
Meda tak banyak bicara selama sisa perjalanan ke wahana-wahana lainnya. Saat ini, ia dan Tian berada di sebuah rumah hantu yang terletak di tengah area taman bermain. Keduanya berpisah dengan keempat orang lainnya setelah insiden di antrian stand makanan itu. Tian sendiri tidak berani bersuara untuk membuka percakapan dengan Meda.
Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin dikatakannya kepada pemuda itu untuk sedikit menjernihkan insiden tersebut, tetapi ia bingung harus memulai dari mana. Dari pengakuan bahwa ia memang pernah memiliki perasaan spesial pada Afgar, teman masa kecilnya itu di masa lalu ataukah fakta bahwa ia baru mengetahui tentang perasaan Afgar kepadanya hari ini. Kedua penjelasan tersebut terasa tidak tepat untuk keluar dari bibirnya saat itu. Tepatnya, tidak ada cara yang tepat untuk mengangkat kembali topik itu tanpa membangkitkan perasaan tak nyaman di antara keduanya. Perasaannya di masa lalu itu seolah menjadi dosa besar yang sengaja disembunyikannya dari Meda. Padahal, Tian tidak pernah menceritakannya karena ia tidak melihat alasan yang membuatnya merasa perlu membagikan rahasia terdalamnya itu kepada Meda.
Perjalanan menuju pintu keluar terasa sangat mencekam bagi Tian. Bukan karena beberapa hantu jadi-jadian yang berulang kali menghampiri dan mencoba menerornya, melainkan karena aura dingin yang terpancar dari punggung Meda. Tian tahu bahwa cepat atau lambat Meda akan memulai pembicaraan, sementara dirinya masih belum menemukan alasan yang tepat untuk menjelaskan posisinya. Waktu yang mereka habiskan dalam diam memiliki dua efek yang saling bertentangan pada diri Tian. Di satu sisi, ia lega karena memiliki lebih banyak waktu untuk menerka-nerka pertanyaan yang akan keluar dari bibir Meda dan jawaban terbaik untuk meresponnya, tetapi di sisi lain pikiran tentang banyak hal yang tak terprediksi membuatnya semakin didera kecemasan.
Untungnya, atau sialnya, saat mereka menginjakkan kaki di luar bangunan rumah hantu itu, hujan turun dengan sangat lebatnya. Meda segera menangkap pergelangan tangan Tian dan menariknya berlari ke bawah sebuah beringin besar yang berada di dekat mereka. Meskipun besar, beberapa orang yang sudah terlebih dulu bernaung di bawah pohon itu membuat keduanya tidak mendapat perlindungan berarti dari tetesan hujan yang disertai angin itu. Tian masih beruntung karena tubuhnya berada di bagian yang cukup rimbun, tetapi Meda yang jauh lebih jangkung terpaksa sedikit membungkuk di depannya dan mengorbankan punggungnya untuk terkena tetesan air. Jaket boomber milik Meda tergantung di pundak Tian sejak keduanya berlari menembus hujan.
Tian mendongakkan kepalanya, mencoba melihat ekspresi yang ditunjukkan pemuda itu. Namun, pemuda itu memalingkan wajahnya untuk mengamati tetesan hujan yang jatuh semakin lebat, membuat Tian hanya berhasil melihat garis rahangnya yang tegas membingkai wajah tampan Meda. Tian menggelengkan kepalanya cepat-cepat, mencoba mengembalikan fokusnya kepada hal-hal yang semestinya ia khawatirkan daripada terhanyut dalam kekagumannya atas pesona Meda. Namun, lagi-lagi mata Tian mengkhianati perintah otaknya dan terus memelototi setiap inci bagian wajah Meda yang bisa dilihatnya.
"Sepertinya hujannya nggak akan berhenti dalam waktu dekat." Meda tiba-tiba menundukkan wajahnya, membuat matanya menangkap arah tatapan Tian.
Normalnya, ia akan menggoda Tian habis-habisan karena tingkahnya itu. Namun, kegelisahan yang menghantui kepalanya semenjak beberapa menit lalu itu membuatnya tidak berselera untuk memikirkan hal lain selain bagaimana cara untuk secepat mungkin memulai pembicaraan panjang dengan Tian guna membahas insiden yang terjadi sebelumnya.
"Kita pulang sekarang, ya?" tawar Meda.
