
" Puk "
Tepukan halus Vier lakukan agar Reza kembali tersadar,ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kenapa Alisha sampai nekad melakukan semua hal yang sudah di luar batas,menurutnya.
" Apa yang terjadi ? " Tanya Vier mencoba tetap tenang.Reza masih diam dan posisi yang sama.
" Reza Fahri,Aku bertanya ? " ulangnya.
" Aku memaksanya ! " lirih Reza menjawab dengan masih menatap kosong ke arah depan.
" Maksud mu ? " Vier tak mengerti,memaksa ? " benaknya.
" Aku memaksakan hak ku padanya,namun ia menolak." ujar Reza dengan dada yang bergetar.
" Hak ? " Hak sebagai Suami maksudmu ? " ulang Vier.
" Aku memaksanya." Reza terus bergumam beserta airmata yang terus keluar dari kedua matanya sembari menjambak rambutnya sendiri.
" Kamu gila Reza ! " geram Vier.
Vier menarik rambutnya kebelakang sedikit keras,ia tak habis pikir kenapa Reza bisa melakukan hal yang mengerikan seperti itu,apakah cinta membuat orang bisa hilang akal hingga seperti ini.ia tak mengerti.
" Aku memaksanya Vier,tapi ia tak mau,ia memilih pilihannya sendiri." Reza kembali bersuara.sedangkan Luna yang mendengar itu semakin terisak,karena ia tahu Alisha akan melakukan apapun untuk mempertahankan harga dirinya.kejadian ini mengingatkan ia disaat masih berkuliah dulu.
" Lalu ? " Vier kembali bertanya.
" Ia memecahkan kaca itu dan menyayat pergelangan tangannya,apa sebegitu tak ingin nya ia disentuh olehku hingga ia memilih untuk mengakhiri hidupnya." Reza menutup wajahnya,ia menyesal.
" Vier yang mendengar penjelasan Reza terdiam,ia tak tahu harus mengatakan apa tentang kondisi ini.ia cukup mengerti perasaan yang Reza rasakan namun ia juga geram atas tindakan gegabah yang Reza lakukan.hanya karena cemburu yang tak beralasan Reza kehilangan kewarasannya.cinta boleh bodoh jangan.( itu kata netizen )
" Keluarga nona Alisha ! " panggil salah suster UGD.
" Kami sus ! " Luna berdiri lebih dulu.
__ADS_1
" Kondisi nona Alisha kritis dan sementara kesadarannya masih belum kembali.karena ia kehilangan cukup banyak darah lukanya cukup dalam dan mengenai bagian vitalnya,namun dokter sudah melakukan tindakan untuk mengatasi itu,luka juga sudah di jahit,sekarang kami akan memindahkan nona Alisha ke ICU untuk observasi." Luna hampir limbung mendengar kata ICU.
" Untuk penanggung jawabnya bisa bertemu dokter langsung di ICU ya."
" Baik sus." ujar Luna.
Reza,Vier dan Luna akhirnya bersama sama mengantar Alisha ke ruang ICU,untuk mendata diri mereka agar bisa keluar masuk untuk bergantian menjaga.
" Luna jika kamu ingin pulang,pulang lah.ini sudah cukup malam. " ujar Vier.
" Tapi saya masih ingin disini pak,saya akan minta ijin kantor satu hari agar bisa ikut menjaga Alisha semoga besok ia sudah siuman." Luna sangat berharap bahwa ada keajaiban untuk sahabatnya itu,ia tahu bagaimana ia mencintai seorang Reza dengan sangat tulus,namun ia tak mengerti kenapa semua hal ini bisa terjadi.
" Ya sudah terserah kamu,saya akan mencari makan dulu ya kamu lapar kan ? " tanya Vier dengan logat khasnya.
" Boleh pak ! " Luna mengangguk.
Vier akhirnya keluar dari area rumah sakit untuk mencari makan,sementara mereka belum memberitahu pihak keluarga mana pun,karena sebenarnya kakak Alisha,anisa belum mengetahui apa pun tentang kondisi adiknya dari awal hingga hari ini.Alisha sendiri yang mengatakan jika tak perlu memberitahu kakaknya,ia tak ingin menambah beban pikiran sang kakak.
Namun ia juga sempat mendengar teriakan Alisha menyebut nama Suaminya tapi karena bi Rosi berpikir bahwa yang ada di dalam kamar itu adalah suami istri akhirnya ia kembali dapur.Bi Rosi juga mengucapkan kata maaf karena telah lalai menjaga nonanya kepada Vier.
