Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 39


__ADS_3

Anak buah dari Budi baru saja menyeret mayat Jefri yang bersimbah darah dan dipenuhi luka-luka hampir disemua bagian, sepasang matanya melotot dan mulutnya menganga karena sepertinya sebelum Jefry mati ia mendapati kekerasan terlebih dahulu yang mengakibatkannya mengalami trauma dengan apa yang Budi lakukan, hingga ekspresi kematiannya terlihat sangat begitu mengerikan. Mereka mengumpulkan semua mayat di belakang mansion. Dengan mayat meliputi para anak buah Jefry serta adik perempuannya.


Anak buah Budi memerintahkan mereka untuk segera menguburkan mereka secepat mungkin sebelum matahari menyingsing dari pelupuk timur. Setelah penggalian tanah selesai maka semua mayat dibuang begitu saja pada lubang besar dan cenderung bertumpuk-tumpuk, dan setelah itu mereka merawatnya dengan tanah. Agar tidak menimbulkan kecurigaan suatu saat nanti, maka bekas galian itupun ditanam dengan beberapa pepohonan kecil serta beberapa pot bunga besar hingga tanda-tanda sebuah kuburan pun tidak akan terlihat.


Mereka semua juga membersihkan bercak-bercak darah yang berceceran dimana-mana, memusnahkan semua barang bukti yang ada. Sebelum mereka meninggalkan mansion, tempat itu harus terlihat rapi dan juga bersih. Seolah-olah mansion itu baru saja ditinggalkan pemiliknya dengan keadaan baik-baik saja.


Anak buah Budi terlihat sangat sibuk, sementara Budi kini tengah berada di dalam ruang kerja milik Jefry. Budi terlihat sedang mencoba mencari-cari sesuatu yang dirasa penting, mengambil beberapa tumpukan berkas yang tersusun rapi di antara rak-rak yang menjulang tinggi.


Senyuman Budi terulas saat ia menemukan berkas penting mengenai harta kekayaan milik Dirly, siapa yang tak kenal dengan Dirly? Semua mafia pasti mengenal siapa dia. Dirly yang memiliki aset-aset berharga yang nilainya begitu fantastis dan semua itu atas milik putrinya. Sepertinya Jefri belum sempat memaksa Elsa untuk membubuhkan tanda tangan di dalamnya, hingga Budi sepertinya harus bekerja keras untuk hal ini. Tidak munafik, ternyata ia juga tergiur dengan harta yang melimpah milik Dirly. Dan berkas yang ia temui sekarang bagaikan harta karun yang didapatnya dengan mudah.


"Apakah aku akan memerlukan ini? Dan sepertinya 'iya'. Dirly adalah seorang gembong narkoba yang sukses dan sepertinya ia tidak akan mempermasalahkan harta kekayaannya. Selain dia juga sudah mati, pembagian harta ini termasuk pahala juga untuknya, hahahaha... Aku tidak peduli dengan hak, semua orang pasti tahu mafia itu kejam, sadis, dan juga licik. Willy juga pasti tidak akan mempermasalahkan ini, karena ia tidak tahu tentunya. Dan yang Willy incar juga bukanlah harta dari majikannya melainkan putrinya. Hihi, lucu sekali." Budi berbicara sendiri seraya tergelak, karena mungkin menurutnya semua ini terdengar sebuah lelucon yang sangat mengocok perut.


Segera Budi mencari berkas yang lainnya termasuk harta kekayaan milik Jefry, satu persatu ia memasukan berkas-berkas penting itu pada tas hitam untuk dibawa pulang sebagai buah tangan.


"Ah, inilah cara jitu untuk memperkaya diri sendiri, hahaha." Budi tertawa puas lagi, seraya geleng-geleng kepala dengan apa yang baru saja ia dapat saat ini.


