
“Maaf ya, Ti. Tapi aku bener-bener nggak bisa cerita sama kamu soal masalah Alvin. Yang pasti, aku nggak bisa ninggalin dia untuk saat ini.” Suara Hera di ujung telepon terdengar memelas.
Tian menghela napas panjang. Sebenarnya dia sangat ingin mendengar masalah apa yang sedang dialami salah satu sahabatnya yang paling ceria itu. Namun, ia tidak ingin memaksa jika Alvin belum berkenan membagikan ceritanya.
Tian teringat pada kejadian saat dirinya berada di vila Safira. Di sana, firasatnya itu memang mengatakan ada yang disembunyikan oleh pemuda itu. Tian menyesal tak bertanya lebih jauh saat itu. Setidaknya, meski Alvin menolak untuk menjawab–mengingat kepribadiannya yang tertutup–Tian bisa memberikan perhatian yang lebih kepada pemuda itu. Lebih dari seloyang pizza sosis dan keju, tentunya.
Tian bangkit dari spring bed-nya dan berjalan ke arah walk-in closet di kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Hari ini, ia berencana untuk mengunjungi salah satu butik langganannya, langganan Bella tepatnya.
Awalnya, Hera berjanji untuk mengantar Tian. Ia menceritakan rencananya itu saat menginap di rumah Safira. Hera yang antusias begitu mendengar kata “belanja”, langsung menawarkan jasanya untuk menemani Tian. Tian bahkan ragu kalau gadis itu mendengar alasan Tian pergi ke butik itu.
Tian memang berniat untuk “belanja”. Namun, bukan untuk membeli kebutuhannya sendiri, melainkan untuk Meda. Ia ingin membelikan beberapa potong pakaian hangat untuk kekasihnya itu. Bulan depan pemuda itu akan berangkat ke Paris. Tian mendengar dari ibunya bahwa Paris di bulan Juni memang sudah memasuki musim semi, tetapi musim yang masih berdekatan dengan musim dingin itu sering mengalami perubahan suhu yang tidak menentu. Bella ingat, tahun lalu, ia pernah bangun di suatu pagi dengan suhu mencapai sebelas derajat celcius. Ia juga pernah melewati suhu siang hari yang mencapai 27 derajat celcius.
Karenanya, Tian berencana untuk menyiapkan sesuatu yang berguna bagi Meda sekaligus untuk mengingatkan pemuda itu bahwa ia selalu menunggu kepulangannya. Meda mungkin tidak mudah kedinginan seperti Afgar, tetapi Tian tetap ingin memastikan bahwa pemuda itu menjaga tubuhnya dengan baik di sana.
Mengingat Afgar membuat Tian berencana untuk membeli satu potong pakaian hangat lagi. Ulang tahun Afgar akan dirayakan beberapa hari lagi dan Tian baru sadar kalau dirinya belum membelikan sesuatu sebagai hadiah bagi sahabat masa kecilnya itu.
Setelah selesai mengganti pakaian, Tian bergegas berlari keluar kamar. Namun, saat hampir mengunci pintu, Tian membatalkan niatnya dan masuk kembali. Ia melangkah ke depan meja rias dan menyapukan make-up tipis di wajahnya. Kebiasaan yang satu itu masih sedikit asing bagi Tian. Karenanya, ia masih sering lupa.
Tian melangkah keluar rumah dan memasuki garasi dari luar. Semenjak kejadian jatuh dari anak tangga yang menghubungkan ruang tengah dengan garasi, Tian sedikit trauma untuk melewati jalur yang sama.
“Tian?” Saat pintu garasi terbuka, sebuah suara memanggil namanya.
“Afgar?” Tian mengerutkan dahinya saat melihat sosok yang dipikirkannya beberapa menit lalu itu muncul di pekarangan rumahnya. “Kok ke sini nggak ngasih kabar?”
Afgar tersenyum kecut. Dahulu, sebelum hubungan mereka merenggang, ia bisa datang ke rumah Tian untuk menemui gadis itu kapan saja, tanpa perlu memberi kabar.
“Aku ke sini karena Papa ngasih tugas ke aku untuk ngirim sesuatu buat Om Adler,” jawab pemuda itu sembari mengabaikan perasaannya yang sedikit terluka karena pertanyaan Tian sebelumnya.
“Sketsa?” tanya Tian lagi.
__ADS_1
Afgar mengangguk.
“Aku dengar minggu depan Om Adler sama Tante Bella mau ke Swedia, ya?” Ia bertanya balik.
Kali ini Tian yang mengangguk. Tak perlu menanyakan dari mana Afgar mengetahui hal itu, karena kedua ayah mereka memang cukup dekat untuk berbagi kabar seperti itu.
“Kamu mau ke mana?” tanya Afgar lagi sambil memandangi kunci mobil yang menggantung di jari telunjuk kanan Tian.
“Butik langganan Mama,” jawab Tian singkat.
“Tumben.” Afgar menghentikan ucapannya sebelum bertanya kembali. “Mau beli kado buat aku?” tebaknya.
Tian tertawa kecil sebelum mengangguk membenarkan. Bertahun-tahun mengenal Afgar membuatnya melakukan banyak kejadian bersama pemuda itu. Merayakan ulang tahun satu sama lain hanya sebagian kecil dari tradisi rutin yang pernah mereka lalui sehingga tidak ada lagi kejutan untuk ritual yang satu itu.
“Sama Hera?”
“Nggak. Dia lagi sama Alvin.”
“Alvin nggak cerita apa-apa sama kamu soal masalahnya?” Tian kembali bersuara.
