Lelaki Cantik Itu Jodohku

Lelaki Cantik Itu Jodohku
Bab 81 - Keputusan demi keadaan masa depan


__ADS_3

Alisha dan Vier saling tatap,siapa.kira kira yang bertamu pagi pagi seperti ini.


" Sebentar ya kak,Alisha lihat ke depan dulu.tolong jaga Ghai." Vier mengangguk dan tersenyum.


Alisha berdiri dan melangkahkan kaki nya sembari memegang perutnya yang sudah sangat besar.


" Grek "


" Davina,Rizal ! " Alisha terkejut mereka datang bersama.


" Apa kami boleh masuk Alisha ? " tanya Davina.


" Iya,silahkan." Alisha mempersilahkan mereka masuk,namun tatapan Rizal di perutnya membuat Alisha merasa sedikit tak nyaman.


" Sudah berapa bulan bu Alisha ? " Tanya Rizal.


" Jalan 7 bulan Zal," Jawab Alisha singkat.


Mereka bertiga berjalan bersama dan masuk kedalam rumah.


Davina yang melihat Ghai ada disana dan sedang bermain dengan Vier,beranggapan bahwa Alisha dan Vier sudah memgambil Ghaisan menjadi anak mereka.


" Kalian datang bersama? " tanya Vier,Alisha mendekat ke arah sang suami.


" Iya pak,kami datang bersama,ada apa dengan tangan bapak ? " Vier tersenyum sekilas," enggak apa apa,hanya insiden kecil saja.sambil mengusap pundak sang istri.


Davina langsung mendekat ke arah Ghai sang putra dan menyapanya." hai sayang ? " Ghai yang memang selalu merasa asing dengan Davina hanya tersenyum dan menatap Davina.


" Mama datang nak,kamu rindu mama ? " tanya nya.


Namun apa boleh dikata,Ghai justru menggelengkan kepalanya.karena memang memori ingatan Ghai terhadap Davina tidak terlalu banyak.bahkan mungkin hampir tidak ada kenangan yang melekat di pikiran Ghai tentang Davina,walau sesekali Davina mengajak Ghai pergi bersama namun semua itu tidaklah cukup untuk membuat sebuah kenangan yang baik pada anak tampan itu.


" Ibu ! " Ghai memanggil Alisha dengan sedikit merengek.


Alisha yang mendengar Ghai memanggilnya langsung mendekat." Iya sayang."


" Ghai mau susu." ucap Balita tampan itu.


" Kita ke kakak Tira ya,buat susu untuk Ghai." Ghai mengangguk.

__ADS_1


" Saya tinggal sebentar." Davina mengangguk.


Sepeninggal Alisha ke dalam,Vier mulai membuka obrolan tentang maksud kedatangan mereka kerumahnya.Serta Vier juga tak ingin basa basi mengenai masalah Ghaisan.


Ia menjelaskan ke Davina,bahwa ia dan Alisha sepakat untuk tidak akan mengadopsi Ghai,karena berbagai pertimbangan akan masalah kedepan yang ia tak ingin menanggungnya.


Bagaimana pun Reza adalah ayah anak itu,dan juga adalah mantan suami istrinya dulu,ia tak ingin jika Reza akan terus berdekatan dengan Alisha hanya karena Ghai nantinya.ia tak ingin ada masalah baru di masa mendatang.


" Tapi Vier apa kah...


" Kami sudah sepakat Dav," Alisha memotong perkataan Davina.


" Maaf,namun aku rasa ini yang terbaik." Ucap Alisha.sedang kan Rizal hanya bisa terdiam mendengar obrolan mereka,karena ia adalah orang luar dan ia paham itu.


Davina terlihat pasrah,ia paham tentang apa yang menjadi ketakutan Alisha dan Vier.


" Apakah saya boleh mengatakan sesuatu ? " Ujar Tira yang datang dari arah kamar Mami Widya.


Alisha dan Vier setuju dan mempersilahkan Tira untuk berbicara.


" Tidak perlu ibu Davina meminta Ibu Alisha dan pak Vier untuk menjadi orangtua angkat Ghaisan,jika ibu mau,ibu bisa menjenguk Ghai setiap saat walau ia ada dalam naungan keluarga pak Reza.


" Nyonya Nadine tidak akan menghalangi anda untuk bertemu Ghai,karena Nyonya Nadine paham bahwa sampai kapan pun hanya anda lah ibu kandung Ghaisan.Dan tolong sudahi sikap kalian yang selalu egois,sesekali pikirkan tentang Ghaisan yang akhirnya sekarang sendiri tanpa kedua orang tuanya yang seharusnya ada disisinya.


