
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 wib, Lani yang sudah siap dijemput oleh Bobi pun sudah menunggu Bobi di kamarnya. Lani kadang merasa aneh dengan sikap Vita maupun Sarah jika ia sedang bersama Bobi. Lani terus bertanya-tanya apakah ada yang disembunyikan oleh mereka. Tapi apa itu, rasanya Lani benar-benar merasa bingung. Klakson mobil Bobi pun menyadarkan Lani dari lamunannya. Itu menandakan Bobi sudah tiba dan siap menjemput Lani.
Asisten rumah tangga Lani pun menghampiri Lani dan memberi tahu bahwa Bobi sudah tiba di depan rumahnya. Lani ingin mencari tahu tanpa harus diberi tahu oleh Vita maupun Sarah. Tapi ada satu ketakutan dari Lani, ia takut jika Vita atau Sarah pernah ada hubungan dengan Bobi. Namun Lani tak mau bertanya pada mereka apalagi pada Bobi yang selalu tak mau membahas hal yang berkaitan dengan wanita lain. karena Lani tak ku ingin Bobi menunggu lama, akhirnya ia pun bergegas menuju ke luar.
"Assalamu'alaikum Lan," ucap Bobi pada Lani sesaat setelah Lani berada tepat di depan Bobi.
"Wa'alaikumussalam Kak, masuk Kak ngopi dulu lah," ajak Lani pada Bobi.
"Tidak usah Lan, di Cafe saja ya. Aku takut telat nih," tolak Bobi pada ajakan Lani.
"Baiklah kalau begitu, Aku izin pamit dulu ya ke Ibu," pinta Lani.
"Iya Lan," sahut Bobi.
Setelah Lani pamit pada Ibu dan Ayahnya, Ibu dan Ayahnya menemani Lani sampai masuk ke mobilnya Bobi.
"Kami berangkat ya Om, Tante, assalamu'alaikum," ucap Bobi.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati ya," sahut Ibu Nayla.
"Terima kasih Tante," sambung Bobi.
Lani masih penasaran dengan sikap Vita dan juga Sarah, namun ia tak mau memperlihatkannya pada Bobi.
"Kok diam, apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Bobi ketika menoleh Lani yang nampak menahan rasa penasarannya.
"Oh i iya Kak, ada sih dikit Kak tidak usah Kakak hiraukan," jawab Lani.
Mendengar jawaban Lani, Bobi langsung menghentikan laju mobilnya dan ia pun memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan.
"Lho, kenapa berhenti di sini Kak?" tanya Lani.
"Ada apa Lan? tanya Bobi yang tampak begitu penasaran.
Bobi takut sekali jika Lani sudah mengetahui semuanya.
"Tidak apa-apa Kak, mungkin agak kurang enak badan saja," jawab Lani.
"Oh, semoga segera fit ya," sahut Bobi.
"Iya Kak tenang saja," sambung Lani.
__ADS_1
Sebenarnya Lani ingin tahu apakah ada wanita lain atau tidak. Tapi Lani sudah malas bertanya untuk kesekian kalinya. Dari kemarin, jawabannya tetap sama. Namun Lani merasa ada yang janggal. Lani tak mau menyakiti hati wanita lain, jika memang Bobi sudah memiliki tambatan hati. Waktu makin mendekati acara pertunangan, namun masih saja nihil. Tak ada info tentang hal itu. Setelah mendengarkan penjelasan dari Lani, Bobi pun kembali menyalakan mesin mobil dan mulai mengemudikan mobilnya menuju ke arah Cafe tempat mereka janjian dengan Vika.
Selang beberapa menit setelah kembali mengemudikan mobilnya, Bobi pun langsung mengajak Lani masuk. Bobi mempersilahkan Lani untuk duduk di ruangan Cafe tersebut.
"Ternyata kita lebih dulu datang ya Kak,"
"Iya Lan, oh iya Kakak mau ke ruangan untuk latihan dulu ya," ucap Bobi.
"Iya hati-hati ya Kak," sahut Lani.
"Terima kasih Lan," ucap Bobi sambil tersenyum.
Sambil menunggu kedatangan Vika dan juga Vita, Lani pun terus berpikir bagaimana caranya agar ia tahu siapa saja wanita yang pernah dekat dengan Bobi. saking Lani merasa jika ada sesuatu yang janggal yang kemungkinan disembunyikan oleh Bobi.
Sarah yang baru saja sampai di rumah Vita, disambut hangat oleh Ibu Vita.
"Sebentar ya Nak Sarah, Ibu ke dapur dulu. Sebentar lagi Vita dan juga Vika pasti keluar kamar. Mereka sedang dandan sepertinya," ucap Ibunya Vita.
"Iya baik Tante,"sahut Sarah.
