Ku Tunggu

Ku Tunggu
Tawaran pekerjaan untuk Bobi


__ADS_3

Bobi pun masih belum beranjak dari tempat duduknya di Cafe itu, suasana Cafe mulai rame. Ia pun menikmati alunan suara musik dan ingin menghibur para tamu dan ia bergegas meminta izin untuk menyumbangkan satu lagu untuk para pengunjung. Sang pengelola Cafe langsung antusias mengizinkan Bobi untuk memperdengarkan suaranya tersebut.


Bobi pun langsung memainkan gitar dan memetiknya dengan penuh penjiwaan. Ia menyanyikan sebuah lagu. Ia menyanyikan sebuah lagu yang berjdulul ceria dari salah satu grup band di Indonesia.


Hari ini ku dendangkan


Lagu yang ingin kunyanyikan


terkenang semua kenangan


yang telah ku alami


Dengan penuh semangat Bobi menyanyikan lagu tersebut, membuat semuanya larut dan ikut merasa terhibur.


Semuanya sangat merasa senang, setelah menyanyikan lagu tersebut Bobi pun izin untuk turun dari panggung dan kembali ke tempat duduknya. Dari dulu setiap ada acara musik dia pasti selalu ingin menyumbangkan sebuah lagu untuk menghibur para tamu.


Tidak lama kemudian, sang pemilik Cafe pun mengajak Bobi untuk berbincang-bincang dan meminta Bobi untuk bekerja sama dengannya mengisi acara di Cafe tersebut. Setelah melihat am performa dari Bobi rupanya sang pemilik Cafe yang kebetulan tengah berada di Cafe tersebut merasa terhibur dan tertarik mengajak Bobi untuk bekerjasama di Cafenya tersebut.


Bobi merasa terkejut dan tak menyangka jika niatan ingin menghibur para pengunjung sekaligus menghibur dirinya malah mendapatkan rezeki tak terduga. Bobi pun ingin meminta restu dulu pada Ayahnya. Sang pemilik Cafe pun memahami hal tersebut. Tidak lama kemudian Bobi pun izin pamit pulang untuk membicarakan hal itu bersama Ayahanda tercintanya.


"Terima kasih banyak ya Pak atas tawarannya," ucap Bobi pada sang pemilik Cafe.


"Sama-sama Dik, Saya tunggu keputusannya," sambung sang pemilik Cafe yang bernama Pak Fahmi.


"Permisi, Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumussalam," jawab Pak Fahmi.


Bobi masih tak menyangka dengan kejadian yang baru saja menimpanya, ia mendapat tawaran pekerjaan menghibur di sebuah Cafe. Jika keadaan tak seperti saat ini, mungkin ia sua menghampiri Vita dan bercerita padanya tentang tawaran pekerjaan yang membahagiakan ini. Namun ia lebih baik bercerita pada Ayahnya dan juga Lani yang sekarang menjadi calon tunangannya. Lani pasti senang dan bangga mendengarnya.


Bobi ingin sekali membahagiakan Ayahnya dan membuat Ayahnya bangga. Setelah sampai di rumah Bobi langsung mencari Ayahnya ko


"Assalamu'alaikum, Bi Ayah mana?" tanya Bobi pada asisten rumah tangga yang ada di rumahnya.


"Wa'alaikumussalam, Tuan sedang istirahat di kamar, mungkin sedang tidur," ucap asisten rumah tangga yang ada di rumahnya.


"Oh iya Terima kasih kalau begitu, Aku ke kamar dulu ya,"

__ADS_1


"Iya baiklah Tuan,"


Bobi pun ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah itu ia menelepon Vita untuk memastikan keadaannya.


[Assalamu'alaikum, Vit kamu di mana?]


Vita langsung mengambil ponselnya yang diletakkan di tasnya.


[Wa'alaikumussalam, iya Bob Aku lagi jalan menuju pulang bentar lagi sampai]


[Hati-hati ya]


[Iya terima kasih Kak]


Anton yang sedang berada di sebelah Vita merasa sedikit cemburu. Namun ia tetap menjaga kebersamaan itu.


"Kenapa kamu Anton?" tanya Vita.


"Tidak apa-apa,"


"Yakin?"


"Cemburu," Goda Vita.


"Ada-ada saja, cemburu sama siapa?"


"Kak Bobi, barusan telepon Aku. Kamu langsung cemberut," ucap Vika.


