
Tak pernah Alisha bayangkan jika pria cantik itu akan meminta sesuatu di luar pemikirannya.permintaan yang Vier ajukan benar benar membuat Alisha sedikit tak nyaman,bagaimana pun Vier adalah sepupu Reza.
Ia tak bisa gegabah memutuskan perkara ini,namun ia bersyukur Vier memberikan waktu cukup banyak untuknya,ia akan gunakan itu untuk benar benar memastikan kepada hatinya.
Apakah rasa tersembunyi untuk pria cantik itu adalah rasa cinta,atau hanya mengagumi semata.karena bagaimana pun dua tahun lalu Vier sangat ikut andil dalam hidupnya.
Namun sepertinya hati dan isi otak Alisha sedang tak selaras,di sisi lain ia senang namun di sisi satunya ia merasa cemas,ia sangat di buat gundah dengan hal ini,bahkan pertanyaan Vier terus terngiang sampai kedalam mimpinya.
Begitupun juga dengan Vier,setelah pertemuan nya dengan Alisha dan kemabali ke hotel Vier benar benar merasa tak nyaman,bahkan makanan yang ada di hadapnnya menjadi hambar bagai makanan rumah sakit,ia was was takut jika harapannya kembali akan hancur.namun ia juga tersenyum senang karena bisa menemukan gadis itu.
Ia tak pernah menyangka jika pertemuan nya dengan Alisha di bandara waktu itu akan menghantarkan padanya sebuah rasa yang Vier tak pernah ingini.
Namun semakin ia tahan dan tolak rasa itu justru semakin besar,ia bahkan telah sulit mengendalikannya.Apalagi ketika Alisha mengalami masalah dengan pernikahannya,Vier ingin sekali membawanya pergi jauh,namun apa daya ia bukan siapa siapa.
Tapi kini,wanita itu bebas,ia merpati yang lajang.ia tak akan menyinyiakan kesempatan yang sudah ada di depan matanya.ia harus maju dan yakin.
****
Nyanyian merdu ia senandungkan disetiap langkahnya menuruni anak tangga menuju ruang makan,sang ibu yang melihat sang anak ceria satu minggu ini di buat keheranan.
Karena hampir setahun ini anak lelaki nya itu lebih sering menampakan wajah suramnya dari pada senangnya,tetapi ia akan senyum senyum sendiri seperti orang gila jika sedang memandang lukisan wanita dengan gaun pengantin yang ia pajang di kamarnya.
Sang ibu mengerutkan dahinya setelah anak lelaki satu satunya itu duduk di meja makan dengan senyum tak luntur dari bibirnya.
" Kenapa ? " Vier hanya tersenyum memandang ke arah sang ibu.
" Kali ini apa ? dapat lotre ? " Vier menggeleng.
" Kerja sama sama brand luar itu berhasil ? " Vier masih menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Hah ! " lama lama mama ini hidup sendiri,kakak kamu gak pernah mau pulang,yang satu ini gak waras.
" Ih mami,doain Vier gitu amat sih ! " Vier manyun dan meletakkan kedua tangannya di atas meja.
" Ya habisnya mami heran,sehari pulang dari jogja kamu murung,tapi sehari setelah itu kamu mulai senyum senyum sendiri.kamu gak kerasukan jin atau sejenisnya kan ? "
Vier menepuk jidat dan menggelengkan kepala,mami nya ini memang terlalu banyak di rumah dan menonton sinetron hingga membuatnya selalu berpikir aneh aneh.
" Mami cukup doain Vier biar cepet dapet istri,sesuai keinginan mami ! " glek ! " Vier meminum susu nya dalam sekali teguk.
" Gak usah mikir aneh aneh,baru juga waras masa Vier mau gila lagi ! " sang mami hanya mengulum bibirnya menahan tawa mendengar perkataan sang anak.
" Emang siapa yang mau sama kamu ? " yang di lukisan itu,ketinggian berhayal mu ! " sang mami menepuk jidat Vier keras.
