
Di Setiap pijakan kakinya menyusuri lorong penjara beberapa tahanan yang berada di sel menatap Alden dengan tatapan mereka yang tajam, khas brandal yang kejam. Mungkin para tahanan di dalam sana memiliki kasus yang besar dan juga macam-macam, namun Alden berusaha mengabaikan mereka guna menghindari sesuatu yang tak diinginkan.
Sepanjang perjalanan hidupnya, hari ini adalah kali pertama Alden masuk kedalam penjara. Ia memandangi sekeliling ruangan tahanan setelah polisi menjebloskannya kedalam sel, kemudian polisi pun menguncinya. Alden berusaha untuk bersikap tenang, tatkala ia melihat pandangan mereka yang memiliki sorotan tajam serta wajah sangar dari masing-masing para tahanan yang satu sel dengannya. Alden hanya terduduk tanpa kata, ia sedang tak ingin mengundang keributan jika ia bersuara dan dianggap melanggar aturan. Meskipun ia belum pernah mengerti bagaimana situasi di dalam penjara, tapi ia yakin pasti dalam setiap sel memiliki seorang pimpinan yang terkadang begitu belagu dan juga arogan.
"Siapa yang menyuruhmu duduk?!" seseorang tiba-tiba bersuara lantang seraya berdiri tepat di hadapan Alden, gigi pria itu bergemeletuk dengan rahangnya yang mengeras.
"Semua orang berhak duduk 'kan?" sahut Alden berucap setenang mungkin.
"Tapi itu semua tidak berlaku untuk tahanan baru sepertimu!" sungutnya lalu menendang kaki Alden dengan begitu kasar.
Napas Alden tertahan untuk sesaat, rahangnya mengeras namun ia berusaha menahan amarahnya. Ia tak boleh terpancing emosi sekarang, bagaimanapun ia sedang tak ingin mencari masalah, maka lebih baik sekarang ia menahan diri dan berusaha mengalah.
"Berdiri!" sentaknya kasar seraya melotot.
Dengan begitu terpaksa Alden pun bangkit berdiri mengikuti kemauan pria itu, ia yakin pasti pria berkepala plontos itu adalah pimpinan di sel ini.
"Jangan duduk sampai jadwal makan siang, apa kau mengerti?!" teriaknya kasar tepat diwajah Alden.
Alden tak menjawab apapun karena ia masih fokus untuk mengendalikan diri agar tak terbawa suasana.
Melihat hal itu tentu saja membuat Wawan si bos dalam sel itu, seketika saja murka karena Alden sama sekali tak menunjukan wajah takutnya. Yang tentu saja membuat Wawan menganggap sebagai bentuk ekspresi meremehkan.
Dan seketika saja Wawan langsung mencengkram rahang Alden dengan begitu kasar serta matanya yang ikut melotot.
"Apa kau tuli, hah?! Kenapa kau sama sekali tidak menjawab apa kataku, hah?!" sengitnya lalu melepaskan tangannya di rahang Alden dengan satu hentakan kasar.
Napas Alden terengah, dadanya sedikit sesak karena sedari tadi ia tengah menahan amarah yang bergejolak. Ia ingin melampiaskannya namun tak semudah itu ia harus menunjukan taring nya. Ia harus bersabar sedikit, jika pria plontos itu semakin brutal maka ia takkan segan untuk menghabisinya.
Baru saja mencengkram rahang kini Wawan langsung menjambak rambut gondrong Alden hingga kepalanya menengadah dalam satu tarikan kasar.
__ADS_1
"Aku tidak suka bantahan dan aku tidak suka sebuah perlawanan. Jika kau melakukan keduanya, aku takan segan untuk menghabisi nyawamu disini! Semua orang tunduk padaku dan jika kau tidak patuh padaku tentu kau akan mendapatkan akibatnya!" ancam Wawan sedikit teriak seraya mengerutkan kening dan melotot geram.
Alden hanya bisa menatap wajah pria itu dengan wajah menyala. Namun sekali lagi, ia takkan mengambil sikap. Ia tak ingin masa tahanannya bertambah jika ia bersikap tercela disini. Maka sebaiknya ia hanya bisa berpura-pura patuh pada pria itu.
"Tentu aku akan patuh padamu," sahut Alden akhirnya, setelah sepersekian detik terdiam.
Wawan tersenyum sinis mendengarnya, betapa ia sangat begitu berbangga diri karena ia adalah orang yang paling ditakuti di penjara ini. Setidaknya uang hasil palakannya akan semakin bertambah karena tak ada satupun orang yang berani menghakiminya.
"Bagus!" Wawan langsung melepas tarikan tangannya di rambut Alden dengan kasar, hingga membuat Alden meringis kesakitan dibuatnya. "Tapi sebelum itu, aku ingin memberikanmu kejutan spesial karena sekarang kau bagian dari kami," seringai misterius itu terpatri dari wajahnya yang membuat Alden terdiam oleh antisipasi.
