
Pukul enam malam, Alisha turun ke lobby untuk menunggu sang kekasih yang katanya akan menjemputnya setengah jam lagi, Luna yang datang ke lantainya untuk memberikan tumpangan pun sudah pulang dua jam yang lalu.
"Lama!" keluh Alisha sambil melepas sepatu hak tingginya yang terasa menusuk di kaki kecilnya.
"Dulu jadi karyawa biasa aja udah senengnya minta ampun, apa lagi bisa kerja bareng Luna. Setelah jadi sekertaris apa lagi, seneng banget tapi ya ini nih musuhnya, sepatu bagai duri!" oceh Alisha sambil memijat pergelangan kakinya.
"Sakit ya ?" seseorang datang langsung menggantikan posisi tangannya yang sedang memijat kakinya.
"Jangan, Mas!" Alisha menarik pelan kakinya.
"Nggak apa-apa, besok besok juga aku bakalan mijat yang lain!" Alisha mengernyit tanda tak paham dengan kalimat yang keluar dari mulut kekasihnya.
"Nggak usah gitu ekspresinya!" menyentil pelan kening Alisha membuat gadis itu mengaduh pelan.
"Udah yuk, nggak usah di pakai kalo sakit!"
"Nyekermen dong!" jawab Alisha memnyunkan bibirnya.
"Terus, mau gendong?" Alisha mengangguk dan tersenyum.
"Eh!" Alisha spontan memeluk leher Reza yang tiba-tiba menggendonganya.
"Aku bercanda Mas, nggak usah gendong, malu!" cicitnya.
"Biar aja, anggap satpam patung!" Reza berbegegas membawa Alisha menuju mobilnya.
Satpam yang melihat adegan sedikit dramatis itu mencoba mencari tahu," Ibu Alisha, kenapa?"
Reza menggeleng, "nggak apa-apa, lagi mau di manjain, Pak!" lanjutnya sambil tersenyum, sedangkan Alisha jangan di tanya wajahnya sudah merona bagaikan blash on yang tumpah di wajahnya.
"Udah mas, turunin!" Reza langsung menurunkan Alisha setelah sampai di tempat ia menaruh mobilnya.
"Awas kepalanya sayang!"
"Makasih ya, Mas!" Alisha masuk kedalam mobil dan duduk dengan tenang.
"Kita makan malam dulu, ya? mau makan dimana?" tanya Reza
"Dimana aja, yang penting makan!" ujarnya pelan.
"Kenapa, masih malu?" tanya Reza mencoba menggoda Alisha yang terdiam.
"Iya, ih!" lirih Alisha memandang keluar melihat jalanan yang padat serta kerlap kerlip lampu yang memenuhi jalan.
"Itu salah satu tanda, bahwa aku sayang kamu, apapun akan mas lakukan agar kamu selalu merasa nyaman dan aman!" Reza memegang tangan Alisha dan mengecupnya.
"Lalu, gimana tadi bertemu investornya, lancar?"
"Alhamdulillah lancar, Ryan selalu bisa mengatasinya," jawab Reza dengan senyum sejuta watt yang dia miliki.
__ADS_1
"Pak Ryan memang hebat, pekerjaan apapun ia selalu tangani dengan baik!" puji Alisha membuat Reza kembali menggoda calon istri idamannya itu.
"Jadi Ryan aja? Mas nggak punya progres nih?" ucap Reza pura pura sedih.
"Nggak gitu, Mas juga hebat. Buktinya masalah di jogja langsung tertangani dengan baik, pembangunan juga langsung berjalan lagi tanpa hambatan kan!" Reza mengangguk dan tersenyum ke arah Alisha, senyuman yang dipaksakan.
Sebuah restoran mewah menjadi tempat singgah mereka untuk makan malam, Alisha yang tadinya menolak mendadak pasrah ketika Reza mengatakan bahwa Alisha harus membiasakan diri dengan hal seperti ini mulai dari sekarang. Karena bagaimana pun Reza juga merupakan orang penting di perusahaan sekaligus anak tunggal pemilik perusahaan perhiasaan.
"Selalu, kenapa nggak ke kafe yang biasa kita makan sih!" Alisha merapikan roknya yang sedikit berantakan.
"Membiasakan diri, sayang!" Reza menggandeng Alisha dan masuk ke dalam.
"Selamat malam, Tuan Reza!" sapa salah satu karyawan yang berada di depan.
"Malam!" jawab Alisha lengkap dengan senyum sopannya.
"Rez!" panggil seseorang.
"Ngapain, nemenin tante?" si pria yang sedang membenarkan ikatan rambutnya itu mengangguk.
"Reza!" sapa sang tante.
"Apa kabar tan?" mencium pipi kiri kanan wanita paruh baya itu.
"Baik, dia?" memandang ke arah Alisha.
