Ku Tunggu

Ku Tunggu
Vita belum sanggup cerita pada Vika


__ADS_3

"Dik, sebaiknya kamu istirahat dulu ya, biar kerjaan rumah Kakak yang handle. Dan jangan banyak fikiran. Nanti setelah kamu siap cerita pada Kakak, Kakak akan selalu siap mendengarkannya,"


"Baik terima kasih pengertiannya ya Kak, kalau gitu Vita kembali ke kamar dulu ya,"


"Iya Dik, silahkan,"


Vita merasa sedikit lega atas pengertian Kakaknya, Vita masih belum sanggup terlebih Lani meminta bantuan Kakaknya untuk acara pertunangannya dengan Bobi. Jadi Vita mengurungkan niatnya, mungkin setelah acara pertunangan Bobi dan Lani selesai baru ia bisa lebih terbuka mengenai persoalannya saat ini.


Masih menjadi tanda tanya besar bagi Vika namun ia tak boleh memaksakan kehendaknya pada Adiknya. Vika pun melanjutkan aktivitasnya kembali.


Lani yang mencurigai Bobi, rasanya ingin sekali bercerita pada Vita. Lalu Lani pun menghubungi Vita. Dering ponsel Vita terdengar begitu kencang, Vita tersentak dan tersadar dari lamunannya. Ya Vita sedang mengingat-ingat kembali memori indah saat di mana ia bersama Anton. Sekaligus itu adalah moment saat ia mencetak luka di relung hati Lani.


Vita bergegas mengambil ponselnya. Ia terkejut saat membaca orang yang menghubunginya.


[Assalamualaikum Lan]


[Wa'alaikumsalam, Vit lagi sibuk gak? Aku mau curhat nih. Ada yang ingin Aku ceritakan.]


Dengan matanya yang sembab tidak mungkin Vita menemui Lani dalam keadaan seperti itu. Bisa-bisa yang ada Lani malah curiga kepadanya.


[Aduh... maaf ya Lan kebetulan Aku ada tugas kuliah yang harus Aku selesaikan hari ini. Kalau besok gimana?]


[Ok sip, tidak apa-apa Vit. Semoga dilancarkan ya urusannya]


[Ok Terima kasih ya Lan pengertiannya]


[Iya Vit]


Vita semakin menyesali sikapnya yang telah lalu pada Lani. Kini ia merasakan akibat dari perbuatannya di masa lalu. Ingin rasanya memeluk Lani dan meminta maaf kembali namun hal itu kemungkinan pasti akan menimbulkan pertanyaan besar di benak Lani.


Vita menghubungi Sarah. Namun ternyata belum aktif mungkin dikarenakan Sarah kelelahan semalam sehingga ia belum melanjutkan aktivitasnya pagi ini.


Di depan rumah Vita nampak ada yang memberi salam. Hal itu di dengar oleh Kakaknya. Vika pun langsung membuka pintu. Ternyata Anton yang sedang berada di depan rumahnya itu.


"Wa'alaikumussalam, Anton apa kabar?" tanya Vika.


"Alhamdulillah baik Kak, Vita mana?"


"Sebentar ya, Aku panggilkan dulu. Silahkan masuk Anton,"


"Iya Kak Terima kasih,"

__ADS_1


"Vit, Vita ada tamu." sahut Vika.


Vita pun bergegas membuka pintu kamarnya.


"Siapa Kak?" tanya Vita.


"Anton,"


Vita pun akhirnya mau menemui Anton. Ia mengambil kaca matanya agar tak terlihat sembab di depan Anton


"Anton,"


"Iya Vit,"


"Silahkan duduk,"


"oke terima kasih, Kamu sudah baikan?"


"Iya Anton. Terima Kasih ya kamu sudah menyempatkan untuk kesini,"


"Iya Vit, santai kayak ke siapa aja. Aku ingin ngajak kamu makan siang di luar. Gimana?"


Sebenarnya Vita sedang malas keluar namun ia kembali berfikir mungkin jika refreshing ia bisa lebih cepat move on dari kejadian semalam.


