
Tian membasuh busa yang melekat pada piring terakhir di wastafel sebelum menyerahkannya kepada Verdita. Wanita yang berdiri di sampingnya itu mengawasi pekerjaannya sambil memikirkan banyak hal.
Verdita tidak mendengar banyak hal dari Meda tentang gadis itu selain bahwa ia terlahir dari keluarga kaya. Mengenal watak Meda yang tidak banyak bicara, Verdita menahan diri untuk tidak menggali informasi lebih jauh mengenai gadis itu betapa pun dirinya penasaran mengenai hal tersebut.
Fakta bahwa Meda akhirnya menceritakan ketertarikannya pada seorang gadis saja sudah cukup mengejutkan. Lalu, ditambah dengan latar belakang gadis itu yang jauh dari preferensi Meda biasanya. Perpaduan topik tersebut tentu sangat menggelitik rasa ingin tahu siapa pun, termasuk Verdita.
Sayangnya, selain Verdita tidak bisa menanyakan hal itu kepada putranya secara langsung, ia pun tidak bisa mengajak Ruslan berbincang mengenai topik tersebut. Suaminya itu memiliki watak yang setali tiga uang dengan Meda. Sudah pasti topik tersebut hanya akan disambut dengan senyum tipis oleh Ruslan. Karena itu, Verdita memutuskan untuk menilai sendiri pembawaan gadis itu saat berkunjung di acara makan malam keluarganya.
Saat kali pertama melihat Tian, Verdita langsung menyukai gadis itu. Bukan hanya cara berpakaiannya yang sopan dan sederhana, gadis itu juga hampir tidak mengenakan aksesoris apa pun selain kalung berliontin komet dengan taburan berlian di sepanjang permukaan liontinnya. Verdita bekerja di industri yang memasarkan aksesoris dari emas dan berlian. Karena itu, ia mengenali harga kalung yang mencapai angka ratusan juta itu dalam sekali lihat. Benda itu menjadi satu-satunya aksesoris sekaligus barang termahal yang dipakai gadis itu. Itu pun dari koleksi yang diproduksi beberapa tahun lalu.
Merangkum segalanya dalam satu kalimat, Verdita menilai bahwa Tian adalah sosok yang cukup konservatif. Tipe perempuan santai yang hidup mengikuti arus dan tidak akan memaksakan diri untuk mengikuti perkembangan zaman. Verdita tidak melihat hal itu sebagai hal buruk. Ia malah berpendapat bahwa kualitas seperti itulah yang bisa mengimbangi Meda.
Meda sendiri merupakan orang yang sangat terarah dan sistematis. Hampir tidak ada hal yang akan dilakukannya tanpa rencana. Ketertarikannya pada Tian adalah satu-satunya hal yang diakui Meda berada di luar rencananya. Itu pun karena Meda sama sekali belum pernah merasakan pengalaman tersebut sebelumnya. Benar, ia memang cukup observatif untuk menganalisa bahwa tidak ada jatuh cinta yang bisa direncanakan. Namun, Meda selalu percaya bahwa jika ia jatuh cinta, ia akan jatuh cinta pada orang yang dikenalnya dengan sangat baik. Logikanya hanya bisa menalar bahwa ketertarikan akan timbul seiring dengan ditemukannya kecocokan pada diri satu sama lain. Dan menurutnya, proses itu tidak akan makan waktu sebentar. Karena itu, ia memandang remeh istilah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan anggapan bahwa itu semua hanyalah ***** sesaat yang disalahartikan sebagai cinta.
Perasaan yang dimilikinya pada Tian pun awalnya hanya dianggap sebagai dorongan ***** sesaatnya saja, sehingga Meda berulang kali membantah perasaannya dan tanpa sadar bersikap tarik-ulur terhadap gadis itu. Pertengkaran saat di pantai Varadero-lah yang akhirnya membuat Meda merenungkan kembali perasaannya pada Tian. Ia mencoba menyingkirkan logika benar dan salah yang disebutkan oleh Tian sebelum memeriksa isi hati terdalamnya. Ketika nama gadis itu berulang kali muncul sebagai perwujudan hasrat terdalamnya, Meda akhirnya memutuskan untuk menghentikan sikap keras kepalanya dan jujur pada Tian mengenai perasaannya.
