
"Kalian bilang tadi mau liburan ke mana?" tanya seorang gadis berambut sepanjang punggung. Ia yang tadinya sedang asyik berkutat dengan laporannya, kini menengok cepat ke arah empat muda-mudi yang tengah duduk di belakangnya.
Keempat orang itu adalah teman-teman terdekatnya sejak ia menjadi mahasiswa baru di Universitas Y. Dua perempuan dan dua laki-laki. Masing-masing berpasangan. Hera dengan Alvin. Safira dengan Afgar. Sedangkan, dirinya, Tian jomlo.
"Kuba." Hera mengulangi nama kota tujuan mereka yang membuat Tian mengalihkan perhatiannya dari laporan kegiatan di hadapannya itu.
"Jangan bilang males lagi." Alvin menyela sebelum Tian melontarkan protes yang sudah terlebih dulu terpancar dari ekspresi wajahnya.
Tian memutar bola matanya. "Kenapa enggak ke Bali aja?"
Pertanyaannya langsung disambut dengan erangan kompak dari keempat temannya.
"Kita udah EMPAT kali ke sana, Ti." Afgar menekankan kata empat dengan ekspresi disabar-sabarkan.
"Bali enggak cukup dinikmati cuma dengan empat kali kunjungan." Tian masih ngotot.
"Kita belum ngapain aja di Bali? Tiap ke sana kita party, main di Kuta sama Sanur pernah, 'uji nyali' di Trunyan udah, iseng-iseng main prewed-prewed-an di Lempuyang juga udah. Bosen enggak, sih?" Safira meminta persetujuan ketiga temannya yang lain.
"Emang sih kita belum ke Blooms sama Gemitir." Alvin menambahkan sambil memainkan Instagramnya yang menampilkan destinasi baru yang tengah hits di Bali itu.
"Aku enggak mau ya ke sana cuma buat lihat bunga doang." Hera melirik judes ke arah kekasihnya itu.
"Oke. Kita ke Kuba." Alvin mengakhiri sesi scrolling-nya tanpa disuruh dua kali dan langsung beralih ke aplikasi pembelian tiket online di ponselnya.
"Kalau kamu males beberes, aku ajak Safira ke rumah kamu buat packing." Afgar menatap Tian sungguh-sungguh.
***
"Ti!" Sebuah suara yang berasal dari luar kamar Tian memecah konsentrasinya yang tengah mencoba menyelesaikan misi "all-headshot" di game FPS yang tengah dimainkannya.
"Titiana!" Suara itu kembali memanggil dengan lebih lantang. Kali ini disertai sebuah ketukan—yang menyerupai gedoran—tak sabar di pintu kamarnya.
"Iya, Ma." Tian mulai menekan layar ponsel dengan asal-asalan sebelum akhirnya menyerah dan menutup paksa aplikasi itu.
Gadis itu lalu bergerak membuka pintu kamarnya.
"Sudah siap-siapnya?" Bella tidak menunggu sampai Tian menjawab. Kepalanya sudah lebih dulu melongok ke dalam ruang kamar putri sulungnya itu.
Saat matanya menangkap onggokan pakaian yang ditumpuk ala kadarnya di dua sisi koper yang terbuka, wanita yang baru genap berusia 43 tahun beberapa hari lalu itu tidak bisa menahan diri untuk tidak berdecak kesal.
"Memangnya kopernya bisa ditutup kalau kamu natanya kayak begini?"
Tian hampir terpental saat Bella mendorong pintu untuk memberinya ruang lebih agar bisa menerobos masuk ke kamarnya. Dengan cekatan, tangan wanita itu mengeluarkan ponsel dari balik longdress kotak-kotaknya dan menjepret beberapa gambar. Mata Tian membulat.
Dengan satu langkah lebar, ia meloncat ke sebelah Bella dan mencoba merebut ponsel milik ibunya itu. Ia sudah bisa menebak hal yang akan dilakukan ibunya dengan gambar di ponselnya itu tanpa perlu bertanya.
"Mau apa?" Bella mengangkat tinggi-tinggi lengan kanan yang digunakannya untuk menggenggam ponselnya.
"Fotonya hapus ya, Ma? Please!" Tian mulai menggunakan jurus merajuknya. "Habis ini Tian beresin kok, Ma."
