
"Baik Kak silahkan Kakak mau bicara apa?" tanya Vita.
"Baiklah, terima kasih ya sayang,"
"Vit, Kakak betul-betul minta maaf ya. Kakak tidak pernah bermaksud menyembunyikan soal Lani. Jujur sebetulnya Kakak sampai tadi pertemuan di Villa pun Kakak belum siap melihat kamu mendapati kenyataan ini Vit,"
Mendengar pernyataan Bobi, Vita menangis sejadi-jadinya. Ia faham betul maksud Bobi.
"Iya Kak, Vita Faham betul maksud Kak Bobi,"
"Terima kasih ya Vit, kamu begitu pengertian. Kakak sangat bersyukur memiliki kekasih seperti
kamu Vit, yang bisa mengerti letak akar dari sebuah permasalahan. Dan memang sudah jelas bahwa bukan dengan sengaja Kakak menyakiti Vita,"
"Iya Kak, sudah larut malam, Vita khawatir Kakak mengantuk bawa kendaraannya.Oh ya Kakak sudah antar Lani pulang?" tanya Vita.
"Iya barusan Kakak mengantar Lani pulang dan langsung kesini untuk menemui mu Vit,"
"Ya terima kasih sekarang Kakak pulang ya istirahat, jaga kesehatan. Aku baik-baik saja Kok," ucap Vita sambil meneteskan air mata.
"Iya baiklah, kalau begitu Kakak permisi dulu ya Vit," pamit Bobi
"Iya Kak, hati-hati ya,"
Vita pun menuju ke rumahnya, sementara biru Bobi pun segera menuju ke kendaraan yang terparkir di pinggir rumah Vita. Sesaat setelah Vita masuk rumah ia langsung menuju ke kamarnya. Air matanya mengalir begitu deras dan ia tak kuasa tuk menahannya. Mungkin nanti pagi akan menjadi pertanyaan besar yang penuh misteri. Ada apa dengan Vita hingga membuatnya bersedih hati.
Sesampainya di rumahnya, Bobi pun merenung dan tak terasa ia pun meneteskan air mata sambil mendengarkan lagu yang berjudul kasih tak sampai. Malam ini adalah malam yang melelahkan sekaligus menegangkan untuk Bobi. Tapi di sisi lain tampaknya ia merasa bersyukur karena Vita sudah tahu semuanya.
Sedangkan Lani pun di kamarnya merenung, ia masih kepikiran soal lagu di persembahkan oleh Bobi di acara reuni tadi. Apa benar Tidak ada wanita lain, dan menyanyi dari dalam hati seolah-seolah mengalami setiap kejadian di setiap lirik lagu bukanlah hal yang mudah.
Namun terus memikirkan malah menimbulkan berbagai macam pertanyaan yang melelahkan di benak Lani. ia pun memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkan aktifitas pada esok hari. Hingga akhirnya Lani pun memutuskan untuk beristirahat dan Kembali melanjutkan aktifitasnya esok hari.
Hari pun berganti, Vita yang semalam menangis sejadi-jadinya seusai pulang acara sini, melihat matanya seperti telah mendapatkan sebuah tamparan keras. Alhasil akhirnya hari ini Vita mengurungkan niatnya untuk berangkat ke kampus.
Lain hal dengan Bobi, setelah sarapan Bobi izin berangkat kuliah kepada Ayahnya. Setelah mendapat izin. Bobi langsung meluncur ke arah rumah Vita. di sana Bobi merasa ketakutan. Ia takut Vita menolaknya dan sampai pada akhirnya Bobi memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu depan rumah Vita.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," Salam yang terucap terdengar oleh Vita. Dan ia pun bergegas membuka pintu seraya sambil menjawab salam dari tamu tersebut. Vita tak menyangka Yang datang adalah Bobi. Vita merasa mulai canggung berhadapan dengan Pria yang selama ini menjadi tambatan hatinya, curahan hatinya selama ini.
"Kak Bobi, maaf ya tapi seperti yang Kakak lihat, karena Vita belum siap dan juga mata Vita terlihat sembab jadi Vita merasa malu untuk berangkat ke Kampus," ucap Vita.
