
Lani yang baru saja sampai di kamarnya betul-betul tak percaya dengan apa yang tadi dilihatnya. Sarah yang ia rasa amat beruntung karena memiliki pria yang setia ternyata dibelakang Sarah malah bermain api. Hal ini membuatnya kembali ragu pada Bobi, Pria yang kini menjadi calon tunangannya.
Namun rupanya Lani juga capai jika terus menduga-duga akhirnya ia pun bersikukuh untuk percaya pada Bobi.
Sedangkan Ferdy kini menjadi gusar sejak Lani mulai kepo tentang dirinya. Sungguh rasanya saat ini ia tak mampu untuk memilih diantara Sarah atau kekasihnya terdahulu. Meski ia sudah mantap akan memilih Sarah namun saat ini ia belum siap jika harus melukai hati kekasih yang dulu.
Lani pun tak bisa menahan rasa penasarannya hingga ia bertanya kepada Vita. Lani pun langsung menghubungi Vita dengan mengirimkan pesan singkat kepada Vita.
[Assalamu'alaikum]
[Wa'alaikumussalam Lan]
[Vit, gimana ya Aku mulainya?]
[Maksudnya kenapa Lan?]
[Aku takut salah faham Vit, tapi tadi Aku seperti lihat Ferdy pergi bersama wanita lain]
[Yang benar Lan?]
[Aku itu berharap kalau Aku salah lihat, ternyata waktu Aku lihat motor dan plat nomornya pun sama, seperti punya Ferdy]
[Oke, oke sebaiknya kita cari tahu dulu kebenarannya, baru kita bongkar ya Lan]
[Oke Vit, Aku ngikut saja ya]
[by the way Kamu baru pulang?]
[Iya Nih kalau begitu Aku mau istirahat dulu ya]
[Oke selamat istirahat ya, besok semoga fit kembali dan Kita ketemu di sana ya]
[Oke terima kasih ya Vit, assalamu'alaikum]
[Wa'alaikumussalam]
Lani pun beristirahat dan bergegas untuk tidur. Malam semakin larut, Vita yang sedang merasa dilema makin ketakutan dengan Lani melihat Ferdy bersama wanita lain. Vita hampir saja stress dibuatnya.
__ADS_1
Keesokan harinya, seperti biasanya Lani sudah ada di dapur membantu Ibu dan asisten rumah tangga di rumahnya untuk menyiapkan sarapan. Apalagi Lani sebentar lagi akan dipersunting oleh Boby jadi dirinya semakin semangat untuk belajar memasak.
"Masya Allah Non Lani makin pintar saja nih masaknya," ucap sang asisten rumah tangga.
"Bibi bisa saja ini juga wasilah arahan Bibi juga jadi Bibi sangat berjasa jika nanti Lani pandai masak," sahut Lani.
"Bisa saja ini Si Non ya," sambung sang asisten rumah tangga.
"Nak, kamu persiapkan kue yang mau dibawa nanti ke panti ya," pinta Ibu Nayla pada Lani.
"Baik Ibu, kalau begitu Lani ke kamar dulu ya mau tanyakan kue yang Lani pesan kemarin," jawab Lani.
"Iya silahkan Nak," sambung Ibu Nayla.
"Bibi tolong ditulis lagi, takut ada yang kurang ya, nanti pukul 10.00 wib kita berangkatnya," ucap Ibu Nayla kepada asisten rumah tangganya.
Bu Nayla memang tipe orang yang sangat detail jika soal mempersiapkan acara. Dari pada kurang, ia lebih suka memilih lebih agar semuanya bisa tercukupi. Soal lebihnya bisa dibagikan kepada yang lebih membutuhkan. Sikapnya yang sangat detail dan dermawan itulah yang membuat Pak Toni jatuh hati padanya. Hingga sifat tersebut turun kepada Lani putri tercintanya mereka.
Setelah Lani menghubungi sahabat-sahabatnya untuk menanyakan kue-kue yang ia pesan kepada sahabatnya tersebut. Setelah semua selesai dan kue-kue yang dipesan pun datang satu jam sebelum mereka berangkat ke Panti Asuhan. Yakni sekitar pukul 09.00 wib.