"Dari magrib tadi Mama udah ingatkan kamu loh, Ti. Sekarang lihat udah jam berapa?" Bella menunjuk jam di dinding kamar yang telah menunjukkan pukul 11 malam. "Enggak sampai setengah jam lagi, kamu pasti ketiduran."
"Beresin ini enggak sampai setengah jam kok, Ma."
__ADS_1
Tian terus membujuk sambil mulai merapikan isi kopernya dengan satu tangan. Tangan lainnya menggenggam erat-erat tangan kiri Bella, mencoba mencegah ibunya bertindak lebih jauh dari sekedar memotret isi kopernya beserta beberapa potong pakaian dalam yang berada di tumpukan teratas. Jelas pemandangan itu tampak paling menonjol dalam gambar yang diambil Bella.
"Lima jam lalu juga Mama pikir begitu." Bella mulai berkutat dengan ponselnya.
Tian yang baru mendongak beberapa detik setelah Bella mengirim pesan bergambar itu, tidak bisa menghentikan pekikan nyaring yang meluncur dari bibirnya.
"Ma! Tega banget." Tian menggerutu lemas.
"Kamu tahu Mama enggak suka nyuruh dua kali." Usai mengatakannya, Bella melenggang meninggalkan kamar putrinya dengan senyum geli menghiasi wajahnya.
Bella sering meninggalkan negaranya selama berminggu-minggu untuk membantu Adler. Suaminya itu berprofesi sebagai arsitek yang sering mengambil proyek-proyek lanskap di luar negeri, sedangkan dirinya bertugas untuk menjadi negosiator karena ia menguasai cukup banyak bahasa asing. Belum lagi pengetahuannya tentang ilmu rancang bangun yang cukup mumpuni. Hal itu membuatnya jarang punya waktu luang untuk dihabiskan bersama anak-anaknya. Karena itu, mengerjai Tian merupakan salah satu hiburan yang paling dinantikannya saat ia tengah menikmati libur panjangnya. Sebab meskipun merupakan anak pertama, tingkah laku Tian jauh lebih menggemaskan saat digoda daripada ketiga adiknya.
Tian yang menjadi korban keisengan ibunya itu kini tengah menerima telepon dari Afgar. Kepada pemuda itulah Bella mengirim potret memalukan miliknya itu. Tian hanya bisa menahan jeritan hatinya saat menjawab telepon yang tidak akan berhenti berdering sampai Tian mengangkatnya itu.
"Hai, Gar."
Tian mencoba menyapa senormal mungkin. Seolah ibunya tidak mengirimkan gambar "aneh" apa pun kepada pemuda itu. Seolah pemuda itu hanya menelepon untuk membicarakan hal penting apa pun selain gambar itu. Namun, Tian tidak pandai berpura-pura.
"Ugh!" pekik Tian saat dirinya tidak bisa lagi menahan rasa malunya.
Afgar sendiri tertawa terpingkal-pingkal di seberang telepon.
"Gar! Please hapus fotonya sekarang. Mama bener-bener enggak paham kalau bikin aku malu berat di depan kamu itu udah nggak cute lagi."
"Jangan salah, Ti. Ini cute banget. Hijau polkadot ada pitanya. Selera kamu enggak berubah dari dulu, tahu enggak?" Afgar semakin tergelak mendengar erangan Tian saat dirinya menggambarkan detail potret yang diterimanya beberapa menit lalu tersebut.
"Hapus, Gar! Sekarang!" titah Tian.
"Jangan, jangan!" seru Tian beberapa detik berikutnya.
Afgar mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Mamaku aja enggak bisa aku percaya, apalagi kamu. Besok aku yang bakalan hapus sendiri fotonya." Tian menjawab cepat.
"Perlu aku ingetin?" Afgar masih menggoda Tian.
"Bangunin aja aku satu jam sebelum pesawat kita take-off," Tian menjawab dengan serius, mengabaikan usaha Afgar yang terus menggodanya.
"Bawaan kamu udah beres?"
"Itulah kenapa kamu sama Safira harus dateng ke sini satu jam sebelum take-off." Tian cengengesan.
"Umpetin tuh senjata rahasia kamu. Jangan sampai aku dokumentasiin pakai HP-ku sendiri." Afgar buru-buru menutup telepon sebelum lengkingan suara Tian membuat telinganya pekak.
***
"Cepet banget mandinya?"