" Ish mami ! " ujar vier sedikit merengek.
Obrolan ibu dan anak itu berlanjut hingga saling sindir,mereka bak adik kakak yang suka bertengkar dan tak ada yang mau mengalah,namun ujung ujungnya Vier lah yang mengalah.
" Mba ? " kenapa sih ? " Linggar mendekat ke meja kasir tempat Alisha duduk dan melamun.
" Gak apa apa Linggar,memangnya kenapa ? " Alisha membenahi posisi duduknya.
" Perasaan setelah ketemu sama kakak cantik itu,mba Alis jadi agak aneh." perkataan Linggar membuat Alisha tertawa,ternyata bukan ia saja namun Linggar juga memanggilnya dengan kakak cantik,padahal Vier adalah seorang Pria.
" Kok malah ketawa sih mba ! " Seru Linggar.
Alisha menjelaskan bahwa ia tertawa karena Linggar memanggil Vier dengan sebutan yang sama persis ketika ia bertemu dengan Vier dulu.
Bahkan jika di ingat,Alisha sempat merasa bukan wanita jika sedang bersama Vier,bagaimana tidak dari sudut mana pun Alisha merasa kalah,dari rambut hingga bau tubuh Vier semua lebih dari kebiasaan seorang wanita.
__ADS_1
***
Waktu menunjukan pukul 5 sore,ini adalah waktu dimana Alisha harus menutup toko nya,Linggar dan Wati sedang merapikan etalase dan membersihkan lantai agar esok hari mereka tak perlu buru buru datang ke toko.
Setelah selesai dan memastikan tak ada yang tertinggal,Alisha dan dua anak buahnya yang baru lulus SMA dua tahun lalu itu pulang menuju rumah mereka masing masing menggunakan sepeda kayuh mereka.
Tepat Azdan mahgrib Alisha sampai di rumah kedua orangtuanya yang kini menjadi tempat ia berteduh dengan aman dan nyaman.
Di rumah ini lah Alisha dan Anisa kecil tumbuh hingga menjadi anak anak yang membanggakan kedua orang tua nya.namun sayang nya sang ayah tak di beri umur panjang hingga bisa menyaksikan kedua anaknya menikah.
Sang ibu yang terus sakit sakitan selepas sang suami pergi pun tak lama menyusul kembali kepada sang khaliq,dan menjadikan dua anak perempuan itu menjadi yatim piatu dalam kurun waktu yang berdekatan.
" Coba ibu masih ada,Al gak akan segundah ini." gumamnya disela makan malamnya.
" Al bingung,keputusan apa yang seharusnya Al ambil." lanjutnya
" Kring "
Alisha yang mendengar ponsel nya berdering langsung berlari ke kamar.
" Assallamualaikum.
" Walaikum salam,dek ! "
Ternyata sang kakak Anisa yang menghubunginya,Mereka pun hanyut dalam obrolan adik kakak yang memendam kerinduan yang amat besar,terdengar dari ujung sana,Anisa sang kakak mendadak parau serta sang suami disebelahnya yang terus menggumamkan kata kata penenang untuk sang istri.
Alisha yang tahu jika sang kakak merindukannya pun mengatakan jika ia akan mencari waktu agar bisa berkunjung ke bandung,untuk menengoknya.
Sang kakak yang mendengar itu sangat senang,bagaimana tidak dua tahun Alisha berdiam diri di kota kelahiran mereka,kini sang adik akan bertandang ke bandung untuk menjenguknya.
__ADS_1
Bukan Anisa tak ingin menjenguk sang adik,namun apa daya ia yang memiliki anak kecil serta suami seorang abdi negara yang posesif melarangnya untuk melakukan perjalanan jauh kecuali bersamanya.
" Hah ! " dua tahun aku disini.apa ini saatnya aku berjumpa dengan orang orang itu.apa kakak akan setuju dengan pilihanku kali ini ? " Alisha memandang langit langit kamarnya membayangkan apa yang akan terjadi pada kehidupannya.