Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 15


__ADS_3

Elsa baru saja turun dari mobil miliknya dengan diantar supir pribadi serta dituntun oleh seorang pelayan, Elsa yang menggunakan tongkat pun berjalan sementara si pelayan memberikan arahan dengan sangat senang hati.


Elsa merasakan hembusan angin meniup wajahnya tetapi bukan rasa dingin yang didapat, melainkan rasa hangat yang ia rasakan di wajahnya. Kini ia merasakan sinar matahari yang menghangatkan, tanpa sadar senyuman tipis pun terulas dari bibirnya.


"Apakah kita sudah sampai, Bu?" tanya Elsa yang tidak dapat ia pungkiri bahwa rasa penasaran itu kini membuncah di hatinya.


"Iya tentu saja, Non. Dan sekarang kita berjalan menuju paradise."


"Paradise? Ceritakan bagaimana bentuknya, Bu!" pinta Elsa dengan binar mata antusias dan tak sabaran.


"Ta-da, kita sudah sampai." ucap si pelayan setelah menghentikan langkahnya.


Elsa merasakannya, merasakan hangatnya matahari menyentuh kulitnya. Merasakan tiupan angin yang membuat rambutnya yang terurai terapung, hingga ia merasakan si pelayan menyelipkan helaian rambutnya di sisi telinganya. Elsa sedikit menoleh dan mencoba menelisik perasaan pada si pelayan, ia merasa begitu terenyuh dan beruntung mendapatkan pelayan setia sepertinya.


"Terimakasih, Bu." ucap Elsa pelan dan kini membentuk sebuah senyuman yang terkembang di bibirnya dengan begitu tulus.


Si pelayan membalas senyuman. "Sama-sama, Non. Dan biar saya ceritakan, pemandangan di depan Non ini sangatlah indah. Di depan sana, ada sebuah danau dengan perahu kecilnya, ada pepohonan hijau yang rindang, bunga warna-warni, serta ada air terjun di ujung sana. Dan tidak lupa ada burung-burung yang terbang di sekitar danau." cerita si pelayan yang membuat Elsa terbuai hingga ia pun memainkan imajinasinya.


Tanpa sadar Elsa merentangkan kedua tangannya, matanya terpejam, bibirnya mengembang senyuman lalu perlahan ia pun menghirup udara segar yang ia rasakan dan ia kembali membuka matanya secara perlahan. Sekejap ia merasa berdiri seorang diri tanpa siapapun di tempat itu, ia merasakan bahwa kedua matanya bisa melihat lagi. Ia menjerit dan merasa bahwa semua ini mimpi, ia tak percaya bahwa ia bisa melihat keindahan bumi setelah sekian lama. Hatinya begitu sangat bahagia hingga ia meloncat-loncat, berputar-putar kegirangan, dan menari-nari kecil disana.


Sekejap setelah sepasang matanya kembali terbuka ia, kembali merasakan bahwa dunianya berubah sangat gelap. Mendadak hatinya kembali tersentak dan juga rasa sedih itu kembali bersarang di benaknya. Tapi, ia berusaha untuk tidak meneteskan air mata sampai akhirnya dengan perlahan ia menurunkan kedua tangannya yang sempat terentang, berbarengan dengan senyuman si pelayan yang ikut tenggelam karena melihat ekspresi Elsa yang mendadak bersedih kembali.

__ADS_1


"Non, ada apa?" tanya si pelayan hati-hati.


"Kapan aku bisa melihat lagi, Bu?" tanya Elsa dengan lirih.


Si pelayan terdiam sesaat, sebelum akhirnya ia berbicara kembali. "Tuan Willy bilang pada saya bahwa ia akan mencarikan pendonor yang cocok untuk mata Non, bersabarlah." kata si pelayan yang membuat Elsa terperangah kecil lalu ia pun menggeleng samar seraya tersenyum kecut.


"Katakan padanya bahwa aku tidak akan pernah menerima bantuannya lagi!" seru Elsa sarkas yang membuat si pelayan sedikit terkejut dengan apa yang baru saja dikatakannya.


"Memangnya kenapa, Non? Nona sedang bertengkar dengan Tuan Willy?" tanya si pelayan sedikit heran, karena biasanya Elsa tak pernah menolak bantuan apapun dari Willy.


"Karena dia pembohong besar!" jawab Elsa dengan sudut mulutnya mencibir.


"Maksud, Non?" tanya si pelayan kebingungan.


