
Vita masih saja bingung, setiap ia berkomunikasi dengan Bobi, ia hampir tak bisa mengendalikan dirinya. karena ia masih amat begitu menyayangi Bobi. Vita pun kembali menangis. Ia berusaha mengelak dari perasaannya pada Bobi.
"Kamu bisa Vit, kamu pasti bisa," ucapnya dalam hati.
Cinta Vita memang begitu dalam untuk Bobi, namun rasa ini tak mungkin ia biarkan terus mengalir, semua karena keadaan yang tak berpihak padanya. Keadaan di mana ia harus merelakan Bobi untuk sahabatnya. Bobi pun tak bisa menyangkal dan mengelak perjodohan itu. Untuk apa ia harus bertahan dan akhirnya kembali tersakiti. Ia tak punya pilihan lain selain harus merelakan Bobi untuk Lani. Lani terlalu baik untuk disakiti untuk kedua kalinya. Dan sekalipun ia lakukan atas dasar tak bisa mengelak dan menyangkal perasaannya pada Anton yang begitu dalam. Tapi perasaan untuk Bobi ternyata jauh lebih dalam hingga kadang ia hampir tak sanggup untuk mengahadapi situasi seperti saat tadi di Cafe. Kadang Vita ingin menjauh dari Bobi. Dan itu harus ia lakukan. Vita pun mulai mengantuk, akhirnya ia tertidur di kamarnya.
Sementara itu Lani yang sedang berada di rumah Bobi mengantarkan martabak untuk Ayah Bobi, menunggu Bobi yang sedang berada di kamarnya. Padahal Bobi Baru saja menelepon Vita. Bobi benar-benar merindukan Vita.
"Bobi kok lama ya Om di kamar, soalnya sudah malam. Lani ingin pulang Om," ucap Lani.
"Oh iya, sebentar Om panggilkan ya," ucap Pak Burhan.
"Baik, maaf Om merepotkan," ucap Lani.
"Oh sama sekali tidak Lan," ujar Ayah Bobi.
Pak Burhan pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar Bobi.
"Bobi, sedang apa Nak?, Nak Lani menunggu kamu ia mau pulang katanya," sahut Pak Burhan.
"Oh i iya Ayah maaf, Bobi rebahan sebentar. Sebentar lagi Bobi kesitu, terima kasih Ayah," sambung Bobi.
"Oke baiklah, Ayah tunggu ya,".
Pak Burhan sepertinya faham betul, mungkin Bobi lelah dan ingin rebahan sebentar. Pak Burhan sebetulnya tidak tega melihat putranya seperti itu, namun ia pun ingin menjalankan amanah dari mendiang istrinya itu.
Tidak lama kemudian, Pak Burhan pun Samapi di dekat Lani.
"Tunggu sebentar ya Nak Lani, Bobi lagi siap-siap mau antar pulang Nak Lani. Salam untuk Ayah dan Ibu ya," pinta Pak Burhan.
"Iya InsyaAllah Lani sampaikan ya Om," sahut Lani.
Bobi pun sudah siap untuk mengantarkan Lani pulang, ia sudah mencuci mukanya yang tadi sempat menitikkan air mata. Ia tak mau terlihat bersedih di depan Lani terlebih di depan Ayahanda tercintanya itu.
__ADS_1
Setelah Bobi berada di dekat Lani, ia pun meminta izin Ayahnya untuk mengantarkan Lani pulang.
"Ayah, Bobi izin antar Lani pulang dulu ya, sudah itu Bobi langsung pulang ke rumah," ucap Bobi.
"Iya Nak hati-hati ya. Nak Lani terima kasih banyak ya sudah berkunjung ke rumah Om," ucap Pak Burhan.
"Iya Baik Ayah," sahut Bobi.
"Iya sama-sama Om, terima kasih banyak juga jamuannya malam ini,"
Pak Burhan pun mengantarkan sampai ke gerbang pintu rumahnya. Lani merasa ada yang aneh pada Bobi. Ia tak mau bertanya pada Bobi karena Bobi selalu mengelak jika ia bertanya pada Bobi. Bagi Lani, sepertinya ia sedang menyimpan rahasia yang sulit dikuak oleh Lani. Insting Lani memang tajam, Lani hanya takut Bobi menyembunyikan rahasia besar. Rahasia besar yang ia takutkan adalah ada sosok yang tersakiti dibalik perjodohan yang tengah dirancang oleh kedua orang tua mereka. Namun lagi-lagi setiap kali Lani membahas di depan Bobi. Dengan cekatan Bobi menolak membahasnya.