Beruntung, perasaannya terbalas sekalipun Tian masih enggan memberikan sebutan pasti untuk hubungan keduanya. Meda memahami alasan Tian. Kalau ia berada di posisi gadis itu, ia pun tidak akan dengan mudahnya mempercayakan hatinya pada laki-laki seperti Meda yang berkali-kali membuatnya kebingungan dengan perubahan sikapnya. Melihat gadis itu memberinya kesempatan untuk membuktikan keseriusan dirinya saja sudah sangat membuat Meda bersyukur.
"Meda! Nak! Ibu udah selesai cuci piringnya nih." Verdita berseru memanggil putranya sambil mengeluarkan sebuah melon utuh dari dalam kulkas.
"Kamu ngobrol sama Meda aja di balkon belakang. Nanti kalau Tante udah selesai kupas buahnya, Tante panggil kalian," kata Verdita kepada Tian.
Meda bergegas menghampiri keduanya setelah mendengar seruan ibunya, tetapi Tian, di sisi lain, malah mengulum senyum tipis sebelum meraih pisau di tangan Verdita.
"Aku mau bantuin Tante aja," ujar Tian lembut.
"Kamu bisa motong buah?" Meda mengernyit cemas, menyuarakan pertanyaan yang juga melintas di otak Verdita. "Sini aku aja yang motongin."
Kali ini, Verdita melemparkan pandangan bingung ke arah putranya yang seolah menjelma menjadi sosok asing di hadapan Tian. Bukannya Meda tidak pernah mau membantunya selama ini. Hanya saja pemuda itu biasanya tidak akan pernah menjadi sosok yang menginisiasi sebuah bantuan tanpa diminta.
"Ini motong buah pakai pisau, bukan motong kayu pakai kapak. Aku juga bisa," jawab Tian ketus karena tidak mau Verdita menilainya dengan label manja akibat mendengar perkataan Meda itu.
__ADS_1
Di sisi lain, Verdita tertawa puas melihat putranya itu tidak bisa membalas perkataan Tian dan hanya mampu menonton dengan khawatir. Verdita ikut mengamati tindak tanduk gadis itu selama menemaninya di dapur. Sebelumnya, ia bertanya mengenai kemampuan memasak Tian dan gadis itu menjawab bahwa sejak tangannya mampu membantu ibunya mengiris bawang tanpa terluka, ia sudah belajar cara memasak.
Awalnya, Verdita berpikir bahwa gadis itu hanya tahu satu dua jenis masakan sebagai "syarat minimal" yang harus dikuasainya untuk terlihat bagus di mata orang tua lelaki yang disukainya. Namun, melihat kelincahan tangan gadis itu saat bekerja di dapur dan caranya melakukan sesuatu tanpa disuruh menunjukkan kalau ia memang menguasai medan tempur yang satu itu. Dalam waktu 10 menit, ia telah menyelesaikan tugas mengupas sekaligus memotong melonnya.
Sambil melempar senyum kemenangan ke arah Meda, gadis itu mengikuti Verdita ke ruang tengah. Di sana, Ruslan sedang duduk sambil menonton televisi. Verdita mengambil tempat di sisi suaminya itu sembari menawarkan sepotong melon yang ditusuknya dengan garpu kecil. Ruslan mengernyitkan keningnya saat mengamati potongan buah di tangannya itu. Dalam sekali lihat saja, ia mengetahui bahwa potongan kecil-kecil pada piring di hadapannya itu berbeda dengan yang biasanya disajikan oleh istrinya. Verdita yang memahami pikiran Ruslan segera menjelaskan.
"Ini yang motong Tian, Yah. Dia kayaknya jauh lebih jago masak daripada Ibu," ujar Verdita sambil mengedipkan satu matanya ke arah Tian.
Tian hampir membantah perkataan Verdita dengan mengatakan bahwa yang dilakukannya tidak lebih dari memotong buah, sehingga sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kemampuan memasak Verdita. Namun, Meda lebih dahulu bersuara dan seolah mendukung pendapat ibunya dengan menceritakan momen saat Tian membuatkan pempek tuna untuknya.