Sementara suasana Alden saat ini, ia terlihat tertidur karena kelelahan meskipun dengan posisi tubuh menjuntai karena tangannya masih terikat rantai yang membuat sensasi pegal itu begitu amat terasa. Perlahan matanya pun mulai terbuka, rasanya sekujur tubuhnya sangat begitu sakit dan terasa remuk. Ia ingin segera melarikan diri dari tempat ini sebelum Willy datang dan membawa Elsa untuk mempertemukan mereka berdua, lalu Willy akan membocorkan sebuah fakta bahwa ia lah penyebab kematian ayahnya serta yang membuatnya buta.


Sebelum mimpi buruk itu terjadi, ia harus cepat memikirkan sesuatu. Ya, meskipun Willy tidak tahu bahwa ia dan Elsa kini terlibat hubungan yang sangat baik, serta Elsa yang tidak mengetahui bahwa ia dan Willy saling mengenal satu sama lain.


Jika mereka dipertemukan dan Elsa akan mengenali suaranya jelas semua itu adalah malapetaka untuknya. Alden pasti akan gagal mengambil kesempatan untuk menebus semua kesalahannya pada Elsa, karena Elsa pasti akan sangat membencinya sebelum penebusan dosa itu dilakukan olehnya. Dan Alden sama sekali tidak ingin semuanya berakhir dengan buruk, ia ingin menghadirkan senyuman di bibir Elsa sebelum semuanya terlambat dan ia hanya ingin membuat Elsa bahagia selama mereka bersama. Ia sama sekali tak ingin Elsa membencinya, meskipun sebenarnya itu adalah hal wajar jika Elsa akan berubah membencinya suatu saat nanti, apalagi setelah rahasia besar ini terbongkar.


"Akhh," Alden meringis tatakala ia mencoba bergerak sedikit dan rasanya sangat perih sekali. Namun ia harus berusaha kuat untuk menahan rasa sakitnya itu.


Hening.

__ADS_1


Alden menoleh sekilas kearah jendela kaca terlihat awan mulai menampakan fajar. Rupanya hari sudah menjelang pagi. Ia mencoba memejamkan mata dan berusaha berpikir keras untuk mencari ide. Dan biasanya saat ia tengah kelaparan seperti ini ia akan kesulitan mendapatkan ide cemerlang, akan tetapi sekarang mendadak otaknya begitu sangat encer. Ekspresi licik pun kini terpatri dari wajahnya dan ia pun mulai menjalankan aksinya.


"Tolong! Tolong!" teriak Alden mulai bersandiwara.


Seketika saja datang satu penjaga dengan wajah sangarnya menghampiri Alden, sementara ia berpura-pura sedang menahan BAB.


"Ada apa, hah?!" tanya si penjaga sambil melotot.


"Aku ingin buang air besar, rasanya sudah di ujung. Aku tak tahan lagi." keluh Alden dengan nada panik, untuk memulai sandiwara.


"Jangan bohong!" sambungnya cepat sambil menyentak.


"Untuk apa aku berbohong, perutku mulas dan melilit. Sepertinya aku mencret, kau tak inginkan aku buang kotoran disini? Apa kau tahu aroma mencret seperti apa? Bau dan juga berwarna kuning cair, apa kau tidak akan jijik? Baiklah kau sendiri yang tidak mengizinkan aku pergi ke toilet, biarkan aku buang kotoran disini." ancam Alden memampangkan wajah serius, namun sebenarnya dalam batin ia sedang tertawa terbahak-bahak. Ia juga malah geli sendiri setelah mengatakan bahwa ia sedang mencret.


Di satu sisi sepertinya si penjaga juga tidak ingin jika tawanannya itu BAB sembarangan. Selain merepotkan, ia juga sudah merasa jijik duluan setelah mendengarnya berkata seperti itu.


Penjaga itu merogoh sebuah kunci kecil dibalik sakunya, kemudian mulai melepaskan rantai yang bersatu dengan borgol, kemudian penjaga itu pun langsung membawa Alden keluar ruangan dengan kedua tangannya yang di pegang kuat-kuat oleh si penjaga seolah-olah untuk ber-antisipasi jika tawanan akan melarikan diri.


Mereka keluar ruangan menuju toilet, saat Alden berjalan mendapati anak buah Budi yang sangat banyak. Mereka tengah pesta alkohol dan terlihat mabuk-mabukan dan sebagian dari mereka menatapnya dengan tatapan tajam saat ia melintas.


