
"Alden, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu!" seorang polisi datang memanggil Alden hingga membuatnya langsung bangkit berdiri dari posisinya sebelumnya.
Jeruji besi telah di buka dan Alden pun langsung keluar dengan di bantu satu polisi lainnya karena Alden tak bisa melihat, sampai akhirnya ia pun langsung terpaku saat mendengar suara ayahnya memanggil dirinya.
"Alden?"
Pandangan Bramantyo langsung bertemu dengan kedua bola mata putranya yang sama-sama berselimut lapisan bening, sampai akhirnya Alden pun langsung berjalan ke arahnya menggunakan tongkat dan seketika itu pula ia pun langsung bersimpuh di kaki Bramantyo dengan tangisan mereka yang kini sama-sama pecah.
"Ayah, Ayah." sebut Alden berulang kali seraya sesegukan lalu mereka pun saling berpelukan untuk melepaskan segala kerinduan yang teramat dalam.
"Alden." sebut Bramantyo dengan lirih dan juga berlinangan air mata.
"Bagaimana kabar Ayah dan juga Elsa? Jujur saja, selama aku berada disini aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku insomnia, aku memikirkan kalian berdua. Aku merasa bahwa rasa bersalahku sama sekali tak pernah berkurang sedikitpun dan aku malah semakin menderita, aku ingin bertemu dengan Elsa dan mengapa aku tak mendengar suaranya di sini? Apa Elsa sudah ditemukan?" tanya Alden diantara isak tangisnya yang merebak.
__ADS_1
Bramantyo merangkum kedua pipi putranya dengan bibir bergetar dan berlinangan air mata, ia ingin mengatakan sesuatu meskipun sebenarnya ia sama sekali tak sanggup untuk mengatakannya. Tapi, tidak mungkin kalau semuanya harus tetap disembunyikan karena bagaimanapun Alden harus tahu apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Sus?" Bramantyo memanggil perawatnya dengan sedikit lantang.
"Ya, Tuan saya segera kesana." sahutnya sedikit lantang sampai akhirnya suara tangisan bayi pun terdengar.
"Oaaaa … Oaaaa …"
Alden pun langsung tertegun setelah ia mendengar suara tangisan bayi yang memekakkan telinga, namun secara bersamaan pula air matanya langsung berlinang sementara dengan hatinya berubah bergetar setelah ia mendengar bayi itu menangis.
Bramantyo mengangguk, meskipun ia tahu bahwa putranya tak bisa melihat. "Dia telah dilahirkan dan hidup. Dia bayi laki-laki yang sangat tampan."
"Apa?" desis Alden serupa lirihan yang bercampur dengan rasa bahagia yang sama sekali tiada bertepi.
__ADS_1
"Dia putramu," ucap Bramantyo sekali lagi.
"Elsa telah melahirkan putraku?" tanya Alden seakan ia masih tak percaya bahwa benihnya telah tumbuh dan hidup ke alam dunia.
"Ya, dia telah melahirkan dan dia adalah Ibu yang sangat hebat."
"Lantas dimana Elsa?" tanya Alden dengan tak sabaran.
Bramantyo menghela nafas berat sebelum akhirnya ia berucap. "Peluk dulu putramu, lalu ayah akan menjawab pertanyaanmu."
Alden mengangguk dengan semangat lalu ia pun bangkit berdiri dengan sangat hati-hati. Perawat membimbing Alden untuk menggendong bayi itu, sampai akhirnya bayi itu benar-benar sudah berada di dalam pelukannya. Semula bayi itu menangis keras, namun setelah Alden memeluknya tangisannya pun akhirnya mereda dengan sendirinya hingga membuat Alden langsung tersenyum sendu dan juga menangis penuh haru.
"Nak," sebutnya serupa lirih.
__ADS_1
Dan untuk pertama kalinya ia merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah, meskipun ia sadar bahwa ia belum bisa bertanggung jawab atas kehamilan Elsa untuk menikahinya di depan pendeta.
"Atas nama cinta dan juga atas nama tali kasih, aku sebagai ayahmu akan memberikanmu sebuah nama yang sangat keren yaitu … Eleazar yang berarti ditolong oleh Tuhan." ucap Alden dengan senyuman yang terkembang di bibirnya.