Sambil menunggu Vita dan Vika menghampirinya, Sarah pun mengirim pesan singkat pada kekasihnya. Rupanya malam ini kekasihnya tak dapat menemaninya ke Cafe, katanya ada kepentingan mendadak. Sarah pun merasa sedikit kesal, namun apalah daya ia pun harus mengerti bahwa kekasihnya tak bisa terus menemaninya setiap saat.
"Assalamu'alaikum Sar, kok melamun sih?" tanya Vita.
"Wa'alaikumussalam Vit, eh iya ada sedikit kok yang lagi dipikirkan. Tapi santai saja," jawab Sarah.
"Sorry Aku ngagetin kamu ya," sahut Vita.
"Santai Vit, oh iya Lani sudah ada di Cafe belum? ya takutnya dia sudah di sana menunggu kita," tanya Sarah.
"Oh iya Aku tanya Kak Vika dulu ya," jawab Vita.
"Oke Vit," sambung Sarah.
Tidak lama kemudian, Ibunya Vita pun membawakan secangkir kopi hitam untuk Sarah.
"Ini kopinya Nak," ucap Ibunya Vita.
"Terima kasih Bu, Ibu masih ingat kalau Sarah suka kopi hitam?" tanya Sarah.
"Iya Nak, kamu dan juga Lani kan sahabat baiknya Vita, Ibu pasti ingat apa yang kalian suka. Ibu senang sekali kalian bisa menjaga tali silaturahmi dengan baik hingga sekarang. Semoga sampai ke Jannah Nya ya," ucap Ibunya penuh harap.
__ADS_1
"Aamiin," sahut Sarah.
"Kalau begitu Tante mau ke dapur lagi ya Nak Sarah," ujar Ibunya Vita.
"Oh iya silahkan Tante," ucap Sarah.
Vika pun menanyakan kepada Lani apakah sudah sampai di Cafe atau belum. Setelah Lani menjawab pesan singkat dari Vika, yang menjelaskan bahwa Lani sudah berada di Cafe sejak lima belas menit yang lalu. Vika pun mengajak Sarah dan Vita untuk segera berangkat menuju Cafe.
Setelah hangat, kopi pun segera diminum oleh Sarah. Setelah pamit pada Ibunya Vita, mereka pun langsung berangkat menuju Cafe.
Sesampainya di Cafe, ternyata Bobi sudah mulai menyanyi. Vita merasa tersentuh dengan lagu yang dibawakan oleh Bobi. Sungguh Vita tak ada sanggup berada di sana saat ini.
Lagu yang dibawakan oleh Bobi adalah lagu yang berisi tentang patah hati. Rasa yang sama yang dirasakan oleh keduanya. Vita pun mengirimkan pesan kepada Sarah untuk mengajaknya ke Mall dengan alasan ada sesuatu yang harus ia beli. Sarah pun mengiyakan permintaan Vita.
Lani begitu hangat menyambut mereka bertiga, setelah beberapa menit mereka bertiga duduk, tiba-tiba Sarah izin pamit untuk keluar dan minta ditemani oleh Vita untuk berangkat ke Mall, ada sesuatu yang harus ia beli. Lani pun memakluminya begitu pula dengan Vika.
"Ya sudah Kalian hati-hati ya," ucap Vika.
"Iya siap Kak, assalamu'alaikum," ucap Vita.
"Wa'alaikumussalam,n" jawab Vika dan juga Lani.
Sesaat setelah mereka berdua keluar, Vita pun merasa sedikit lega.
"Maafkan Aku ya Sarah, kamu jadi terlibat dalam situasi yang sulit ini," ucap Vita.
"Santai Vit, Aku juga minta maaf ya sudah salah faham sama kamu. Yuk kita ke Mall sekarang," ajak Sarah.
"Oke," sahut Vita.
Sambil Mereka menunggu kendaraan umum, mereka pun masing-masing saling memainkan ponsel mereka. Sarah masih saja bertanya-tanya tumben sekali Kekasihnya tak bisa menemani dirinya. Setelah ada angkutan umum yang menghampiri, mereka pun segera menghentikan kendaraan tersebut.
Setelah naik kendaraan, Vita dan Sarah pun bergegas untuk duduk ditempat yang telah disediakan. Setelah tiba di depan Mall, mereka pun berhenti dan Vita pun memberikan ongkos pada supir angkutan umum tersebut.
"Vit, Aku mau ke toilet ya kebelet nih," ucap Sarah.
"Oh ya sudah duluan, Aku mau telpon Ibu dulu ya. Mau bilang mungkin pulang agak malam," sahut Vita.
"Oke," .
Sarah pun langsung masuk ke dalam Mall, sementara Vita menunggu di luar karena ia hendak menelepon Ibunda tercintanya. Namun, ketika ia menoleh ke samping kanan, ia melihat sesuatu yang membuat dirinya tersentak.
__ADS_1