Alden tak menghiraukan karena yang terpenting baginya adalah ia harus segera kabur tanpa susah payah. Setelah sampai ia langsung masuk ke dalam toilet, sementara si penjaga menunggunya di luar.


Alden mengunci pintu pelan-pelan lalu mulai menyalakan keran dan meminum air mentah itu dengan rakus. Jelas saja ia amat kehausan karena mereka begitu sadis tak memberikan makanan ataupun minuman untuknya sama sekali dan sepertinya mereka ingin membunuhnya secara perlahan, sangat kejam.


Setelah ia merasa segar ia pun bernapas lega, akhirnya tenggorokannya tidak lagi kering dan rasanya jauh lebih baik juga setelah ia mencuci wajahnya, meskipun masih terasa sangat perih. Semoga saja ia tidak sakit perut karena minum air mentah seperti ini.

__ADS_1


Alden mencoba berfikir lagi bagaimana caranya ia untuk melarikan diri tanpa bertarung. Selain kalah jumlah, tenaganya juga sudah terkuras habis karena penyiksaan yang dilakukan mereka. Ia berjalan mondar-mandir, menghela napas panjang dan mulai gelisah. Hingga saat ia menengadah ia melihat sesuatu.


Jendela kamar mandi yang ukurannya tidak terlalu besar, apakah akan muat jika ia kabur lewat jendela itu? Jendela itu cukup tinggi, apalagi tidak ada jangka untuk ia bisa naik ke atas. Alden berpikir sejenak lalu ia pun berusaha untuk naik dan menginjakan kaki di wastafel dengan sangat hati-hati. Ia berusaha untuk menjangkau jendela dan akhirnya ia pun berhasil karena tangannya dapat meraih kusen jendela itu dengan sempurna. Alden mengukur jendela sesuai dengan ukuran pinggangnya dan rupanya keberuntungan itu masih berpihak padanya. Sepertinya ukurannya sedikit longgar hingga tubuhnya pun dapat dipastikan bisa keluar dengan sempurna lewat jendela itu.


Tak ingin kehilangan kesempatan Alden pun langsung memanjat lalu menyembulkan kepala keluar untuk melihat apakah ia akan mendarat dengan sempurna atau tidak. Dan setelah melihat ternyata ia hanya perlu meloncat sedikit dan ia akan mendarat dengan sempurna. Rupanya ia kini berada di lantai bawah sehingga ia tak perlu susah payah untuk terjun bebas.


Alden tersenyum lebar, ia juga melihat sekeliling untuk memastikan situasi saat ini benar-benar aman. Dan setelah dirasa aman tanpa berfikir panjang akhirnya ia pun langsung meloncat ke bawah.


Brakk...


Tubuhnya terjatuh, segera Alden pun bangkit kemudian berlari kencang di halaman belakang mansion itu. Ia takut jika mereka menyadari bahwa ia telah melarikan diri.


Merasa sangat lama akhirnya si penjaga merasa curiga, maka ia pun langsung menggerakan gagang pintu toilet dengan cepat dan ternyata pintu itu dikunci. Merasa janggal akhirnya si penjaga itu pun memutuskan untuk mendobrak pintu itu dengan panik bercampur dengan amarah.


Brakkk!


Setelah pintu itu terbuka lebar, betapa terkejutnya ia mendapatkan toilet kosong tanpa keberadaan Alden disana dan bahkan ia begitu terkejut karena jendela itu terbuka. Ia bisa menebak bahwa Alden pasti melarikan diri lewat jendela itu.


"Bangsat!" umpat si penjaga marah besar seraya ia menendang pintu dengan kasar.


Tak ingin kehilangan kesempatan lebih jauh, si penjaga itu pun langsung merogoh walkie talkie dari saku jasnya.


"Tawanan kabur, segera cek ke belakang mansion!" perintahnya tegas pada teman yang lainnya di seberang sana.


"Siap!" sahut penjaga lainnya gerak cepat.

__ADS_1


__ADS_2