
Tian memandangi pantulan dirinya di cermin dengan senyum terkembang. Floral print dress yang dikenakannya kini adalah pakaian kedua yang ia coba. Pakaian yang sebelumnya ia kenakan adalah chain trim dress berwarna hitam dengan panjang semata kaki. Namun, beberapa menit setelah memakai gaun tersebut, Tian langsung merasa bahwa ia akan terlihat overdressed.
Tian kerepotan seperti itu bukan tanpa alasan. Hari ini adalah hari ketiga sejak kepulangannya dari Kuba sekaligus hari pertemuan pertamanya dengan Meda di Indonesia. Sesuai dengan janjinya, Meda menghubungi Tian dan meminta izin untuk berkunjung ke rumahnya. Pemuda itu beralasan ingin "memeriksa" koleksi novel Agatha Christie di perpustakaan milik Tian.
Tian sendiri sudah bersiap-siap sejak tadi malam. Ia membersihkan setiap sudut ruangan perpustakaan yang jarang dimasuki siapa pun selain Tian.
Tian memang sudah tidak menghabiskan banyak waktu di perpustakaan pribadinya itu sejak 3 tahun lalu. Sejak Tian duduk di kelas dua belas, ia mengarahkan fokusnya di beberapa kursus bimbingan belajar hingga privat untuk mempersiapkan dirinya menghadapi ujian nasional. Sayangnya, hingga Tian berkuliah dan bertemu dengan orang-orang baru, ia semakin tidak punya waktu untuk berkunjung ke perpustakaan itu. Ditambah pula dengan kesibukannya di berbagai organisasi kampus. Semakin terlupakanlah ruangan penuh buku itu.
Barulah ketika koleksi novel Agatha Christie yang dicarinya sejak kelas sebelas itu akhirnya lengkap, Tian kembali mengunjungi ruangan tersebut. Bahkan saking merindukan hobi lamanya itu, Tian membawa satu tas penuh novel-novelnya terbang ke Kuba. Tian bersyukur karena ia melakukannya. Kalau ia tidak membawa novel itu bersamanya, ia tidak akan memulai percakapan apa pun dengan Meda. Dan tanpa percakapan itu, sampai akhir mungkin Meda akan menilainya sama dengan gadis kaya manja lain yang pernah ditemuinya.
Tian menyudahi lamunannya sebelum meluncur ke ruang tamu. Tidak lupa diraihnya salah satu novel karya Agatha Christie lainnya yang semalam ia bawa ke kamar. Meskipun Meda sudah tahu kalau Tian bukan penggemar Agatha Christie, Tian tetap ingin mencari bahan pembicaraan dengan Meda mengenai topik tersebut. Tian sangat menyukai momen saat Meda banyak berbicara. Hal yang sangat jarang terjadi sebenarnya, mengingat Meda memang tipe orang yang sangat tertutup. Karena itulah, Tian ingin menggunakan kesempatan ini untuk melempar lebih banyak pertanyaan demi mengenali pemuda itu lebih jauh.
Diro yang melihat putri majikannya sudah kelihatan cantik dalam gaun dan dandanan tipisnya di waktu sepagi itu, menebak bahwa gadis itu tengah menunggu kedatangan pemuda asing bernama Meda yang pernah diantarkannya pulang itu. Tian memang menceritakan niat pemuda itu untuk berkunjung hari ini. Diro sebenarnya ingin menginterogasi lebih jauh mengenai tujuan kedatangan Meda dan banyak hal mengingat pertemuan pertama dengan pemuda itu tidak memberinya banyak kesempatan untuk menilai kepribadiannya. Namun, karena khawatir tindakannya akan memberi tekanan pada Tian, ia memutuskan untuk mengamati sendiri pemuda itu dari jauh.
Tepat setelah Diro memikirkan hal itu, suara intercom di ruang tamu yang tersambung dengan pagar depan berbunyi. Tian bergegas menjawab dan memberi instruksi pada penjaga pagar depan agar mengizinkan Meda yang menunggu di depan pagar untuk masuk. Tian membuka pintu depan rumahnya lebar-lebar sambil mengamati sebuah motor sport Yamaha yang melaju dengan kecepatan sedang sebelum berhenti tepat di depan beranda rumahnya.
