Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 11


__ADS_3

Tiga minggu kemudian.


Ibarat burung keluar dari sangkar, karyawan pabrik boba doll berhamburan keluar pabrik, jam 12 siang adalah waktu istirahat karyawan untuk mengisi perut yang keroncongan akibat seharian bergelut dengan pekerjaan mereka yang cukup sibuk. Begitu pula dengan karyawan peracik liquid vape.


Sementara itu, dua sosok bersetelan jas hitam yang gagah memasuki area tersebut. Mereka naik lift ke lantai lima dan langkah mereka berhenti di sebuah ruangan khusus yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu. Dua orang bodyguard mempersilakan dua orang pria berjas yang ternyata adalah Alden dan Robbin untuk masuk kesana. Para bodyguard tersebut pun terlihat tersenyum namun bagi Alden senyuman itu seperti mengisyaratkan sesuatu yang aneh. Alden melirik Robbin seolah-olah mereka berbicara melalui mata mereka, tetapi Robbin hanya mengangkat bahu seolah ia tidak mengerti apa-apa.


Pintu besar terbuka lebar, Alden dan Robbin masuk dengan derap berirama seolah dari ketukan sepatu yang terdengar bergema. Hari ini mereka akan bertemu dengan Budi selaku gembong mafia besar yang sesungguhnya.


Alden memencet bel setelah berdiri di salah satu pintu lagi dan saat itu juga pintu otomatis terbuka sehingga keduanya bisa masuk dengan leluasa.


Alden menemukan tubuh kekar berbalut setelan jas merah marun memunggungi mereka berdua dengan kedua tangan tepat di saku celananya. Pria kekar itu adalah Budi dan ia sepertinya tahu siapa yang datang karena ialah yang mengundang mereka. Tangannya tiba-tiba terangkat dan bertepuk tangan memecah kesunyian, sementara senyum miring terpampang di wajahnya.


"Bagaimana kabarmu dengan Jeffry? Apakah dia masih sehat dengan kedua kaki dan kedua tangannya masih utuh?" Budi memutar tubuhnya ke arah Alden dengan tatapan misteriusnya.


Alis Alden langsung menyatu di tengah karena ia sama sekali tidak mengerti sapaan apa yang baru saja Budi berikan padanya.


"Saya pikir Bos Besar baik-baik saja," jawab Alden setelah hening sejenak.


"Really?" Ia bertanya sambil terkekeh, sementara Alden terdiam lagi. "Lalu bagaimana dengan kalian berdua? Apakah hari ini adalah hari yang baik atau benar-benar buruk?" sekali lagi, pertanyaan seperti itu membuat Alden berpikir dan sepertinya ia bisa menebak sesuatu yang aneh dari ekspresi Budi yang jauh dari biasanya.


“Eh, kalau boleh tahu ada apa, Pak Budi mengundang kami ke sini?” kali ini Robbin yang mengambil alih untuk berbicara seolah ingin memecahkan kebekuan yang menyelimuti dengan disertai tawa kecil.


"Menurutmu?" Budi malah berbalik bertanya membuat Alden dan Robbin saling melirik. “Ah, canggung sekali kalian. Ayo duduk dulu,” ajak Budi sambil tertawa aneh.

__ADS_1


Tak ingin menunjukkan rasa curiga, Alden dan Robbin akhirnya duduk di antara dua bangku tunggal yang berhadapan langsung dengan pemilik ruangan yang kini juga duduk tepat di depan mereka.


Budi tersenyum misterius. "Apakah kau sudah minum kopi hari ini?"


Alden tidak menjawab tapi Robbin menjawab dengan diiringi tawa ringan. “Ah, Pak Budi sepertinya Bapak tahu bahwa kita belum sempat minum kopi pagi ini.”


"Ah, baiklah. Dua cangkir kopi untuk kalian berdua." kata Budi sambil menyalakan sebatang rokok lalu dihisap dalam-dalam, hingga asapnya mengepul ke udara.


Setelah mengatakan itu seorang budak membuka pintu dengan nampan di tangannya dengan berisi dua cangkir kopi sesuai permintaan. Ketika budak itu meletakkan dua cangkir kopi tepat di depannya, Alden lama menatap kopi itu dan merasa canggung dengan tangannya bergerak gelisah di antara pangkuannya. Ia ingin menuntaskan rasa penasarannya, maka ia pun segera meraih cangkir itu bak kilat dan ketika ia mencium aroma kopinya terlihat jelas betapa kuat baunya. Hingga saat ia melihat Robbin yang hendak menyesap kopinya, ia pun segera menghentikannya dengan menyikut lengan Robbin seperti kilat, hingga tanpa sengaja cangkir kopi itu jatuh ke ubin dan pecah berkeping-keping.