Davina terdiam mendengar perkataan Tira,ia sadar bahwa selama ini ia hanya sibuk mencari perhatian Reza tanpa mau mengambil hati anak nya sendiri.ia terlalu buta akan obsesi yang sebenarnya tak ada isi nya.


" Jadi,jika ibu Davina ingin Ghai mengakui anda,tuluslah mencintainnya tanpa embel embel apapun." Tanpa ia sadari sudut matanya sampai mengeluarkan cairan bening jika mengingat semua permasalahan yang terjadi,Tira sedikit meremat bajunya.


Alisha serta Vier memandang Tira trenyuh,karena Tira pasti lebih tahu apa yang terjadi di antara Davina dan Reza selama ini.Sedangkan Rizal hanya menjadin pendengar setia saja,walau entah apa yang ada di dalam benaknya.


Obrolan itu pun menjadi musyawarah yang akhirnya membuat satu keputusan bahwa Ghai tetap akan dalam naungan sang oma dan opa nya serta Tira sebagai babysitternya sampai Ghai tak lagi membutuhkan dirinya.


***


Satu minggu berlalu setelah kedatangan Davina,Rizal yang menjadi penanggung jawab atas kaburnya Davina pun juga sudah memulangkan Davina ke malaysia tempat tinggal Davina sekarang bersama ibu dan Ayah tirinya.


Sedangkan Reza,yang dingadang gadang akan keluar dari rumah sakit bulan depan ternyata ia juga sudah pulang tiga hari lalu dengan kondisi yang semakin baik,serta kondisi mental yang baik.


Alisha serta Vier lega akan keadaan yang mulai kembali normal,dan kemarin Alisha serta Vier juga sang ibu datang ke kediaman tuan Raja selaku kakak ipar mami Widya untuk menjenguk Reza.

__ADS_1


Tatapan menggebu yang Alisha lihat beberapa bulan lalu kini sudah tak lagi Reza lakukan kala memandanganya.ia bersyukur Reza bisa keluar dari zona obsesi terhadapnya.


.


.


.


.


Malam yang syahdu kini tengah menyelimuti sepasang sejoli yang beberapa bulan lagi akan menjadi orang tua untuk bayi mungil yang akan keluar dari rahim Alisha.


Vier sang suami tengah mendominasi perannya sebagai laki laki yang berhak atas apa yang ada pada diri istrinya.


Ia mulai menjelajah setia inci tubuh itu tanpa tertinggal sedikit pun,sang istri yang tengah dalam kungkungan suaminya hanya bisa menahan nafas atas apa yang Vier lakukan tanpa ingin menolak.


Sentuhan sentuhan lembut itu selalu menjadi candu bagi Alisha,Vier sang suami tak pernah sedikitpun memperlakukannya dengan kasar atau terburu buru.


" Apakah sakit ? " tanya Vier ketika ia mulai menghujam inti Alisha dengan perlahan.


Alisha hanya bisa menggeleng,ia yang sudah mencapai surga dunia nya lebih dulu tak mampu berkata apa apa karena ia sudah tak berdaya dengan dada yang naik turun karena nafas yang masih memburu.


Vier mulai melakukannya dengan perlahan,sampai pada titiknya Alisha hanya bisa meremat punggung bertato itu keras.sampai meninggalkan jejak kemerahan disana.


Dua sejoli ini larut dalam mahligai yang mereka bentuk dengan rasa cinta dan saling memahami.rindu yang menggebu saja masih tak mampu membuat hubungan itu terasa nyaman tanpa ada rasa saling memiliki.


" lelah ? " Vier usap kening sang istri dan ia kecup perut buncit itu setelah sama sama mengarungi nirwana bersama.


Setelahnya nafas sang istri kembali normal,Vier membantu Alisha bangun dan membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka sebelum melanjutkan kembali istirahat mereka yang tertunda.


Vier dengan telaten membersihkan tiap jengkal tubuh sang istri hingga bersih tanpa meninggalkan jejak jejak keperkasaannya tadi.


Ia gendong Alisha kembali dan meletakkannya di atas ranjang dengan penuh kehati hatian,seolah ia takut jika Alisha akan terluka walau hanya dengan selembar kain sprei.


" Kakak sayang Alisha." Vier ucapakan kalimat itu dengan pelukan erat yang mendarat di pinggang sang istri.


" Alisha juga sayang kakak." Alisha memengang tangan Vier erat seakan takut jika tangan itu akan terlepas dari genggamannya.


Dan mulailah mereka mengarungi mimpi mereka masing masing.

__ADS_1


__ADS_2