Bugh!
Maka dengan gerak cepat satu bogeman pun mendarat dengan begitu sempurna tepat di pangkal hidung Alden hingga mimisan, ia meringis pelan sementara tahanan yang lainnya malah menertawakannya sembari berdiri dan mengerubungi.
"Rasanya ini belum cukup, jadi nikmatilah! Hiyaaat...."
Bugh!
Dan pada saat Wawan melancarkan serangan, ia harus bisa menangkap lengan bagian bawahnya lalu diputar hingga pria itu terbanting.
Bagi Alden semua itu memang mudah untuk dilakukan, namun belum saat nya ia membuka diri.
Seketika saja Wawan menendang perut Alden menggunakan lututnya bertubi-tubi hingga membuat Alden benar-benar merasakan badannya lemas, lalu tak sampai disitu saja Wawan pun langsung mendorong tubuh Alden hingga terjerembab pada ubin. Dan seakan mengerti kode dari Wawan makan para tahanan yang lain pun langsung ikut memukuli Alden dengan mengerubunginya, hingga membuat Alden hanya bisa berteriak kesakitan.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
__ADS_1
Wawan tertawa puas betapa ia sangat begitu menikmati momen-momen seperti ini pada saat ada tahanan baru, ia bisa menyombongkan diri dengan kekuasaan yang ia miliki selama ia di dalam penjara.
****
Suara lonceng berbunyi para tahanan pun berbondong-bondong keluar dari sel untuk menikmati jam makan siang. Sementara Alden terlihat masih meringkuk di ubin dengan keadaan seluruh wajahnya yang bengkak dan juga memar. Serta beberapa luka di bagian tangan dan juga kaki.
Lagi-lagi Alden hanya bisa meringis kesakitan, rambutnya pun terlihat acak-acakan akibat ulah dari mereka yang menghajarnya dengan cara brutal dan membabi buta.
Dengan perlahan Alden pun berusaha untuk bangkit, meskipun rasanya tulang-tulangnya terasa patah di beberapa bagian atau mungkin terkilir. Dengan tertatih-tatih ia mencoba untuk berjalan, apalagi perutnya kini mulai terasa keroncongan. Ia tak bisa melewatkan jam makan siang yang terbatas seperti ini, ia tak ingin mati kelaparan di jeruji besi. Maka dengan kaki terpincang-pincang ia pun keluar dari jeruji lalu melihat sekeliling yang sudah kosong melompong.
Rahang Alden mengeras, satu tangannya mengepal kuat di sisi tubuh sementara tangan yang lainnya memegangi perut yang bercampur rasa sakit dan juga lapar.
"Aku harap aku tidak mati disini, bertahanlah ini tak sebanding dengan apa yang pernah aku perbuat di masa lalu." batin Alden berkata untuk sekedar menguatkan dirinya sendiri yang mulai merasa putus asa.
Alden berjalan menuju kantin yang terlihat ramai, beberapa tahanan masih ada yang mengantri untuk mengisi nampan sekat food tray stainless dengan nasi khas penjara, yaitu nasi cadong. Nasi yang sama sekali belum pernah ia makan seumur hidupnya, namun dari desas-desus yang beredar nasi cadong sama sekali terasa hambar, karena mungkin dimasaknya secara asal-asalan karena memasak dalam porsi banyak, apalagi beras nya bermutu rendah sehingga mungkin rasanya jauh dari kesan mewah.
Para tahanan yang lain melihat Alden seraya berbisik atau mungkin bergosip, sesekali mereka menertawakannya karena ia berjalan terpincang-pincang, sebagiannya lagi malah menatapnya tajam dan juga sangar.
Namun Alden tak peduli, yang ia pedulikan hanyalah perutnya yang sedang keroncongan. Kemudian ia pun mengambil nampan lalu mulai mengantri.
Setelah nampan itu terisi dengan makanan, Alden pun mengedarkan pandangan lalu melihat sekeliling yang tak ada bangku kosong untuk ia duduki. Namun saat ia menengok kebelakang ada satu bangku yang kosong, hingga ia pun bernapas lega karena akhirnya ia bisa duduk dan segera makan.
Dan saat Alden hendak berjalan, tiba-tiba saja Wawan menjegal kakinya hingga ia tersandung lalu terjatuh ke lantai sementara makanannya terlempar hingga tumpah berserakan.
Brukk!
"Pungut!" perintah Wawan lantang, hingga membuat kepala Alden terangkat dan langsung menatap Wawan tajam.
"Cari mati!" desis Alden dengan gigi bergemeletuk, serta wajahnya yang menyala seraya merangkak lalu ia pun meraih garpu yang tergeletak di sampingnya dan hendak menyerang Wawan.
__ADS_1