Sedangkan Reza kini berada di dalam Ruang ICU untuk menjaga Alisha,ia terus menggenggam tangan istrinya,bahkan bayangan Alisha menyayat pergelangan tangannya masih terus berputar bagai kaset rusak di kepala Reza,hingga membuatnya beberapa kali merasakan rasa tak nyaman di perutnya.
*****
Sinar mentari pagi datang,garis sinar yang ia tampakan mulai memasuki celah celah ruangan di rumah sakit,Luna yang merasakan hawa panas dari sang surya pun terbangun dari tidurnya.
" Jam berapa ya ! " gumamnya.
" Jam 6." jawab Vier yang suduk bersedekap di samping Luna.
" Apa Alisha sudah sadar pak ? " tanya Luna sambil mengumpulkan nyawanya." seperti nya belum." jawab Vier.
" Lalu apa tidak sebaiknya kita mengabari orang rumah pak ? " Vier terdiam,ia menimang bagaimana ia menjelaskan tentang ini.
__ADS_1
" Nanti saya pikirkan dulu ya ! " ujar Vier,Luna mengangguk setuju.
Hingga siang tiba,Reza masih berada di samping istrinya dan tak beranjak sedikitpun,bahkan ia sampai meninggalkan kewajibannya sebagai umat muslim jika Alisha dalam kondisi sehat ia pasti akan mengomel jika Reza menunda nunda hal itu.
" Maaf,maafin mas.bukan kebahagiaan namun perih yang mas beri padamu.maafin mas ya Al,maaf." Reza terus mengucapkan kalimat itu dari tadi malam hingga siang menjelang,ia tak lelah mengucapkan nya karena hanya itu yang ia mampu.
" Apapun yang Al ingin setelah ini mas akan kabulkan,asal Al cepet bangun." Reza mencoba merayu Al dalam lelapnya.
" Jika kamu lebih memilih hidup mu sendiri mas juga akan kabulkan asal Al bahagia,mas tidak akan memaksa Al lagi,maka dari itu bangun ya ! " Reza terus mencoba mengajak Al berbicara agar ia cepat sadar.
Sore menjelang Vier yang merasa Reza butuh istirahat memaksa Reza sekedar untuk makan dan membersihkan tubuhnya agar lebih segar,Reza yang tadinya menolak akhirnya menyetujui ucapan Vier setelah merayunya dengan mengatakan Al akan terkejut jika ia bangun melihat suaminya gak mandi dan kusut seperti itu.walau dalam hati Vier tertawa,seperti merayu anak kecil pikirnya.
Vier yang tak ingin Luna sakit juga menyuruh ia pulang,ia menghubungi asistennya untuk datang kerumah sakit untuk membawakan alat kerjanya serta memintanya untuk mengantar Luna pulang kerumah,Luna yang hanya dapat ijin satu hari itupun karena sebuah kebohongan mau tak mau ia menurut.
****
Malam menjelang,Reza yang lelah tertidur dengan melipat kedua tangannya sebagai tumpuan,sedangkan Vier ia meminta ijin kepada Reza untuk pulang karena ada pekerjaan mendadak walau sebenarnya ia berbohong.
Di sunyi nya malam hanya terdengar suara dari alat alat yang ada di dalam ruangan itu,Alisha yang mulai menggerakkan jarinya berusaha sekuat tenaga untuk sadar.mata nya mulai bergerak ke kiri dan kanan menunjukkan bahwa ia mulai kembali ke dunia nyata.
" Tak "
Bagai bunyi saklar lampu yang sedang di nyalakan mata itu terbuka lebar,ia mulai menyesuaikan sinar yang masuk ke indera penglihatannya.
Di rumah sakit benaknya bergumam,aku kira udah di akhirat gumamnya kembali dalam hatinya.ia menoleh ke arah kanan,ia dapati sang suami tertidur bertumpu pada kedua tangannya.
Maaf jika Al harus melakukan ini,Al hanya ingin mas Reza sadar bahwa semua yang mas lakukan itu salah.lirihnya berbisik menghadap langit langit kamar itu.
" Nona ? " Suster yang ingin melihat infus Alisha terkejut melihat wanita itu membuka matanya.
" Alisha menggeleng lemah,ia mengisyaratkan bahwa jangan bersuara takut jika Reza terganggu.
Al menyadari satu hal,dalam tidur lelapnya kali ini ntah tuhan memberikan ia pentujuk apa,namun satu hal yang ia peroleh bahwa ia dan Reza mungkin memang tak di takdirkan bersama.
__ADS_1