
Sesaat setelah Anton dan Vita berbincang-bincang, mereka pun melihat Ferdy keluar dari gerbang Panti.
"Vit, Ferdy juga pulang duluan ya ternyata tapi dia kok sendirian ya," ucap Anton menoleh ke arah Vita.
"Iya Anton, kayaknya dia janjian sama pacar lamanya itu. Gimana kalau kita ikutin dia kamu setuju tidak?" tanya Vita yang begitu penasaran dengan perlakuan Ferdy pada pacarnya. Ia ingin tahu sebetulnya Ferdy lebih mencintai siapa. Sarah atau pacar lamanya itu.
"Aku rasa itu bukan urusan kita, gimana kalau Ferdy tahu kita mengikutinya. Kalau dia tidak suka bagaimana?" Anton balik bertanya pada Vita. Iya ingin fokus menghibur Vita.
"Iya Aku tahu, tapi Aku sangat penasaran sebetulnya siapa yang lebih dicintai Ferdy. Jangan sampai nanti dia mengecewakan Sarah. Aku terpaksa tidak bilang pada Sarah, karena alasan Lani. Dan Aku tidak mau dibodohi oleh Ferdy," celoteh Vita.
"Oke kali ini Aku setuju, tapi nanti kita ngopi ya di Cafe," ajak Anton.
"Iya pastinya," sahut Vita.
"Yuk kita berangkat," sambung Anton.
Ferdy yang baru saja berangkat pun dibuntuti oleh Anton dan juga Vita. Ferdy ternyata ke sebuah Cafe untuk menemui pacar lamanya itu.
"Tuh kan dia janjian sama pacar lamanya itu," celetuk Vita dengan nada yang amat kesal.
"Iya Vit, tahan emosi kamu ya. Jangan terbawa suasana. Bagaimanapun pacar lamanya itu tidak tahu tentang Sarah. Aku tidak mau kamu gegabah, yang pada akhirnya nanti malah Lani tahu semuanya sebelum pernikahannya dengan Bobi," Anton mengingatkan Vita yang terlihat geram dengan tingkah Ferdy namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Iya kamu benar Anton,gimana kalau kita minum kopi di Cafe ini, kita pura-pura tidak kenal Ferdy. Dan kita bisa lihat bagaimana perlakuan Ferdy pada pacar lamanya itu," ajak Vita.
"Oke Vit, kita tunggu mereka masuk dulu ya," saran Anton.
"Oke,".
Setelah Ferdy dan kekasih lamanya itu masuk Cafe, barulah Anton memarkirkan mobilnya. Dan mereka pun keluar dari mobil dan bergegas masuk ke Cafe tersebut. Ferdy begitu terperangah ketika melihat Anton dan Vita juga mengunjungi Cafe yang sama dengan yang ia kunjungi.
Saat Vita melewati Ferdy, nampak Ferdy menatap tajam ke arah Vita, seolah mengisyaratkan Vita untuk diam seribu bahasa. Tidak lama kemudian, Vita dan Anton pun duduk di tempat duduk yang tak terlalu jauh dari Ferdy. Vita mengirimkan pesan singkat pada Ferdy.
[Assalammu'alaikum Ferdy, tenang dong jangan tegang gitu]
[Wa'alaikumussalam, Aku mohon kamu jangan menyapaku dulu ya. Aku janji akan pilih Sarah. Ingat kartumu ada di Aku Vit]
[Oke]
"Lagi chat sama siapa nih?" goda Anton sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kepo juga ya Kamu, hehe," sahut Vita.
"Iya kepo lah Vit, oh iya kamu mau pesan kopi apa?" tanya Anton.
"Apa saja samain aja ya," jawab Vita.
"Oke kalau begitu," sambung Anton.
Sambil mereka menunggu kopi siap untuk disajikan, Vita terus memperhatikan Ferdy yang sedang berbincang-bincang dengan kekasih lamanya itu.
"Sayang, kamu kenapa kok seperti orang yang sedang gelisah dan kebingungan gitu?" tanya kekasih lama Ferdy.
"Iya sayang, ada yang sedang Aku fikirkan. Ada sedikit masalah dikerjaan Aku. Tapi kamu jangan khawatir ya. Aku pasti bisa handle semuanya," jawab Ferdy.
"Aamiin, gimana kabar Ibu?" tanya kekasih lama Ferdy.