Tian buru-buru mengangguk, tetapi saat ia berniat mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari lindungan pohon, Meda menahan lengannya kembali. Pemuda itu tidak mengatakan apa-apa untuk membalas tatapan heran dari Tian. Sebagai gantinya ia meraih jaketnya dari bahu Tian dan membimbing gadis itu untuk memakai jaketnya dengan benar. Begitu selesai memastikan bahwa perlindungan yang diperoleh gadis itu sudah maksimal, ia kembali meraih tangan gadis itu dan menembus hujan untuk kedua kalinya.
Sesampainya di mobil, Meda segera membuka pintu belakang mobilnya dan memberi isyarat pada Tian untuk masuk. Tian menuruti perintah pemuda itu sekalipun kebingungan. Saat Meda sudah duduk di kursi kemudi, barulah ia bersuara untuk menjawab kebingungan Tian.
"Kamu ganti saja atasan kamu yang basah dengan kaos punyaku di jok belakang. Aku akan nunggu di luar, kalau sudah selesai ganti baju kamu pindah ke kursi depan dan tekan klaksonnya, ya?" perintah Meda cepat sembari bersiap membuka pintu kemudi.
Otak Tian, yang sudah memproduksi protes-protes keras karena gambaran dirinya berganti pakaian di kursi belakang mobil laki-laki yang bahkan belum resmi menjadi kekasihnya itu terlewat absurd untuk sekedar dibayangkannya, akhirnya memberikan perintah lain saat melihat pemuda itu berniat membuktikan ucapan terakhirnya. Tangan Tian bergerak cepat menahan lengan Meda sesuai perintah otaknya.
"Kenapa? Kaosnya nggak ada?" tanya Meda bingung.
"Hujannya deras banget. Jadi, kamu nggak usah nunggu di luar. Kamu cukup tutup spion samping dan spion tengah kamu aja."
Jika bukan Tian yang mengatakan hal itu, Meda pasti sudah salah paham menerjemahkan perkataan gadis itu dengan artian yang tidak semestinya. Hanya saja karena ia sudah mengenal watak gadis itu dengan baik, ia tahu benar bahwa gadis itu sungguh-sungguh mengatakan hal tersebut karena khawatir dengan keadaannya. Tetap saja, ia tidak bisa menuruti permintaan Tian. Bajunya sudah terlanjur basah dan berdiri di tengah hujan sebentar lagi saja tidak akan memberikan banyak perbedaan baginya. Ia keluar dari mobil setelah menghabiskan waktu beberapa menit untuk berdebat dengan Tian.
Saraf-saraf di tubuh Meda menegang saat hujan kembali menerpa tubuhnya. Ia berlindung di bawah atap yang menjorok dari sebuah pos kecil di salah satu sudut lahan parkir tersebut. Hal yang pertama dilakukannya saat mencapai tempat tersebut adalah memeriksa mendung di langit. Waktu masih menunjukkan pukul dua siang, tetapi awan pekat yang menggantung di langit membuat Meda hampir mengira bahwa arlojinya terlambat sebanyak hampir 3 jam.
Suara klakson dari mobilnya yang berbunyi beberapa menit kemudian membuat Meda bergegas kembali ke mobilnya. Tian sudah mengganti pakaiannya dan duduk menempati kursi penumpang di sebelahnya. Gadis itu melempar tatapan prihatin saat melihat tak ada satu inci pun bagian tubuh pemuda itu yang bebas dari sentuhan hujan. Meda hanya bisa membalas tatapan khawatir yang diberikan gadis itu dengan sebuah senyuman tipis.
__ADS_1
"Nontonnya kita tunda lain kali, ya?" Meda kembali membuka suara setelah hampir seperempat jam keduanya tenggelam dalam keheningan.
Tian mengalihkan pandangannya dari jalanan dan menatap ke arah Meda seolah tengah mencoba menemukan keseriusan dari pernyataannya. Saat ia tak berhasil memperoleh jawaban apa pun, ia menyuarakan isi kepalanya.
"Yakin masih ada lain kali?" tanya Tian sangsi.
"Apa maksud kamu?" tanya Meda bingung.
Tian bisa melihat kernyitan yang muncul di dahi pemuda itu sekalipun wajahnya sedang terarah lurus ke jalanan di depannya.
"Kamu nggak lupa sama kejadian siang tadi, 'kan?" Tian balik bertanya.
Meda tidak memberikan jawaban sampai ia membelokkan mobilnya di pertigaan.
