Ku Tunggu

Ku Tunggu
Syukuran di Panti Asuhan.


__ADS_3

"Iya Ayah," jawab Boby.


Setelah membeli mainan, mereka langsung menuju ke Panti Asuhan.Di sana ternyata mereka sampai duluan. Boby tidak tahu jika nanti Vita sudah datang. Apakah ia bisa menahan perasaannya atau tidak. Dihatinya ia ingin berontak dan berkata pada Ayahnya jika Ia tidak menginginkan bertunangan dengan Lani. Bukan soal Lani kurang cantik atau apalah yang ada pada dirinya. Lani adalah gadis yang nyaris sempurna di mata Boby. Tapi cinta Boby sudah terpaut pada Vita. Namun saat ia melihat wajah Ayahnya hati yang meronta-ronta seolah menciut begitu saja. Ia menyadari bahwa dalam hidup ini tak semua berjalan sesuai dengan keinginannya.


Nampaknya hal itu pun dirasakan oleh Pak Burhan. Ia sungguh tak tega melihat Putranya harus bertarung melawan egonya. Namun di saat ia mengingat mendiang istrinya, ia langsung mengalihkan suasana hatinya. Di satu sisi ia merasa menjadi Ayah yang tega, tapi di sisi lain, ia merasa sudah mengambil keputusan yang tepat untuk menjodohkan putranya dengan Lani, putri sahabat Ia dan mendiang istrinya.


Boby langsung mengeluarkan mainan-mainan yang akan dibagikan khusus untuk anak Panti. Wajah ruang dan bahagia begitu terpancar saat Boby melihat anak-anak Panti begitu antusias menyambut kehadirannya. Boby yakin akan ada banyak hikmah yang ia petik untuk keputusan yang ia pilih.


"Assalamu'alaikum anak-anak, sudah pada mandi belum?"tanya Bobi pada anak-anak Panti.


"Wa'alaikumussalam, sudah dong Kak. Kak, Kak Lani mana?" tanya salah seorang anak panti yang begitu menunggu kehadiran Lani.


"Sepertinya lagi di jalan. Kalian tunggu saja Kak Lani nya ya," jawab Boby sambil tersenyum setelah ia berkata.


"Baiklah, Kak kami akan tunggu Kak Lani," ucap salah seorang anak Panti.


Tak lama kemudian, terdengar suara mesin mobil yang sudah tak asing lagi. Ya itu adalah mobil yang selalu dipakai Lani jika ke panti. Saat turun, semua mata memandang ke arah di sekitar mobil tersebut. Lani dan keluarganya pun keluar dari mobil yang mereka tumpangi.


"Tuh Kak Lani, Alhamdulillah Kak Lani datang," sahut salah seorang anak panti yang sudah lama mengenal Lani.


"Iya alhamdulillah," ucap Pak Burhan.


Pak Burhan menghampiri Lani dan keluarganya, sedangkan Boby di dalam tengah asyik membagikan mainan dan menemani anak-anak bermain mobil-mobilan.


"Assalamu'alaikum,Ton, Nayla dan calon menantu kesayangan Om. Lani, apa kabar?" tanya Pak Burhan.


"Wa'alaikumussalam," jawab Lani dan keluarganya serentak.


"Alhamdulillah kabar Lani beserta keluarga baik Om, Om sendiri bagaimana?" tanya Lani sambil mengulas senyum setelah berbicara.


"Alhamdulillah kabar Om juga baik, yu mari silahkan masuk. Boby lagi sibuk main mobil-mobilan sama anak-anak. Oh iya Lan, dari tadi mereka tanyakan kamu terus lho," ujar Pak Burhan.


"Alhamdulillah kalau begitu Om, Lani juga sudah kangen banget. Padahal baru ketemu kemarin," tutur Lani.


*****


"Dik, mau bareng Kakak tidak berangkatnya?" tanya Vika sambil sesaat setelah mengetuk pintu kamar Vita.


"Aku bareng Anton ya Kak, dia bilang mau jemput Aku," jawab Vita sambil menyisir rambut panjangnya yang hitam dan tebal.

__ADS_1


"Oke, Kakak duluan ya Dik, assalamu'alaikum," ucap Vika.


""Wa'alaikumussalam, iya Kak. Hati-hati ya Kak, wa'alaikumussalam,"sahut Vita.


Vika pun berangkat bersama teamnya, hatinya persis sama dengan apa yang dirasakan Vita. Hatinya terasa tersayat-sayat. Iya terlanjur menyanggupi permintaan Lani untuk memakai jasanya saat belum tahu Boby adalah tunangan Lani, kekasih adiknya sendiri. Tapi Vika harus bersikap profesional. Tak terasa air mata menetes dipipi Vika. saat Ibunya menghampirinya, Vika bergegas untuk menyeka air matanya.


"Nak, kamu mau berangkat kok melamun sih, yang fokus ya bismillah saja," saran Ibunya Vika.


"I iya Bu, terima kasih banyak ya. Boleh Vika peluk Ibu," pinta Vika penuh manja.


."Tentu saja boleh Nak,sini," Ibunya Vika langsung merangkul Vika dengan begitu erat dan penuh cinta.


"Apapun permasalahan yang ada dihidup kita, yang membuat kita merasa resah, dirasa berat, semangatmj pun harus lebih besar dari masalah kamu ya Nak," pesan Ibunya Vika pada Vika.


"Iya Bu, terima kasih banyak ya Bu. Sekarang Vika makin semangat jadinya," ucap Vika.


"Iya sama-sama Nak," sahut Ibunya Vika.


"Kalau begitu Vika pamit dulu ya Bu, assalammu'alaikum," ucap Vika.


"Wa'alaikumussalam," sambung Ibunya Vika.


