
"El, ini adalah kamar baru mu. Sekarang lebih baik kau istirahat. Jangan pikirkan apapun, dan setelah bangun kau akan lebih fresh." kata Willy setelah ia membuka pintu kamar untuk Elsa yang sudah ia persiapkan.
Elsa dipapah oleh Willy untuk masuk, kemudian Elsa pun duduk di bibir kasur berdampingan dengan Willy. Melihat Elsa yang masih murung tentu saja membuat Willy enggan meninggalkannya, ia mengerti apa yang sedang dirasakan Elsa saat ini. Tentu hatinya sangat patah dan juga rapuh. Seketika saja tangan Willy terulur untuk menghapus butiran air mata Elsa yang masih menggantung di pelupuk mata.
"El, aku mengerti perasaanmu. Berhentilah menangis." bisik Willy lembut.
Elsa menggeleng samar dan ia masih saja terhanyut dalam lamunannya sendiri, ia sama sekali tak bisa menahan apa yang sedang kurasakan saat ini. Begitu banyak hal yang terasa menyakitkan dalam waktu yang telah ia lalui. Ia semakin terasa hancur, upaya bunuh diri telah ia lakukan akan tetapi selalu saja gagal untuk dilakukan. Jika ia terus diberi kesempatan hidup setidaknya berikanlah ia kebahagiaan.
"El, istirahatlah agar semuanya jauh lebih baik." saran Willy lalu mencoba membaringkan tubuh Elsa di atas ranjang, maka dengan pasrah Elsa pun menuruti. Ia berbaring lalu mencoba untuk memejamkan mata sementara Willy langsung menyelimuti tubuh Elsa.
Willy melihat wajah Elsa yang terlihat tak bergairah, Willy tersenyum sendu melihatnya, tangannya pun bergerak mengecup puncak rambut Elsa dengan lembut kemudian ia pun segera bergegas, menoleh sesaat untuk memastikan Elsa sudah tertidur lalu setelah itu ia menutup pintu. Baru saja keluar dari ruangan Willy pun langsung berpapasan dengan Budi yang baru saja datang dari luar.
"Ah, Bos kau baru datang? Kebetulan sekali aku baru saja mengantarkan Elsa ke kamar agar ia dapat beristirahat." sambut Willy yang dibalas senyuman lebar dari Budi.
"Oh begitu ya, baguslah biarkan dia beristirahat." kata Budi lalu mereka berdua pun berjalan di lorong mansion menuju ruangan kerjanya.
"Iya, Elsa terlihat sedang tidak baik-baik saja. Aku begitu cemas padanya." ucap Willy resah.
Budi seketika saja menepuk pundak Willy untuk sekedar menenangkan. "Tenang saja, Elsa hanya butuh waktu. Tidak akan lama ia akan kembali lebih baik. Kau tidak perlu cemas padanya. Apalagi kau selalu memperlakukannya dengan baik, dia juga pasti berpikir sampai kesana."
Willy mengangguk mengerti, ia percaya apa yang dikatakan Budi ada benarnya juga. Elsa hanya butuh waktu, setelah ia merasa jauh lebih baik Elsa pasti bisa berdamai dengan keadaan.
Ceklek..
Budi membuka pintu ruang kerjanya yang memampangkan ruang kerja yang cukup luas dengan dinding kokoh dan juga tebal, serta interior yang mewah dan juga terasa sangat nyaman.
__ADS_1
Budi langsung duduk di kursi, meletakan kedua kaki diatas meja lalu merogoh sebatang rokok kemudian di sulutnya dan menghisapnya kuat-kuat hingga asap rokok itu mengepul di udara, sementara Willy hanya bisa berdiri santai dengan kedua tangan berada di saku celananya.
"Will, bisakah kau mengecek apakah barang yang kita impor ke Mexico berjalan baik atau tidak?" Budi membuka percakapan.
"Apakah ada masalah serius?" tanya Willy seraya ia duduk di kursi tepat berhadapan dengan Budi seraya menatapnya seksama.
"Tidak, tidak. Hanya saja aku ingin memastikan apakah barang haram itu tidak akan terdeteksi di boneka boba? Akhir-akhir ini aku sedikit kepikiran," jawab Budi setelah menghisap sebatang rokok itu.