"Soal kamu dan Afgar yang sama-sama suka itu?"
"Pernah." Tian mengoreksi.
"Pernah," ulang Meda.
"Aku punya banyak hal untuk dibicarakan sama kamu, Tian. Namun, aku masih mempertimbangkan apakah aku pantas mengutarakan semua pertanyaan di benak aku itu kepada kamu," jelas Meda sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya.
"Maksud kamu apakah AKU pantas untuk menerima semua pertanyaan dari kamu itu?" tukas Tian. Tak sekalipun tatapannya berpaling dari Meda.
"Sekarang aku yang nggak paham apa maksud kamu."
Meda mencoba mengerling ekspresi yang kini ditunjukkan oleh Tian, tetapi itu tidak mudah karena ia tak berani melepas pandangannya dari jalanan.
"Kamu pasti kecewa dan ragu sama aku waktu denger omongan temenku tadi, 'kan? Kamu pasti menyesal pernah suka sama cewek plin-plan yang dengan mudahnya pindah ke lain hati kayak aku."
Mata Tian mulai berkaca-kaca saat mengatakan semua itu. Apalagi saat mengira respon Meda yang tidak mau menatap balik ke arahnya adalah cara dirinya menunjukkan bahwa ia telah kehilangan ketertarikan pada Tian.
"Mudah pindah ke lain hati? Are you?" tanya Meda.
__ADS_1
"Hell, no!" seru Tian.
"Ya sudah. That's it," tandas Meda.
"Kamu percaya semua ceritaku begitu saja itu sudah pertanda kalau kamu malas bicara panjang lebar sama aku."
Tian masih mencoba membuat Meda mencurahkan segala emosinya. Entah itu positif atau negatif, Tian sudah siap melihat ke mana pertengkaran itu akan membawa hubungan mereka. Ia paling tidak tahan berada dalam sebuah permasalahan yang tak jelas ujungnya.
"Inilah alasan aku nggak mau mengangkat topik ini sekarang, Tian. Kamu dan aku perlu mendinginkan kepala. Bukan dengan hujan, tapi dengan istirahat di rumah dan mencari timing yang lebih tepat."
Meda mendesah. Berbeda dengan Tian yang selalu bisa mengambil keputusan tanpa menyesal kemudian, Meda memiliki watak yang sedikit impulsif saat dirinya sedang dalam kondisi emosional. Karenanya ia perlu waktu selama beberapa hari untuk membekukan suatu masalah sekaligus memberi kesempatan otaknya untuk mempertimbangkan banyak aspek kehidupannya sebelum mengambil keputusan.
"Kenapa aku merasa bahwa ini adalah cara kamu untuk berpamitan sebelum menghilang dan nggak ngasih kabar?" Tian mendengus sinis.
"Tian, aku serius saat bilang aku perlu waktu untuk memikirkan baik-baik jawaban apa yang ingin aku dengar dari kamu. Namun, kalau kamu penasaran dengan bagaimana perasaan aku saat mendengar fakta yang diungkapkan oleh temen kamu tadi, jawabannya adalah marah. Kepada siapa? Kepada takdir yang terlambat mempertemukan aku sama kamu. Absurd? Kekanakan? Memang! Itulah kenapa aku memilih diam untuk saat ini. Aku sedang mencari cara untuk menyelamatkan perasaan kita berdua."
"Kamu tahu pertanyaan apa yang berulang kali terlintas di benak aku? Bagaimana," Meda menelan ludah, "bagaimana kalau kamu sampai mendengar fakta itu sebelum kamu bertemu aku? Bagaimana kalau ternyata saat mendengar hal ini, perasaan kamu ke Afgar itu kembali?"
"Itu yang mau aku dengar, Med. Perasaan kamu yang sebenarnya. Sehingga aku bisa meyakinkan kamu kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang perasaanku di masa lalu," balas Tian.
"Itu hanya garis besar perasaanku dan aku tidak bisa diyakinkan dengan satu kalimat sesederhana itu. Aku perlu tahu tentang pangkal dan ujung cerita itu. Aku mau dengar semuanya, tapi tidak hari ini. Kita berdua sama-sama butuh cooling down session," tandas Meda tegas.