Rupanya sedari tadi Vita mengintip di jendela kamarnya, ia faham betul bagaimana sifat Kakaknya. Ia pasti tidak tega melihat adik tercintanya patah hati. Apalagi harus menyaksikan kekasih pujaan adiknya itu bertunangan dengan wanita pilihan kedua orangtuanya pria tersebut. Vita langsung inisiatif untuk menyemangati Kakaknya.


Dering di ponsel Vika berbunyi, Vika langsung membaca pesan singkat yang dikirim adiknya.


[Wa'alaikumussalam, Kamu juga ya Dik]


Tidak lama kemudian, suara mesin mobil yang sudah tak asing lagi bagi Vita membuat Vita langsung ingin menghampiri.Benar saja saat ia menghampiri itu adalah mobil Anton.


Saat Anton menoleh ke arah Vita, wajahnya langsung terlihat sumringah. Apalagi sepertinya Vita sudah mulai tegar.


"Assalamu'alaikum Anton," ucap Vita menyambut kedatangan pria yang pernah amat spesial di hati Vita.


"Wa'alaikumussalam Vit, kamu cantik sekali hari ini. Gimana sudah siap belum?"


"Alhamdulillah kamu bisa saja Anton, tinggal ganti baju, yuk kita masuk," ajak Vita sambil berjalan menuju ke rumahnya.


"Silahkan duduk, Aku ambil minum dulu ya," ucap Vita.

__ADS_1


"Iya santai Vit," sahut Anton sesaat setelah duduk di ruang tamu.


Vita memberi tahu Ibunya bahwa Anton sudah datang. Ibu Vita merasa heran mengapa sejak Anton datang laga ke rumah ini, Boby jarang sekali datang menemui Vita. Ibunya Vita terus bertanya-tanya.


"Assalamu'alaikum Nak Anton apa kabar?" tanya Ibu Vita.


"Wa'alaikumussalam Tante, Alhamdulillah baik," jawab Anton yang sedikit terperangah saat ditanya Ibunya Vita


"Syukurlah kalau begitu," sambung Ibunya Vita.


Tidak lama kemudian, Vita datang membawa secangkir kopi hitam yang masih panas. Anton begitu terkejut melihatnya. Ia sungguh berharap jika Vita suatu saat bisa membuatkannya secangkir kopi hitam setiap paginya dan bisa menemani hari-harinya.


Sebetulnya Ibunya Vita ingin sekali bertanya pada Anton tentang hubungan mereka kini. Namun Vita ternyata sudah menghampiri mereka.


"MasyaAllah Vit, terima kasih banyak ya. Kebetulan tadi pagi di rumah Aku belum sempat ngopi. Wah wah wah dari aromanya saja sudah menggugah selera ngopi Aku ini," ucap Anton dengan wajah yang sumringah.


"Bisa saja kamu, oh iya Aku ganti baju dulu ya. Kasihan Kak Vika jika harus menunggu lama," ujar Vita.


"Oke sip," sahut Anton.


Ibunya Vita merasa saat ini belum tepat waktunya, tapi yang membuat ia selalu bertanya-tanya di dalam hatinya adalah kemana Boby akhir-akhir ini. Apa karena Anton Kembali Vita jadi menjauh dari Boby. Atau ada sesuatu yang memang belum diketahui Oleh dirinya. Yang kini menjadi teka teki yang masih sulit untuk dipecahkan.


"Tante kenapa melamun, ada yang sedang Tante fikirkan?" tanya Anton yang senang merasa heran melihat gerak gerik Ibu dari wanita yang amat dicintainya itu.


"hm, maaf Nak Anton biasalah Tante sedang memikirkan pesanan kue hari ini. Ya Alhamdulillah sedikit lebih banyak dari hari biasanya. Tapi semoga Tante bisa menyelesaikannya tepat waktu," ujar Ibunya Vita.


Pesanan kue hari ini memang cukup banyak, tapi untuk hal itu Ibunya Vita sudah punya solusinya. Ia hanya menutupi itu sebagai alasan agar Anton tidak mencurigainya.


Vita yang sedang berada di kamarnya, mulai merasa kebingungan baju apa saja yang akan ia kenakan. Akhirnya ia mengambil satu buah gamis berwarna hijau tosca. Vita tak menyadari bahwa gamis tersebut adalah hadiah pemberian dari Boby saat hendak menghadiri pesta pernikahan teman mereka di Kampus. Vita lupa karena mungkin akhir-akhir ini ia banyak fikiran. Setelah selesai mengenakan baju tersebut, Vita pun kembali merapikan make-up nya. Setelah semua ready, Vita pun langsung mengambil tas mininya yang biasa ia bawa untuk menaruh ponsel dan dompetnya.


Pada saat Vita melangkahkan kakinya menuju ke arah Boby yang tengah asyik memainkan game di ponselnya. Suara sepatu Vita menyadarkan bahwa gadis yang amat dicintainya itu telah berada tepat di hadapannya kini.


"MasyaAllah Vit, kamu cantik sekali mengenakan baju tersebut, Aku sampai sukar untuk mengedipkan mata. Rasanya ingin selalu memandangmu," puji Anton.


"Kamu bisa saja Anton, yuk kita berangkat. Kasihan Kak Vika takut kelamaan nunggu kita,"ajak Vita yang sedikit merasa kesal melihat Anton sedari tadi terus saja main game di ponselnya.


."Aku minta waktu sebentar saja, sayang kan kopinya belum habis," sahut Anton.


"Okelah kalau begitu, Aku kabari Kak Vika dulu ya," sahut Vita.

__ADS_1


"Iya Vit," sambung Anton sambil terus memandang wajah dan penampilan Vita hari ini.


.


__ADS_2