Setelah semua anggota bersiap-siap Pak Toni pun menyalakan mesin mobilnya untuk dipanaskan, kali ini Bobi tidak menjemput Lani karena mereka akan berangkat masing-masing.
"Ayah bagaimana sudah siap? tanya Bobi.
"Iya Nak, sudah siap. Ayah harap kamu happy ya hari ini," harap Pak Burhan.
"Iya siap Ayah,"sahut Bobi.
Setelah semua kue dan juga Snack yang mereka bawa untuk anak-anak panti selesai dimasukkan ke dalam mobil, mereka pun masuk ke dalam mobil. Mobil yang dikemudikan oleh Bobi pun langsung melaju ke arah Panti
"Ayah nanti Vita juga Hadir lho di sana," ucap Bobi.
Pak Burhan merasa tersentak, ia tak bisa membayangkan jika putranya harus menahan rasa cintanya pada gadis yang amat dicintainya itu.
"Ayah kenapa?" tanya Bobi yang terlihat sangat heran.
"Kamu baik-baik saja kan Nak?" tanya Pak Burhan.
__ADS_1
"Tenang Ayah Aku baik-baik saja kok," jawab Bobi.
"Ya kalau begitu ayo kita jalan Nak," ucap Pak Burhan dengan nada lirih.
Dalam hati Pak Burhan begitu tidak tega melihat Putranya mengalami hal seperti ini, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Amanat dan keinginan dari istrinya juga amat penting baginya.
"Ayah kok jadi diam begitu ya, oh iya mungkin saja Ayah memikirkan perasaan Aku," gumam Bobi dalam hati.
Bobi pun berusaha agar terlihat sumringah di depan Ayahnya. Ia tahu perasaan Ayahnya saat ini, tak tega melihat Putranya menderita namun tak mau pula melupakan keinginan almarhumah.
"Yah, mau tambah Snack lagi tidak untuk anak-anak?" tanya Bobi yang sedang berusaha agar Ayahnya tak terlalu mengkhawatirkan perasaan dirinya.
"Boleh juga, Kita tambah mainan kalau perlu gimana Nak?" tanya Pak Burhan.
"Boleh juga Ayah, kita bahagiakan hati mereka ya Ayah," sahut Bobi.
"Iya Nak, ketika kita berbagi sebetulnya kita juga sedang menolong diri dan sekaligus juga menghibur diri kita. Karena hati yang senantiasa berbagi kepada sesama itu akan bahagia, tenang dan terasa damai," ujar Pak Burhan.
"Iya Ayah betul sekali, Bobi juga turut merasakan energi positif Ketika Kita senantiasa membiasakan diri Kita untuk berbagi kepada sesama, terutama kepada orang-orang yang memang di posisi mereka itu amat sangat membutuhkan perhatian Kita," sambung Bobi.
"Ayah bangga pada Kamu Nak, Ibumu juga pasti bangga jika melihat Anaknya yang tumbuh menjadi dewasa dan peduli terhadap sesama apalagi sekarang dekat dengan anak-anak," Rasa kagum Pak Burhan membuat Bobi jadi tersipu malu.
"Ayah bikin Bobi berasa terbang saja dari tadi pagi," ucap Bobi.
"Ya kenapa?" tanya Pak Burhan.
"Ya barusan kan Ayah puji Bobi,"" sahut Bobi.
"Bisa saja kamu Nak," sambung Pak Burhan.
"Hehehe baiklah sekarang kita langsung belanja ya Ayah untuk anak-anak panti," ucap Bobi.
"Iya Nak," .
Mereka pun menuju ke sebuah toko mainan anak-anak, Pak Burhan nampaknya nostalgia. Ia mengingat saat Bobi masih kecil. Berapa bahagianya Bobi dulu saat menikmati masa kanak-kanak.
"Ayah kenapa? kok malah senyum-senyum sendiri," tanya Bobi penuh penasaran.
__ADS_1
"Ayah ingat saat Kamu masih kecil, suka sekali dengan mainan mobil-mobilan,"" ujar Ayah Bobi.