
Ketika melihat panggilan telepon di ponsel Vita, ternyata yang menelepon adalah Boby.
[ Assalamualaikum sayang kamu lagi dimana?]
[ Lagi di Mall, tadi bareng Lani. Cuma dia barusan pulang. Kakak mau jemput Aku?]
[ Iya sayang, tunggu ya]
[ Ok ,hati-hati ya Sayangku]
[ Ok]
" Akhirnya datang juga," ketus Vita.
" Maaf gadis yang cantik sekarang gampang ngambek ya,"
" Ya, gimana tidak ngambek kalau sudah main rahasia,"
" Main rahasia apa sih Vit?
" Kak selama ini Kakak antar Ayah Kakak kemana?"
" Oh itu,"
" Tidak bisa jawab kan?",A
pa itu artinya tidak ada yang disembunyikan?"
" Kakak kan sudah bilang ke rumah teman, kamu ini kenapa sih mikir yang aneh-aneh,"
Mereka pun sama-sama terdiam. Kalau semakin didesak malah semakin marah, tapi Vita tetap merasa ada yang disembunyikan dari kekasihnya itu.
__ADS_1
" Ya sudah, Aku mau pulang dulu Kak,"
" Vit, jangan marah gitu dong,"
Vita memanggil pelayan dan memberikan uang untuk membayar makanan dan minuman yang tadi ia makan dan minum bersama Lani.
" Sudah sama Kakak aja Vit bayarnya,"
" Tidak usah, terimabkasih. Aku pulang dulu Kak,"
" Vit, Kakak antar ya, tolong Kakak jadi tidka enak nih kalau kamu pulang sendiri,"
" Ya sudah, aku tunggu diluar,"
" Terima kasih ya Vit,"
Ketika Vita menunggu diluar, Vita pun mencoba untuk tenang. Mungkin dia harus mencari tahu sendiri apa maksud Ayah Boby selalu meminta antar Boby, padahal selama ini sangatlah jarang sekali.
" Iya Vit, sama-sama Kakak juga minta maaf ya belum bisa bahagiakan kamu, yuk Kakak antar pulang,"
Perasaan Vita saat ini sungguh berkecamuk, entah apakah ia harus percaya pada Boby atau ia tetap menyelidiki sendiri sebenarnya apa benar ada yang disembunyikan dari kekasihnya itu. Tak terasa sambil melamun Vita sudah sampai di depan rumahnya.ia pun segera turun dari motor kekasihnya.
" Terima kasih ya kak, mau mampir dulu tidak?"
" Sama-sama tidak sayang, Kakak mau beli kue kesukaan ayah,"
" Salam ya buat Ayah Kakak,"
" Iya Terima kasih Vit,"
" Hati-hati Kak,"
__ADS_1
Ketika masuk ke rumah, Vita langsung menuju kamarnya. Rasanya menahan marah itu amat menyakitkan, tapi akan menyakitkan lagi bila disikapi dengan emosi. Begitulah yang tadi ada dipikiran Vita sehingga ia mampu mengendalikan emosinya.
" Vit, Vita kamu sudah pulang?" Tanya Kak Vika sambil mengetuk pintu kamar Vita.
" I iiya Kak, sebentar ya," Vita segera mengusap air matanya tak mau terlihat oleh Kakaknya,"
" Masuk Kak,ada apa?"
" Kenapa Vit, sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari Kakak,"
" Tidak Kak, ini aku lagi bersihkan make-up,"
" Baguslah, kalau kamu baik-baik saja, biasa nih Minggu depan ada job buat kita,"
" Ok Kak,"
" kalau begitu kamu istirahat ya, Kakak juga lagi mikirin buat konsepnya ini acaranya. Do'akan ya lancar,"
" Aamiin, iya Kak,"
Setelah Kak Vika keluar dari kamar Vita, Vita kembali menangis. Setelah itu ia mengirim pesan singkat pada Sarah.
[ Assalamualaikum Sarah, besok kita ketemuan Yuk. Lani sebentar lagi ultah kita beli kado untuk Lani ]
[ Wa'alaikumussalam Vit. Ok ok siap ]
[ Ok terimakasih Sarah ]
[ Sama-sama Vit ]
Tidak lama kemudian Vita pun merasa mengantuk dan mulai bisa tidur.
__ADS_1
Di rumah Boby, Boby merasa kecurigaannya sekarang telah menjadi kenyataan Vita mulai mencurigainya, mulai merasakan ada yang disembunyikan olehnya dari Vita. Boby pun memutuskan untuk bicara jujur dan terbuka mengenai perjodohannya dengan Lani. Tinggal menunggu waktu yang tepat dan kesiapan mental dalam menghadapi respon dari Vita setelah mendengar kejujuran yang selama ini dicurigai oleh kekasihnya itu.