
Afgar memasukkan sebuah binder besar ke dalam ranselnya sebelum berjalan ke arah ruang makan. Sambil mengeluarkan ponsel dari saku belakang celana chino cokelatnya dan meletakkannya di atas meja makan, Afgar memandang sosok Tian yang kini tengah sibuk mondar-mandir di antara ruang luas di dapur apartemennya. Gadis itu juga tengah menatapnya dan seolah sedang memberikan pandangan penuh penilaian pada penampilan Afgar.
"Udah oke, kan?" tanya Afgar menuntut ketika Tian hanya melempar seringai tipis penuh arti sebelum kembali berkutat dengan masakannya.
"Iya, iya, keren. Dasar tukang pamer!" celetuk Tian sambil terkekeh pelan.
"Pamer gimana?" tanya Afgar tak mengerti.
"Ya, mentang-mentang cakep," kata Tian lagi sambil kembali tertawa geli mendengar dirinya sendiri yang ikut memuji penampilan sahabatnya itu.
"Makasih, lho!" seru Afgar sedikit keki.
Afgar menganggap pujian yang diberikan oleh Tian hanya upayanya untuk menggoda dirinya.
"Serius, eh!" kata Tian saat melirik bibir Afgar yang sedikit mencebik. "Kamu udah kayak orang yang mau blind date daripada mahasiswa yang mau ngampus."
"Tuh kan nyindir."
"Enggak, ih, dengerin. Maksudku kamu itu keren banget. Nggak bakalan kalah sama agan-agan asli Bandung yang katanya bening-bening," kata Tian sambil membawa sepiring besar penuh udang balado ke atas meja.
"Siapa juga yang mau cakep-cakepan sama mahasiswa lain di kampus. Aku ini mau kuliah bukan mejeng," balas Afgar sambil segera menyendok seporsi besar isi piring yang baru saja diletakkan Tian di tengah meja. Aroma masakan gadis itu membuat perutnya yang biasanya baru minta diisi di atas pukul 13.00 itu, berbunyi nyaring bahkan sebelum waktu menunjukkan pukul 7 pagi.
"Enak nggak?" tanya Tian sambil menopangkan dagunya dengan kedua tangan.
__ADS_1
Afgar mengacungkan ibu jari tangan kanannya ke samping wajahnya sebagai respon. Tian tersenyum senang sebelum bangkit kembali dari kursinya dan berjalan ke arah kamar Afgar. Berbeda dengan biasanya, Afgar tidak melarang Tian memasuki ruangan apa pun di apartemennya. Padahal, di rumahnya saja, Afgar tidak pernah mengizinkan siapa pun selain seorang asisten rumah tangga yang juga pernah menjadi pengasuh dirinya saat kecil untuk memasuki kamarnya.
Afgar memang tidak terlalu mudah mempercayai orang lain, bahkan keluarganya sendiri. Ayahnya mengajarkan kepadanya bahwa orang yang bisa dipercayanya hanyalah orang yang bisa ia pegang kelemahannya sehingga dirinya bisa memainkan kartu itu untuk membuat orang tersebut menjaga rahasianya. Namun, semakin dewasa, Afgar mengembangkan intuisinya sendiri dan memilih orang-orang yang bisa dikecualikannya dari prinsip yang diajarkan oleh ayahnya itu. Tentu saja, Tian ada di antara orang-orang tersebut.
Tian keluar dari kamar Afgar sambil membawa tumpukan pakaian, selimut, dan seprai miliknya. Ia menatap Afgar dengan mata disipitkan seolah tengah mengira-ngira bagaimana cara Afgar membuat kekacauan seperti itu di kamarnya sendiri. Setelah menyelesaikan makannya, Afgar mencuci piringnya dan menyusul Tian yang sedang berdiri di depan mesin cuci pada laundry room apartemennya sambil membaca sebuah teks digital berformat PDF di ponsel pintarnya.
"Nggak sarapan?" tanya Afgar membuat Tian berjengit. Gadis itu terlalu tenggelam dalam konsentrasinya sampai tidak merasakan kehadiran Afgar di ruangan kecil tersebut.
"Aku udah sarapan di rumah tadi," jawab Tian sambil meletakkan ponselnya di saku celana jeansnya dan menguras air dari dalam mesin cuci yang sudah berhenti beroperasi.
"Kamu udah selesai kan makannya?" tanya Tian, kali ini sambil berjalan keluar dari ruangan laundry.
"Udah," jawab Afgar singkat.
"Piringnya ke mana?" teriak Tian dari arah dapur.
