
Bunyi sirene ambulance memekakan telinga penghuni apartemen mewah itu,seorang wanita dengan luka sayatan di tangannya tengah tak sadarkan diri di gendongan seorang pria,dengan pandangan kosong ia sedikit berlari menuju ambulance agar wanita yang amat ia cintai itu segera mendapat pertolongan.
Beberapa penghuni yang sedang ada di lantai bawah di buat merinding dengan ceceran darah wanita itu,hanya demi mempertahankan harga diri ia rela mati daripada kehormatannya di ambil secara paksa walau itu suaminya sendiri.
Petugas ambulance yang sigap langsung membantu si pria untuk melakukan pertolongan pertama terhadap wanita itu,walau wajahnya nampak pucat namun para petugas berusaha mengembalikan kesadarannya lagi.
Sedangkan pria dan wanita yang mengikuti mereka dari belakang juga nampak kalut,dalam benak sang wanita kenapa hal seperti ini harus terjadi padanya,jika ia bergumam dan fokus melihat ke arah ambulance beda hal nya dengan pria berambut panjang di sisi nya,tatapannya kosong bagai raga yang entah hilang kemana,ia seperti terbang ke atas awan tanpa tujuan,seharusnya ia tak meninggalkan wanita itu.
Bunyi brankar rumah sakit yang di dorong sangat keras membuat beberapa orang yang ada di UGD menoleh ingin tahu kenapa dengan wanita yang ada di atas brankar itu.
Dokter yang bertugas segera melakukan tindakan pada nya,sang dokter berseru agar suster segera mengambilkan kantung darah untuk di transfusikan pada si wanita,karena ia dalam kondisi yang buruk.
Syok hipovolemik Si wanita tengah mengalami nya,luka menganga akibat sayatan kaca di urat nadinya yang lebar membuatnya lemah tak berdaya.
# Satu jam sebelum kejadian
Bruk
Hempasan si pria membuatnya terpelanting ke ranjang dengan keras,ia yang mengerti jika pria di hadapannya ini dalam kondisi kalut mencoba menenangkannya.
" Mas ! " gak gini,jangan dengerin setan di pikiran kamu." serunya
" Jika hati mu tak lagi mas bisa dapatkan paling tidak ragamu hanya milik mas ! " ujarnya dingin.
" Hampir dua bulan mas menahan kerinduan karena tidak ingin membuatmu merasa tak nyaman,tapi tidak untuk sekarang ! " Reza mulai membuka kancing kemejanya,sedangkan Alisha memegang bajunya erat erat.kabut hasrat sudah memenuhi pikiran dan mata suaminya.
" Tapi gak dengan cara seperti ini mas ! " pekiknya,ia berlari turun dari ranjang dan mencoba membuka pintu namun terkunci.
" Apa yang kamu cari ? " kunci ? " sudah mas simpan dengan aman." kekehnya.
" Bi Rosi tolong ! " Alisha berteriak sekuat tenaga.
" Siapa pun tidak akan mendengar teriakanmu sayang ! " kamu lupa,jika kamar utama ini kedap suara sama dengan kamar kita di apartemen yang mas belikan untukmu.senyum smirk Reza mulai membuat Alisha ketakutan,ia seperti melihat sisi lain dari Reza yang tak pernah ia tahu.
__ADS_1
" Mas tolong jangan lakukan ini mas ! " Alisha mengatupkan kedua tangannya memohon.Alisha mohon mas." airmata nya sudah tak terbendung.
" Mas juga akan memohon padamu,lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan,serahkan itu hanya kepada mas,suamimu." Reza mendekat ke arah Alisha.
" Sret "
Reza menyeret Alisha,membanting dan menindihnya di atas ranjang,ia menarik tangan Alisha ke atas dan duduk di pahanya,Alisha yang terpojok tetap berusaha dalam kesadarannya,ia harus lepas tak mau hal ini terjadi dengan kondisi Reza yang kalap,ia berjuang sekuat tenaga walau beberapa tanda merah sudah Reza sarangkan di leher dan dada Alisha yang terbuka karena kancing piyama yang lepas oleh tarikan sang suami.