"Kamu Kok diam saja?" tanya Bobi yang sudah mulai mengemudikan mobilnya
.
"Oh mungkin Aku agak sedikit lelah Kak, maaf ya," jawab Lani. Ia terpaksa menutupi pertanyaan besar di dalam benaknya itu.
Tidak, lama kemudian, Lani dan Bobi pun sampai di depan rumah Lani.
""Oh iya baiklah Kak, hati-hati ya terima kasih sudah mengantarkan Lani," ucap Lani.
"Iya Lan, assalamu'alaikum," ucap Bobi.
"Wa'alaikumussalam,"
Bobi bergegas menuju ke rumahnya dan Lani pun langsung masuk ke dalam rumahnya. Dengan hati yang dipenuhi tanda tanya tentang apa yang terjadi malam ini. Mulai dari tingkah aneh kedua sahabatnya dan juga Bobi. Namun ia tak mau ambil pusing. Ani segera masuk ke rumahnya. Ayah dan Ibunya ternyata dengan setianya menunggu putri kesayangannya itu pulang.
"Assalamu'alaikum, Ibu, Ayah belum tidur?" tanya Lani pada Kedua orangtuanya.
"Wa'alaikumussalam," jawab keduanya secara serentak.
"Mana bisa kami tidur jika putri kesayangan kami belum pulang Nak," jawab Ayah Lani.
__ADS_1
"hm. so sweet, pengen peluk," jawab Lani manja. Ia sangat terharu sekali mendengarnya.
" Kamu adalah yang paling berharga bagi kami Nak. Maan mungkin kami tertidur pulas sedangkan kamu belum pulang," jawab Ibu Lani.
"Ibu..., Lani jadi terharu nih. pegang Bu, takut terbang nih Lani," gurauannya membuat mereka semua tertawa.
"Kamu bisa saja Nak," sahut Pak Toni.
"Tapi Ayah, Ibu, Lani izin ke kamar ya mau istirahat dulu, mata sudah mulai tidak bisa diajak kompromi ini," ucap Lani.
"Iya baiklah kalau begitu Nak, silahkan istirahat,
ucap Bu Nayla.
"Terima kasih Ayah,Ibu," ucap Lani.
"Sama-sama Nak,".
Lani pun langsung menuju ke kamarnya, ia mulai merasa lelah rupanya. Tidak hanya fisik tapi hatinya yang mulai menerka - nerka akan sesuatu yang ia rasa ada suatu kejanggalan yang belum bisa dikuaknya. Malam pun mulai larut, Lani tak kuasa menahan rasa kantuknya hingga ia pun memutuskan untuk tidur. Bobi pun ternyata baru saja sampai dan langsung beristirahat sambil merenung seperti biasanya. Semenjak Vita tahu pada saat acara reuni, Bobi sudah kangen masa-masa saat bersama Vita, hingga membuat Bobi ingin sekali ngobrol lama seperti dulu lagi. Mungkin pas pulang kuliah besok ia bisa mengobrol lagi dengan Vita. Bobi pun mulai beristirahat.
Keesokan harinya seperti biasa, semua beraktifitas menjalani rutinitas sehari- hari. Bobi misalnya mulai ke Kampus setelah beberes rumah. Anton sudah berangkat pagi-pagi buta. Ia harus menyelesaikan urusannya. Anton pun mengirimkan pesan singkat kepada Vita.
[Assalamu'alaikum]
"Wa'alaikumussalam, Anton gimana sudah berangkat?" jawab Vita.
[Iya ini lagi siap-siap, maaf ya Aku Tidak sempat pamitan. Soalnya buru-buru]
"Oke baiklah, Tidak apa-apa hati-hati ya," ucap Vita.
[Iya terima kasih banyak ya Vit atas pengertiannya]
"Sama-sama,".
__ADS_1
Vita pun bersiap-siap untuk ke kampus hari ini. Semenjak ia mengetahui bahwa Lani adalah gadis pilihan kedua orang tua Bobi, Vita harus belajar menerima kenyataan mulai dari hari di mana ia mengetahui hal tersebut.