
Kaki panjangnya terus menginjak pedal itu kuat kuat seakan ia sedang mengikuti ajang formula 1,ia yang tak ingin kehilangan jejak lagi melajukan kendaraaannya kencang.bahkan ia mengumpat kesal kenapa mobil yang ia kendarai tak bisa melaju kencang,padahal kecepatan yang ia pakai sudah 120 km/jam.( mabur cuy )
Pagi tadi ketika ingin keluar hotel ia tak sengaja melihat Rizal di loby,Rizal yang ingin masuk ke dalam mobilnya di kejutkan dengan tepukan di pundaknya.Rizal menoleh dan cukup terkejut bertemu dengan Vier di kota ini.
Rizal menunduk hormat di hadapan Vier dan bertanya sedang apa di kota ini,Rizal yang tidak tahu jika Vier adalah salah satu tamu terhormat dalam acara fashion tahunan di kota ini nampak terkejut,pasalnya yang ia tahu rombongan itu sudah kembali ke jakarta kemarin.
Rizal yang merasa sungkan mangajak Vier untuk duduk di loby untuk menghormati sepupu bosnya tersebut,disela obrolan ringan itu Rizal tanpa sengaja mengatakan jika bertemu Alisha tadi malam di warung tenda di selatan stasiun.Mata Vier membola,ia yang mencarinya seharian hingga membuat kakinya lecet justru malah Rizal yang bertemu tanpa sengaja.
Tanpa basa basi Vier langsung menanyakan kepada Rizal di mana Alisha menginap,namun Rizal tak tahu pasti karena Alisha menolak di antar jadi ia tak tahu nama hotelnya,namun Rizal mengatakan jika hotel nya mungkin hanya beberapa meter dari warung tenda tersebut.
Tanpa menunggu kelanjutan kalimat yang Rizal lontarkan,Vier langsung berdiri dari duduknya dan kembali ke kamarnya untuk mengambil tas dan mengganti sepatunya dengan sepatu yang nyaman jika ia harus berlari larian lagi.
Rizal yang di tinggal begitu saja hanya mengusap tengkuknya,apa ada katanya yang salah atau bagaiamana ? ia tak mengerti kenapa Vier langsung berdiri dan nampak terburu buru.
Vier nampak lesu,hatinya kembali melemah,setelah beberapa hotel yang ia datangi tak ada pemesan kamar dengan nama Alisha,ia berjalan gontai hingga akhirnya ia masuk kembali ke salah satu hotel yang berdekatan dengan warung tenda yang Rizal sebutkan.
Keluar dari sana ia langsung menuju hotelnya menginap untuk mengambil mobil yang memang sudah di pesan untuknya oleh Zayyan kemarin.ia memasang seatbelt nya dan membuka GPS untuk penunjuk jalannya.
" Ada pak,namun sudah cek out tadi pagi sekali,namun tadi ada barang tertinggal kami menghubungi yang terkait dan sekarang ada di pantai selatan sana." ujar resepsionis hotel tempat Alisha menginap.
Disepanjang jalan ia mengingat perkataan resepsionis yang mengatakan dimana gadis polos itu berada,Vier tak henti henti nya mengucap syukur,dan berharap bisa bertemu gadisnya di tempat sedang ia tuju.
Langkah lebarnya ia percepat,mulai ia susuri tepi pantai dari bagian barat hingga kembali ke bagian timur,nafasnya memburu ia menarik pelan dadanya agar bisa kemabli tenang.panas matahari serta uap panas dari air laut benar benar membakar kulitnya,terbukti dengan pipinya yang merona bagai ketumpahan pemerah pipi.
Vier berjongkok berhenti sejenak untuk mentralkan kakinya yang mulai pegal.ia berpikir keras dimana ia melangkahkan kaki nya lagi,namun seketika pandangannya tiba tiba terpaku pada sosok wanita berhijab yang ia cari dari kemarin.
Senyumnya terbit begitu saja,hatinya memghangat.wanita itu ada di hadapan matanya,wanita yang ia cari sedang memilih ikan serta seafood di warung lesehan yang ada disana.
Ia langkahkan kakinnya perlahan,dan berhenti tepat di belakang wanita polosnya itu.
__ADS_1
" Alisha ! " ia menepuk pundak Alisha pelan.