"Langsung ke sebelah aja parkirnya," kata Tian sembari menunjuk ke arah kanan rumah, tempat garasi berpintu otomatis berada.
Meda memutar motornya dan menunggu sampai panel geser itu terbuka. Saat memasuki ruangan garasi itu, Meda tidak bisa menahan diri untuk tidak terkagum-kagum dengan interior garasi yang didominasi oleh warna cokelat tua. Garasi itu seluas balkon belakang rumahnya yang merupakan ruangan paling lapang karena digunakan sebagai tempat berkumpul saat keluarga besarnya berkunjung atau ketika ibunya mengadakan jamuan tertutup bagi kliennya. Melihat cara sang desainer menata ruangan itu membuat Meda bahkan rela mengabaikan nominal rupiah yang harus dikeluarkan untuk memperoleh interior serupa.
"Hei!" sapa Tian yang keluar dari sebuah pintu di depan tangga dalam garasi itu. "Selamat datang di ruangan favorit papaku."
Tian yang melihat cara Meda memandangi interior ruangan itu menjelaskan lebih lanjut bahwa ruangan tersebut dibangun dan didesain sendiri oleh Adler sehingga memberikan kesan nyaman seolah sedang memasuki bagian rumah yang hangat sekaligus privat.
"Kalau aku punya ruangan seperti ini di rumah, aku yakin ruangan itu juga akan menjadi tempat kedua yang paling sering aku kunjungi di waktu senggang." Meda masih tidak bisa membebaskan diri dari pesona ruangan itu ketika Tian membimbingnya menaiki tangga untuk menuju ke ruang tengah rumahnya.
Ruangan itu memberikan pemandangan yang tidak kalah menakjubkan dengan ruangan yang sebelumnya dilihat oleh Meda. Ruangan itu juga diisi dengan komposisi warna cokelat yang dominan di dinding boiserie dan beberapa perabotan dari anyaman. Ada pula warna putih yang menghiasi sisa perabotan lainnya dan kelambu-kelambu yang menutupi jendela. Lampu gantung berkilauan di langit-langit ruangan yang tinggi menjadi focal point bagi ruangan bergaya glamor itu. Sekali lagi, nominal yang harus dikeluarkan untuk mendesain ruangan tersebut tidak menjadi hal pertama yang terlintas di kepala Meda saat melihatnya. Tampaknya, ayah Tian memang cukup piawai mengemas sesuatu bukan hanya dari sisi harga saja, melainkan juga estetika.
"Sudah siap meluncur ke tujuan utama kita?" Tian menyeringai lebar melihat Meda yang lagi-lagi mematung saat memasuki ruangan.
Meda mengedipkan matanya cepat-cepat sebelum melempar senyum tipis pada gadis itu. Di bawah penerangan lampu gantung di ruangan tersebut, ia baru menyadari penampilan anggun Tian dengan gaun motif bunga-bunga dan riasan tipisnya. Ya, sekeras apa pun Tian mencoba menutupinya, Meda bisa mengenali riasan yang menghiasi wajah manisnya itu. Jenis riasan yang dilihatnya setiap hari di wajah ibunya.
__ADS_1
Ibu Meda bisa dibilang awet muda karena kecantikan masa gadisnya itu tidak lekang di makan zaman sekalipun usianya sudah hampir mencapai setengah abad. Karena itu, ibunya selalu tampil dengan riasan seadanya meskipun menghadiri event-event yang sifatnya resmi. Di samping itu, ibunya juga tidak mau menggunakan riasan berlebihan untuk mengurangi keriputnya karena itu akan membuat ia semakin terlihat tidak cocok berada di samping suaminya yang menua sesuai dengan usia yang seharusnya.
Meda selalu mengagumi ibunya karena alasan yang satu itu. Ibunya yang bermental baja, tetapi memiliki hati yang lembut dan setia kepada keluarganya. Anehnya, melihat Tian saat ini membuatnya mengingat ibunya. Meda buru-buru membuang muka ketika menyadari pikiran tersebut melintas di kepalanya.
