
Tangisan Bayi memekakan telinga di pagi hari,sang ibu yang seharusnya mengurus justru masih terlelap di kamarnya dengan selimut yang masih menutupi tubuhnya.
Ia yang seharusnya paling antusias atas kehadiran bayi itu namum justru malah sebaliknya,ia tak peduli.bahkan ia tak mau menyusui bayi itu secara langsung ia memilih memompanya dan ia serahkan pada baby siter.
Sudah satu bulan sejak kelahiran bayi laki laki yang di beri nama oleh ibu sambung nya itu Ghaisan Fahri Pratama.nama yang tercetus begitu saja dalam hati Alisha karena wajah yang menawan anak itu.
Semua orang yang melihatnya pasti akan terpana karena ketampanannya.namun ia berharap semoga anak ini bisa menjadi anugrah terindah untuk kedua orang tuanya.
Davina sang ibu masih tetap sama,sejak kelahiran bayi itu ia justru semakin malas,ia yang seharusnya menyadari akan tanggung jawabnya,tetapi justru ia seperti tak peduli.
Reza yang masih meragukan pun tetap melalukan tes DNA,karena ia tak mau menyesal di kemudian hari walau Alisha nya melarang.Namun setelah hasil itu keluar dan menyatakan 98% adalah darah dagingnya Reza mulai luluh dan mau mengurus anaknya.
Satu hari setelah kelahirannya,Davina sebenernya meminta tinggal di kediaman Pratama namun semua orang menolak,karena bagaimana pun Davina bukan istri Reza atau menantu keluarga itu.
Akhirnya Davina tetap tinggal di Apartemen namun dengan pengawasan ART yang khusus memantau seluruh pergerakannya serta baby siter untuk mengurus anaknya,karena selama ini ia tak pernah mau jika ada asisten rumah tangga,ia tak mau pergerakannya di awasi,itu alasannya.
" Tok Tok ! " Davina ! " seru pria yang menjadi ayah dari anaknya.
" Huh,ganggu ! " geramnya.
" Klek ! " apa sih ! " kesalnya.
" Re za ! " jawabnya terbata,setelah melihat pria tampan dengan setelan jasnya.
" Anak mu nangis,dan kamu masih enak enakan tidur ! " serunya.
" Aku aku bangun kok ! " Davina langsung keluar kamar menghampiri anaknya.tumben banget sih pagi pagi Reza kesini,ia memukul jidatnya sendiri karena kecerobohannya,sambil bergumam tak jelas.
" Kenapa Tira ? " tanya nya pada sang baby siter.
" Gak tahu bu,sudah saya kasih asi tapi tetep aja rewel." ujarnya sambil menimang nimang ghai.
" Apa ini kebiasaan mu setiap hari ! " geram Reza.sini Tira kasih kesaya.Tira langsung menyerahkan Ghai ke ayahnya,dan..
" Ya ampun pak,dia diem ! " Tira terkejut.
" Dia kangen ayahnya Rez,sering sering kesini." Davina sedikit merayu.
__ADS_1
" Satu hal yang harus kamu sadar,kita bukan suami istri jadi walau aku ayahnya tidak pantas aku sering sering kesini." ujar Reza tanpa memandang ke arah Davina berdiri.
" Sialan ! " batin Davina,aku akan buat kamu jadi suamiku secepatnya,jika dulu aku tak mengharapkan pernikahan tidak dengan sekarang,aku akan buat kamu sukarela nikahin aku." gumamnya dalam hati.
***
Tap tap..
Suara derap langkah sepatu berhak sepuluh cm itu menggema di lorong menuju ruangan CEO,ia yang sudah beberapa bulan tak datang ke perusahaan ini sedikit canggung apa lagi pandangan para karyawan sedikit aneh menurutnya.
Seminggu yang lalu sang CEO mengeluh padanya jika ia masih belum bisa menemukan sekretaris yang pas untuk menggantikannya,akhirnya dengan penuh pertimbangan ia menyetujui untuk kembali bekerja.
" Puk "
" Allahuakbar ! " kaget luna." pekik nya.
" Kangen ! " Gimana sehat kan ? " tanya sang sahabat.
" Kalo kangen kenapa gak pernah main ke apartemen." ketusnya.
