
"Terima kasih banyak ya kalian berdua sudah mau memahami perasaan Aku," ucap Ferdy sambil sesekali meneguk kopi yang tersisa saat ia tadi bersama kekasih lamanya.
"Sarah sudah pulang belum ya sekarang?" tanya Anton.
"Sepertinya masih di Panti, Fer kamu mau jemput Sarah tidak?" tanya Vita pada Ferdy.
"Ide brilian Vit, sepertinya tadi dia kecewa sama Aku. Dan Aku yakin kalau Aku jemput dia bakalan happy," sahut Ferdy.
"Iya Fer, Aku perhatikan sih kayaknya Sarah juga -pinjam dmulai menaruh curiga sama kamu jadi sebaiknya kamu jga perasaannya ya," pinta Vita.
"Iya Vit, kalau begitu Aku permisi dulu ya mau balik ke Panti untuk jemput Sarah," pamit Ferdy
"Oke hati-hati ya Fer," ucap Anton.
"Iya Bro, Assalammu'alaikum," Ferdy pamit sambil mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam," jawab Ferdy dan Vita serempak.
*****
Sementara itu di Panti, acara syukuran pun baru saja selesai digelar, Lani tampak bahagia terlihat dari wajahnya yang terlihat ceria dan merona.Namun sepertinya ada kekhawatiran yang begitu membuatnya sedikit ketakutan. Ia takut jika Vita ada hubungan spesial dengan Ferdy. Apa mungkin Vita Setega itu. Tidak hanya pada dirinya tapi juga pada Sarah. hari pun sudah mulai sore, Mereka semua pun bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing. Ada suara mesin motor terdengar, ternyata itu suara motor Ferdy. Sarah begitu sumringah melihat kekasihnya menjemputnya.
"Assalammu'alaikum pujaan hatiku," ucap Ferdy sambil tersenyum pada Sarah yang tengah merenung dan wajahnya terlihat merona seketika setelah Ferdy mengucapkan salam padanya.
"Wa'alaikumussalam, urusan kamu yang tadi sudah selesai sayang?" tanya Sarah.
"Sudah makanya Aku buru-buru mau jemput kesayanganku di sini yang lagi merenung berharap dijemput iya kan?" goda Ferdy.
"Apaan sih malu tahu kalau yang lain dengar," celoteh Sarah dengan malu-malu.
"Ya sudah ayo Aku antar pulang, kamu izin dulu sama Lani dan Boby," ucap Ferdy yang begitu semangat untuk mengantar pujaan hatinya pulang ke rumahnya.
"Ok, kamu mau ikut ke dalam tidak?" tanya Sarah.
"Tidak, Aku tunggu di sini saja ya pujaan hatiku," Ferdy kembali menggoda Sarah, Sarah pun tersipu malu dibuatnya.
"Apaan sih, mulai nih gombalnya," celoteh Sarah.
"Itu bukan gombal itu fakta, kamu kan memang pujaan hatiku Sarah," sambil memegang batang hidung Sarah, Ferdy makin gemes saja pada Sarah.
__ADS_1
"Ih geli tahu," celetuk Sarah dengan nada yang manja.
"Yuk kita pulang, kamu pamit dulu ke Boby dan juga Lani ya," ucap Ferdy.
"Oke,".
Sarah pun melangkahkan kakinya ke dalam gedung tempat Lani melangsungkan acara syukuran menjelang pertunangannya dengan Bobi.Setelah berada di dalam gedung, ia pun langsung mencari di mana keberadaan Lani.
"Lan, Aku pulang duluan ya. Ferdy jemput Aku," ucap Sarah.
"Iya terima kasih banyak ya Sarah udah datang dan mau bantuin Aku. Ferdy nunggu di luar?" tanya Lani.
"Iya Lan, oh iya Aku pamit dulu ke Kak Vika ya. Soalnya tadi mau pulang bareng tapi karena Ferdy jemput, Aku jadi pulang duluan," tutur Sarah.
"Oke,".
Sarah pun menghampiri Vika yang tengah membereskan semua peralatan bekas acara syukuran hari ini bersama timnya.
"Kak Vika maaf Aku pulang duluan ya, soalnya Ferdy jemput Aku. Dia sudah nunggu di depan," pamit Sarah pada Vika.