Diro yang mengintip interaksi keduanya dari arah dapur yang bersebelahan dengan ruangan itu hanya bisa tersenyum-senyum sendiri. Pemuda bernama Meda itu cukup sopan, menurutnya. Jika ia berada di usia dan posisi yang sama dengan pemuda itu, ia yakin bahwa dirinya tidak akan bisa menahan diri saat melihat gadis secantik Tian memiliki ketertarikan padanya. Menurutnya, cara pemuda itu mengalihkan tatapannya untuk menolak godaan kecantikan putri sulung majikannya alih-alih mencoba melakukan kontak fisik itu saja sudah menunjukkan bahwa pemuda itu layak dipertimbangkan menjadi kandidat calon menantu keluarga Adler. Meskipun hal tersebut adalah wewenang kepala keluarga ini, Diro sudah bersiap untuk memberikan restu jika memang ada yang menanyakan pendapatnya.
Diro memutuskan untuk tidak memata-matai keduanya lebih jauh ketika muda-mudi itu bergerak menuju ke ruang baca di lantai dua dengan Tian berjalan di depan dan Meda yang masih menjaga jarak aman saat membuntuti langkah gadis itu. Ruang baca milik keluarga Adler cukup unik ... dan mewah, tentu saja. Sekalipun terdiri dari dua lantai, yang lantai satunya mengambil tempat di sebagian kecil bangunan lantai bawah, ruangan itu hanya bisa diakses melalui lantai dua. Sebab, lantai pertama hanya diperuntukkan sebagai tempat untuk melepas kejenuhan tanpa meninggalkan ruang baca. Dinding ruangan itu merupakan gradasi dari warna hitam dan abu-abu pekat, membuat ruangan itu memancarkan aura misterius, serius, sekaligus tenang.
"Ini semua novel-novelnya Agatha." Tangan Tian bergerak naik turun di beberapa baris rak yang berisi koleksi novel pengarang misteri terkenal itu.
Meda meraih sebuah buku dengan cover putih tebal. Salah satu novel terbaik karya Agatha Christie yang berjudul At Bertram's Hotel terbuka di hadapannya. Meda memiliki buku cetak serupa. Namun, karena ia membelinya di toko barang bekas, sampul buku yang dimilikinya itu berwarna kuning kecokelatan saking usangnya usia buku itu. Tian berjalan ke sisi lain rak dan mengambil buku lain saat Meda mulai tenggelam dalam bukunya.
Tiga jam berlalu dan kedua orang tersebut hanyut dalam kediaman yang nyaman. Tian yang pertama bergerak dari posisi diamnya dan melihat waktu yang ditunjukkan oleh layar ponselnya. Pukul 11 siang dan Meda masih tidak bergeser sedikit pun dari mejanya yang dipenuhi tumpukan buku. Tian berjalan ke luar ruangan dengan langkah pelan agar tidak mengganggu konsentrasi pemuda itu. Ia berjalan ke dapur dan memeriksa isi kulkasnya. Saat mencoba memikirkan sesuatu yang bisa dibuatnya dengan bahan-bahan di dalam kulkas, Diro memasuki dapur.
"Mau masak, Mbak?" tanyanya saat melihat gadis itu memeriksa bahan-bahan makanan di dalam kulkas.
Tian mengangguk cepat. "Cuma aku bingung mau masak apa, Pak," curhat Tian.
"Kalau nasi goreng gimana?" usul Diro.
Tian menggeleng pelan. "Nasi tadi pagi habis dan meskipun aku masak sekarang, butuh waktu juga buat nasinya matang. Belum lagi nunggu dinginnya."
Diro memutar otaknya lagi, sebelum menjentikkan jari. "Bikin pempek kayak dulu aja, Mbak."
Laki-laki itu mengingatkan Tian pada makanan yang pernah dibuat oleh putri majikannya itu beberapa minggu lalu. Malam itu, hujan turun dengan derasnya, dan Tian muncul di depan ruang jaga dengan jas hujan dan payung untuk menutupi kotak makan dan termos berisi teh hangat yang dibawanya. Isi kotak makan itu sendiri adalah beberapa potong pempek tuna yang iseng-iseng Tian buat karena penasaran. Tian membagikannya pada semua orang yang tinggal di kediaman keluarga Adler itu dan menunggu sampai si penikmat memberikan komentarnya.
