Lelaki Cantik Itu Jodohku

Lelaki Cantik Itu Jodohku
Bab 90 - Ekstra Part 3


__ADS_3

Satu tahun berlalu begitu cepat, cinta Vier dan Alisha yang dulu tumbuh kini semakin mekar bagai pohon beringin, besar dan kokoh.


Beberapa bulan lalu, Alisah akhirnya mewujudkan permintaan Davina untuk mengunjungi nya di malaysia, Davina sungguh senang melihat wanita yang dulu ia hancurkan hatinya, mau dengan sukarela mengnjunginya yang sedang melawan kanker.


Namun ternyata kunjungan itu adalah pertemuan terakhir mereka sebelum Davina akhirnya di panggil yang Maha kuasa. Kanker yang sudah menggerogoti tubuhnya sudah dalam tahap stadium akhir, bahkan Alisha hampir saja menitikan air mata saat mengamati tubuh Davina yang kurus tinggal tulang disela obrolan mereka.


Malam hari setelah sorenya Alisah pamit untuk kembali ke hotel, dan berjanji sebelum pulang ke Indonesia ia akan kembali menjenguk, tetapi malam ketika ia sedang menghabiskan waktu berjalan-jalan menyusuri Kuala Lumpur bersama Vier, Reza mengabari jika Davina telah mengehembuskan nafas terakhirnya 5 menit yang lalu.


Alisha seketika terdiam mendengar kabar itu. Bahkan tawa yang sedang menghiasi benda kenyal kesayangan milik Vier itu terkatup tak lagi menimbulkan suara apapun. Vier yang tak begitu mendengar jelas obrolan ia dan sang penelpon di buat heran dengan sikap Alisah yang mendadak berubah.


"Kak, Davina kembali pada Rabb nya."


Vier mengernyit namun sedetik kemudian mata nya membola, ia segera memeluk sang istri dengan air mata yang sudah meleleh bagai es krim di bawah sinar matahari.


Alisha menutup mulutnya karena tangisan itu semakin tak bisa ia tahan, sungguh ia menyesal kenapa baru sekarang ia mengunjungi wanita yang menjadi ibu kandung Ghaisan tersebut.


Jika di lihat, Davina hanya lah wanita yang sungguh tak beruntung. Di usia menjelang remaja ia sudah menjadi korban perceraian kedua orang tua sampai menjerumuskannya ke pergaulan bebas yang membuatnya bersikap seperti itu, mengandung benih dari pria yang tak sengaja menghabiskan satu malam dengannya berharap bisa di halalkan namun apa daya, hingga akhir hayatnya Reza tak bisa memenuhi keinginan terbesar dalam hidupnya, bukan hal yang muluk-muluk Davina hanya ingin ia di hargai walau mungkin cara yang ia lakukan keliru.


.


.


.


"Bunda?" Daniyal berteriak hingga memenuhi setiap sudut rumah.


Anak laki-laki yang kini berusia 4 tahun itu sudah mulai bersekolah Tk di tempat Ghaisan menimba ilmu.


"Bunda!" ia kembali berteriak saat Alisha tak datang karena panggilannya.

__ADS_1


Gimana mau datang, sang bunda sedang di sekap oleh sang ayah tercinta di kamar mereka, Vier merajuk karena ia tak mendapatkan jatah paginya karena ulah Daniyal yang tiba-tiba menganggu acara sakral itu dengan gedoran pintu yang cukup memekakan telinga kedua orang tua nya.


"Niyal, yuk!" ajak sang oma dengan mengulurkan kedua tangannya.


Niyal bersungut kesal namun ia tetap meraih salah satu tangan yang mulai terlihat keriput dimana-dimana.


"Besok kalo Niyal besar, Niyal nggak akan kaya ayah!" sewotnya.


Sang oma, widya hanya bisa mengulum senyum mendengar perkataan sang cucu. Salah siapa ganggu subuh-subuh kan gini jadinya di balas sama ayah mu, gumam sang oma sambil membuka pintu mobil untuk Niyal cucu satu-satunya.


Sedangkan dikamar sejoli yang tengah di mabuk asmara walau sudah hampir 6 tahun menikah, mereka tengah saling memeluk setelah selesai melakukan penerbangan yang sempat tertunda karena ulah sang anak tadi.