Afgar menggeleng. “Sama sekali nggak ada cerita. Tapi aku dengar sesuatu dari Hagan. Katanya, Dominiq di penjara.”
Mata bulat Tian melebar. “Kok bisa? Ada masalah apa? Aku sama sekali nggak dengar berita soal keluarga Petra selain kabar kalau mamanya Alvin dapat penghargaan lagi.”
Afgar mengangkat bahu. “Aku juga kaget, Ti. Aku baru dengar cerita itu semalam, waktu Hagan lagi ngobrol sama Papa.”
"Tapi Alvin kan nggak dekat sama kak Dominiq. Apa iya hanya karena kakaknya di penjara terus Alvin jadi murung begitu?" tanya Tian terheran-heran.
"Bisa jadi masalah Dominiq itu cuma pemicunya. Masalah besar sebenarnya mungkin ada di keluarga Alvin. Kamu tahu nama Dominiq pasti ada di daftar teratas sebagai pewarisnya Om Tristan, 'kan? Kalau namanya tercemar gara-gara pernah di penjara, apa masih mungkin dia jadi penerus bisnis Om Tristan? Bisa rusak citra perusahaan maskapainya. Kalau sudah begitu, tentu nama Alvin sebagai penerus kedua, dimunculkan. Padahal kamu tahu Alvin, 'kan? Dia nggak pernah suka terjun ke dunia bisnis. Dia bahkan sampai menolak belajar serius agar tidak dilibatkan dalam urusan perusahaan. Benar dia kuliah, tapi bukan untuk belajar. Dia ngikutin Hera, bahkan sampai ke jurusan perkuliahannya."
__ADS_1
Tian menggeleng-geleng pelan. Ia tahu bahwa keluarga Alvin sangat rumit dan tidak seindah citra yang ditampilkan oleh media. Dominiq di ingatan Tian sendiri bukan lelaki yang bisa dibilang memiliki perangai yang bagus. Tian bisa melihat laki-laki itu sangat menyukai wanita dan kerap bergonta-ganti pasangan. Namun, ia tidak bisa menebak ulah apa yang telah diperbuat olehnya kali ini sampai membuat dirinya di penjara.
Tian tersadar dari renungannya saat matanya menangkap sebuah lebam kebiruan di lengan kanan Afgar. Spontan, Tian menarik lengan pemuda itu agar mendekat ke arahnya.
“Ini kenapa, Gar?” tanya Tian setelah berhasil melihat sisi kanan lengan atas sahabatnya itu yang ternyata dihiasi jejak memar lainnya.
“Gar?” desak Tian kembali saat Afgar tak kunjung menjawab.
“Kemarin gara-gara aku ngasih tahu lokasi Alvin ke Hera, Hera datang ke tempat tongkrongan Alvin,” terang Afgar hati-hati.
Ekspresi wajah Tian langsung mengeras karena ia bisa menebak kelanjutan cerita Afgar itu tanpa perlu mendengar sisanya. Karena itu, Afgar buru-buru menambahkan.
“Aku yang salah. Tempat tongkrongan Alvin itu isinya laki-laki semua. Jelas saja Alvin marah karena aku membiarkan Hera ke sana tanpa pengawalan. Untung dia ketemu Alvin di sana. Kalau nggak?” Afgar hampir bergidik membayangkan kelanjutannya. “Gara-gara aku juga Hera dilecehin di sana.”
“Dilecehin?!” Nada suara Tian meninggi beberapa oktaf.
“Secara verbal.” Afgar menambahkan sebelum imajinasi Tian membuat sketsa skenario buruk yang tidak-tidak.
“Udah diurus pelakunya?” Tian masih kelihatan geram.
“Kamu tahu Alvin lah. Hera kesandung aja, batunya yang disalahin.”
Tian tertawa geli melihat Afgar mengatakan itu sambil memasang raut wajah serius. Tawa gadis itu menular kepada Afgar yang ikut tersenyum.
“Tapi tetep aja dia nggak boleh bikin kamu babak belur seperti ini.” Tian kembali memandangi lebam di lengan Afgar.
“Aku yang bakalan mukulin diriku sendiri kalau Alvin nggak melakukan apa-apa. Bagaimana pun aku udah membuat Hera berada pada situasi yang bisa saja membahayakan keselamatan dia.”
Tian menghela napas panjang. Tak tahu lagi harus berkomentar apa. Memang benar, Afgar hampir melakukan kesalahan yang fatal dengan membiarkan Hera pergi ke tempat berbahaya itu sendirian, tetapi hati kecilnya masih tidak bisa menerima kalau Afgar sampai harus disakiti karena masalah itu. Tian pasti sudah mengambil tindakan untuk mengkonfrontasi Alvin karena melakukan kekerasan kepada sahabatnya sendiri itu kalau ia tidak ingat bahwa pemuda itu sendiri sedang “kacau”. Alasan itulah juga yang mungkin membuat pemuda itu gelap mata dan menyerang Afgar.
__ADS_1
Bingung dengan pergolakan batinnya sendiri membuat Tian hanya bisa melamun sambil memandangi jejak kebiruan di lengan Afgar. Afgar, di sisi lain, merasakan debaran aneh di jantungnya saat melihat kepedulian Tian itu. Kepedulian yang ia pikir telah menghilang setelah keduanya mengalami banyak konflik beberapa waktu belakangan. Nyatanya, Tian masih menyayanginya dan fakta itu membuatnya bahagia. Sangat bahagia. Rasanya, ia kembali berada di masa-masa SMA, saat hubungan keduanya belum serumit sekarang.