
Reza terpaku terdiam beberapa saat merasai degub jantungnya yang sedikit cepat serta hati bak diserang ribuan semut merah,sesak,nyeri tak bisa ia gambarkan.
Reza terus melangkah kan kaki nya karena otak nya perpikir bahwa wanita itu adalah miliknya,jadi kenapa ia harus berhenti,dia yang lebih berhak bukan seseorang yang kini ada disamping Alishanya.
" Kak dimana ini ? " Alisha masih mencoba menetralkan penglihatannya sedangkan Vier ia lega,gadis ini siuman.
" Alhamdulillah ! " Ujar Vier setelah Alisha benar benar membuka matanya sempurna.
" Dimana kak ? " ulangnya.
" Di rumah sakit,dua malam kamu tidak siuman Alisha ! " Vier yang sadar Reza ada di tempat itu langsung meminta Reza berhenti dan sembunyi di balik tirai menyuruh dengan lirikan matanya.entah apa sebenernya maksud Vier namun Reza menurut.
" Kamu tidak merindukan Suamimu ? " Vier takut jika Alisha melihat seseorang yang membuat ia begini akan syok lagi.
" Suami ? " Vier mengangguk.
" Mas Reza ? " Vier tersenyum,alhamdulillah dia masih megingat suami gilanya itu." benak Vier
" Hiks hiks ! " Mas Reza,mas Reza ! " lirihnya menyanyat hati Vier.
" Kenapa mas Reza jahat sama Al kak ! " Reza yang senang karena Alisha menyebut namanya hampir saja menyibakkan tirai itu,namun ia urungkan setelah mendengar kalimat lanjutan yang Alisha utarakan.
Tangis Alisha semakin menjadi,ia benar benar tersadar dari mimpi dan kembali ke dunia fana nya.Vier bingung ia tak tahu bagaimana menenangkan Alisha,sedang kan Reza ikut menangis di balik tirai ia tergugu dan menutup mulutnya agar tak terdengar.
Vier yang tak mau Alisha lepas kendali langsung memeluk nya,ia mengangkat sedikit tubuh Alisha dan mendekapnya erat,dan mengatakan " kakak ada disini " lirih di telinga Alisha.
Sedangkan pria berstatus suami itu terdiam tak bisa melakukan apa pun,mereka berdua hancur dalam waktu yang bersamaan.malang,hanya karena sebuah hasrat dua manusia yang saling mencintai tersakiti begitu mudahnya.
" Hampir setengah jam Alisha tergugu dalam tangis pilunya," sudah ya ! " ujar Vier." Vier terus mencoba menenangkan Alisha dengan kata kata yang menenangkan.
" Alisha yang berhenti menangis dalam pelukan Vier pun kembali memejamkam mata,Vier yang menyadari jika tak ada lagi suara langsung meletakkan Alisha ke tempat tidur kembali.
" Rez ! " panggil Vier." Reza menyibak tirai itu perlahan,dan mengintip ke tempat tidur memastikan Alisha tak melihatnya.
__ADS_1
" Apa yang akan kamu lakukan sekarang ? " tanya Vier.
" Aku tetap akan menggenggam tangan dan hatinya,walau ia tak mau,aku akan terus berusaha meraih cintanya kembali ! " Reza dengan mantap menatap tajam ke arah Vier.
" Sebaiknya kamu segera berkonsultasi ke psikiater untuk pengobatan mental dan emosi Alisha ! " Vier menepuk pundak Reza,dan melepaskan nafasnya kecil.
" Aku akan mencari suster dulu,untuk mengabari jika Alisha siumam." Vier melangkah ke arah pintu dan keluar dari ruangan itu.sengaja memberi waktu Reza untuk mengutarakan perasaannya pada sang istri.
Reza mendekat ke ranjang,duduk di kursi yang ada di samping ranjang istrinya." sesakit itukah sayang,hem ? " apa kamu tidak mau melihat wajah tampan ini lagi ! " Reza mencoba menggoda Alishanya seperti yang biasa ia lakukan.
" Apa mas tak ada kesempatan untuk maaf tulusmu,Bukan kah kamu berjanji untuk memberi mas kesempatan ! " Reza terus bergumam di samping Alisha.
