
Bobi langsung masuk ke mobil dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang agak tinggi. Ia begitu cemburu melihat Anton yang terlihat begitu akrab dengan Vita. Bobi terus berpikir dan berpikir, dan juga terus berandai-andai jikalau perjodohan ini tak ada ia pasti sudah mengajak Vita melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius. Namun seketika mengenang Ibunda tercintanya, Ia pun langsung beristighfar. Bobi harus menerima semuanya meski pahit dan amat sulit rasanya ia jalani.
selang lima belas menit kemudian, sampailah ia di rumah Lani. Lani yang mendengar suara mobil Bobi begitu sumringah ketika melihat Bobi turun dari mobilnya dibalik tirai kamar Lani. setelah tiba di depan pintu rumah Lani, Bobi pun mengucapkan salam dan sambil mengetuk pintu rumah Lani. Asisten rumah tangga yang hendak membukakan pintu rumah langsung dipanggil oleh Bu Nayla agar ia saja yang membukakan pintu untuk Bobi. Sambil membukakan pintu, Bu Nayla pun menjawab salam dari Bobi.
"Wa'alaikumussalam, Nak Bobi mari masuk," jawab sang calon Ibu mertua.
"Terima kasih Tante," sahut Bobi.
"Sebentar ya Tante panggilkan Lani dulu ya," ucap Bu Nayla.
"Iya Tante," sambung Bobi.
Bu Nayla melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Lani. Sesampainya di depan pintu kamar Lani, Bu Nayla pun memanggil Lani.
"Assalamu'alaikum Nak, ada Nak Bobi nunggu di ruang tamu," ucap Bu Nayla.
"Oh iya Bu, sebentar Lani siap-siap dulu," jawab Lani.
"Iya Nak, Ibu temani Nak Bobi dulu ya," sambung Ibu Nayla.
"Iya Bu," sahut Lani.
Bu Nayla pun langsung melangkahkan kakinya untuk menemani Bobi yang tengah menunggu Lani yang sedang dandan di kamarnya. Bobi pun berbincang-bincang dengan Ibu Nayla.
"Sebentar ya Nak Bobi, oh iya Nak Bobi mau minum apa?" tanya Bu Nayla.
"Tidak usah repot-repot Tante," jawab Bobi.
"Sama sekali tidak merepotkan kok Nak Bobi, gimana mau kopi atau teh?" kembali Ibu Nayla bertanya pada calon menantunya tersebut.
"Air putih saja Tante, kebetulan barusan di rumah baru selesai ngopi," jawab Bobi.
see
"Oh baiklah Nak Bobi, Tante ke dapur dulu ya," ucap Bu Nayla.
"Silahkan Tante,"
Sementara itu Anton yang sedang di rumah Vita, akhirnya mengajak Vita untuk ke suatu tempat, namun Vita menolaknya secara halus. Karena ia ingin sekali menemani Kakaknya yang sedang survei ke Panti untuk acara syukuran besok.
__ADS_1
"Kamu yakin mau nyusul Kak Vika ke sana?" tanya Anton.
"Iya, karena biasanya kan seperti itu Kau selalu bantu dan temani Kak Vika jika setiap ada job," jawab Vita.
"Iya Vit, tapi ini kan lain ceritanya, klien Kakakmu kali ini itu adalah calon mantan kekasih kamu. Kamu yakin bisa kuat?" tanya Anton.
"Kita gak pernah tahu hasilnya akan seperti apa jika kita tidak mencobanya. Aku tidak mau jadi pengecut ataupun lari dari kenyataan. Aku rasa dalam bekerja kita harus profesional kan. Mau siapapun yang kita hadapi ya kita harus bisa mengesampingkan ego kita, iya kan?" Vita balik bertanya pada Anton.
"Iya Vit, wow Aku salut banget sama Kamu Vit,"
sahut Anton.
"Jadi gimana? sudah belum ngopinya?" tanya Vita.
"Alhamdulillah sudah," jawab Bobi.
"Oke ,yuk kita berangkat. Kasihan Kak Vika takut kerepotan," ajak Vita.
"Iya Vit," sahut Anton.
