Lelaki Cantik Itu Jodohku

Lelaki Cantik Itu Jodohku
Bab 80 - Rindu yang terhalang cindera lengan


__ADS_3

Tiga hari berlalu setelah insiden yang mengakibatkan Vier di sambut tangis manja sang istri setelah sampai dirumah.Hari ini Alisha seharusnya pergi ke rumah sakit untuk mengecek kandungannya namun karena kondisi Vier yang masih sakit menurutnya,membuatnya membatalkan temu janji itu.


Padahal Vier sudah mengatakan jika kondisi nya baik baik saja,dan bisa memakai supir untuk mengantar ke rumah sakit.Tetapi Alisha tetap menolak.


" Biarlah mih,nanti Vier akan hubungi dokter wina saja agar ke rumah." Ujar Vier.


" Lalu bagaimana keputusan mu mengenai Ghai ? " tanya sang ibu.


Vier meghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan sang ibu,setibanya kemarin dari surabaya,Alisha menceritakan jika Davina datang kerumah dan meminta ia mengangkat Ghai menjadi anaknya.


" Alisha mengatakan ia hanya takut jika suatu saat akan ada masalah lagi dengan ayah anak itu,ia tak ingin ada kesalah pahaman lagi mi." Jawab Vier.


" Menurut mami sih,istrimu benar.Bagaimana pun kalian itu sepupu,apa lagi jika nanti Ghai,istrimu yang urus pasti Reza akan sering menemui Alisha bukan." Vier mengangguk.


" Jadi,Vier putuskan untuk tidak melakukan hal itu.biarlah tante Nadine yang mengurusnya,Reza juga sudah mulai membaik.


" Mami yakin keputusan kalian pasti yang terbaik.lalu bagaimana caramu mengatakan kepada Davina ? "


" Sesuai janjinya kan,ia akan datang setelah satu minggu,jadi kita tunggu dua hari ini." Jawab Vier.


***


Alisha yang tengah berbaring di atas ranjang,kini sedang di temani sang suami untuk melakukan pemeriksaan setelah Dokter speseialis kandungan datang.


" Semua baik bu,tekanan darahnya normal,detak jantung si adek juga bagus." Ujar sang dokter.


Alisha dan Vier bernafas lega,mereka bersyukur calon bayi mereka baik dan sehat.


" Terima kasih dok." Ujar Vier.


" Kalau begitu saya permisi,tidak perlu kawatir pak,bu dari hasil pemeriksaan bulan lalu juga semua bagus,yang penting tetap jaga mood agar pikiran tetap baik dan juga happy,serta berhubungan dalam posisi yang aman." Ujar sang dokter.


Sontak perkataan terakhir dokter Wina membuat Alisha merona.sedangkan Vier menyunggingkan senyum penuh arti pada sang istri.


Dokter Wina lalu merapikan alat alat medisnya dan meminta pamit," kalau begitu mari saya antar ke bawah dok." Tawar Vier.


Dokter wina berpamitan kepada Alisha dan mengikuti Vier untuk turun kebawah.


" Sudah selesai dokter ? " tanya mami Widya yang baru saja ingin naik ke lantai atas melihat kondisi samg menantu.


" Sudah bu Widya,saya mau pamit." sang dokter mengulurkan tangannya kepada ibu mertua Alisha itu dan mengantar sang dokter hingga kendaraan roda empatnya menghilang dari pandangannya dan Vier.


.


.


.


Malam hari.


Semilir angin menerpa tubuh Alisha yang tengah berdiri di balkon kamarnya,ia sedang menatap langit cerah itu sembari mengusap perutnya.

__ADS_1


Cek lek


Vier melangkahkan kaki nya menuju di mana Alisha berdiri setelah ia masuk kedalam kamar dan tak mendapati sang istri di atas ranjang.


" Sayang ! " Vier memeluk Alisha dan menempelkan tububnya posesif ke sang istri.


" Lagi mikirin apa sih ? " Alisha menggeleng.


Mereka berdua Akhirnya larut dalam suasana syahdu itu,dengan ditemani bulan dan bintang yang menjadi saksi rasa yang sedang merajai hati mereka.


" Sudah dingin kak,masuk yuk ? " Ajak sang istri.


Vier mengandeng lengan Alisha menggunakan tangan kirinya menuju ranjang dan sama sama merebahkan tubuh mereka di atasnya.


" Al ? "


" Hem ? " Jawab Alisha hanya dengan deheman.


" Kakak rindu bau butuhmu." Ujarnya,Alisha yang mengerti kata rindu yang Vier ucapkan hanya tersenyum.


" Tangannya masih sakit kakak,enggak usah aneh aneh deh." Alisha terkekeh.


" Hah ! "Vier menghela nafasnya dalam.


Alisha mengusap dada itu pelan,serta mencium pipi Vier." Tidur yuk,biar cepet sembuh.


" Kakak bukan sakit yang gimana sayang,cuma cidera sedikit aja." Rengek Vier,ia menatap sang istri dan mencumbu bibir merah Alisha mesra.