" Buk "
Reza terpental kebelakang setelah Alisha mampu menarik salah satu kakinya dan menendang Reza tepat di perutnya.tak menyianyiakan kesempatan Alisha langsung bangun dari tidurnya dan mencari sesuatu agar Reza menghentikan kegilaannya.
" Prang "
Alisha memecahkan kaca bulat berukuran sedang yang ada di atas meja riasnya,kaca itu biasa ia gunakan untuk melihat penampilannya setelah berdandan untuk bersiap menjadi model dadakan.
Ia mengambil pecahan itu dan mulai menantang Suaminya agar tak mendekat dan memintanya berhenti untuk memaksanya.
" Kalau mas Reza tetap memaksa Al,Alisha akan melakukan ini." kaca itu sudah ada di tangan kiri alisha siap merobek kulit mulus itu kapan saja.
" Kres "
Alisha memotong urat nadinya hingga darah langsung mengucur deras dari pergelangan tangannya.Reza terdiam sesaat ia syok dengan apa yang Alisha lakukan.
Alisha mampu melakukannya karena ia ingin pria di hadapanya ini berhenti melakukan kesalahan yang justru mungkin akan membuatnya menyesal seumur hidup.
" Alisha ! " Reza mendekat ke arah istrinya yang besender di lemari karena ia mulai merasakan sakit di luka yang ia buat.
" Bruk ! " Alisha terjatuh dalam posisi duduk,ia mulai berkunang kunang.
" Maafin mas Al,maaf ! " Reza kalut ia bingung sedangkan darah itu terus mengucur.Reza meletakkan Alisha bersender di pintu lemari ia berdiri untuk mencari kunci pintu yang ia simpan di kantung jasnya.
" Arrhhhgggg ! " Reza berteriak,ia kesusahan mengambil kunci itu.
__ADS_1
" Tetap sadar sayang ! " seru Reza yang melihat Alisha hampir memejamkan matanya.
" Cek lek ! "
" Bi Rosi ! " teriak Reza.
" Ada apa den ! " Bi Rosi hampir saja tersandung meja ketika berlari karena teriakan Reza,ia sedikit terkejut melihat Reza tak memakai bajunya.
" Telpon Ambulance,cepet ! " ada apa den ? " Bi Rosi bingung.
" Alisha motong urat nadinya ! " Bi Rosi terkejut,tanpa melihat kondisi Alisha ia langsung menghubungi panggilan darurat.
Reza kembali ke dalam kamar untuk melalukan pertolongan agar darah itu tak terlalu deras mengalir.
Reza mencari kain dan menemukan handuk kecil ia lilit kan tepat di luka yang menganga itu.
Reza juga mencari kain untuk menutupi bagian depan Alisha yang terbuka,ia menggedong Alisha untuk segera turun kebawah.
" Bukain pintu bi ! " seru Reza.Bi Rosi langsung membuka pintu lebar lebar agar Reza bisa leluasa untuk keluar.
" Itu bukannya pak Reza ya pak Vier ? " tanya Luna yang keluar dari dalam lift bersama dengan Vier.Luna yang ingin mengunjungi sahabatnya tanpa sengaja bertemu dengan Vier di pintu masuk apartemen,dan akhirnya mereka naik bersama.
" Ada apa Rez ! " serunya,namun Reza tak peduli dengan Vier yang bertanya ia tetap berlari menuju lift.
" Pak Vier,darah ! " lirih Luna melihat tetesan darah yang ada di lantai.
Tak butuh waktu lama,Vier dan Luna langsung berlari menuju lift untuk menyusul Reza.
Tiba di lantai bawah,Reza langsung keluar dari dalam lift bersamaan dengam ambulance yang datang.
# Rumah sakit
Vier yang tak tahu harus bertanya apa kepada Reza tetap diam,sedangkan Luna sudah menangis sesenggukan di samping Vier.
__ADS_1
" Tenang ya ! " Vier mengusap punggung Luna,agar wanita itu tenang.
" Apa sebenarnya yang terjadi ? " lirihnya dalam tangis.Vier memandang Reza yang terdiam,tatapan kosongnya mengisyaratkan penyesalan yang amat dalam.