"Piring apa?" tanya Afgar sambil buru-buru melangkah ke arah dapur.
"Piring bekas makan kamu tadi," jawab Tian sambil mengarahkan pandangannya secara bergantian ke arah Afgar lalu ke arah meja tempat Afgar duduk saat makan tadi.
"Itu udah aku cuci," kata Afgar sambil mengedikkan kepalanya ke arah sebuah rak piring yang berada di dekat wastafel.
Tian berjalan ke arah rak tersebut dan mengambil sebuah piring yang kelihatan masih basah. Setelah memastikan Afgar mencuci piringnya dengan bersih dan tidak meninggalkan bekas apa pun termasuk bekas sabun cuci, Tian mengambil sebuah kain lap dan bersiap mengusap permukaan piring yang basah itu.
__ADS_1
"Kalau masih basah tuh piringnya dikeringin kayak gini dulu, Gar. Biar keramik counter kamu nggak lembap kena tetesan air dari piring yang abis dicuci ini," titah Tian.
Afgar bergerak mendekati Tian dan meraih piring dan kain lap dari tangan gadis itu, lalu mulai mengeringkan piringnya sesuai dengan instruksi Tian.
"Kayak gini?" tanya Afgar sambil menatap langsung ke arah mata Tian seolah tengah menantang gadis itu untuk mengkritik pekerjaannya.
Tian merespon pertanyaan Afgar itu dengan mengacungkan kedua ibu jarinya. Ia lalu berjalan kembali ke arah meja makan dan menutup sisa makanan di meja dengan kertas minyak dan tudung saji. Setelahnya, ia kembali ke laundry room.
Afgar duduk di ruang tengah apartemennya dan menyalakan TV plasma miliknya sembari menunggu Tian menyelesaikan cuciannya. Sebuah berita mengenai virus Corona yang sedang menjangkiti masyarakat di beberapa negara lain, menarik perhatian Afgar dengan segera. Saking tersedotnya fokus Afgar, pemuda itu sampai tidak menyadari kehadiran Tian yang sudah selesai menjemur cuciannya dan mencoba menarik perhatian Afgar dengan cara mencolek sisi kiri tubuhnya. Nyatanya, hal itu pun tetap membuat Afgar bergeming.
Bahkan sampai topik pemberitaan berganti, alih-alih merespon tindakan Tian untuk mengajaknya berbicara, Afgar malah mengeluarkan ponselnya. Afgar memeriksa jadwal perjalanan bisnis agensi milik ayahnya dan memeriksa sejarah perjalanan selama beberapa bulan sebelum dan sesudah kabar mengenai virus Corona tersebar. Ia bersyukur bahwa tidak ada sejarah penerbangan ke Cina sebelumnya, sehingga staf di perusahaan mereka bisa dibilang aman dari paparan virus tersebut.
Lain cerita dengan proposal perjalanan bisnis bulan depan yang salah satu di antaranya mengajukan rencana kolaborasi dengan agensi di Cina. Mau tak mau, agensi ayahnya harus menangguhkan proposal yang satu itu. Penangguhan itu sebenarnya adalah sebuah masalah besar karena kabarnya proposal tersebut punya peluang kesuksesan dan profit yang besar. Karenanya, Afgar, sebagai salah satu penyusun strategi dalam perkembangan bisnis ayahnya, harus memutar otak demi menyusun rencana alternatif untuk menggantikan proposal tersebut.
Afgar mencoba menggali basis data jaringan yang dimilikinya dan akhirnya menemukan beberapa alternatif untuk ditinjau. Ia segera mengirimkan sebuah pesan singkat kepada sekretaris ayahnya dan meminta laki-laki itu agar menyiapkan waktu untuk melaksanakan rapat dengan para eksekutif. Afgar berjanji akan mengirimkan email berisi data yang dimilikinya setelah ia menyusun informasi yang pernah dikumpulkannya secara acak itu.
Setelah berhasil merencanakan langkah-langkah yang akan dilakukannya dengan sistematis, mata Afgar mencari-cari sosok Tian. Gadis itu sudah siap keluar dari apartemennya dengan jaket, sepatu, dan ransel melekat di tubuhnya.
"Kelas kamu bukannya jam 08.30?" tanya Afgar sambil memeriksa jam di dindingnya yang masih menunjukkan pukul 07.45.
"Ya, aku nggak mau telat," jawab Tian sambil membuka pintu apartemen Afgar.
Afgar buru-buru mematikan televisinya dan meraih kontak mobil serta ranselnya dari atas meja.
__ADS_1