
Malam di kediaman Vier dan Alisha sedang terjadi huru-hara antara anak dan ayahnya. Niyal yang ingin sang bunda ikut dalam acara outing class di TK tempat dimana ia menimba ilmu tidak mendapat persetujuan dari sang ayah. Niyal yang tahu jika ayahnya sedikit memiliki kelainan mental jika sudah menyangkut sang ibu, mencoba merengek sekeras mungkin agar Alisha yang akan menemaninya untuk acara tersebut, seperti teman-temannya yang lain.
“Tidak!” ujar Vier kekeh dengan pendapatnya.
“Oh, come on, Ayah!”
“Niyal mau Bunda aja! Niyal nggak mau Ayah.” rengek Daniyal putra semata wayangnya.
Vier menghela nafas, bukan tak mengijinkan Alisha yang menemani, tetapi hatinya tak pernah tenang jika membiarkan sang istri pergi ke acara sekolah atau acara-acara lain. Bukan tanpa sebab, pandangan para pria yang seakan ingin melahap istrinya membuat jantung pria yang kini lebih maskulin mendadak aerobik, alias senam jantung dadakan dan itu membuat otak serta tubuhnya kekurangan oksigen, lebih tepatnya ia terkena syndrome istrinya sendiri. Jika semua orang mengatakan bucin akut padanya, YES! dengan lantang Vier akan berseru ke seluruh dunia. Bahwa hanya dia yang boleh memandang bahkan melihat senyum istrinya.
Mendapatkan Alisha dengan penuh perjuangan membuat Vier sangat antipati pada gangguan yang bisa membuat istrinya berpaling darinya walau hanya satu detik saja.
“Sudah, Kak! hanya outing class saja!” geram Alisha yang sudah sangat lelah mendengar perdebatan yang tidak ada manfaatnya sama sekali.
“Sepertinya kamu harus punya satu lagi, sayang!” bisik ibu mertuanya, membuat Alisha menahan tawanya agar tak meledak.
Sedangkan dua laki-laki beda ibu itu tetap mempertahankan pendapat mereka tak ingin mengalah.
“Ayah, Bunda itu juga milik aku!” rengek Niyal dengan kedua tangan sudah terlipat di sisi kanan dan kirinya.
“Siapa bilang, Bunda cuma punya Ayah!” ujar Vier menggoda sang anak, tubuh tinggi tegap itu menghambur memeluk sang istri dan menciumi wajah Alisha hingga membuat Alisha memejamkan matanya. Widya sang ibu yang melihat ini, hanya bisa tertawa melihat Vier dan Niyal. Mereka itu bagai dua tubuh namun satu jiwa. Apa yang sekarang Niyal lakukan sama seperti Vier kecil, hanya saja bedanya jika Vier kalem, Niyal aktif bahkan lebih aktif dari anak seusianya.
“Ya sudah, kamu akan ikut acara itu kecuali satu!” Niyal memandang lekat kepada pria yang sangat tidak disukainya itu.
“Apa?” tanya Alisha.
“Ayah, akan ikut!” ujarnya sambil menepuk dada bidangnya pelan.
Widya sang ibu serta Marni yang baru saja ikut dalam obrolan itu sambil membawakan jus pesanan Alisha terbahak mendengar penuturan Vier. Perdebatan yang selalu berujung ke hal yang sama, dan,,
“Nggak mau! Ayah nanti kalau ikut pasti nempelin Bunda terus,” Niyal bersedekap menatap tajam ke arah Vier sang ayah.
“Hah, cuma mau ikut acara sekolah saja ribut!” geram Alisha.
“Sekarang, Bunda akan ambil keputusan!” Niyal dan Vier saling tatap, mata mereka beradu namun sedetik kemudian mereka saling acuh.
“Bunda, akan ikut Niyal. Dan Ayah, nggak boleh ikut, ini kegiatan Bunda sama anaknya, oke Niyal?” ucap Alisha membuat rona di wajah Niyal berubah, seutas senyum pun terbit dari bibir mungilnya.
__ADS_1
“Sayang, nggak gitu dong!” Vier yang merasa terabaikan tak terima dengan keputusan sang istri.
“Yuk, sayang. Tidur, sudah malam! pamit oma dan bibi Mar!” pinta Alisha dan langsung di angguki oleh Niyal.
Setelah mencium pipi kanan dan kiri sang oma, Niyal melanjutkan dengan mencium Marni dan pamit kepada semua orang.
“Ayah, kau kalah!” Vier melongo mendengar bisikan sang anak kala Niyal memeluknya untuk berpamitan.
Alisha dan Niyal berlalu menuju tangga sambil tertawa cekikikan, sedangkan Vier hanya memandang kepergian istri dan anaknya itu dengan tampang bodohnya. “Yuk, Mar. Kita juga tidur, biarkan saja makhluk aneh ini disini, saya nggak bayangin jika nanti para bapak-bapak yang ikut di acara itu, wah pasti bakalan banyak yang melirik ke Alisha.”
“Iya, Bu. Apalagi ayahnya Dimas, dia ternyata Duda loh, bu! aduh, Marni juga mau sih! kaya, sama ototnya itu loh Bu!” Badan Marni begetar seolah-olah pria duda itu memberikan sengatan kepadanya, sedangkan Widya menimpali dengan guyonan yang membuat hati Vier berkobar.
