
"Ya itu karena kami sudah sama-sama begitu saling sayang. Aku juga dekat dengan Kak Vika, karena kesibukan masing-masing sekarang yang buat kami jarang komunikasi. Ya Aku, Vita dan Sarah kami bertiga emang dekat banget Kak," ucap Lani sesaat sebelum Bobi mulai mengemudikan mobilnya.
"Oh begitu, ya bismillah kita berangkat yuk," sambung Bobi.
"Iya bismillah Kak," sahut Lani.
Di perjalanan sambil mengendarai mobil l Bobi terperangah iya sungguh tak menyangka Vita yang kala itu agak sedikit memaksa minta dianter untuk beli kado, kado yang berisikan sebuah baju itu sekarang menjadi saksi bisu aktifitasnya bersama Lani, gadis pilihan mendiang Ibunda tercintanya. Bobi semakin yakin bahwa segala sesuatu sudah diaturnya, mungkin memang Lani lah jodoh yang Tuhan hadirkan untuknya.
"Kak Bobi, kenapa?" tanya Lani yang dari sejak tadi memperhatikan Bobi yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Oh iya Lan, tidak apa-apa, Kakak merasa gugup. Tidak menyangka ada tawaran dari sebuah Cafe untuk Kakak kerjasama bareng mereka," ucap Bobi yang terpaksa harus berbohong kepada Lani.
Mana mungkin ia cerita pada Lani. Lani pun nampak tersenyum melihat tingkah Bobi dan berusaha untuk memberikan support pada calon suaminya itu.
"Kak yang tenang ya, Kakak harus fokus. Jika Kakak ambil tawaran itu Kakak harus siap dengan segala konsekuensinya," ujar Lani sambil menebarkan senyum.
Bobi terkejut mendengar pernyataan dari Lani, ia tak menyangka Lani begitu perhatian dan simpati terhadapnya. Bobi semakin hari semakin mengagumi sosok Lani. Dimatanya gadis itu adalah gadis yang amat baik dan manis. Namun ia masih saja belum bisa membuka hatinya untuk Lani.
"Terima kasih ya supportnya Lan, kamu begitu baik," ucap Bobi.
"Iya sama-sama Kak,".
Vita yang sedang berada di kamarnya, tiba-tiba dikejutkan dengan dering ponsel yang berada di atas nakas. Ternyata panggilan telepon dari Anton. Vita pun langsung menjawab panggilan telepon tersebut.
[Assalamu'alaikum Anton]
[Wa'alaikumussalam. Kamu sedang apa Vit?]
[Biasa di kamar, lagi rebahan sambil main game]
[Temani Aku ngopi yuk, Kita ajak Sarah juga sama pacarnya]
[Oke]
[Kamu mau ajak Lani juga tidak?]
[Untuk hari ini kayaknya jangan dulu, soalnya kemungkinan dia ajak Kak Bobi juga]
[Oke baiklah, kamu siap-siap ya sebentar lagi Aku jemput]
[Oke terima kasih ya Anton]
Sebenarnya Vita malas sekali keluar rumah, tapi ia juga tidak enak jika harus menolak ajakan Anton. Makanya ia langsung mengiyakan. Meski baginya saat ini tempat ternyaman adalah di dalam kamarnya.
Vika masih saja mengkhawatirkan keadaan adiknya. Namun ia juga tak bisa menyalahkan Bobi apalagi Lani. Semua terjadi di luar dugaan mereka. Dan semuanya harus mengorbankan perasaan mereka. Mungkin saat ini Lani juga belum mencintai Bobi. Hanya saja perjodohan itulah yang membuat Lani menyetujuinya atas dasar berbakti kepada kedua orang tuanya.
Dari sini Vita benar-benar harus belajar ikhlas, Vika hanya bisa mendo'akan adiknya yang saat ini tengah berjuang untuk bangkit dan semangat dari keterpurukan yang dialami Vita saat ini. Vika pun ingin menghibur adiknya dan ia bergegas menuju kamar Vita dan segera mengetuk pintu kamar Vita sambil memanggil adik tercintanya itu.
__ADS_1
"
"Assalamu'alaikum, Vit lagi apa?" tanya Vika sambil mengetuk pintu kamar Vita.
"Wa'alaikumussalam, iya sebentar Kak,"
"Mari masuk Kak," ucap Vita.
"Kamu ada rencana keluar gak? kalau gak Kakak mau ajak kamu jalan," tanya Vika
sesaat setelah duduk di kursi yang berada di kamar Vita.
"Kebetulan barusan Anton ngajak Jalan Kak," sahut Vita.
"Oh ya udah kalau begitu kamu siap-siap ya nanti aja kita jalannya," ucap Vika.
"Iya Kak, maaf ya," ucap Vita memohon maaf kepada Kakak tercintanya itu.
"Santai Dik, oke kalau begitu Kakak permisi dulu ya,"
"Iya Kak,".
Vita pun bersiap-siap menunggu di jemput oleh Anton. Vita harus bangkit dan membiasakan hari-harinya tanpa Bobi. Ia terus saja kepikiran tentang Bobi. Ya wajar memang karena selama ini hari-harinya kerap kali ia habiskan bersama Bobi.
suara mobil yang hendak parkir pun terdengar dan Vita pun langsung menyibak tirai di jendela kamarnya. Benar saja Anton baru saja memarkirkan mobilnya dan baru saja keluar dari mobil hendak menuju rumah Vita.
