsa seraya tersenyum, sementara dokter hanya mengangguk kemudian ia pun berlalu.


Setelah dokter pergi, Elsa melihat pria paruh baya yang duduk di kursi roda seraya menangis terisak-isak. Ia yakin bahwa pria itu adalah Ayah dari Alden, sampai akhirnya Elsa pun menggenggam tangan Bramantyo yang berada di piggiran brankarnya.


"Om Bramantyo?" sebut Elsa dalam nada tanya, untuk memastikan bahwa ia tak salah orang.


Kepala Bramantyo terangkat, ia menatap Elsa dengan tatapan nanar dan juga bibir bergetar sampai akhirnya ia pun mengangguk seraya mengembangkan senyum.


"Siapa yang mendonorkan mata untukku, Om?" tanya Elsa akhirnya.


Belum sempat menjawab, Bramantyo dan Elsa pun mendengar suara pintu ruangan di buka oleh seseorang hingga pandangan mereka langsung tertuju pada pintu.


Ceklek!


Detik berikutnya, terlihat seorang suster khusus Bramantyo masuk ke dalam ruangan dengan mendorong sebuah kursi roda yang terdapat seorang pria yang sama sekali tak dikenali oleh Elsa. Elsa melihat pria itu dengan kening alis berkerut, ia sedikit penasaran dengan kemunculan pria itu yang masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi.


"Dia pendonor matamu, El." jawab Bramantyo akhirnya dengan nada suara bergetar.


Elsa terperangah melihatnya dan dengan seksama Elsa pun menatap pria itu, dia sangat tampan, tinggi, rambutnya agak gondrong, tubuhnya kekar, namun saat ia melihat matanya yang terlihat kosong, gelap, dan juga tak fokus tentu saja membuat perasaan Elsa terasa campur aduk. Ada sebuah ikatan yang tak dapat Elsa jabarkan saat pertama ia melihatnya, wajahnya terlihat begitu mendung sementara bibirnya yang mengulas senyuman sendu membuat hati Elsa seperti di iris-iris.

__ADS_1


"El, ini aku …"


Deg!


Seketika saja saat Elsa mendengar pria itu bersuara dan untuk pertama kalinya, ia melihat rupa pria itu dengan mendadak perasaannya seperti akan meledak saat itu juga. Pupil matanya melebar seakan ia begitu terkejut dengan apa yang baru saja ia ketahui tentang identitas pria itu.


Perlahan tangan Elsa mengepal, dan kukunya yang panjang tanpa sadar telah menusuk telapak tangannya, ia menatap pria itu tanpa daya dengan bola mata yang perlahan mulai berselimut dengan lapisan bening.


Pria itu adalah Alden, dia telah menjadi pendonor mata untuk Elsa. Jujur, ia sangat begitu mencintai Elsa meskipun ia sadar telah melakukan kesalahan tetapi menurutnya ia memiliki sebuah alasan. Hingga ia terpaksa tak bertemu dengan Elsa sementara waktu, karena banyak hal yang ia pikirkan untuk menceritakan rahasia-rahasia besarnya selama ini.


"Kau harus mendapatkan kebahagian, El dan kau juga pantas untuk mendapatkan sebuah keadilan." lanjut Alden dengan setengah mati ia menahan agar suaranya tak bergetar.


Elsa menggigit bibirnya dengan lapisan bening yang menggantung di pelupuk matanya, seakan ia seperti mengerti maksud dari ucapan Alden akan mengarah kemana.


"El, maafkan aku, aku minta maaf padamu. Aku sangat mencintaimu, aku mencintai apa yang ada pada dirimu. Meskipun aku sadar bahwa banyak hal yang telah aku lakukan padamu, aku melakukan apa yang seharusnya tidak aku lakukan dan aku teramat menyesal." Alden mencoba mengungkapkan apa yang ia rasakan saat ini dengan teramat tulus dan penuh penyesalan.


Secara bersamaan air mata Elsa yang menggantung akhirnya jatuh membasahi kedua pipinya, ia menatap Alden dengan tatapan lemah. Dengan sengaja Elsa mengatupkan bibirnya agar ia bisa menahan isak tangisnya dan juga menahan rasa sesak di dadanya.


"Selain aku yang telah menghamilimu, sebenarnya aku juga …." Alden menggantungkan ucapannya, isak tangisnya mulai terdengar seakan ia tak sanggup menceritakan sebuah kebenaran karena ia takut Elsa akan semakin membencinya dan juga menjauhinya. Namun disatu sisi ia juga sadar bahwa semua ini adalah sebuah resiko yang harus ia tanggung atas semua yang pernah diperbuat di masa lalu dan juga masa sekarang.


Isakan Alden semakin terdengar, bibirnya bergetar, dadanya teramat sesak, tapi dengan gentleman ia kembali meneruskan ucapannya.


"Aku lah yang telah membunuh Ayahmu malam itu dan aku juga yang telah membuatmu buta, El."


Deg!


Mendengar pernyataan itu, seketika saja wajah Elsa berubah menyala dengan tatapan matanya yang nyalang tertuju pada Alden yang duduk di kursi roda tepat di depannya. Rahang Elsa mengeras dengan kepalan kedua tangannya yang semakin kuat meremas sprey, ia menggeleng samar seakan ia belum bisa meyakini apa yang telah ia dengar ternyata teramat sangat menyakitkan. Ulu atinya seakan diremas dengan begitu maha dahsyat hingga sampai-sampai ia sendiri tak sanggup bertutur kata lagi.