Gembreng!


"Bajingan!" tiba-tiba Budi mengumpat dengan kasar dan lantang yang membuat Alden dan Robbin menatapnya penuh was-was.


Tiba-tiba Budi berdiri lalu menggebrak meja dengan kasar, ia memutar rokok pada tempat abu rokok. Hingga Alden dan Robbin langsung berdiri dengan pandangan mereka berdua berbeda menatap Budi, biasanya Budi selalu ramah tapi sekarang terlihat dari sorot matanya tampaknya ia sedang marah.


Alden menilai pasti ada yang tidak beres dengan semua ini, padahal sepekan lalu Budi sempat membanggakan dirinya karena transaksi hasil penjualan narkoba didapat dengan berkali-kali lipat dengan pendapatan yang jauh lebih untung dari sebelumnya.


"A-ada apa, Pak?" tanya Robbin gugup.


Budi menatap Alden dan Robin dengan tatapan liar, rahangnya mengatup dan giginya gemeretak disertai dengan tangannya yang mengepal kuat di atas meja. Tiba-tiba Budi bersiul panjang seperti sedang memberi kode.


Hingga saat itulah pintu terbuka lebar hingga membuat Alden dan Robin menoleh, mereka berdua sangat terkejut karena rombongan anak buah Budi datang dengan sangat menakutkan. Mereka semua membawa senjata tajam di tangan berupa samurai, kopak rawit dan juga celurit.

__ADS_1


Ada enam orang anak buah Budi yang masuk ke ruangan itu, sehingga Alden dengan cepat memaksa Robbin untuk menghindar ketika kapak yang ada di tangan mereka hendak menyayat lehernya. Maka dengan kelihaian yang dimiliki Robbin, ia langsung menghindar dengan gerakan cepat.


"Hiyaaaa Ttttt…."


Anak buah Budi menyerang Alden dan Robbin di dalam ruangan, sedangkan Budi menjadi penonton dengan senyum penuh arogansi. Diantara ruangan yang tidak luas, tentu membuat Alden sedikit kewalahan ditambah lagi ia benar-benar kalah jumlah. Tapi meski kalah jumlah, ia dan Robbin merasa percaya diri dan tidak takut untuk melawan mereka semua.


Alden sendiri mencoba menghitung kekuatan meskipun ia menyadari bahwa ia tidak terlalu pandai dalam hal itu, tetapi ia telah belajar di masa lalu dalam seni bela diri yang dapat diambil untuk situasi seperti ini. Namun, ia tidak bisa dibodohi dan ia tidak bisa menyerah serta tidak mau mengambil resiko yang penuh dengan bahaya, jadi ia memutuskan untuk diam-diam meraih kerambit miliknya di dalam saku jas. Kerambit yang sering ia bawa kemana-mana untuk selalu waspada karena ia tidak pernah tahu bahaya apa yang akan mengintai dirinya.


Tak perlu dikatakan, enam lawan dua pertarungan pun terjadi yang jumlahnya tidak proporsional. Jika melihat angkanya, mungkin Alden akan kalah, namun lagi-lagi kemenangan akan didapatkan jika seseorang memiliki skill yang mumpuni.


Bagi Alden, menjadi bagian dari mafia adalah sebuah pilihan dan ia terbiasa berhadapan dengan kematian. Satu-satunya pilihan adalah membunuh atau dibunuh, itu saja. Dan itu membuatnya kehilangan rasa takutnya. Emosi dan juga kemarahan sudah mendarah daging dengan semburan darah yang mendidih dan sudah menjadi bagian dari hidupnya, sehingga goncangan untuk saling bunuh adalah hal yang lumrah.


Denting senjata yang saling beradu bercampur dengan teriakan kasar para petarung terdengar mendominasi ruangan. Alden mencoba memfokuskan serangannya ke area tenggorokan penyerang. Memukul tenggorokan adalah salah satu cara terbaik untuk melumpuhkan penyerang. Dengan pukulan keras ke tenggorokan, ia akan mengenai trakea dan membuat lawan sulit bernafas. Hingga membuat lawan akan berhenti membalas serangan setelah menerima pukulan, namun seakan tak ingin langsung melewatkan kesempatan, ia pun langsung menebas leher penyerang di area leher menggunakan kerambitnya.


"Hiya Ttt..."


Shrk!


Darah muncrat dari mulut si lawan hingga menyebabkan urat lehernya timbul dengan darah yang semakin menyembur, kemudian tubuh lawan pun dibanting bak seperti karung beras.


Bruk!


Sampai akhirnya salah satu anak buah Budi tewas di tempat.

__ADS_1


__ADS_2