Safira yang melihat Tian sudah keluar dari kamar mandi setelah 5 menit, mengangkat alisnya terheran-heran. Bagi seorang Safira, mandi bukan sekedar membersihkan diri, melainkan ritual untuk menambah pesona diri, terutama bagi seorang wanita.
Karenanya, mulai puncak kepala hingga ujung rambut tidak ada satu pun bagian yang pernah luput dari perhatiannya dalam proses yang menurut versinya seharusnya bisa menghabiskan waktu hampir setengah jam itu. Sebut saja saat keramas, mulai dari memakai sampo, conditioner, masker rambut, tonik, hingga vitamin akan selalu dilakukan oleh Safira tanpa terlewat. Lalu, merawat kulitnya tidak cukup hanya dengan sabun mandi saja, tetapi harus didahului dengan meluluri setiap inci bagian tubuhnya. Tahapan yang dilalui setelah mandi lebih rumit lagi, Safira harus membedakan lotion yang akan digunakan untuk tubuhnya, tangan, kaki, leher, telapak kaki, siku, bahkan ketiaknya.
Ia yakin Tian bukan hanya melewatkan seluruh tahapan penting tersebut, melainkan sama sekali tidak punya koleksi bodycare yang membuatnya terpikir untuk melakukan perawatan sekompleks yang dilakukan Safira.
__ADS_1
Safira memastikan dugaannya itu saat mengingat bahwa ia tak melihat satu pun benda menyerupai tas make-up saat ia memasukkan seluruh barang bawaan Tian dalam satu koper. Safira sendiri selesai merapikan seluruh bawaan Tian dalam waktu kurang dari 10 menit. Baginya yang terbiasa bepergian dengan bawaan tiga kali lipat lebih banyak daripada Tian, tugas packing adalah hal yang dapat ia selesaikan dengan sempurna tanpa memakan banyak waktu. Bahkan dengan bawaan sebanyak itu, Safira mampu menjejalkan keseluruhannya ke dalam satu koper besar saja, meskipun ia memang tidak bisa memaksa "peti kecantikannya" untuk berdesakan di antara bawaannya yang lain.
Berbicara soal bawaan yang kini tengah duduk manis di bagian belakang van yang ia sewa, Safira akhirnya mengingat sesuatu yang belum ia sampaikan pada Tian.
"Ti. Ada satu orang lagi yang ikut kita ke Kuba." Safira membuka percakapan.
Tian yang baru saja selesai mengenakan knit dress-nya menoleh ke balik bahunya.
"Siapa, Fir?"
"Nanti kamu kenalan sendiri aja sama dia. Dia anak pegawai kepercayaan kakekku," jelas Safira.
"Pasti cowok, ya?" tebak Tian.
"Jelas dong, Ti. Waktu kita semua lagi q-time kita butuh seseorang buat jaga kamu. Dan enggak mungkin orang itu cewek. Makin turun persentase kamu buat dapet gebetan kalau bule-bule di sana mikir orientasi kamu enggak straight," celoteh Safira sambil asik bermain ponsel sambil rebahan di tengah tempat tidur ukuran king-size milik Tian. "Atau kalau kamu suka yang sedikit 'mateng', bodyguard-mu itu juga bisa kamu embat. Cuma beda 7 tahun kok sama kamu."
Tian memutar bola matanya. Daripada disebut "bodyguard", ia lebih merasa ditemani oleh babysitter. Namun, Tian enggan menyuarakan pendapatnya. Dari awal ia memang tidak berencana membiarkan kencan keempat teman-temannya itu terganggu dengan kehadirannya. Oleh sebab itu, ia telah membuat rencana perjalanan sendiri setibanya di Kuba, sehingga ia menemukan alasan untuk memisahkan diri dengan rombongannya.
Sebelumnya, Tian berpikir bahwa ia bisa berjalan-jalan sendirian di negara asing. Memang akan sedikit sulit mengingat Afgar, yang sudah seperti abangnya sendiri itu, sangat protektif padanya. Namun, Safira memecahkan masalahnya dengan mengajak satu orang lagi untuk "menjaganya".
Tian sebenarnya sama sekali tidak merasa keberatan dengan fakta bahwa dirinya single. Hanya saja, entah bagaimana mulanya, keempat temannya itu sepakat untuk mencari "anggota" keenam yang bisa sekaligus menjadi pasangan Tian. Tian yang paling anti ribet—sekalipun tak berminat—tak berusaha menghentikan upaya teman-temannya itu. Menurutnya, kalau teman-temannya mau repot mencarikan laki-laki yang tepat untuknya, kenapa Tian harus merasa dirugikan. Toh, kalau dirinya tidak nyaman, dia bisa kapan saja mengakhiri hubungan itu.