"Santai Vit, sambil nunggu kamu kan bisa nonton, main game, membaca dll,"


"Ok kalau begitu Aku siap-siap dulu ya Anton. Oh iya maaf lupa nih belum Aku buatkan minum,"


"Haha iya ya, tenang Vit. Aku baru saja ngopi di rumah,"


"Oke,"


Tidak lama kemudian, Vita menuju ke arah Anton dan menyodorkan segelas cangkir kopi hitam.


"Terima kasih ya Vit,"


"Iya, Ok kalau begitu Aku siap-siap dulu ya,"


"Oke,"


Setelah mandi dan bersiap-siap, Vita pun memakai make up ia berusaha menutupi matanya yang sembab dan setelah dandan akhirnya tidak begitu terlihat. Sambil berusaha ceria agar tak terlihat rona kesedihan di wajahnya.

__ADS_1


Setelah selesai make up, Vita pun berjalan menuju ke arah Anton. Tak dapat dipungkiri Vita masih begitu sayang pada Anton. Namun saat ini cintanya hanya untuk Bobi. Vita sebetulnya masih penasaran apa yang akan Lani bicarakan namun ia tak terbiasa jika harus memakai kaca mata di depan Lani. Jika Anton dulu memang kerap kali mereka suka memakai kacamata bersamaan.


"Vit, mata kamu sedikit sembab, tapi ya tidak masalah kamu tetap cantik kok,"


"Bisa saja kamu, ya sudah menangis semalam wajar kan?"


"Ok sudah ya tidak usah dibahas, kita berangkat saja yuk,"


"Ok siap,"


Seperti biasanya Vita dan Anton ngopi dulu di sebuah cafe favorit mereka waktu zaman SMA dulu. Hati Vita sedikit lega karena merasa terhibur. Namun bayang-bayang masa lalu perihal pengkhianatan yang dilakukannya terhadap Lani kembali terngiang.


Vika yang sedang beres-beres di kamarnya terus saja bertanya-tanya sebetulnya apa yang sedang. menimpa Adiknya sehingga matanya sembab seperti itu. Tidak lama kemudian dering ponsel yang berada di atas nakas menyadarkan lamunan Vika, ia pun bergegas mengambilnya dan melihat dari siapa panggilan telepon itu berasal. Ternyata itu panggilan dari Lani.


[Assalamu'alaikum, Kak Vika apa kabar?]


[Alhamdulillah baik Lan, ada apa?]


[Oh iya begini Kak, Aku mau ketemuan hari ini mau bahas soal acara pertunangan nanti.]


[Oke sip]


[Baik Kak, oh iya nanti aku share lokasinya ya, kalau begitu Aku siap-siap dulu ya]


[Ok Lan, Kakak juga]


Vika sangat antusias sekali ia pun bergegas untuk bersiap-siap, Lani pun mengajak Bobi untuk menemaninya dan juga sekaligus untuk mengetahui konsep seperti apa yang diinginkan oleh Bobi.


Bobi yang mendapati kabar tersebut seolah seperti mendengar petir yang menggelegar, entah apa reaksi Vika nanti setelah mengetahui hal ini. Mau tidak mau Bobi pun harus mengikuti keinginan Lani. Sebab hal ini adalah salah satu rangkaian dari rencana pertunangan yang akan di gelar.


Vita yang sedang berada di Cafe nampak menikmati kopi yang ia minum sambil mendengarkan lagu-lagu yang tengah dinyanyikan oleh sebuah grup band yang mengisi acara di Cafe tersebut.


"Aku senang kamu bisa ceria lagi Vit," Ucap Anton.


"Ya Aku terbawa suasana Anton,"


"Baguslah, Aku senang Vit. Jangan lama-lama galaunya ya. Aku pasti akan bantu kamu jadi silau,"


"Wow, bisa saja kamu Anton," ujar Vita.


Anton pun tersenyum, ia amat mencintai gadis yang juga sahabat mantan pacarnya itu. Ia sebetulnya pergi untuk memperjuangkan Masa depannya bersama Vita dan ingin sekali memberikan surprise pada Vita. Tanpa ia berfikir ada peluang untuk pria lain menetap di hati Vita. Seperti halnya yang tengah dialami Vita saat ini.

__ADS_1


Lani pun menunggu Bobi menjemputnya, Tidak lama kemudian Mobil yang dikemudikan Bobi pun akhirnya sampai tepat di depan rumah Lani.


__ADS_2