Ku Tunggu

Ku Tunggu
Support Anton Untuk Vita


__ADS_3

"Anton, Aku pinjam bahu kamu ya sebentar saja. Aku sedang butuh sandaran," pinta Vita.


"Iya Vit silahkan," sahut Anton.


Seketika itu Vita langsung menyandarkan kepalanya di bahu Anton. Ia tak kuasa menahan tangis. Ia menangis sejadi-jadinya.


"Luapkanlah Vit, Aku bersedia menyapu air matamu dan mendengarkan segala keluh kesahmu. Semoga Kamu cepat pulih ya dari keterpurukan ini," ucap Anton sambil ikut menitikkkan air mata. Anton menyadari segala yang terjadi pada Vita salah satunya juga mungkin karena dirinya tak memberi kabar, hingga seperti orang yang tak lagi peduli pada Vita.


"Kamu kenapa ikut nangis? tanya Vita.


"Semua kesedihan yang kamu rasakan, semuanya juga karena ulahku Vit. Aku yang tak memberi kabar hingga pantas aku mengira Kau telah melupakan kamu. Padahal di sana Aku sedang berjuang untuk kebahagian kita," ujar Anton.


"Sudahlah Anton, yang sudah ya sudahlah. Aku hanya ingin cepat move on. Aku tidak aku Lani tahu tentang hubunganku bersama Kak Bobi. Setidaknya setelah menikah baru ia boleh tahu. Aku tidak mau mengecewakan orang tua Kak Bobi, terutama mendiang Ibunya," ucap Vita.


"Kamu wanita tangguh Vit. Kamu pasti bisa yakin saja," ucap Anton.


Vita bergegas menyapu air matanya dan meminta Anton segera mengemudikan mobil miliknya tersebut.


Sedangkan Sarah, yang sedang dalam perjalanan bersama kekasihnya, berbincang-bincang di dalam mobil.


"Sayang, Aku tidak tahu ya kalau lagi kumpul kayak tadi itu bawaannya tegang mulu. Semoga Vita cepat move on ya dari Bobi," ucap kekasih Sarah.


"Aamiin. Iya sayang sama Aku juga gitu tegang tapi berusaha untuk baik-baik saja. Seperti lagi belajar akting ya kita," ucap Sarah.


"Iya sayang,".


Sedangkan Lani yang juga sedang di perjalanan, tiba- tiba teringat dengan tingkah aneh dari kedua sahabatnya. Melihat Lani melamun dan termenung Bobi pun bertanya apa calon tunangannya itu.


"Lan, kamu baik-baik saja kan?" tanya Bobi.


Lani yang baru tersadar dari lamunannya merasa terkejut. Ternyata Bobi memperhatikan dirinya.


"Oh, iya Kak Aku baik-baik saja Kok," jawab Lani seraya menyembunyikan rasa penasarannya tersebut dari Bobi. Ia takut mungkin itu hanya perasaaan dirinya saja. Dan Ia pun harap itulah yang sebenarnya terjadi. Hanya perasaannya saja.


"Oke baiklah, syukur kalau begitu. Kita mampir beli martabak dulu ya untuk Ayahku dan juga untuk kedua orang tuamu," ucap Bobi.


"Iya baiklah Kak," sahut Lani.


Sesampainya di tempat yang jualan martabak, mereka pun turun sejenak. Sambil menunggu sang penjual membuatkan pesanan mereka, Bobi pun mengajak Lani untuk berjalan di sekitaran situ sambil berbincang-bincang. Tidak lama kemudian, mereka pun menemukan bangku di taman yang tak jauh dari penjual martabak yang tadi.

__ADS_1


"Alhamdulillah akhirnya ada bangku, kita bisa duduk juga ya," ucap Bobi.


"Iya Alhamdulillah Kak," sambung Lani.


"Lan, kamu setuju kan kalau misalnya sebelum acara tunangan, kita syukuran dulu di panti Asuhan," ucap Bobi.


"banget Kak, Aku setuju banget DNA senang mendengarnya. Kebetulan bulan ini Aku belum. ada jadwal kesana. Maksudnya belum menentukan tanggal berapanya. Jadi ya kita tentukan bersama ya Kak," sahut Lani dengan penuh antusias.


"Deal," sambung Bobi.


"Terima kasih banyak ya Kak atas perhatiannya kepada anak-anak panti asuhan," Ucap Lani.


