
Alden membuka matanya perlahan, ia merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya seolah-olah tubuhnya telah hancur saat ini. Penglihatannya terasa sangat gelap namun perlahan sorot cahaya dari sebuah rembulan malam membuat matanya berkedip. Perlahan ia terbangun dari posisinya dan ia menyadari bahwa kini tubuhnya berada di atas tumpukan barang bekas yang mengeluarkan bau yang sangat menyengat. Basah dan kotor, sepertinya anak buah Budi tidak bisa menemukannya, karena buktinya ia sekarang masih hidup yang kini ia berada di tempat pembuangan limbah sampah tepat di belakang pabrik.
Tubuhnya dipenuhi banyak darah dan bau anyir yang sangat menyengat, ketika kepalanya mendongak ia melihat langit yang sangat gelap. Ah, ternyata hari sudah larut malam, bibirnya kering dan wajahnya pucat bahkan perutnya mulai keroncongan. Sementara nyeri yang ia rasakan masih menjalar di sekujur tubuhnya. Itu berarti ia tidak bisa diam saja dan ia harus segera pergi tapi tetap harus dengan hati-hati dan ia butuh pemulihan.
Alden tertatih-tatih berdiri, tulangnya terasa patah dan tangannya membengkak. Tapi ia tidak peduli dengan lukanya karena yang terpenting baginya adalah ia harus segera meninggalkan tempat ini.
Setelah melangkah satu langkah, rupanya ia benar-benar lengah karena tidak sengaja menginjak sebongkah seng disana sehingga menimbulkan suara yang memecah kesunyian. Ia mencoba melihat sekeliling di depannya dengan sembunyi-sembunyi dan terlihat sepertinya ada beberapa anak buah Budi ada di sana, mereka sepertinya mendengar suara timah yang ia injak.
Mereka menyorotkan lampu ke sekitar tumpukan barang bekas, jantung Alden berdegup kencang saat tiga anak buah Budi berjalan menghampiri tempatnya. Namun Alden masih bisa menghela nafas lega karena ternyata mereka sudah berhenti mencari sumber suara itu, hampir saja ia terkena pancaran cahaya itu. Alden segera berlutut dan menutup mulutnya agar tidak bersuara, lalu ia pun mulai merangkak mencari jalan pintas secepat yang ia bisa.
Nafas Alden terengah-engah penuh dengan keringat yang membanjiri sekujur tubuhnya. Akhirnya ia terpaksa menembus rerumputan tinggi dan berusaha keras mencari jalan keluar, meski rasanya mustahil ada jalan pintas melewati ilalang.
Alden berjalan dengan pincang karena kelelahan dan ia merasa bahwa dirinya seperti berjalan berputar-putar. Ia bingung dan haus secara bersamaan, sehingga ia tidak bisa berpikir saat ini. Hingga tiba-tiba kakinya tersandung batu, menyebabkan ia terhuyung ke depan lalu tubuhnya berguling-guling. Alden berteriak hingga akhirnya kepalanya membentur sebuah batu besar yang menyebabkan kepalanya mengeluarkan darah dan ia pun mulai tak sadarkan diri.
****
Dering alarm mengganggu tidur Elsa hingga ia membuka matanya. Lagi, setetes air mata menetes kembali dari sudut matanya. Dulu jika ia terbangun dari tidurnya seperti ini, ia akan melihat cahaya yang menyilaukan matanya, tetapi sekarang semuanya tampak berbeda. Yang ia rasakan hanyalah gelap, seolah ia berada di gua yang tak pernah tersentuh cahaya.
Elsa terbangun dari posisinya dan segera menelusuri keberadaan alarm di nakas untuk mematikan deringnya.
Elsa bergeser dan duduk di tepi tempat tidur, ia tampak menarik nafas dalam-dalam dan bahkan ingatannya tentang percakapan antara dirinya dan Willy kembali terngiang-ngiang di antara kedua telinganya.
"Elsa, apa kau marah?"
"Menurutmu?"
__ADS_1
"Tapi kenapa? Boleh aku tahu alasannya?"
"Apa? Tapi kenapa kamu bilang, hah?! Tidakkah kau menyadari bahwa aku hancur Wil! Aku hanya ingin kematian Ayahku diurus oleh polisi, aku ingin menangkap siapa yang membunuh Ayah! Apa aku salah? Wil? Tapi mengapa kau melarangku untuk menyelidiki kasus ini? Apa kau tahu Ayahku meninggal dan aku buta, apa kau senang melihatku menderita seperti ini, Wil?!" sungut Elsa saat itu.
"Elsa, bahkan jika kau ingin menyelidiki kejadian ini dengan polisi itu akan membuatmu semakin tidak aman."