Tian merapatkan bibirnya, mencoba menelan kembali semua kata-kata yang hampir meluncur dari lidahnya. Cara Meda menatap jalanan di hadapannya seolah menjadi penanda bahwa ia tidak akan menanggapi perkataan apa pun yang keluar dari mulut Tian berikutnya. Akhirnya, Tian menyandarkan kepalanya kembali di punggung kursi sambil memejamkan matanya. Keduanya tak lagi bersuara sampai tiba di rumah Tian. Meda hanya berhenti sampai di beranda dan menolak ajakan Bella untuk masuk ke ruang tamu dengan alasan bajunya yang basah.
Tian menyentuh lengan Bella sekilas saat ibunya itu berniat terus membujuk Meda. Bella menangkap pandangan penuh arti yang diberikan oleh Tian dan langsung mengurungkan niatnya. Instingnya dengan cepat menangkap jejak-jejak pertengkaran di antara keduanya. Akhirnya, ia melepas kepergian Meda dengan tenang. Saat memasuki rumah pun, Bella menahan diri untuk tidak menuntut putrinya itu untuk memberi tahunya detail pertengkaran keduanya. Yang ia tahu, dirinya di masa muda pun tak suka saat orang tuanya mencoba untuk memonitor segala aspek dalam kehidupannya. Tian naik ke kamarnya segera setelah meminta Bella untuk membangunkannya dua jam kemudian.
Sesampainya di kamar, Tian langsung melepas jeans-nya yang basah dan melemparkan potongan kain itu ke dalam sebuah keranjang pakaian kosong. Ia lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Kaos milik Meda yang dipakainya itu memiliki panjang yang menutupi setengah paha atasnya. Tian menghela napas saat memikirkan bahwa kaos itu mungkin menjadi benda yang ditinggalkan oleh Meda untuknya sebagai hadiah perpisahan. Ia tengah mencoba menimbang-nimbang bagaimana cara memperlakukan benda itu jika Meda benar-benar tidak menghubunginya lagi, ketika ponselnya membunyikan notifikasi tanda pesan masuk.
Tian meraih ponsel dari dalam tasnya dan membaca balasan pesan dari Hera saat dirinya berpamitan pulang karena hujan yang diperkirakannya tidak akan reda dalam waktu dekat. Hera memberitahukan bahwa ia juga terpisah dengan Safira setelah masing-masing menaiki komidi putar bersama pasangannya masing-masing. Tian mempertimbangkan apakah ia harus menceritakan mengenai insiden yang terjadi berkat pertemuannya dengan Elmira. Hera bersama dengan Safira dan Alvin memang telah terlebih dahulu meninggalkan antrian setelah memperoleh pesanannya masing-masing, sehingga ketiga orang tersebut sama sekali tidak tahu-menahu mengenai insiden yang terjadi siang tadi.
Setelah hampir sesorean mengatasi kebimbangannya, Tian akhirnya memutuskan untuk men-dial kontak Hera pada malam hari. Gadis itu mengangkat teleponnya pada deringan kedua. Setelah sejenak berbasa-basi mengulang segala hal yang terjadi seharian itu baik sebelum maupun sesudah mereka berpisah, Tian akhirnya menceritakan alasan sebenarnya yang membuat dirinya menghubungi Hera. Terlepas dari segala kehebohan yang disuarakan Hera sebagai respon atas setiap bagian dalam ceritanya, gadis itu memberikan dukungan dan nasihat yang cukup membuat stres di kepala Tian berkurang.
"Untuk sementara, kamu fokus aja sama hubungan kamu dengan Meda. Soal Afgar, nanti aku yang coba bicara sama dia. Aku juga mau ngomong sama Alvin kalau dia sudah bisa diajak ngobrol serius. Nggak mungkin dia nggak tahu apa-apa soal perasaan Afgar ke kamu."
__ADS_1
Seperti halnya Hera yang menjadi tempat curhat bagi Tian, Afgar juga menjadikan Alvin sebagai pendengar terbaik bagi semua isi hati terdalamnya. Karenanya, Hera sedikit gemas karena Alvin tidak memberitahukan mengenai fakta itu kepadanya sejak dulu. Sedikit. Karena memang tidak ada gunanya menyalahkan ketidaktahuan mereka di masa lalu.
Kedua gadis itu akhirnya melanjutkan perbincangan mereka ke banyak hal lain untuk mencairkan tekanan yang mereka rasakan setelah sebelumnya membahas topik yang cukup serius. Hampir dua jam waktu yang mereka habiskan untuk berbincang sebelum akhirnya sepakat untuk mengakhiri sesi panggilan karena kantuk yang mulai mendera.