Hal inilah yang membuat Ferdy berat untuk meninggalkan kekasih lamanya itu, meski hatinya sudah terpaut pada Sarah. Perlakuan kekasih lamanya yang memuliakan Ibunda tercinta Ferdy itulah yang membuat Ferdy belum siap mengatakan apa yang sebenarnya terjadi selama ia jauh dari kekasih lamanya itu.
"Sayang, ditanya kok melamun begitu?" tanya kekasih lama Ferdy.
"Oh iya maaf, kabar Ibu Alhamdulillah baik. Terima kasih banyak ya kamu selalu perhatian pada Ibu, Aku terharu," jawab Ferdy.
Tidak lama kemudian,dering ponsel yang berada di dalam tas mini yang dikenakan Kekasih lama Ferdy berdering dan Ia bergegas membuka tas mini dan tangannya merogoh ke dalam tas untuk mengambil tas tersebut
"Maaf Kak, Aku terima telepon dulu ya dari Desi sahabat Aku," ucap kekasih lama Ferdy.
"Iya silahkan,"sahut Ferdy.
Ferdy menoleh ke arah Vita dan mengirimkan pesan singkat pada Vita.
[Vit, terima kasih banyak ya. Aku benar-benar belum siap untuk bicara jujur saat ini. Tapi hatiku tetap memilih Sarah]
[Iya Fer,Aku percaya kok]
Ferdy merasa lega membaca balasan pesan dari Vita.Tidak lama kemudian, kekasih Ferdy pun kembali menuju ke tempat duduk yang ia tempati saat ini.
"Sayang, Aku minta maaf ya tidak bisa lama di sini. Soalnya Dewi mau jemput Aku. Saudaranya minta diajarkan sama Aku. Aku buka bimbel tapi Aku sendiri yang datang ke rumah mereka. Kebetulan Dewi katanya lewat daerah sini jadi Dia mau jemput Aku," tutur Kekasih lama Ferdy.
"Kamu memang rajin sekali sayang, semoga kamu sukses ya," harap Ferdy.
__ADS_1
"Aamiin, Aku pengen banget ngadain baca keliling. Nanti rencananya Aku mau kunjungi TK/Paud yang terdekat di daerah sini. Kamu mau kan dukung Aku?" tanya Kekasih lama Ferdy.
"Iya pastinya," sambung Ferdy sambil mengulas senyum.
Tenyata mobil yang dikemudikan Dewi telah berada di tempat parkir mobil di Cafe tersebut.
Dewi pun mengirimkan pesan singkat pada kekasih lamanya Ferdy bahwa ia telah sampai di parkiran.
[Aku sudah nunggu di parkiran ya]
[Oke Aku yang kesitu ya]
[Oke]
"Sayang, Dewi sudah sampai Aku pamit dulu yah," pamit kekasih lama Ferdy pada Ferdy.
"Iya, Aku antar sampai depan ya," pinta Ferdy.
Ferdy pun mengatakan pada pelayan Cafe jika Ia mengantarkan kekasihnya ke depan dulu dan akan kembali ke Cafe tersebut.
Vita dan Anton pun melihat Ferdy yang hendak keluar.
"Ferdy sudah pulang ternyata, Aku kasihan banget sama Sarah," ucap Vita.
"Iya tapi untuk saat ini kita tidak bisa berbuat apa-apa," sahut Anton.
"Iya kamu benar," sambung Vita.
Kekasih lamanya Ferdy sudah bertemu dengan sahabatnya, tak perlu menunggu lama Kekasih lamanya Ferdy itu pun langsung masuk ke dalam mobil.Ferdy pun langsung bergegas kembali masuk ke Cafe. Ia langsung menghampiri Vita dan Anton yang tengah asyik bercengkrama.
"Hm, Aku boleh gabung gak?" tanya Ferdy.
"Boleh banget dong Fer," jawab Anton.
"Iya silahkan duduk Fer," sambung Vita.
"Aku terus terang stress banget nih mikirin ini. Salah satu alasan Aku belum siap jujur sama mereka berdua itu karena kebaikan pacar lama Aku yang begitu perhatian sama Ibu Aku. Dan Ibu Aku juga sudah sangat nyaman dan berharap Dia jadi menantunya. Sedangkan hatiku sudah terpaut pada Sarah," tutur Ferdy.
"Baik Aku faham betul perasaan Kamu, tapi Aku rasa lebih baik kamu secepatnya bilang sebelum Sarah tahu sendiri. Bisa saja kan Dia melihat kalian berdua lagi jalan di mana gitu," saran Anton pada Ferdy, dan seketika hal itu menjadi pertimbangan baginya untuk segera berkata yang sebenarnya pada Sarah.
__ADS_1