
Matahari menyambut pagi namun sinar matahari belum mampu mengusir dingin, Elsa yang sudah terbangun dan sudah membersihkan diri hanya bisa memeluk dirinya sendiri diatas ranjang. Jika ia masih bisa melihat ia takan melewati pemandangan di pagi hari dalam dingin yang selalu terdapat kabut tipis dan melihat embun yang berada di atas daun-daun. Semalam ia merasa sangat lega karena setidaknya kini ia bisa tidur diatas kasur, bukan di pinggiran jalan sesuai dengan apa yang ia pikirkan sebelumnya.
Setelah ini Elsa masih kebingungan, ia harus pergi kemana karena ia tak memiliki tempat tinggal dan juga uang. Jika saja ia masih berpenglihatan normal mungkin ia akan mencari uang dengan bekerja, tapi dengan keadaannya yang seperti ini rasanya sangat mustahil.
Kepala Elsa terangkat setelah mendengar ketukan pintu, ia bisa menebak pasti itu pria yang telah menolongnya. Tanpa berpikir panjang akhirnya ia beringsut dan berjalan menggunakan tongkat untuk lalu membuka pintu.
Ceklek...
"Bagaimana apa kau tidur nyenyak semalam?" sambut Alden setelah Elsa membukakan pintu untuknya.
Elsa tidak menjawabnya dengan lisan, melainkan hanya dengan anggukan kepala.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Alden beralasan, karena melihat raut wajah Elsa yang terlihat seperti tidak bersemangat.
Elsa menggeleng lemah. "Tidak ada," jawabnya pendek seperti ia sedang menyembunyikan sesuatu.
Alden terdiam sesaat sebelum akhirnya ia bicara kembali. "Lebih baik sekarang kita sarapan dulu, setelah itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat." ucap Alden seraya tersenyum kecil.
"Kemana?" tanya Elsa yang terlihat tidak antusias.
"Sarapan saja dulu, yuk!" ajak Alden lalu ia pun merangkul kedua bahu Elsa dan menuntunnya berjalan.
Setelah selesai sarapan, Alden dan juga Elsa meninggalkan penginapan mereka berdua berjalan kaki menyusuri jalanan. Hembusan angin menerbangkan rambut Elsa yang terurai, rambutnya hitam legam, panjang, dan juga lurus. Elsa terlihat cantik meskipun tanpa senyuman di bibirnya dan hal itu tentu saja membuat Alden merasa kebingungan.
"Sedari tadi kau hanya diam, apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Alden seraya melirik sekilas kearah Elsa.
"Ada banyak yang aku pikirkan," akhirnya Elsa membuka suara dan berterus terang.
"Ceritakan padaku," pinta Alden seolah mengerti apa yang Elsa rasakan saat ini.
__ADS_1
"Aku kabur dari rumah, tanpa membawa uang dan juga pakaian. Rasanya bodoh sekali, bahkan aku tak melakukan persiapan dan seandainya aku tidak buta mungkin aku akan bekerja. Tapi, karena keterbatasanku ini, aku tak bisa melakukan apapun. Akan tetapi aku tidak ingin kembali ke rumah itu lagi dan aku bingung aku harus apa dan bagaimana." cerita Elsa panjang lebar dengan ekspresi yang terlihat sendu.
Alden terenyuh mendengar Elsa bercerita, lagi-lagi rasa bersalah itu semakin menggerogotinya.
"Kenapa harus bingung, bukankah ada aku yang akan menolongmu?" kata Alden yang membuat langkah Elsa terhenti secara mendadak seolah ia terkejut mendengar Alden berbicara seperti itu.
"Kenapa kau baik sekali padaku?" tanya Elsa beralasan.
"Itu bukan masalah bagiku, anggap saja kau beruntung bertemu denganku." jawab Alden seraya tersenyum kecil.
"Tapi, aku tidak mau merepotkan siapapun." cicit Elsa tertunduk rapuh.
"Aku tahu siapa Ayahmu." ucap Alden tiba-tiba saja.
"Apa? Jadi kau tahu dengan Ayahku?" kejut Elsa seraya mengangkat kepalanya.
"Ya, dia pengusaha yang sukses. Semua orang pasti kenal dengannya." Alden menyiasati pembicaraannya agar tidak menyinggung perasaan Elsa yang hanya sekedar untuk manipulasi.
"Ah, begitukah." cicit Elsa serupa gumaman.