"Kau tenang saja Bos, aku bisa menjamin bahwa barang itu akan sampai di Mexico tanpa hambatan. Terlebih lagi dana yang telah kita gelontorkan untuk menyuap para petugas sudah fantastis, aku telah dihubungi oleh salah satu komplotan mereka yang berada di Mexico kalau barang itu akan sampai pada lima jam kemudian. Mereka mengatakan bahwa mereka akan menghubungiku kembali." papar Willy yang membuat Budi terangguk-angguk mengerti.
Budi mematikan rokoknya itu di asbak lalu berkata kembali. "Oh ya, omong-omong mengenai Alden menurutmu eksekusi apa yang tepat untuk menghukumnya?" tanya Budi serius.
"Lebih baik kita siksa dia sampai dia benar-benar tewas, jika kita langsung membunuhnya itu terlalu cepat. Dan terlalu enak juga untuknya, dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal." saran Willy dengan tangan bersilang di dada serta tatapan tajam penuh dengan dendam.
"Ah, begitukah?"
"Ya, aku harap begitu. Aku sama sekali tidak rela jika dia masih berkeliaran di muka bumi ini."
"Aku sependapat denganmu."
Tok.. tok.. tok..
"Masuk!" sahut Budi setelah mendengar seseorang mengetuk pintu.
Ceklek..
__ADS_1
"Ada apa?!" tanya Budi dengan tegas setelah anak buahnya masuk dengan wajah yang amat pias.
Anak buahnya itu seperti kaku untuk berbicara, gestur tubuhnya aneh seperti ketakutan. Tapi disisi lain ia tak bisa menyembunyikan hal ini, melihat anak buahnya yang seperti itu Willy pun ikut menatapnya keheranan.
"Katakan ada apa?!" seru Budi yang langsung berdiri, ia tampak kesal karena anak buahnya itu sama sekali tak mulai berbicara.
"Alden melarikan diri lagi dan kami akui bahwa kami lengah. Dia bisa membuka belenggu itu dan kemudian ia terjun bebas dengan cara memecahkan kaca. Sementara yang lainnya sedang berusaha mencari." anak buah itu langsung berbicara lancar dan cepat setelah sesaat terdiam, namun ia tak bisa memungkiri rasa takutnya yang semakin berkecamuk.
Mendengar hal itu Willy pun ikut tersentak seraya bangun dari posisinya dibarengi dengan Budi yang langsung menggebrak meja dengan kasar tanda emosi.
Brakkk!
"Shitt!" umpatnya dengan nada penuh amarah dan tegas, memancarkan tatapan tajam pada anak buahnya itu. Aura tegang semakin terasa dan tentu saja Willy pun ikut emosi mendengarnya.
"Kenapa kalian tidak becus mengawasi pria dungu itu, hah?!" tanya Willy meledak-ledak.
Anak buah itu menunduk, ia ketakutan jika harus menjawabnya. Terus terang sebagian dari mereka saat penjagaan ada yang tertidur pulas karena kelelahan 24 jam bekerja dan juga yang lebih lalainya lagi dari mereka ada yang asik mengobrol, hingga mereka lengah dalam mengawasi bagaimana Alden melarikan diri dengan mudah.
Dan hal ini adalah kedua kalinya Alden melarikan diri, sementara untuk yang pertama Alden kabur mereka sengaja tidak melapor pada atasan mereka, namun beruntung mereka dapat membawanya kembali dengan tepat waktu, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan sedikitpun. Namun untuk yang kedua kali ini mereka kecolongan.
"Maaf Tuan, tidak bisa di pungkiri bahwa tawanan memang sangat cerdik." kata si anak buah seraya tertunduk takut-takut.
"Bukan karena dia cerdik tapi karena kalian yang bodoh dan dungu!" amarah Willy tak terbendung lagi, ia segera mengambil alih untuk menuntaskannya sendiri. Willy langsung keluar dari ruangan dengan sepasang mata nyalang dan gigi bergemeletuk. Tanda amarahnya yang sudah tak terkendali.
"Cari dia sampai dapat! Jika tidak, aku tidak akan segan-segan untuk menggorok lehermu!" perintah Budi keras dengan wajah menyala.
__ADS_1
"Baik, Tuan!" patuh si anak buah yang langsung segera beranjak keluar dari ruangan dengan terburu-buru.
"Bangsat!" umpat Budi seraya tangan mengepal kuat diatas meja beserta rahangnya yang ikut mengeras.