Mata Verdita melebar. "Sini bagi resepnya sama Tante."
Verdita mengangsurkan tangannya pada Tian untuk membawa gadis itu mengikutinya. Keduanya menghilang di balik ruang belajar. Meda memandangi pintu ruang belajar itu seolah takut kalau ia memalingkan pandang sejenak saja, maka ruangan itu akan menghilang dari pandangannya.
"Cantik ya, Med?" Ruslan tiba-tiba membuka suara saat melihat tingkah putranya itu.
Berbeda dengan respon yang biasa ditunjukkannya pada orang lain, termasuk ibunya, Meda menjawab pertanyaan ayahnya itu dengan anggukan jujur. Memiliki sifat yang sama-sama tidak banyak bicara membuat keduanya dekat secara emosional. Hanya kepada ayahnya sajalah, Meda menceritakan kecemasan-kecemasan dan isi hati terdalamnya. Sebaliknya di depan Meda, Ruslan menjelma menjadi sosok orang tua pada umumnya yang memiliki banyak petuah dan pengetahuan kehidupan untuk diwariskan kepada putranya.
Ruslan menggeleng kecil. Sebuah senyum mengembang di bibirnya.
"Ibumu dulu juga seperti Tian. Tenang. Tidak cerewet seperti ini. Namun, coba bayangkan apa jadinya kalau rumah ini dihuni oleh orang-orang yang sedikit bicara hanya karena nyaman dengan kesunyian? Keterbatasan kata memenjarakan banyak rasa, Med. Ayah tidak akan tahu bagaimana cara mengganti popokmu kalau ibumu tidak menjejali otak Ayah dengan manual-manual itu setiap hari. Ayah juga tidak akan mendengar cerita tentang tingkah dan hal baru yang kamu pelajari selama Ayah berada di luar rumah kalau Ibumu bukan orang yang gemar bercerita. Kamu juga tidak akan bisa berbicara sepandai ini kalau Ibu tidak mempersiapkan telinga dan lidahmu untuk mempelajari banyak kata." Ruslan mengecilkan sedikit volume televisi.
"Ibumu sebenarnya juga tidak terbiasa banyak berbicara. Namun, ia mendorong dirinya untuk berubah demi menghadirkan kehangatan di rumah ini. Dan jangan pernah berharap ibumu kembali ke citra dirinya yang dulu. Ibumu sudah bertahun-tahun membiasakan diri dengan pembawaannya yang baru. Malah kelak, ketika kamu sudah berkeluarga, akan ada satu lagi perempuan yang akan menambah keramaian dalam hidupmu. Saksikan sendiri." Ruslan terkekeh menutup penjelasannya.
Meda tersenyum mendengar petuah lain dari ayahnya itu. Ia sama sekali tidak merasa digurui saat menyelami makna di balik cerita itu. Sebaliknya, ia malah bersyukur karena melakukan pembicaraan dengan topik sedalam ini dengan ayahnya. Hal yang secara tak langsung dikaitkannya dengan keberadaan Tian di rumahnya.
Sementara itu, di sisi lain ruangan, Verdita terpekur mendengarkan perbincangan antara suami dan putranya itu. Hatinya larut dalam haru dan syukur karena eksistensi dan kerja keras yang ia lakukan untuk keluarganya diapresiasi seperti itu. Kalau tidak ada Tian di sisinya, wanita itu mungkin akan menangis bahagia. Lucunya, saat melihat ke arah sosok di sisinya itu, ia melihat wajah Tian-lah yang malah banjir dengan air mata. Wajah gadis itu kelihatan memerah dan matanya sedikit bengkak. Entah sejak kapan gadis itu mulai menangis tanpa suara.
Keharuan yang dirasakan Verdita seolah lenyap begitu saja dan digantikan dengan perasaan geli saat melihat wajah sedih Tian yang rupanya tidak kalah menggemaskan dengan ekspresi normalnya. Verdita menarik gadis itu ke arah sofa yang berada di ruang belajar dan memintanya duduk sementara ia mengambil beberapa bongkah balok es dari dalam kulkas kecil yang terletak di ujung ruangan.