"Percayalah padaku aku akan menjagamu dengan aman, setelah aku mengajakmu ke suatu tempat, aku akan memberikan tumpangan tempat tinggal di apartemen ku. Jangan takut, aku takan melakukan apapun padamu." ujar Alden yang membuat Elsa kembali mengangkat kepala. Jika saja ia bisa melihat pria di sampingnya, ia pasti akan tahu bagaimana rupa pria yang menurutnya sangat tulus ini. Elsa sangat begitu penasaran dengan wajahnya, ia tak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan malaikat sebaik Alden.
"Bagaimana caranya aku membalas kebaikanmu?" desis Elsa bertanya.
Alden tersenyum tipis mendengarnya. "Tidak perlu membalas, kau cukup berjanji padaku bahwa kau harus bisa bangkit dari keterpurukan yang kau alami selama ini."
Elsa terdiam untuk sesaat. "Apa aku bisa?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
"Tentu saja kau bisa, hanya dirimu sendiri yang bisa mengendalikan." timpal Alden mencoba menghibur, seraya mereka berdua pun kembali meneruskan langkahnya.
__ADS_1
"Kau bilang, kau akan membantuku untuk mempertemukanku dengan pelaku pembunuh ayahku?" seketika saja Elsa berbicara demikian yang tentu saja membuat Alden spontan terbatuk-batuk, antara ia terkejut dan juga ia kembali teringat dengan kata-katanya sendiri.
"Ah, a-aku akan berusaha untuk itu." sahut Alden berusaha untuk bersikap tenang.
"Aku pegang janjimu." ucap Elsa yang membuat Alden kembali terdiam. "Lalu kau akan mengajakku kemana?" tanyanya yang membuat lamunan Alden buyar seketika.
"Ah, sebentar lagi kita sampai." kata Alden sedikit gugup seraya merangkul kedua bahu Elsa.
Dan akhirnya mereka berdua pun telah sampai di tempat tujuan, Alden membawa Elsa ketempat yang paling indah dan juga berhawa segar. Alden membawa Elsa ke sebuah sungai, namun lebar sungai itu hanya sekitar semeter saja. Airnya sangat jernih dan juga segar membuat siapapun yang memandang pasti akan berdecak kagum, tapi mungkin Elsa hanya bisa merasakan segarnya sungai ini lewat hembusan angin yang menerpa wajahnya. Alirannya juga tidak deras dan juga cukup dangkal.
"Duduklah," Alden membantu Elsa untuk duduk di sebuah papan persegi di pinggir sungai lalu mereka berdua pun terduduk disana.
"Hawanya segar sekali, ini dimana?" tanya Elsa seraya menyunggingkan senyuman.
"Ini di sungai, semalam aku googling tempat untuk menenangkan pikiran dan aku menemukan tempat ini, tidak jauh juga dari tempat penginapan." kata Alden seraya menoleh sekilas kearah Elsa. Dan Elsa pun ikut tersenyum karena akhirnya Alden bisa melihat Elsa yang tak murung lagi.
"Hm, aku juga bisa merasakan bahwa tempat ini pasti sangat indah. Coba ceritakan di depan sana ada pemandangan apa saja?" pinta Elsa pada Alden dengan penasaran.
"Di Depan mu setelah ada sungai, terdapat pohon akasia yang berjejer indah, beberapa burung juga ikut berterbangan dan sesekali mereka berkicau seolah mereka menyambut kedatangan seorang nona disini," cerita Alden yang disambut pukulan kecil dari Elsa, seolah ia tersipu mendengarnya sementara Alden tertawa ringan.
"Orang-orang yang sedang menginap pasti banyak yang kesini juga 'kan?" tanya Elsa penasaran.
"Ya, dan sekarang pun banyak sekali para penginap yang mampir kesini." jawab Alden sambil melihat sekeliling yang ternyata tidak ada siapapun selain mereka berdua, sementara Alden hanya mengulum senyum ketika melihat ekspresi Elsa yang terlihat kebingungan.
"Tapi kenapa sunyi sekali, tidak ada percakapan orang-orang yang bisa ku dengar." Elsa mengerutkan kening alisnya.
"Ya karena mereka terhanyut dengan pemandangan yang ada di depan mereka." ucap Alden seraya menatap wajah Elsa yang seanggun senja.
Elsa tersenyum lebar mendengarnya. "Oh," sahut Elsa pendek namun Alden sama sekali tak berhenti menatap Elsa dalam diam.
__ADS_1
"Aku berjanji aku akan menebus kesalahanku, percayalah dan kau akan aman." batin Alden yang kembali ber-ikrar.