"Aku memang penjahat, aku memang pecundang dan aku pantas mendapatkan semua cacian, kebencian atau apapun itu. Dulu aku memang seorang anggota mafia kalajengking hitam, diatas naungan Jefri sebagai bos besar mafia. Aku sebagai tangan kanan yang dipercaya hanya bisa menuruti kemauan atasan. Dan malam itu aku ditugaskan untuk membunuh Ayahmu selaku musuh bebuyutan Jefry dan juga … dan juga harus membuatmu menderita seperti ini, sesuai dengan kemauannya. I'm so sorry, entah dengan cara apa aku bisa menebus semua dosa-dosaku padamu, El. Terlampau banyak hal yang telah kulakukan padamu dengan sedemikian menyakitkannya, aku menyembunyikan kebohongan ini. Tapi lambat laun aku menyadari semua kesalahanku sampai akhirnya aku jatuh cinta padamu." suara Alden semakin lama terdengar semakin serak karena berpadu dengan isak. Rasa penyesalan tergambar jelas dari raut wajahnya yang bersimbah air mata.


Jleb!


Kebenaran terungkap, kejujuran telah dikatakan dan tentu saja hal itu membuat Elsa berang sampai akhirnya ia loncat dari atas brankar lalu berlari menuju Alden dan dengan cepat ia mengangkat bagian atas medical wears Alden dengan kasar seraya melotot.

__ADS_1


Bramantyo mencoba menghentikan Elsa, namun semuanya urung karena ia sadar bahwa ia pasti akan merasa bahwa ia akan semakin menyakiti Elsa. Pada akhirnya ia hanya bisa menangis dan menangis, meratapi nasib sang putra satu-satunya yang seperti sedang dihadapkan dalam suatu vonis.


"Even though it's hard, I can still accept that I'm blind, but that doesn't mean I accept my father's death! Dan setelah aku mengetahui fakta ini, aku merasa bahwa aku tak sudi menerima matamu! Untuk apa, hah? Untuk apa?!" sentak Elsa seraya menjerit-jerit dan berlinangan air mata.


Beberapa saat berlalu dalam hening, hanya isak tangis mereka yang terdengar, pandangan Alden yang semula tertunduk lemah kini mendongak. Ia mencoba menelisik perasaan Elsa tanpa melihat, sampai akhirnya dengan suara pilu yang meremas jantung Elsa lalu Alden pun melanjutkan pembicaraannya.


"Aku hanya ingin menebus semua dosa-dosaku, El. Meskipun aku sadar bahwa apa yang aku lakukan selama ini takkan mampu menebus semua kesalahanku, aku hanya ingin membuatmu bahagia meskipun aku tak tahu dari bagaimana aku harus memulainya. Jujur, aku .. aku sangat kacau, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Sungguh aku sangat mencintaimu, El dan rasa cintaku padamu bukan sebagai bentuk penebus dosa. Melainkan ini adalah cinta murni yang kurasakan padamu, meskipun aku sadar bahwa aku tak pantas untuk itu."


Alden menghela nafas berat saat mendengar Elsa tersedu-sedu, hingga membuat Alden semakin terasa sangat begitu hampa.


"Aku mungkin tak punya hati, aku—"


"Stop!" potong Elsa langsung.


Elsa memejamkan mata, membayangkan malam itu. Malam yang telah mengubah segalanya, malam yang telah mengubah kehidupan Elsa yang semula teramat bahagia kini berakhir sangat begitu menyedihkan.


"El, aku menyesal. Aku harus bagaimana, aku .. aku .." Alden terdiam seolah ia tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya lagi yang semakin membuatnya terasa penuh dengan sesak dalam pekat penyesalan.


Plak!


Pada akhirnya Elsa pun langsung menampar pipi Alden dengan sangat begitu keras, melampiaskan segala bentuk emosi yang ada.


"You are more than an *******, *******, *******, and I don't know what other rant would suit you, Al!" sentak Elsa dengan emosi dan bersimbah dengan air mata.


"Elsa, katakan apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menebus dosa-dosaku." rintih Alden memohon dengan teramat sangat, sampai akhirnya tubuhnya meluruh lalu mencari-cari kaki Elsa untuk bersimpuh.


"Aku tak sudi menerima matamu, Al! Untuk apa kau memberikannya padaku, hah? You are a savage and until I die I will never forgive you!" sungut Elsa lalu ia pun mendorong tubuh Alden dengan kasar sampai akhirnya Alden tersungkur dan Elsa pun memilih untuk kabur dari ruangan itu.


Melihat hal itu tentu saja membuat Bramantyo tersentak kaget dan mencoba untuk menghentikannya dengan memanggilnya keras namun Elsa sama sekali tak menggubris.


"Elsa?! Elsa tunggu, Nak!" teriak Bramantyo.


Sementara dengan Alden, ia bersujud seraya berteriak dan memukul-mukul ubin dengan satu kepalan tangannya kasar. Melampiaskan semua rasa marah pada dirinya sendiri yang sama sekali tak tertahankan.

__ADS_1


"Arghhhhh! Shitt! Shitt!"


__ADS_2