Tian baru saja berniat bangkit dari balik meja riasnya ketika ia melihat Safira memandanginya dengan mata disipitkan. Beberapa detik berikutnya, gadis itu bangkit dan meraih lipstik merah yang ada di barisan terujung koleksi make-up Tian. Well, kurang tepat sebenarnya menyebut satu buah bedak tabur, satu pak eyeshadow tiga warna, satu batang maskara, dan dua batang lipstik yang memakan hanya lima persen tempat di atas meja riasnya sebagai koleksi.
"Inget ya, Ti. Kamu seenggaknya harus punya satu blush on di dalam tas kamu. Itu beauty saver yang wajib semua cewek punya karena ampuh banget bikin wajah kelihatan cerah dan fresh. Tapi, karena kamu enggak punya blush on terpaksa aku pakai lipstik buat alternatif." Safira mulai mengoceh sembari mengaplikasikan lipstik merah yang dicolek dengan jari tengahnya di beberapa bagian pipi Tian. "Untung kulit kamu putih. Jadi, semua warna 'aman' buat kamu. Kalau enggak, aku terpaksa harus bawa naik kotak make-up-ku ke sini."
Tian mengerutkan keningnya, sedikit skeptis tentang bagaimana ia akan terlihat dengan benda "asing" yang diaplikasikan di wajahnya itu. Sesekali, matanya mencuri pandang ke arah make-up sempurna yang selalu menghiasi wajah sahabatnya itu, bertanya-tanya apakah ia juga akan secantik Safira jika memakai riasan yang serupa. Seolah bisa membaca isi kepala Tian, Safira kembali memberi kuliah.
"Jenis-jenis make-up sama skincare itu beda-beda buat setiap cewek. Kalau buat kamu, karena kulit kamu normal ke arah berminyak, pilihan pemakaian bedak tabur kayak kamu ini udah bener, tapi kamu juga harus punya compact powder buat touch up kalau-kalau riasan kamu luntur. Yah, tapi karena kamu nggak pernah pake make-up ribet, segini aja udah cukup sih." Safira menutup penjelasannya sambil menarik sehelai tisu dari kotak di atas meja rias Tian dan membersihkan sisa lipstik di ujung-ujung jarinya. "Cek deh bedanya pake blush on sama enggak."
Tian buru-buru menatap pantulan wajahnya di kaca. Matanya membulat tak percaya. Ia menatap Safira dengan ekspresi yang membuat sahabatnya itu nyengir lebar.
"Kalau aku pake lipstik merah juga? Bakalan lebih cantik enggak, Fir?" Tian bertanya sungguh-sungguh.
Safira mengernyit ngeri.
"Kamu malah bakalan kelihatan kayak badut TMII kalau kamu maksa gitu. Harus balance dong, Ti. Yin dan yang. Kamu cuma perlu satu warna bold dalam satu tipe make-up kamu dan kali ini blush on kamu udah jadi bold statement-nya."
Butuh 5 menit bagi Tian untuk merangkum seluruh celotehan Safira itu ke dalam kata "JANGAN!".
"Oke." Tian menyerah. Ia melirik ke arah cermin sekali lagi sebelum tersenyum manis dan berlari meraih ponselnya dari atas meja belajar.
Berdua dengan Safira, ia membawa kopernya turun ke ruang tamu. Bella dan Adler sudah duduk di sana bersama dengan Afgar dan dua orang yang asing bagi Tian.
"Inget ya, Ti. Sampai sana kamu harus kabarin Mama dan Papa," pesan Bella kepada Tian saat rombongan putrinya itu berpamitan.
"Pasti, Ma," ucap Tian sambil mencium tangan dan kedua pipi ibunya itu.
Adler mengusap lembut puncak kepala Tian saat putrinya itu mencium tangannya.
"Saya titipkan anak-anak saya di tangan Pak Ivan." Adler beralih pada sopir yang disewa Safira itu sambil menjabat tangannya dengan erat.
Lelaki yang baru berusia 30-an tahun itu tersenyum menenangkan.
__ADS_1