
Tian memandangi ponselnya dengan perasaan gundah. Hampir satu minggu berlalu sejak pertengkaran besarnya dengan Meda, tetapi pemuda itu tak kunjung menunjukkan tanda-tanda bahwa ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Tian. Tian jadi berpikir bahwa Meda menanggapi dengan serius ancaman tentang mengakhiri hubungan mereka beberapa waktu lalu itu.
Tian tentu tidak menginginkan hal itu terjadi. Namun, bukan dirinya yang bersalah. Bukan juga Afgar. Mindset Meda dalam menyikapi hubungan Tian dengan Afgar lah yang salah. Karena itu, ia juga tidak ingin memohon agar Meda memaafkannya. Well, setidaknya bukan sekarang. Kalau pada akhirnya harus Tian yang meminta maaf, Tian ingin menundanya selama mungkin. Tepatnya, saat hari keberangkatan Meda ke Paris tiga hari lagi.
Tian memandang bungkusan pakaian yang ingin diberikannya kepada Meda sejak beberapa waktu lalu. Sebuah skenario untuk berbaikan dengan Meda sambil menyerahkan bingkisan itu berputar di kepalanya dan membuat Tian jadi sedikit tenang.
Ponsel Tian membunyikan sebuah pengingat dengan nyaring, menandakan sudah tiba waktu untuk menjemput Lidia dan Joan di sekolahnya masing-masing. Tian bangkit dari sofa ruang baca dan bergegas menaiki tangga. Diraihnya kardigan tritone dengan motif garis-garis dari punggung kursi di lantai atas ruang baca dan mengenakannya di atas pinafore dress cokelat tanpa lengannya, sebelum berjalan menuju garasi.
Tian sedang melajukan coupe-nya dengan kecepatan sedang ketika ponsel yang ia letakkan di saku depan gaunnya berdering. Tian mengabaikan dering panggilan tersebut dan melanjutkan perjalanannya. Ia bukannya sedang terburu-buru untuk tiba di sekolah kedua adiknya itu, hanya saja ia tidak suka berkendara sambil berbicara di telepon.
Tian orang yang mudah kehilangan fokus jika dihadapkan pada dua pekerjaan sekaligus. Karenanya, ia baru memeriksa ponselnya ketika dirinya sudah memarkir mobilnya dengan aman di depan sekolah Joan.
Dua panggilan tak terjawab dari Afgar membuat Tian tersenyum geli. Mau tak mau, ia mengingat pesan Afgar beberapa waktu lalu yang berbunyi bahwa dirinya tidak akan menghubungi Tian jika gadis itu tidak menghubunginya duluan. Saat itu, ia sebenarnya tidak meragukan kesungguhan dari ucapan sahabatnya itu. Namun, melihat kini Afgar malah semakin sering menghubunginya setelah Tian memaksanya untuk mengurungkan niatnya, Tian jadi tidak terlalu yakin bahwa pemuda itu bisa menahan diri untuk tidak berbicara dengannya dalam waktu yang lama.
Tian tidak terganggu sama sekali dengan fakta yang satu itu. Ia sendiri sangsi jika dirinya bisa melakukan hal-hal seperti menghindari Afgar dalam waktu yang lama. Bagaimana pun, ia dan Afgar sudah cukup lama menghabiskan waktu bersama dan saling mendukung satu sama lain di saat-saat terburuk. Menjauh dari pemuda itu tentu akan menimbulkan sebuah lubang besar dalam hatinya. Memikirkan hal itu membuat Tian semakin merasa keputusannya untuk mempertahankan kedekatannya dengan Afgar adalah pilihan yang terbaik. Selain itu, berbicara dengan Afgar membuat pikirannya sedikit teralihkan dari Meda.
Kaca mobil Tian diketuk dari luar saat dirinya tengah asyik berbalas chat dengan Afgar. Pemuda itu sempat mengomel karena Tian tidak mengangkat teleponnya yang berdering beberapa kali.
Tian memberi isyarat kepada Joan untuk segera masuk ke mobil. Namun, gadis itu bergeming sambil tetap berdiri di samping pintu mobilnya.
“Ada apa?” tanya Tian sambil menurunkan kaca mobilnya.
“Minta duit buat beli ceker setan,” jawab Joan sambil mengarahkan pandang berkali-kali ke satu titik.