Alisha hanya memandang heran, kenapa mereka bisa akrab dan sedekat itu. Alisha tak tahu saja bahwa pria yang diam-diam ia kagumi itu merupakan seorang Pratama.
"Oh ya, apa kabar sayang?" Alisha mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan itu takzim.
"Baik!" ujar Alisha sedikit menundukkan kepalanya.
"Mau pulang?" tanya Reza pada pria berambut panjang yang diam-diam mencuri pandang ke arah gadis di samping sepupunya itu.
"Iya aku cuma nemenin Mami memriksa beberapa pekerjaan saja," jawabnya.
"Aku selalu blank kalau ketemu orang ini!" batin Alisha sesekali melirik ke arah Vier.
"Ya sudah, Tante pamit. Nikmati waktu kalian ya?" Reza mengangguk.
"Permisi!" Vier tersenyum ke arah Alisha membuat gadis itu kehilangan dunianya beberapa saat.
Reza yang melihat Alisha termenung menarik sudut bibirnya, "kenapa?"
"Nggak apa mas!" Alisha menggelengkan kepalanya.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, Reza dan Alisha yang telah selesai makan malam langsung menuju ke kost Alisha terlebih dahulu.
"Jadi suami tante yang tadi itu saudaranya Papi Raja?" Alisha meyakinkan pendengarannya ketika Reza menjelaskan siapa wanita paruh baya yang ia temui tadi.
__ADS_1
"Iya, sayang!" jawab Reza.
"Tapi kenapa aku nggak pernah ketemu di setiap acara keluarga kamu, Mas?" tanya Alisha sambil mengerutkan dahinya.
"Kamu lihat pria berambut panjang tadi?" Alisha mengangguk.
"Kamu tahu dia siapa?" Alisha mengangguk kembali.
"Disetiap pertemuan keluarga entah itu di keluarga Mas atau Ryan, tante Widya selalu mendapat cibiran karena penampilan Vier atau pekerjaan Vier yang memang di luar bisnis kelurga kita, maka dari itu tante Widya jarang terlihat di acara keluarga." papar pria blasteran itu.
"Kok gitu sih mas, 'kan kasihan tante Widya!" Alisha tak setuju dengan orang-orang yang hanya menilai covernya saja.
"Tapi mas, Ryan dan kakaknya Vier nggak pernah menganggap dia lain, kita kalau ketemu biasa ya saja, bahkan kita dulu sering di tolong Vier ketika kita lupa sama PR sekolah!" Reza tertawa kecil mengingat kenakalannya di waktu itu.
"Jadi kalian ini seumuran?" Reza mengangguk.
"Kami satu sekolah sampai SMP, tapi setelah itu kami sudah tak pernah bersama, tapi sesekali kami bertemu jika vier ada waktu, karena ternyata ia lebih sibuk dari pada kami!" Reza tersenyum mengingat saudaranya itu.
Setibanya di kosta, Alisha segera membersihkan tubuhnya, dia yang cukup lelah langsung merebahkan tubuhnya di ranjang kesayangannya.
"Ah!" kenapa akhir akhir ini sering ketemu orang itu," benak Alisha.
"Apa iya, kebanyakan pria yang bernampilan seperti ternyata?"
"Ya ampun, mikir apa gue!" Alisha bergidik membayangkan sesuatu yang bukan ranahnya..
***
Apartemen yang luasnya melebihi 10 kali lipat kostan Alisha, terletak di lantai paling atas sebuah bangunan yang menjulang tinggi milik seorang desainer hebat. Sedang terjadi sebuah ketegangan.
Sepulang setelah mengantar sang mami ia di kagetkan dengan sosok pria yang berdiri di depan pintu apartemen. Sedang menunggunya dengan memegang koper di salah satu tangannya.
"Untuk apa kau kesini?" tanya Vier penuh penekanan.
"Aku merindukanmu!" ucapnya memelas.
"Aku sudah bilang ini semua salah! aku tidak mau ada berita tentang mu Andra!" ketusnya.
"Kamu bilang ini salah, namun kamu peduli padaku!"
"Aku peduli padamu sesama manusia!" serunya.
"Tapi aku tidak bisa, aku tak bisa tanpa mu!"
"Aku tidak ingin hubungan ini semakin jauh, aku tidak mau kita sampai masuk lebih dalam, dan tak bisa keluar!" Tegas Vier.
"Tapi aku tak mungkin bisa melakukan itu Vier!" mendekat ke arah vier dan memeluknya dari belakang.
"Hah!" Vier menghela nafasnya panjang dan melepas paksa pelukan itu.
__ADS_1
"Tidur lah, kau pasti lelah!" ujar Vier meninggalkan pria bernama Andra itu begitu saja.
"Jika aku tak bisa memiliki mu, orang lain pun juga!" lirihnya memandang Vier yang sudah hilang di balik pintu.