Tanpa sadar Reza tertidur dengan melipat kedua tangannya sebagai tumpuan,Vier juga masih menunggu kedua orang itu di dalam kamar ia tak mau menganggu.
Tangan itu bergerak mengusap kepala Reza pelan,ia tak mau membangunkannya,ia tahu bagaimana sakitnya ia dan juga Reza karena kondisi ini,bukan hanya impian nya namun impian Reza juga hancur.
" Kenapa takdir bisa begini mas,apa yang harus Al lakukan dengan rasa sakit ini." lirihnya.
****
" Sudah makannya sayang ? " Reza menyuapi sang istri dengan telaten.Alisha yang tak ingin menyusahkan Vier lebih lama lagi dengan berat hati ia meminta Vier kembali ke aktifitasnya,dan membiarkan Reza yang mengurusnya.
" Sudah mas, Alisha masih mual." tukasnya.
Cek lek
" Alisha menengok siapa yang datang."
" Halo sayang ? " Reza terkejut,tante Widya." lirihnya.
" Hai tante ! " sapa Alisha dengan tenaga yang masih belum terkumpul.
" Tante denger dari Vier kamu sakit,karena kecapekan setelah dari bali,kamu ini Rez terlalu semamgat sampe bikin Alisha sakit." Reza tertawa canggung,sedangkan Alisha hanya menaikan sedikit sudut bibinya.
__ADS_1
" Terus gimana ? " udah baikan ? " tante Widya meletakkan bawaanya ke atas meja," Alisha mengangguk.
" Mami mu sudah kamu kabari Rez ? " tanya mami Widya.deg Reza mulai kawatir,bagaimana pun sang ibu harus tahu kondisi menantunya.
" Belum tan,Alisha melarang." ujar Reza melirik ke arah Alisha.
" Iya tan,nanti saja kalu Alisha sudah sehat kami akan mengabari mami nadine." ujar Alisha,tante Widya mengangguk setuju.
Mereka bertiga tenggelam dalam obrolan yang di dominasi tante Widya,Alisha hanya menimpali sesekali selebihnya Reza yang banyak bicara menanggapi sang tante.
Walaupun ada sedikit keanehan yang wanita paruh baya itu rasakan,namun ia menepis segala prasangka.di sini ia melihat Alisha sedikit menjaga jarak kepada suaminya,terlihat dari pengamatan tante Widya Alisha beberapa kali menepis sentuhan Reza,seperti tak nyaman.
" Ya sudah tante pamit ya,nanti tante akan berkunjung lagi mungkin bersama Vier,biar dia ada kerjaan." ujarnya seraya tertawa.
" Tidak perlu tan,kak Vier pasti banyak sekali perkerjaan nya." Alisha mencoba menolak,karena ia tahu pasti pekerjaan Vier terbengkalai.
" Gak apa sayang,kan ada si zayyan yang bisa gantiin dia,kapanpun dan dimana pun." ia terkekeh.
Reza pamit dengan Alisha untuk mengantar sang tante sampai ke lantai bawah.Alisha pun mengangguk mengijinkan.
"Hati hati tan ! " ingat Reza jangan di forsir, " Reza mengangguk dan tersenyum lalu melambaikan tangan selepas kereta besi itu melaju pelan.
****
" Dimana tuan mu ? " tanya wanita hamil itu.
" Maaf nona,pak Reza sedang tidak bisa di ganggu." ujar Rizal sang asisten.
Kemarin dokter yang menangani davina mengatakan jika kondisinya membaik dan tekanan darahnya juga stabil,setelah melakukan beberapa pemeriksaan dan menyatakan tak ada masalah lain,akhirnya dokter memeperbolehkan davina pulang,dengan catatan ia harus mengontrol emosi,pola makannya dan kebiasaan sehari harinya.
" Bilang padanya untuk menemuiku dan membicarakan masalah anak yang ada di perutku ini." Rizal mengangguk tanda mengerti.
" Lagian istrinya juga sudah tahu bukan,jadi untuk apa ia menutupi lagi ! " sarkasnya.
__ADS_1
" Dasar wanita gila !! " umpat Rizal dalam hatinya.
" Saya akan memberi tahu pak Reza mengenai keinginan anda serta hasil lab yang dokter berikan." serahkan saja biar dia tahu kondisi anaknya.davina melenggang masuk ke kamarnya setelah mengucapkan kalimat itu.