Vita bergegas keluar kamar untuk menghampiri Anton. suara salam dari Anton terdengar dari luar dan Vita pun segera membalas salam tersebut dan setelah itu ia pun segera membukakan pintu untuk mantan kekasihnya itu.
"Iya mari masuk dulu," ajak Vita.
"Iya tapi lebih baik kita segera berangkat yuk, Aku izin ke Ibu kamu dulu ya," pinta Anton.
"Baiklah, tunggu sebentar ya,"
"Iya Vit,"
Wajah Anton tampak begitu sumringah, ia yang dulu pergi demi masa depannya bersama Vita sangat berharap bisa kembali lagi merajut kasih dengan gadis pujaan hatinya itu. Meski sebetulnya Vita telah mengkhianatinya. Vita pun menyadari semua yang kini tengah menimpanya mungkin juga atas kesalahannya di masa lalu.
"Assalamu'alaikum, Bu izin ajak Vita jalan sebentar ya Bu," pinta Anton pada Ibunda Vita.
"Wa'alaikumussalam, iya boleh Nak. Hati-hati ya, sebentar Ibu ambilkan minum," ucap Ibunda Vita.
"Oh maaf Bu tidak usah kami sudah ditunggu teman," ucap Anton menolak secara halus.
"Oh ya sudah," sambung Ibunda Vita.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya Bu," ucap Vita
__ADS_1
"Iya Nak hati-hati ya," ucap Ibunda Vita
"Iya Bu, Assalamu'alaikum,".
"Wa'alaikumussalam,"
Vita dan Anton pun segera berangkat dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh Anton. Vita nampak merenung, Anton yang melihatnya terdiam sejenak sambil perlahan melontarkan pertanyaan pada gadis yang amat dicintainya itu.
"Vit, kamu kenapa masih kepikiran Bobi?" tanya Anton.
"Bohong kalau Aku bilang nggak, tapi ya sudahlah yuk kita berangkat. Maafkan Aku ya Anton," ucap Vita.
"Santai Vit, yuk kita berangkat," sambung Anton yang mulai mengendarai mobilnya tersebut.
Lani yang baru saja tiba bersama Bobi di Cafe tiba-tiba dikejutkan dengan salah satu pengunjung Cafe ternyata Sarah ada di Cafe tersebut.
"Assalamu'alaikum Sarah, Alhamdulillah kita bertemu di sini," ucap Lani.
"Wa'alaikumussalam, hai Lan, Bobi, apa kabar?" sapa Sarah.
Sarah sebetulnya amat terkejut melihat kedatangan Lani yang tiba-tiba, padahal Vita dan Anton pun sedang menuju kemari. Apa yang harus ia lakukan agar Lani tak curiga jika Ia dan juga Anton sudah janjian sebelumnya. Karena tak mengajak Lani, ia takut Lani curiga kepadanya.
"Alhamdulillah baik, kalian bagaimana?" Lani Kembali bertanya
"Alhamdulillah baik juga, yuk gabung di sini," ucap kekasih Sarah.
"Iya terima kasih tapi kami lagi ada keperluan sebentar jadi kami permisi dulu ya. Ayo Lan," ajak Bobi kepada Lani.
Sarah mulai mencoba menghubungi Vita, namun sayangnya nomor l Vita ternyata tidak aktif. Sarah makin resah dibuatnya. bagiamana jika setelah Lani dan Bobi kembali ke ruang tersebut ia melihat Vita dan Anton. Lalu Sarah mencoba menghubungi Anton. sama saja nomor Anton pun tidak aktif. Sarah jadi geram dibuatnya.
Sementara itu, Lani dan Bobi nampak tengah asyik mengobrol dengan sang pemilik Cafe, Bobi pun tengah menandatangani kontrak kerja sama bersama pihak Cafe. Lani Napak sumringah dan bangga dengan calon tunangannya itu.
Sarah akhirnya berfikir untuk mengirimkan pesan singkat pada Bobi. Namun hasilnya nihil, Bobi pun tak mengaktifkan data selulernya. seperti kompak saja mereka, fikir Sarah.
Rasa cemas terus saja menyelimuti perasaaan Sarah.
Sementara di perjalanan, Anton dan Sarah tampaknya menghentikan perjalanan karena ban mobil Anton kena benda tajam seketika ban harus diganti karena kempes.
Setelah mengganti ban, mereka pun kembali menuju Cafe tempat mereka dan Juga Sarah serta kekasih Sarah janjian. Tak lama kemudian Vita dan Anton pun sampai di depan Cafe. Begitupun Lani dan Bobi sama-sama menuju ke tempat di mana Sarah duduk. Jantung Sarah berdegup kencang. Ia tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan dari Lani yang mungkin saja Lani lontarkan.
"Assalamu'alaikum, Sarah," Ucap Vita.
"Wa'alaikumussalam Vit, kamu ke sini juga," ucap Sarah yang memeluk Vita sambil bilang Lani ada di sini dan meminta Vita untuk tidak bilang jika mereka janjian di sini.
"Oh iya Sarah, tadi Anton ajak Aku ngopi. Aku gak nyangka lho kita bertemu di sini,"
Lani pun datang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Vit, kamu dari kapan ke sini? kita kayak yang janjian ya," tanya Lani pada Vita.
"Iya Lan, Aku juga gak nyangka bisa kebetulan kayak gini," ucap Vita sambil melirik Anton seolah memberi isyarat pada Anton untuk tidak mengatakan apapun selain mengiyakan apa yang ia lontarkan.