Dari hati Vita yang terdalam, ia tahu betul Bobi tidak salah. Tak ada niat untuk menyakiti. Ia justru sedang di posisi yang sama. Sama-sama harus mengorbankan perasaan mereka untuk sebuah permintaan terakhir dari seorang Ibu. Setiap anak pasti ingin berbakti pada Ibunda tercintanya. Posisi Bobi pun saat ini begitu berat. Vita tak pernah sekalipun mendapati Bobi ada sinyal-sinyal bahwa Bobi selingkuh dari dirinya selama sebelum perjodohan itu direncanakan.
"Baiklah Vit, kamu istirahat ya, Kakak berangkat ke kampus dulu,
"Iya hati-hati ya Kak,"
"Iya Vit, Assalamualaikum,"
"wa'alaikumussalam,"
Vita langsung beranjak menuju kamarnya lagi, Vika kakaknya merasa aneh dengan gelagat Vita. Namun ia membiarkan adiknya dulu. Mungkin adik semata wayangnya itu belum siap untuk bercerita.
Tidak lama kemudian, Vita pun keluar kamar. Ia begitu kaget melihat Kakaknya sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah itu, Vita berjalan menuju ke kamarnya kembali dan ia pun sebetulnya bermaksud menghindar dari Kakaknya. Vika tampaknya mulai tidak bisa menahan rasa ingin tahunya itu dan ia pun memanggil Vita.
"Dik kamu gak masuk kampus?" tanya Vika mengawali sebuah pembicaraan.
"i iya Kak,"
Vita merasa tersentak mendengar pertanyaan Kakak kesayangannya itu. Namun ia merasa belum siap jika harus menceritakan apa yang telah ia alami semalam. Vita pun berusaha menahan tangisnya namun tetap saja ia tak mampu. Ia pun spontan memeluk erat Kakaknya.
"Menangis lah Dik, jika itu bisa membuat hatimu tenang," ucap Vika memberi support pada Adik semata wayangnya.
"Iya Kak,"
"Jika belum siap untuk bercerita jangan dipaksakan ya, Kakak Tahu sepertinya kamu belum siap bercerita pada Kakak,"
"Terima kasih ya Kak,"
"Iya Dik, tunggu sebentar ya. Kakak ke dapur dulu kamu tunggu di sini jangan beranjak dulu,"
ucap Vika.
__ADS_1
"Ok siap Kak,"
Vita merasa heran dengan sikap Kakaknya itu. Tapi ia pun dengan sabar menunggu sang Kakak kembali ke dekatnya.
"Ini Kakak buatkan teh manis dan tadi Kakak bikin roti bakar untuk kita,"
"Masya Allah terima kasih banyak ya Kak, Aku jadi terharu,"
"Iya sama-sama Dik, ayo dong di makan," ucap Vikapada adik semata wayangnya itu.
"Iya Kak, oh iya ini roti bakar di taruh di mana?"
"Ada lah, sengaja Kakak rahasiakan dulu biar surprise,"
"Bisa aja Kakak ya,"
"Iya dong, ayo di minum tehnya,"
Vita pun minum teh manis yang sudah mulai hangat.
"Mumpung hangat, pas enak-enaknya itu minum teh manis selagi hangat. Oh iya semalam Lani datang sama tunangannya?"
Vita yang sedang minum teh manis hangat tersebut tiba-tiba tersedak karena tersentak mendapati pertanyaan dari Kakak. Ia seolah sedang merasakan kembali luka yang semalam tercipta dan masih sangat membekas di hatinya.
"Dik maafkan Kakak ya, kamu jadi tersedak mungkin terlalu manis ya tehnya,"
"Tidak apa-apa Kak,"
"Bentar Kakak ambilkan air putih dulu ya,"
"Baik Kak, terima kasih ya,"
Vika pun segera mengambilkan air putih untuk Adiknya. Ia merasa cemas sekali dan sempat berfikir keras tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Vita.
"Ini Dik ayo diminum dulu,"
__ADS_1
"Baik Kak,"
.