"Tuan Willy begitu baik sekali pada Nona, beliau selalu membuat daftar menu makanan untuk dikonsumsi Nona setiap harinya, dan beliau juga selalu berbelanja makanan sehat untuk Nona. Serta Tuan Willy juga sekarang sedang gencar mencari pendonor mata untuk Nona." ujar si pelayan yang membuat Elsa kesal mendengarnya.


"Aku tidak peduli, Bu! Yang jelas aku tidak mau menerima bantuan apapun lagi darinya! Dan untuk membuat menu makanan aku harap Ibu saja yang membuatnya. Aku tidak mau semua yang berhubungan dengan Willy berkaitan denganku, apa Ibu paham?!" Elsa berseru lantang yang membuat si pelayan terdiam sesaat, si pelayan mengerti mungkin anak majikannya itu sedang bertengkar dengan Tuan Willy hingga ia bersikap seperti ini. "Apa Ibu paham?!" ulang Elsa lagi.


Si pelayan mengangguk ragu. "B-baik, Non."


Elsa menundukan kepalanya lemah. "Kenapa orang yang paling aku sayangi harus berbohong padaku? Kenapa mereka semua berbohong padaku?" tiba-tiba saja Elsa berbicara sendiri dengan lirih dan tanpa sadar air matanya pun ikut menetes.

__ADS_1


"Maksud, Non apa?" tanya si pelayan setelah mendengar Elsa berbicara seperti itu, sekaligus ia tak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan anak majikannya itu.


Elsa melirik sekilas kearah suara si pelayan. "Jangan berbohong padaku, apa Ibu tahu pekerjaan Ayahku selama ini?" tanya Elsa yang mendadak serius dan tentu saja membuat si pelayan terkejut mendengarnya. Mungkinkah si pelayan juga tahu tentang pekerjaan Ayahnya selama ini?


"A-apa?"


"Ibu tahu 'kan?!" tanya Elsa lagi mencoba memastikan.


"S-saya benar-benar tak mengerti dengan apa yang baru saja, Non katakan." ucap si pelayan dengan nada gelagapan.


"Jangan bohong padaku, Bu! Katakan Ibu pasti tahu 'kan?!" todong Elsa yang semakin membuat si pelayan tersudutkan. "Aku mohon jangan sembunyikan apapun dariku, itu juga kalau Ibu benar-benar sayang padaku!"


"Maafkan saya, Non." akhirnya si pelayan bersuara dengan suara yang sangat pelan dengan kepalanya tertunduk layu.


Elsa menggeleng samar memastikan apa yang ia dengar tidak salah, dan ternyata dari apa yang baru saja ia dengar membuatnya mengerti apa arti dari ucapan si pelayan. Ia dapatĀ  menyimpulkan bahwa kata maaf dari si pelayan adalah sebuah pengakuan.


"Saya juga baru mengetahui semuanya sekitar dua tahun yang lalu, namun saat itu saya masih menduga-duga saja. Akan tetapi suatu waktu saat saya mengantarkan minuman keruangan Tuan besar yang sedang rapat, tanpa sengaja saya mendengar perbincangan mereka yang berkaitan dengan penyeludupan ganja keluar daerah. Sejak saat itu saya tahu pekerjaan Tuan besar yang sebenarnya." cerita si pelayan panjang lebar namun dengan suara teramat pelan. Namun, Elsa masih menangkap suaranya dengan baik.


Air mata Elsa kembali menetes namun kali ini jauh lebih banyak, ia tak kuasa membendung kesedihan yang sedang ia alami. Rasanya sangat sakit sekali setelah ia bohongi oleh dua orang yang paling ia sayangi. Dan bahkan, saat ia belum tahu fakta yang sebenarnya ia selalu membanggakan sang Ayah kepada teman-temannya, ia begitu bangga dengan pencapaian sang Ayah yang telah berhasil menjadi pengusaha sukses.


Namun kenyataan yang sebenarnya bahwa pekerjaan sang Ayah sangatlah hina, hanya saja Ayahnya beruntung tidak pernah tertangkap namun ia juga kebingungan jika pekerjaan haram itu masih berlanjut karena dikendalikan Willy. Lambat laun sepintar-pintarnya bangkai disembunyikan pasti akan tercium juga baunya.

__ADS_1


"Kalian jahat," desis Elsa bernada kecewa lalu ia pun langsung berlari tak beraturan, meskipun ia harus terjatuh berkali-kali karena ia tersandung bebatuan.


"Nona jangan pergi!" teriak si pelayan yang langsung panik dan langsung mengejar Elsa yang terus berlari dengan membentang jarak cukup jauh.


__ADS_2