Alisha yang hafal betul dengan aroma ini,mendadak hatinya tak menentu.ia seakan mati suri,tak bisa menggerakkan tubuhnya,seseorang yang ia fikirkan beberapa hari ini ada di belakangnya.ia sungguh tak percaya.
" Alisha ! " panggil Vier lagi.Bak adegan slowmotion Alisha menoleh menghadap Vier.
" Ka kakak ! " Alisha terbata.
" Hem ! " ini kakak,ibu peri kamu.Alisha mengedip ngedipkan matanya,seolah masih tak percaya ia yang ada di hati kecil bagian terdalam ada di hadapannya.Alisha tak memungkiri jika sikap baik Vier selama ini menyisakan perasaan lain di hatinya.
Canggung,Vier dan Alisha yang biasanya mengobrol panjang lebar kini terdiam bagai remaja yang pertama kali jatuh cinta.
" Em apa bisa kita cari tempat duduk untuk mengobrol ? " Alisha mengangguk.
" Mba ini Ikan bakarnya jadi ? " tanya si penjual.
Vier dan Alisha masuk kedalam warung lesehan tersebut dan mencari tempat duduk yang nyaman.
Vier mulai membuka percakapan,ia mulai dengan menanyakan kabar Alisha dengan sikapnya yang tenang,walau sebenarnya hati nya di penuhi kembang setaman.
Alisha yang tiba tiba seperti terkena serangan jantungpun mencoba menarik dadanya perlahan agar Vier tak menyadari bahwa ia sedang menahan sesuatu di hatinya.
" Apa luka mu sudah membaik ? " Vier menghadap Alisha memandang wajah Alisha menelusuri tiap lekuknya,ia masih tetap sama cantik.
" Luka Alisha sudah sembuh,namun Al tidak bisa menghilangkan bekasnya." Jawab Alisha sendu
" Biarkan bekas itu tetap ada,biarkan dia jadi kenangan bahwa kamu pernah berjuang untuk cintamu." Alisha terdiam sesaat.
" Lalu bagaimana dengan kakak ? " Alisha memberanikan diri menatap Vier.Ada yang berbeda," benak Alisha.
__ADS_1
" Bagaimana apanya,kakak baik tapi disini yang tidak baik ! " Vier menunjuk dada.
" Kenapa ? " kakak sakit ? " Alisha khawatir.
" Kakak sakit sejak upik abu kakak pergi begitu saja,tanpa pamit.ia hilang begitu saja dari pandangan kakak,padahal kakak butuh dia untuk memberikan kakak semangat setelah kakak putus cinta.
Alis Alisha menukik,putus cinta ? " batinnya.dengan siapa,setahunya Vier tak memiliki pacar.
Kecuali...
Ya Allah,apa kak Vier masih menjalin hubungan sama si Andra itu.Alisha terdiam cukup lama dengan isi otaknya yang tak menentu,ia terus bergumam dalam hatinya berspekulasi dengan pikirannya sendiri.
" Hei ? " Vier merasa aneh dengan Alisha yagg tiba tiba mengalihkan pandangannya.
" Alisha ! "
" Iya kak ! " Alisha merasa hatinya seperti di gelitik memakai kemoceng memikirkan jika Vier masih menjalin kasih dengan Andra.
" Kakak sudah baik dan normal,jika kamu berpikir bahwa kakak masih menjalin hubungan dengannya." Vier menebak isi hati Alisha.
" Kakak sudah tak lagi berhubungan dengannya bersamaan dengan kamu pergi." Vier menjelaskan ia tak ingin gadisnya ini salah paham lagi tentang statusnya.
Alisha mencerna semua kata yang Vier lontarkan,ia mengambil kesimpulan bahwa selama ini apakah dia salah menilai Vier,atau memang Vier yang sekarang sudah tak sama dengan Vier yang dulu ia kenal dan ketahui.
" Alisha ? " Panggil Vier.Al mendongak menatap Vier.
" Vier memandang Alisha lekat,hingga manik mata mereka saling bertemu." Apa kakak boleh meminta sesuatu ? " lanjutnya.
" Jika Al bisa memenuhi inshaallah Al akan memberikannya." Vier tanpa canggung mengutarakan apa yang menggajal di hatinya,ia tak mau menutupi apapun lagi,karena wanita di hadapannya ini kini tak lagi milik siapapun.
__ADS_1