“Apa maksudmu tidak aman, hah?!”
"Elsa, tolong jangan seperti ini."
"Jawab pertanyaan ku! Kenapa aku akan merasa tidak aman, Wil?!" seru Elsa semakin penasaran.
"Sebenarnya Ayahmu adalah seorang gembong narkoba,"
Apalagi yang ia lakukan selama ini ternyata merupakan hasil barang haram. Pantas saja ayahnya memiliki musuh besar dan bahkan kini ia sadar bahwa keberadaannya selama ini tidak pernah aman, ia selalu ditemani bodyguard ketika akan keluar. Namun yang terjadi malam itu adalah takdir karena mereka berdua pergi tanpa pengawal karena ia yang memintanya. Dan apa yang terjadi dengan kematian dan kebutaan ayahnya bukanlah tanpa alasan, ia kini menyadari bahwa semua yang terjadi adalah karena ayahnya adalah seorang gembong narkoba kelas internasional.
Elsa kehilangan gairah hidup, ia tidak tahu bagaimana caranya menjalani hari dalam kondisi seperti ini. Jiwanya terganggu, perasaan trauma dan putus asa kerap menyerangnya. Walaupun ia memiliki banyak teman sekolah yang selalu peduli padanya, namun baginya itu masih belum cukup. Sejak buta ia tidak pernah sekolah, tidak pernah keluar, jalan-jalan atau liburan. Elsa tidak pernah memikirkan hal itu lagi, tubuhnya kurus dan wajahnya pucat, serta bibirnya yang tidak pernah melengkung ke atas untuk membentuk senyuman dan semuanya sudah tidak terlihat lagi.
Tok .. Tok .. Tok
"Nona, sarapan." tiba-tiba seorang pelayan wanita paruh baya datang membawa nampan berisi semangkuk sup dan segelas air, pelayan itulah yang selalu membantu merawat Elsa selama 10 tahun terakhir. Dan meski Elsa buta dan ayahnya sudah tiada, pelayan itu tetap setia.
Elsa mencoba menoleh ke arah sumber suara, ia sama sekali tidak menjawabnya dan ia hanya bisa menganggukkan kepalanya, melihat itu tentu saja sang pelayan semakin merasa kasihan melihat anak tuannya yang telah berubah 180 derajat. Dulu, anak majikannya itu sangat bersemangat dan juga energik, namun perubahan sikap itu bukan tanpa alasan. Sang pelayan juga memahami kondisi dan perubahan anak majikannya itu.
Pelayan segera meletakkan nampan di meja samping tempat tidur, berdiri tepat di depan Elsa yang malang. Pelayan itu sangat khawatir dengan kondisi Elsa yang sering murung, melamun, dan juga sering menangis. Hingga pelayan berusaha untuk selalu memberikan support dan lebih memperhatikannya.
__ADS_1
"Nona, sarapan dulu, ya?" bujuk si pelayan sambil mengulas sebuah senyuman meski Elsa tidak bisa melihat senyuman itu.
"Ya," sahutnya singkat.
"Nona, sakit?" tanya pelayan itu khawatir karena wajah Elsa terlihat sangat pucat.
Elsa menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak," jawabnya pelan.
Pelayan itu menghela nafas dengan tidak nyaman. "Ayo ke dokter, Non?"
Elsa menggelengkan kepalanya lagi. "Tidak perlu, aku baik-baik saja." ia menolak dengan halus.
“Tapi Non terlihat sangat pucat, atau ini efek Non tidak pernah terkena sinar matahari? Ah, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja, Non?" bujuk pelayan itu dengan nada penuh semangat.
Sekali lagi Elsa menggelengkan kepalanya. "Tidak ada gunanya, aku tidak bisa melihat, Bu." katanya dengan nada putus asa.
Pelayan itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak, Non. Tidak. Aku yakin Non pasti akan merasakan hangatnya mentari pagi meski tanpa melihatnya, nanti akan ku bantu ceritakan pemandangannya. Ayo ke taman kota, Non? " pelayan itu tidak pernah menyerah untuk membujuk Elsa yang malang.
Elsa terdiam sesaat sebelum akhirnya ia setuju dengan cara menganggukan kepalanya lembut.
"Baik, Non. Kalau begitu Non mandi dulu, terus sarapan lalu kita bergegas. Biar aku bantu." kata pelayan dengan mata berbinar antusias lalu membantu Elsa untuk bangun dari tempat tidur dan menggiring Elsa ke kamar mandi.
"Terima kasih, Bu." kata Elsa dengan senyum tipis.
"Sama-sama, Non." jawab pelayan itu dengan gembira.
__ADS_1