“Saya, juga kalau masih muda mau sama ayah Dimas itu, sayang udah tua Mar!” Widya dan Marni bangkit berjalan menuju kamar mereka masing-masing sambil cekikikan nggak jelas.
Vier melihat punggung dua wanita pemantik api itu sambil menelan salivanya, “nggak bisa di biarain!” lirihnya, sambil melebarkan langkahnya mengejar sang istri yang sudah hilang di balik tangga.
Klek
Pintu kamar dua sejoli yang selalu dimabuk asmara setiap waktu itu, di buka dan langsung di kunci saat terdengar suara gemericik air saat sang pemilik memasukinya. Langkahnya yang tenang membuat seseorang yang tengah menikmati gerakan tangannya membersihkan wajah untuk bersiap mengarungi mimpi, tak menyadari jika tubuh tegap yang setiap malam memeluknya sudah berdiri tepat di belakangnya.
“Bikin kaget aja sih, Kak! ya ampun!” Alisha mengerjap lalu membasuk wajahnya hingga bersih tanpa memperdulikan Vier yang masih berdiri bagai monas.
Vier yang masih menutup mulutnya hanya mengikuti kemanapun Alisha pergi, dan itu sungguh membuat Alisha ingin menenggelamkan suami posesifnya ini di laut.
“Kenapa, sih?” ujar Alisha, mengurungkan niatnya membuka krim yang biasa ia pakai.
“Bilang, kalau kamu ikut bersama Niyal karena memang ingin menemani dia seperti teman-temannya!”
Alis Alisha berkerut, “Lah, kan emang iyah!” Alisha menggelengkan kepalanya, memang jika bukan menemani Niyal dia mau apalagi.
“Tapi kata Mami, disana ada salah satu wali siswa yang duda,” kening Alisha berkerut mendengar penuturan Vier.
“Duda? yang mana?” tanya Alisha. Karena memang ia tak pernah tahu dan tak begitu mengenal para orang tua dari teman-teman Niyal. Lagian, bagaimana mau mengenal, mengantar Niyal kesekolah saja bisa dihitung dengan jari.
“Yakin, kamu nggak tahu?” tatapan penuh selidik dari Vier membuat Alisha tertawa bukannya marah.
“Kak Vier, tahu nggak sih? tuh, kepala Kakak ada asapnya!” ujar Alisha kembali meneruskan kegiatannya memoles kulit mulusnya dengan berbagai perawatan wajah yang suaminya buat khusus hanya untuk Alisha.
__ADS_1
“Haduh, berapa kali dikerjai Mami sama Marni, masih saja nggak ngeh! dasar bucin!” lirih Alisha bergumam dalam hatinya.
Vier yang tadinya ingin mencecar sang istri dengan segala hal yang tersemat di dalam otaknya, kini berubah haluan kala leher jenjang Alisha menari-nari hingga membuat dadanya berdesir. Vier menggigit bibirnya, melihat pantulan wajah sang istri di cermin yang kian hari semakin cantik dan mempesona. Astaga, yakin hanya Vier yang melihat Alisha seperti itu, jika diluar rumah pria manapun tak akan bisa menikmati itu bahkan membayangkan saja tak mungkin terbesit dipikiran mereka. Fiks, Vier terkena racun candu yang nggak mungkin ada obatnya.
“Sayang!” panggil Vier kala matanya tak sengaja melihat tanda merah di tulang selangka milik sang istri yang sudah sedikit memudar. Jika di ingat, terakhir mereka melakukan olahraga menguras jiwa itu tiga hari yang lalu.
Alisha yang melihat pantulan wajah sang suami dari cermin mengerutkan dahinya, “kenapa? ada yang salah diwajah Al?”
“Sepertinya kakak harus membuatmu sibuk dirumah untuk waktu yang lama.”
Alisha terdiam, “Maksud kakak apa sih?” tanya Alisha.
Tanpa menjawab, Vier langsung menggedong Alisa tanpa menghiraukan teriakan sang istri. Tanpa menunggu bulan menyinari kamarnya, Vier lebih dulu melakukannya. Baju tidur Alisha ia singkap hingga sesuatu yang sangat ia kagumi terpampang jelas dihadapannya.
Alisha, yang paham kemana arah dan tujuan sang suami hanya bisa terdiam, pasrah dengan apa yang akan Vier lakukan pada tubuh serta jiwanya itu.
Malam indah bertabur suara keramat itu menghiasi setiap dinding kamar mereka. Menjadi saksi, begitu besarnya rasa cinta Vier yang tak bisa lagi digambarkan oleh apapun.
...------------...
Ola Readers... Apa kabar?" kangen nggak sama Vier dan Alisha.. Aku kangen kalian nih 🥰🥰🥰
Aku tambah beberapa eks part sampai Daniyal sedikit besar ya. Aku sengaja tambahin karena banyak readers yang meminta lanjut..
dan sebelumnya, aku mau berterima kasih atas dukungan kalian selama ini, hingga cerita ini bisa berkembang sampai seperti ini..
Dan jangan lupa mampir diceritaku yang lain...
ada yang baru...
MAHLIGAI KE DUA
Jangan lupa mampir ya...
Aku juga buat grup agar bisa kita mengobrol dengan luas, jangan lupa follow yah..
Dahh👋👋
__ADS_1