"Kakak hari ini nggak ada pekerjaan pentingkan?" tanya Alisha.


Vier menggeleng, ia meraup aroma tubuh Alisha dan memeluknya erat. Alisha merasa tergelitik saat nafas hangat itu menerpa leher belakangnya.


"Jangan tiup-tiup, Al capek kak!" Alisha mencoba menjauhkan tengkuknya dari wajah sang suami.


"Mandi yuk, Al janji mau buatin Niyal pastel ayam hari ini, nanti ia merajuk sepulang sekolah makanan kesukaannya belum matang."


"Hah, anak itu sekarang selalu mengganggu ku, semakin besar ia selalu mengajak bersaing meraih cinta dan perhatianmu mu. Cepatlah besar agar kakak tak lagi berbagi dirimu dengannya!" ujar Vier sembari mendengus.


Alisha tertawa lebar, apa kah suami cantik yang kini menjadi super tampan ini lupa siapa Daniyal, ia anaknya sendiri, jika Alisha terkadang lebih memilih tidur bersama sang anak atau mendahulukan kebutuhan serta keinginan sang anak tentu tidak masalah kan, sungguh tak beralasan suami posesif nya itu.


Jika semakin bertambah usia pernikahan suami akan lebih memberi ruang untuk istrinya, namun tidak untuk Vier semakin usia pernikahan mereka bertambah, bertambah pula rasa ingin memiliki seutuhnya sang istri hanya untuknya. Bahkan kini Vier tak lagi bisa jika tak mendengar suara Alisha barang satu jam saja, Reza sang sepupu juga tak lagi boleh bertandang kerumah jika ia tak ada. Entah apa yang merasuki pria ini, sungguh tak lagi bisa tergambar betapa ia sangat mencintai istrinya itu.


"Besok jadwal Al belanja bulanan, sendiri atau kakak ikut lagi?"


"Sore ya, pagi kakak ada janji dengan klien." Vier kembali menarik Alisha yang hampir saja menegakkan setengah tubuhnya.

__ADS_1


"Kak, Al mau mandi!"


Cup


Vier mencium bibir hangat sang istri dan sedikit memberi tanda kepemilikan di bawah telinganya, untuk kesekian kalinya. Untung Alisha memakai hijab sekarang, jika tidak seluruh penghuni rumah akan menamainya macan tutul.


***


Siang hari pukul 11, Niyal pulang bersama dengan sang oma yang tadi mengantar dan menunggunya di Tk karena Niyal baru satu minggu bersekolah. Sang oma takut, jika Niyal akan lepas kendali atau tingkah aktif nya akan melukai temannya jika tak diawasi dengan benar. Jika wajah Niyal hampir 90 persen mirip sang ayah, namun tingkahnya justru sangat mirip sang tante, kakak Vier.


"Bunda!" Niyal berteriak sebelum pintu ruang utama di buka oleh Mariani.


"Ya ampun tuan kecil, hati-hati!" Mariani menepuk dadanya terkejut dengan tingkah anak berusia 4 tahun itu.


Niyal langsung menuju dapur karena tadi malam sang Ibu berjanji akan membuat makanan kesukaannya yang baru ia gemari beberapa bulan ini. Harum pastel yang baru diangakat dari wajan menyeruak ke indera penciuman bocah tampan sebelas duabelas dengan sang ayah tersebut.


Namun seketika senyum sumringahnya hilang, berganti dengan bibir manyun lima centi.


"Kenapa ayah di rumah sih, selalu saja nempelin bunda kaya lem!" sungutnya lirih dengan bibir manyunnya.


Niyal langsung melajukan langkahnya, dan menarik tangan Vier yang berada di pinggang sang Bunda.


"Niyal apa-apan sih!" Alisha yang sedang memegang spatula juga terkejut dengan aksi sang anak.


Niyal memicingkan matanya menatap sang ayah, membuat Alisah menahan tawanya melihat adegan itu. Niyal menggunakan kesempatan itu dan langsung memeluk Alisha dari belakang seperti apa yang di lakukan Vier sang ayah.


...❤❤❤❤...


Hai hai readers.... ada yang kangen dengan cerita nya Vier dan Alisha enggak ya?

__ADS_1


Aku pengen ambil Daniyal untuk sekuel, ada yang menantikan kah ?


Yuk kasih komen yukk... aku tunggu yaa....


__ADS_2