" Dia yang udah buat kamu kaya gini Al,kenapa sih masih maafin ! " Luna kesal.
" Kenapa,aku juga manusia bias luna,aku juga banyak salahnya.
" Tapi gak sebanyak dia ! " kekeh luna,Alisha hanya dapat menarik nafasnya perlahan,sikap luna juga sama seperti yang Anisa tunjukan,mereka tak habis pikir kenapa Alisha begitu mudahnya memaafkan seorang Reza,bahkan kak Ovi yang mengetahui Alisha masih bertahan dengan Rezapun di buat geram.namun mereka tak tahu jika Alisha sudah memutuskan sesuatu yang besar yang mungkin tak mereka duga.
Siang menjelang pekerjaan yang memang sangat menumpuk membuat Alisha sedikit kualahan,benar saja jika tak ada yang betah menjadi sekretaris Ryan,karena tak ada satu pekerjaan pun yang sesuai dengan keinginannya.
" Sayang ! " panggil seorang yang sudah menyandang status lain itu.
" Kenapa mas ! " tidak makan siang ? " tanya nya.
" Hah,numpuk nih ! " Alisha menyenderkan tubuhnya.
" Ryan hanya cocok dengan pekerjaan mu ! " kekehnya.selama kamu tidak masuk Ryan sudah empat kali ganti Sekretaris.
" Ha ? " Empat ? " Alisha menghitung jarinya.banyak banget mas." lanjutnya.
__ADS_1
" Makanya selama kamu masuk,Ryan sengaja mencari sekretaris yang akan di bimbing langsung sama kamu.agar sesuai sama keinginan dia." Reza mengusal kepala iti lembut.
" Lalu gimana kabar Ghai ? " Reza tersenyum,walau ia bukan darah dagingnya,Alisha selalu menanyakan kabar bayi itu jika Reza kembali dari apartemen Davina,bukan ia tak ingin ikut namun ada rasa lain jika ia bertemu dengan Davina,walau ia sebenarnya juga sudah mengiklaskan semua yang terjadi.
" Baik,seperti biasa selalu diam jika mas datang ! "
" Apa gak sebaiknya dia tinggal sama mami mas ? " Alisha mencoba kembali berpendapat.
" Jika ia tinggal di rumah utama,Davina akan ikut sayang,Papi tidak setuju." Reza menarik kursi dan duduk disebelah sang istri.
" Tapi kasiahn Ghai mas." Alisha mengingat jika anak itu sedang menangis.
" Kecuali..." Alisha menoleh.
" Kecuali ? "
" Kecuali kamu mau jadi ibu sambungnya ! " Alisha langsung meremat rok spannya.
" Kita sudah bicarakan ini mas ! " Jawab Alisha dengan mata memandang kebawah.
" Gak ada salahnya kan jika mas masih mengharap kepada Allah untuk mengembalikan istri mas ? "
" Mas boleh berharap dan meminta apapun pada Allah,namun semua tak bisa kembali seperti semula mas." Alisha menjawab dengan tegas.
Reza hanya bisa memandang mata itu dalam,mencoba mencari apa masih ada kesempatan untuknya,apa masih ada cinta dan sayang itu untuknya,dan jawabannya, masih,namun sayangnya hati wanita itu sudah tak berpacu padanya.
" Ya sudah mas kembali ke ruangan mas,nanti kesana ya kita makn sama sama ! " pintanya.
" Nanti aku ijin Pak Ryan dulu ya ? " Reza mengangguk.Maaf mas,mungkin cinta ini memang masih dalam untuk mu,namun rasa kecewa ini juga sangat mengganggu ku." lirih Alisha memandang Reza menjauh.
# Rumah sakit
Di kamar VIP seorang pria menawan dengan rambut berkilaunya sedang duduk di samping brankar dan memandang pasien itu iba.
Satu jam lalu ia mendapat kabar jika sang pasien kembali mengamuk dan harus di suntik penenang karena keinginannya tak di wujudkan oleh sang ibu.
Sudah beberapa bulan ini ia keluar masuk rumah sakit karena penyakit mental lebih tepatnya,kerinduan dan kekangan yang berat membuat jiwa dan raganya akhirnya tak kuat dan sakit.
__ADS_1