Jika Alisha tidak dalam posisi hamil mungkin kini Alisha yang akan bekerja di atas tububnya tanpa rasa tak nyaman,namun sekarang berbeda ia tak mau membuat sang istri lelah dengan perut yang sudah sebesar itu.


****


Pagi hari ini sedikit riuh karena kedatangan Ghai serta Tira namun tidak dengan sang oma yaitu tante Vier,Nyonya Nadine.


Ghai yang terus menyebut nama ibu yang berarti adalah Alisha dari beberapa hari lalu,akhirnya membuat Tira merasa bahwa mungkin Ghai sedang rindu dengan Alisha.


Akhirnya ia meminta ijin ke opa Ghai,tuan Raja untuk membawa Ghai ke rumah adik iparnya dan ternyata diperbolehkan.


" Ibu ! "


Alisha yang sedang ada di samping bocah tampan sebelas duabelas dengan sang ayah itu menoleh.


" Iya sayang," Alisha mengusap lembut pipi keponakannyan itu,i mana papa ? " tanya nya dengan logat khas cedal ala balita.


" Ayah sedang ada pekerjaan sayang,jadi Ghai harus pinter,enggak boleh nakal ya,nanti kalau papa pulang Ghai bisa main lagi sama papa." Tutur Alisha.


" Sama ibu uga ? " Alisha terdiam sebentar,i iya sayang sama ibu sama ayah Vier yah." Ucap Alisha sedikit terbata.


" Ghai tersenyum sumringah."


Vier yang tahu jika Alisha sedang menahan rasa tak nyaman atas pertanyaan Ghai mendekat ke arah Alisha dan membisikkan sesuatu." Iya aja sayang,jika Ghai bertanya atau mengajak.ia belum saat nya tahu tentang permasalahan kita orang dewasa.

__ADS_1


" Alisha hanya takut,apa yang sudah selama ini Mas Reza doktrin ke anak itu menjadi masalah nanti kak." Ujar Alisha tak kalah berbisik.


" Pelan pelan kita kasih pengertian nanti jika ia sudah mampu menerima perkataan kita secara jelas." Alisha mengangguk setuju.


Sedangkan di dapur,Tira sedang mengobrol dengan pemilik rumah,ibu mertua Alisha.


Mami Widya menanyakan tentang perkembangan Ghai dan juga menanyakan apakah ibu kandung Ghai pernah datang kerumah Tuan besar Pratama itu.


" Setelah kepergiannya ke malaysia,ibu Davina sudah tidak pernah lagi terdengar kabarnya bu Widya." Jawabnya.


" Satu minggu lalu,ia datang kesini." Tira yang mendengar perkataan Nyonya rumah itu terkejut dan hampir saja tersedak minumanan yang sedang ia tenggak.


" Untuk apa bu ? "


Mami Widya pun menceritakan apa alasan Davina datang,Tira yang mendengar dengan seksama mengernyitkan dahinya.


" Meminta ibu Alisha untuk menjadi ibu sambung Ghai ? " Mami Widya mengangguk.


Tira yang tahu betul betapa sebenarnya Davina juga ingin memberi Ghai perhatiannnya namun selama ini Reza selalu melarang,karena bagi Reza hanya Alisha yang pantas di panggil ibu bukan Davina wanita yang melahirkan anak tampan itu.


" Selama ini Ibu Davina sebenarnya juga ingin memberi perhatian nya kepada Ghai bu Widya,namun Pak Reza selalu melarang,bahkan pak Reza tak segan mengusir Ibu Davina di depan Ghai." Ibu mertua Alisha sontak saja mengusap dadanya,ia tak menyangka Reza bisa bersikap seperti itu.


Tira kembali menceritakan jika ia sering dalam kondisi yang sulit karena tingkah dua orang dewasa yang semaunya sendiri itu.terkadang Tira juga menjadi bulan bulan omelan yang keluar dari mulut Davina karena tak mau memenuhi permintaan ibu kandung Ghaisan tersebut.


" Wah,ternyata selama ini kamu dalam posisi yang seperti itu ya Tira." Mami Widya salut,walau selalu mendapat tekanan dari Reza dan Davina,namun Tira tetap mau mengasuh Ghai dengan sabar.


" Saya juga terkadang tidak mengerti kenapa mereka tak mau sedikit saja meredam ego mereka demi kebahagiaan Ghai.


Mami Widya jadi berpikir untuk mengambil Ghai,menjadi anak angkat Vania." Tapi apa kak Nadine setuju,bagaiamana juga ia penerus keluarga itu." Benaknya.


.


.


.


" Ting nong "


Suara bel dari arah pintu gerbang depan membuat Alisha dan Vier saling tatap.


...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...


Hola 👋👋


Maaf ya readers,kalau othor remahan kue lebaran ini up nya gak tentu waktunya...


Otak lagi oleng nih,sedang dalam kondisi perlu refres ulang ...😁😁😁


Makasih untuk kalian yang masih setia ma cerita LCIJ,dan serta dukungan yang masih mengalir untukku..🙏🙏💐💐


Salam sehat selalu,semoga Tuhan selalu melimpahkan rezekinya pada kita semua..

__ADS_1


Amin...


__ADS_2