Diro yang malam itu tengah menemani Eko, penjaga yang saat itu mendapat giliran jaga malam, ikut menikmati makanan itu. Ia memuji masakan Tian. Gadis itu memang memiliki kemampuan memasak jauh lebih baik daripada Bella, ibunya. Namun, yang lebih membuat Diro kagum adalah kehangatan hati gadis itu yang menangkap baik-baik ajaran ayah ibunya untuk menganggap semua orang yang tinggal di kediaman mereka itu sebagai keluarga.
"Pempek Tuna?" Pertanyaan Tian itu membawa Diro kembali dari lamunannya. Laki-laki itu mengangguk cepat. Tian kelihatan berpikir sejenak sebelum mengangguk kepada dirinya sendiri.
"Nanti siang nggak perlu beli makan di luar ya, Pak. Aku mau sekalian masak lauknya," pesan Tian lagi yang langsung disambut dengan anggukan antusias dari sopirnya itu.
__ADS_1
Tangan Tian bergerak cekatan menyiapkan adonan tepung sebelum memindahkannya ke dalam panci dan mengaduk-aduknya di atas api kompor berukuran sedang. Setelah mengangkat campuran adonan tersebut dari atas kompor, Tian memasukkan bahan-bahan tambahan dan mengaduknya sekali lagi. Saat Tian bersiap membentuk pempek untuk direbus, Meda berjalan memasuki ruang tengah sambil celingukan.
"Meda." Tian melambai kecil untuk menarik perhatian pemuda itu sebelum kembali berfokus pada kegiatan memasaknya.
"Sedang apa?" tanya Meda yang menghampirinya dan melongok ke dalam baskom besar berisi adonan di hadapan Tian.
"Pempek tuna," jawab gadis itu singkat. Dalam hitungan menit, tangannya sudah menghasilkan beberapa potong pempek mentah yang dicelupkannya dalam mangkok penuh minyak sebelum ia letakkan pada baki di sampingnya.
Meda yang melongo sejenak saat melihat kecepatan gerak jari Tian, akhirnya tersadar dari lamunannya dan mulai mengedarkan pandang, mencari-cari sesuatu yang bisa ia lakukan untuk membantu Tian. Namun, Meda memiliki pengalaman yang hampir nol di dunia memasak profesional. Akhirnya, pandangannya kembali tertuju pada adonan yang dibentuk oleh Tian dengan mudah.
"Kamu mau coba bikin?"
Tian yang menyadari arah tatapan Meda melepas sarung tangan plastiknya dan mengangsurkannya pada pemuda itu. Meda mengangguk cepat dan segera memosisikan diri di tempat Tian tadinya berdiri. Dengan antusias, ia mencoba menirukan setiap langkah yang dilakukan Tian. Namun, ketika ia tidak bisa menghasilkan bentuk pempek yang mendekati buatan Tian—bahkan setelah tiga kali percobaan—ia akhirnya mulai mengeluarkan erangan frustasi.
Tian tertawa kecil sebelum kembali mengambil alih. Tian yang tahu bahwa pemuda itu tidak tahan jika hanya berdiri saja tanpa melakukan sesuatu, meminta Meda untuk menyiapkan dua panci air. Satu untuk merebus pempek dan satu lagi untuk membuat kuahnya. Pemuda itu hampir mengisi kedua panci itu dengan air dari keran ketika Tian mengulang instruksinya dengan jelas agar pemuda itu menggunakan air dari galon untuk memasak.
Tian diam-diam tersenyum kecil melihat kebingungan pemuda itu. Ini kali pertamanya melihat pemuda itu kelabakan saat diminta melakukan sesuatu. Selama di Kuba, Tian-lah yang selalu berada dalam posisi tidak berdaya dan mengandalkan pemuda itu untuk menemaninya berkeliling Kuba.
Di sisi lain, Meda juga tersenyum-senyum sendiri dengan alasan yang berbeda. Ia merasa senang menemukan sisi baru dari Tian. Sisi baru yang menurutnya bisa ia banggakan di depan ibunya saat Tian berkunjung ke rumahnya pekan depan.
Catatan Penulis:
Rumah Tian
Garasi rumah Tian
__ADS_1
Ruang tengah Tian