"Iya Alhamdulillah syukurlah kalau begitu, hati-hati ya Sarah," sahut Vika.
"Sama-sama Sarah,".
Lani termenung dan terus bertanya-tanya di dalam hatinya. Ada rahasia apa antara Vita dan Ferdy, tapi rasanya tidak mungkin jika mereka menjalin hubungan. Lani merasa harus menanyakan hal itu kembali pada Vita. Lani terperangah sesaat setelah mendengar Sarah pamit padanya.
"Lani, Lani, kok kamu melamun"? tanya Sarah.
"Maaf Sarah, oh iya ada sedikit yang menggelayuti fikiran Aku,"sahut Lani.
"Iya kenapa Lan? kamu cerita saja, tapi kalau kamu belum siap, Aku siap nunggu kamu kok Lan," ujar Sarah.
"Iya tapi kayaknya lain waktu saja kamu juga kan sudah ditunggu sama Ferdy," tutur Lani.
Sarah merasa kasihan pada Lani. Pria yang akan menjadi pendamping hidup Lani adalah Pria yang menjalin hubungan dengan sahabat nya Lani yaitu Vita. Namun sayangnya Sarah tak bisa berbuat apa-apa, meski sebetulnya Sarah ingin sekali memberitahu Lani tentang Boby dan Vita.
"Kok sekarang malah kamu yang melamun Sarah?" tanya Lani yang menyadarkan lamunan Sarah dan seketika itu pula Sarah terkejut dibuatnya.
"I iya Lan, Aku tiba-tiba kepikiran sesuatu di rumah. Aku pamit sekarang ya Lan," Sarah mencoba untuk meyakinkan Lani agar Lani tidak curiga.
__ADS_1
"Oke kalau begitu Aku antar sampai depan ya," pinta Lani.
"Iya terima kasih Lan, tapi kamu kan lagi sibuk. Tidak apa-apa Lan, Aku juga agak buru-buru nih. Kamu lanjut siap-siap saja untuk pulang," sahut Sarah.
"Oke baiklah kalau begitu, hati-hati ya," sambung Lani.
"Iya Lan, terima kasih banyak ya Lan,"ucap Sarah.
"Iya sama-sama," sahut Lani.
Sebetulnya Lani ingin sekali bertemu dengan Ferdy d an menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa Ia sampai mengancam Vita?. Berbagai pertanyaan terus saja hinggap di fikiran Lani, sampai Ia mengernyitkan dahinya. Tidak lama kemudian, Boby pun menghampiri Lani.
"Lani, barusan dari mana?" tanya Boby.
"Aku mau antar Sarah ke depan tapi kata dia tidak usah, jadi Aku langsung menuju ke sini Kak. Ada apa Kak?" Lani balik bertanya.
"Tidak apa-apa Lan, tapi sepertinya Ayahku kurang enak badan. Jadi kami minta izin pulang duluan ya Lan," tutur Boby.
"Iya Kak, kita kasih tahu Ayah dan Ibuku dulu ya," ajak Lani.
"Iya Lan," .
*****
Sementara itu, Vita dan Anton masih ada di Cafe. Anton terus memperhatikan gerak-gerik Vita yang tampaknya sedang menyembunyikan kesedihannya.
"Vit, Aku salut sama kamu. Kamu mau menutupi ini semua ini dari Lani. Agar Lani bisa berbahagia," ucap Anton agar Vita bisa terhibur.
"Ya, disisi lain Aku merasa sedih karena Aku harus kehilangan Kak Boby. Tapi di sisi lain Aku bersyukur karena calon istrinya itu adalah Lani," ujar Vita.
"Memangnya kalau bukan Lani kenapa Vit?" tanya Anton begitu penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan Lani.
"Ya bisa saja Aku tetap berusaha untuk melanjutkan hubunganku dengan Kak Boby," ucap Vita.
Anton terdiam membisu, ternyata posisi dirinya di hati Vita memang sudah ada yang menggantikan. Vita melihat raut wajah Anton. yang sepertinya tidak menyukai jawaban Vita barusan.
"Kenapa Anton?" tanya Vita.
"Jujur Vit, sekarang Aku makin yakin jika posisi Aku dihati Kamu sudah tergantikan oleh Boby, tapi,,," Anton menahan ucapannya. Ia pun mengeluarkan keringat dingin saking gugupnya.
__ADS_1