Sambil memasukkan beberapa potong es ke dalam sebungkus kain kompres bersih, Verdita mengangsurkan segelas air putih yang langsung dihabiskan oleh Tian dalam sekali tegukan. Tian meraih bungkusan es yang diserahkan Verdita padanya dan mulai mengompres matanya yang bengkak. Verdita menepuk-nepuk punggung Tian yang masih sesenggukan. Sesekali ia mengeluarkan tawa tertahan melihat Tian yang menangisi percakapan itu alih-alih dirinya.
__ADS_1
Suara pintu yang diketuk dari luar memecahkan keheningan di antara keduanya.
"Bu? Sudah selesai belum ngobrolnya? Sudah malam nih, aku mau nganter Tian pulang." Suara Meda terdengar dari balik pintu.
"Sebentar lagi." Tian dan Verdita menjawab dengan timing yang hampir bersamaan.
"Tante, muka aku gimana?" Tian bertanya malu-malu pada Verdita yang langsung tertawa terpingkal-pingkal.
"Kalau maksud pertanyaan kamu adalah apakah kamu kelihatan habis nangis, jawabannya enggak."
Verdita hampir menambahkan bahwa Tian bahkan terlihat cantik meskipun riasannya terhapus oleh air mata dan menampakkan wajah ayu alaminya. Namun, suara ketukan tidak sabar di pintu ruangan mengingatkannya untuk bergegas membiarkan gadis itu pulang.
"Bawa ini." Verdita meletakkan sebuah jurnal tebal—yang tadi dicarinya dari laci meja kerjanya—ke tangan Tian.
"Ini apa Tante?" tanya Tian bingung.
"Buku resep Tante. Karena Tante nggak punya anak gadis, makanya Tante berniat ngasih ini ke calon istrinya Meda."
Wajah Tian kembali memerah mendengar perkataan Verdita. Terbata-bata, ia mencoba mengatakan sesuatu, tetapi Verdita memotong usahanya.
"Tante tahu ini mungkin terkesan buru-buru, tapi Tante mau kamu bisa menganggap ini sebagai hadiah kecil dari Tante, ya?" Verdita menggenggam tangan Tian. "Jadi, kamu nggak perlu merasa terbebani dengan semua ini. Tante sudah cukup bahagia ketemu sama perempuan pertama yang dibawa Meda ke rumah."
Tian berencana memastikan ucapan Verdita mengenai topik "perempuan pertama" itu. Namun, ketika pintu ruang belajar di belakangnya terbuka lebar, Tian tahu bahwa misteri itu tidak akan terselesaikan malam ini.
Meda mengantar Tian pulang sampai ke depan pintu rumahnya, sehingga ia bisa meminta maaf langsung kepada kedua orang tua Tian atas keterlambatannya.
Adler yang sempat uring-uringan selama 15 menit terakhir, pada akhirnya tidak sampai hati memarahi pemuda yang mengucap kata maaf berkali-kali seolah yang dilakukannya adalah kesalahan yang amat fatal. Well, beberapa saat lalu, Adler memang sempat mengategorikan pelanggaran yang dilakukan oleh Meda itu sebagai hal yang sangat krusial. Namun, saat melihat ketulusan pemuda itu, akhirnya ia mengakui bahwa terlalu berlebihan rasanya jika dirinya terus mencoba mencari-cari kesalahan pemuda itu.
Meda baru pulang setelah Adler melemparkan senyum mengerti sembari meyakinkan pemuda itu bahwa ia tidak akan mempermasalahkan kejadian tersebut. Setelah Meda pergi, Adler berencana menginterogasi putrinya sebagai gantinya. Namun, gadis itu meluncur dengan cepat ke arah kamar Adler dan menghambur ke pelukan Bella. Sambil berlinang air mata, ia menceritakan potongan-potongan percakapan antara Ruslan dan Meda yang tidak sengaja didengarnya dari ruang belajar itu.
Adler yang sempat panik melihat putrinya menangis itu akhirnya hanya bisa bertukar pandang penuh arti dengan sang istri. Sekali lagi, ia dipaksa mengakui bahwa membiarkan Meda dekat dengan putri sulung mereka benar-benar bukanlah keputusan yang salah.
__ADS_1