Lani yang sudah siap untuk berangkat pun mulai bergegas melangkahkan kakinya untuk menghampiri Bobi. Ibu Nayla yang sejak dari tadi menemani Bobi setelah mengantarkan secangkir air putih untuk Bobi pun tampak begitu sumringah sesaat setelah melihat putrinya nampak begitu anggun dibalut oleh busana syar'i.
"Maaf ya Kak Bobi jadi nunggu lama," ucap Lani pada Bobi sambil tersenyum merekah.
"Kakak bisa saja," sahut Lani sambil tersipu malu.
"Iya Nak, pantas dandannya lama," sambung Bu Nayla.
Kembali Lani tersipu malu mendengar komentar dari Ibunda tercintanya. Lani begitu senang saat Bobi memujinya.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang yuk," ajak Bobi yang terus memandangi Lani karena kagum dengan kecantikannya Lani.
"Iya Kak, Bu Lani pamit ya berangkat ke Panti," ucap Lani meminta izin pada Bu Nayla.
"Iya hati-hati ya Nak, mari Ibu antar sampai depan ya," pinta Bu Nayla.
"Terima kasih Bu," ucap Lani.
"Iya terima kasih Tante," sambung Bobi.
__ADS_1
"Iya sama-sama Nak," sahut Ibu Nayla dengan wajah yang sumringah.
***
Sarah yang masih merasa bingung dengan sikap kekasihnya semalam, akhirnya memutuskan untuk meminta kekasihnya itu untuk menemaninya berkunjung ke Panti hari ini. Sedangkan Vita merasa muak dengan sikap kekasih dari sahabatnya itu. Namun saat ini ia tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Sarah. Anton rupanya sedang memperhatikan Sarajh dari tadi, Ia pun bergegas menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Vit, kamu kenapa? sepertinya ada yang sedang membuat dirimu gelisah," untuk tanya Anton yang merasa khawatir dengan keadaan Vita.
"Oh begini Anton, jujur Aku sedang bingung," jawab Vita.
"Bingung kenapa Vit?" Anton kembali bertanya pada Vita.
"Aku semalam melihat kekasihnya Sarah jalan berdua dengan wanita sambil bermesraan" ungkap Vita pada Anton.
"Hmmm, oh jadi begitu. Pantas saja kamu begitu resah dan gelisah," ucap Anton.
"I iya Anton, Dia mengancam Aku kalau bilang sama Sarah, Dia bakal menceritakan semua tentang Aku dan Bobi kepada Lani. Aku jadi tidak bisa berkutik untuk sekarang ini. Rasanya menahan sebuah rahasia pada sahabat itu benar-benar tidak enak rasanya," ungkap Vita.
"Emangnya udah pernah ngerasain?" tanya Anton.
"Kamu bisa saja, apa kamu lupa dulu kita kayak main kucing-kucingan menutupi hubungan kita dari Lani?" jelas Aku pernah merasakannya" jawab Vita.
"Iya Vit, kamu benar," sahut Anton.
"Aku kira mungkin hari ini kita ketemu Dia, ya mungkin saja Dia diminta Sarah untuk menemaninya ke Panti," sambung Vita.
"Untuk sementara ini kita diamkan saja dulu Vit, usahakan jika ketemu Dia kamu tahan dulu ya," saran Anton untuk Vita dalam menghadapi orang yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan dirinya sendiri.
"Iya semoga saja Aku bisa," ucap Vita.
"Kita harus bermain cantik untuk menghadapi orang seperti itu, santai saja dulu," sahut Anton.
"Oke tapi Aku itu sekarang merasa dilema, jika Aku bungkam Aku takut suatu saat Sarah bakalan kecewa kepadaku. Jika Aku buka suara soal ini pertunangan Lani dan Bobi jadi taruhannya. Kita hafal betul kan Karakter mereka," ucap Vita yang merasa kesal sendiri jadinya.
"Iya tapi sekarang kita tidak bisa berbuat apa-apa Vit, dilema nah itu bak makan buah simalakama iya kan?" tanya Anton.
"Iya Anton," sahut Vita.
"Nah justru karena hal itulah kita harus berhati-hati dalam bertindak untuk menyikapi permasalahan ini," saran Bobi.
__ADS_1
"
.