"Kamu Vit, ada-ada saja. Dari mana Aku tahu kamu teleponan sama Bobi? kamu kan belum cerita," sambung Anton.


"Ya dari menerka-nerka,"


"Ya baiklah jujur iya Aku cemburu," aku Anton sambil tersipu malu.


"Hehe nyerah deh akhirnya,"


"Ya mau bagaimana lagi,"

__ADS_1


mereka yang sedang berada di dalam mobil pun yang berhenti sejenak ketika Vita dihubungi Bobi.


"Anton, maaf ya Aku sepertinya masih trauma dan kaget dengan kejadian yang menimpaku. Ya setiap kali Aku mengingat masa lalu kita, Aku tuh sekarang malah merasa bersalah pada Lani. Ya Aku saat ini sedang merasa menjalani hukuman atas perbuatan ku di masa lalu kepada Lani. Aku baru menyadari oh ternyata dulu Lani juga merasa seperti ini. Atau bahkan lebih sakit dari yang Aku rasakan. Tapi dia tetap istilahnya Wellcome padaku. Aku jadi terharu dan semakin ingin agar Lani tidak usah tahu tentang hubungan diriku bersama Kak Bobi,"


"Iya Vit, Aku tahu betul sifat Lani, ia pasti akan lebih mementingkan kebahagiaan kamu ketimbang kebahagiaan dirinya sendiri," ucap Anton.


"Ya betul sekali Anton,"


"Aku mengerti Vit, Aku akan menunggumu sampai kapanpun. Karena maksud kedatangan diriku kemari adalah untuk menjemputmu jika kamu mau kita tapi tinggal disana kamu juga bisa lanjutkan kuliah di sana. Aku akan dukung apapun kegiatan kamu. Agar Lani bisa tenang menjalani kehidupannya yang sekarang," harap Anton.


"Iya Aku fikir-fikir dulu ya, terima kasih untuk supportnya ya Anton. Aku merasa tersanjung mendengarnya," ucap Vita sambil tersenyum dengan begitu manis.


Vita sungguh sangat merasa bersyukur karena disaat benar-benar membutuhkan sosok yang mengerti dan memahami kondisinya, sosok Anton yang hadir menemaninya. Meski kadang penyesalannya telah menyakiti Vita pun kerap kali terngiang. Namun kadang Vita berfikir mungkin Anton hadir menjawab pertanyaannya tentang siapa yang akan menemaninya meski itu masih belum pasti. Waktu yang akan menjawab semua itu.


Sedangkan , Bobi saat ini sungguh begitu sulit untuk dapat komunikasi Seperti dulu dengan gadis pujaan hatinya. Ia tak mampu lagi membendung perasaannya, ia butuh refreshing. Mungkin dengan mengajak Lani jalan-jalan bisa sedikit membuatnya lega. Ia pun ingin bercerita pada Lani tawaran pekerjaan dari Cafe tersebut.


Bobi pun langsung mengambil ponselnya, ia langsung menghubungi Lani.


[Assalamu'alaikum]


[Wa'alaikumussalam, iya Kak Bobi ada apa?]


[Lan nanti malam dinner yuk, ada yang mau Kakak sampaikan]


[Iya Aku izin dulu ke Ayah dan Ibu ya Kak]


[Oke Lan, Kakak tunggu ya]


[Iya Kak, terima kasih]


Setelah itu ia langsung meminta izin kepada kedua orang tuanya. Pak Toni dan Bu Nayla langsung menyetujuinya. Pak Toni dan juga Bu Nayla semakin yakin jika Bobi menyayangi Puteri mereka. Lani pun segera memberi tahu Bobi.


Setelah Pak Burhan terbangun dari tidur siangnya, dan tengah duduk di taman sambil di temani secangkir kopi hitam, Bobi pun perlahan menghampiri Ayahnya. Ia pun meminta izin untuk mengajak Lani dinner nanti malam. Pak Burhan begitu senang mendengarnya.


"Yah nanti malam, Aku mau ajak Lani dinner ya boleh kan?"tanya Bobi.


"Ayah sangat senang sekali mendengarnya, tentu saja boleh Nak. Hati-hati ya, nanti pulangnya jangan lupa belikan Ayah martabak ya,"

__ADS_1


"Oke siap Bos," jawab Bobi.


"Kamu bisa aja bilang bos," ucap Ayahnya.


__ADS_2