__ADS_1
Tian mengikuti arah pandang adiknya itu dan melihat seorang penjual makanan dengan rombong dari aluminium tengah dikerumuni oleh bocah-bocah yang berseragam serupa dengan Joan.
Tian memutuskan untuk turun dari mobilnya alih-alih memberikan uang kepada Joan. Ia ingin melihat sendiri jajanan macam apa yang tengah digilai oleh adiknya itu.
“Kak, siniin duitnya. Malu ah kalau jajan aja dianter Kak Tian.” Joan mencoba menghalangi niat Tian yang sudah berjalan mendekat ke arah kerumunan.
“Ya kalau kamu malu, kamu aja yang di mobil. Biar Kakak yang beliin,” jawab Tian cuek.
“Kakak nggak malu udah gede jajan bareng anak SD?” tanya Joan yang mencoba membuat kakaknya itu menyerah dengan berbagai cara.
“Nggak,” jawab Tian singkat.
Joan hanya bisa mencak-mencak sebelum akhirnya menyusul langkah kakak sulungnya itu.
“Nih.” Tian menyerahkan sebungkus ceker setan yang dibelinya kepada Joan saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
“Kak Lidia.”
“Tapi Kak Lidia nggak suka makanan pedes, Kak,” kata Joan.
Tangan Tian yang sudah siap menyalakan mesin mobil tergantung di udara.
“Oh,” kata Tian pelan.
__ADS_1
“Kak Tian juga nggak suka pedes, kan? Sayang deh ceker setannya,” ujar Joan lagi.
“Ya udah sih, Jo. Kamu mau bilang cekernya mending buat kamu aja pakai berbelit-belit.” Tian menyerahkan plastik yang tadi diletakkannya di seat gap filler kepada Joan.
Joan tersenyum lebar sambil menerima bungkusan tersebut.
Tidak ada kejadian spesial yang terjadi pada Tian saat menjemput Lidia. Adiknya yang satu itu memang tidak banyak mau. Bahkan ketika Tian menawari Lidia untuk memilih jajanan yang ingin dibelinya di depan sekolah, gadis itu malah meminta Tian memasakkan makanan favoritnya untuk menu makan malam nanti. Tian tentu menyanggupi permintaan itu.
Sesampainya di rumah, Tian segera masuk ke kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan celana berkolor. Ia meraih ponsel yang sebelumnya ia letakkan di meja samping keranjang pakaian dan menghubungi Afgar. Pemuda itu mengangkat teleponnya di deringan kedua.
“Udah di rumah? Udah bisa ngobrol banyak belum? Atau mau ilang-ilangan lagi?” Afgar memberondong Tian dengan pertanyaannya. Nada suaranya terdengar kesal.
“Assalamualaikum, Afgar.” Tian mengulang salamnya yang belum dijawab. Pemuda itu menjawab salamnya dengan nada yang masih terdengar kesal.
“Gantian kamu yang jawab pertanyaanku,” todong Afgar cepat.
“Iya. Ini udah di rumah. Tadi aku jemput Joan sama Lidia. Mereka beda sekolah, makanya nggak bisa lancar balesin chat dari kamu,” jelas Tian sabar. “Lagian kamu ngapain sih ngerusuh kayak gini. Jauh-jauh ke Bristol bukannya menikmati waktu santai malah sibuk ngobrol di telepon.”
“Ya karena aku jalan-jalannya sendirian. Nggak ada temen buat ngomongin hal-hal yang aku lihat di sini.”
“What a hypocrite. Aku pikir kamu ke sana buat mencari ketenangan. Sekarang setelah kamu ngomong gini, kesannya kayak kamu lebih butuh temen ngobrol daripada ketenangan,” cibir Tian.
“Ketenangan itu beda-beda buat setiap orang, Ti. Kalau aku, aku bisa menemukan ketenangan dengan cara ngobrol sama orang-orang yang bisa membuat aku nyaman,” balas Afgar sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
“Cie, yang nyaman sama aku. Siapa sih yang kemarin bilang ‘aku nggak akan hubungin kamu kalau kamu nggak menghubungi aku lebih dulu’?” goda Tian.
Afgar terkekeh pelan. Ia berjalan ke arah jendela kamar hotelnya yang menampakkan pemandangan bangunan katedral St. Mary Redcliffe dan tiba-tiba mendapat dorongan yang sangat kuat untuk berkata, “I miss you so much, Tian.”