"Iya sama-sama Lan," sahut Bobi.


"lusa aja ya, gimana Kak?" tanya Lani


"Iya Kakak juga setuju, oh iya mampir ke rumah Kakak dulu yuk antar martabak. Nanti pulangnya Kakak antar. Ayah Kakak pasti senang ketemu calon menantu kesayangannya," ucap Bobi sambil tersenyum.


"Iya baiklah Kak, sebentar Aku kabari Ayah sama Ibu dulu ya," ucap Lani.


"Iya silahkan Lan," sahut Bobi.


"Sebentar ya Vit, Aku jawab panggilan telepon dulu," ucap Anton.


"Iya silahkan," sahut Vita.


Panggilan telepon tersebut ternyata dari tempat kerjaan yang meminta Anton segera pulang untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Anton pun terpaksa harus meninggalkan Vita meski dengan berat hati.


"Vit, Aku harus pulang besok. Aku janji Aku bakal balik lagi ada urusan yang harus aku handle. Maaf ya Vit," ucap Anton dengan nada yang lirih. Ia sama sekali tak tega jika harus meninggalkan Vita dalam situasi saat ini di mana Vita amat sangat membutuhkan sosok yang bisa menghibur hatinya.


"Tidak apa-apa, itu sudah menjadi bagian dari tanggung jawab kamu Anton. Jangan terlalu mengkhawatirkan kondisi Aku. Aku pasti akan baik-baik saja," ujar Vita meski dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak kuasa menahan tangisnya.


Vika yang sedang berada di dalam rumah, tiba -tiba menghampiri keduanya.


"Anton, apa kabar?" tanya Vika.


"Alhamdulillah Kak, oh iya Saya permisi pulang dulu ya Kak. Kak Saya mau izin pamit dulu mau urus kerjaan di sana ada urusan yang harus Saya selesaikan," ucap Anton dengan berat hati.


"Oh iya baiklah semoga urusannya dilancarkan dan dimudahkan ya," ucap Vika.

__ADS_1


"Aamiin. Terima kasih Kak, salam untuk Ibu ya," ucap Anton.


"Iya baiklah kalau begitu, hati-hati ya," ucap Vita.


"Iya terima kasih assalamu'alaikum," ucap Anton.


"Wa'alaikumussalam," ucap Vita dan juga Vika serentak.


Anton bergegas menuju ke mobil di an segera mengemudikan mobil tersebut. Vita dan juga Vika masih memperhatikan Anton hingga mobilnya berlalu.


"Masuk yuk Kak, diluar dingin," ucap Vita.


"Oke," sahut Vika.


Vita bergegas ingin masuk ke kamar setelah mengunci pintu rapat-rapat dan menutup jendelanya dengan gorden yang saat itu dibelikan Bobi. Ketika itu Vita minta ditemani Bobi untuk beli gorden. Ternyata malah dibayarkan oleh Bobi gorden tersebut. Hal itu membuat Vita teringat masa-masa itu. Masa-masa penuh dengan kebahagiaan dan keceriaan yang mungkin takkan bisa diulang


"Kak, Aku pamit amsuk kamar ya. Aku sudah mengantuk sekali nih," ucap Vita.


"Iya selamat istirahat ya Dik," sahut Vika.


"Terima kasih banyak ya Kak," sambung Vita.


"Sama-sama,".


Vita pun langsung masuk ke kamarnya dan rebahan sambil kembali menitikkan air mata. Ia bergegas mengusapnya dan mendengarkan beberapa lagu sebelum ia tertidur. Vita sangat senang Bobi sekarang mendapat pekerjaan yang sesuai dengan Hobbynya. Namun bedanya kali ini ia tak bisa lagi menemani Bobi.


Pesan singkat yang muncul di ponsel Vita pun segera ia baca, itu ternyata dari Bobi.


[Assalamu'alaikum Vit, kamu belum tidur ya...]


"Wa'alaikumussalam, iya Kak. Ada apa?" tanya Vita.


[Besok Aku jemput boleh gak ke kampus?]


"Kayaknya kita ketemu di kampus saja ya Kak, kalau ada perlu," tegas Vita.


[Oh iya baiklah, selamat istirahat ya Vit]


"Iya terima kasih Kak," ucap Vita.

__ADS_1


[Sama-sama]


__ADS_2