
Hera mengenyitkan dahinya saat membuka pintu. Dentuman musik remix mengiringi suara Nicki Minaj yang mendendangkan single Va Va Voom-nya memekakkan pendengaran Hera. Gadis itu baru saja tiba di rumahnya setelah sepagian menghabiskan waktunya di gym. Lampu kamar yang dimatikan membuat berbagai bentuk stiker glow in dark yang menghiasi seluruh permukaan dinding kamarnya berpendar terang. Meskipun, tentu saja, penerangan semacam itu tidak cukup untuk membuat mata Hera lekas terbiasa dengan kegelapan di sekelilingnya. Namun, tanpa menyalakan lampu pun, Hera sudah tahu siapa pelaku yang membuat kamarnya menjelma menjadi seperti lantai dansa di klub malam itu.
Dengan langkah sedikit pincang karena terbentur ujung sofa, yang entah sejak kapan berpindah dari lokasinya semula di tengah kamar, Hera menghampiri stop kontak dan mencabut kabel speaker yang tertancap di sana. Seketika, kedamaian yang didambakannya kembali mengudara.
Sayangnya, hal itu tidak berlangsung lama karena sebuah teriakan keras yang memanggil namanya menyerbu pendengarannya tanpa ampun.
“Nggak bisa lihat orang seneng-seneng apa?!” omel Marita, pelaku yang bertanggung jawab atas kekacauan di ruangan itu.
Hera menekan saklar lampu kamar yang berada di dekat stop kontak sambil membuang kabel di tangannya ke atas lantai.
“Bisa nggak kalau mau seneng-seneng itu yang normal? Bikin party beneran. Ngundang manusia beneran. Jangan party sendiri kayak orang freak. Di kamar pula. Ini tempat orang istirahat!” Hera balas mengomel.
“Jadi kamu ingat kalau ini tempat buat orang istirahat? Soalnya, semalam kayaknya kamu lupa ingatan waktu ngajak Alvin ke kamar. Gara-gara kamu, aku harus tidur di kamar tamu!” balas Marita tak terima.
“Ya siapa suruh kamu diminta pindah ke kamar malah ngotot mau nonton di ruang tengah.”
“Heh! Nggak lihat orang lagi seru-serunya nonton? Penjahatnya udah mau ketangkap–”
“Aku nggak peduli. Pokoknya kamu yang salah.”
Hera melempar tas berisi pakaian bekas nge-gym-nya ke atas sofa yang bergeser hampir dua meter dari tempatnya semula itu. Ia masih sempat terkagum-kagum pada kekuatan fisik adiknya yang bisa memindahkan sofa yang cukup berat itu seorang diri, sebelum melenggang masuk ke kamar mandi.
“Jangan lupa pindahin lagi sofanya!” Tak lupa ia meneriakkan titah terakhirnya sebelum menutup pintu rapat-rapat.
__ADS_1
Marita hanya bisa menggeram kesal sebelum melaksanakan perintah Hera sambil dalam hati bersumpah akan kembali meminta Tina memberikan kamar sendiri kepadanya. Permintaan yang pasti akan langsung ditolak mentah-mentah oleh ibunya itu, tentu saja.
Hera tidak pernah berani tidur sendiri. Hal itulah yang membuat Marita terjebak di kamar yang sama dengan kakaknya itu.
Hera juga fobia kegelapan. Akut. Itulah alasan mengapa seluruh dinding kamar, bahkan dinding rumahnya dihiasi bermacam-macam stiker glow in dark. Membuat bangunan rumah mereka menampilkan kesan mewah di luar, menjadi tampak seperti ruang kelas sekolah playgroup di dalamnya.
Sejak mereka kecil, Marita “dipaksa” tidur berdua dengan kakaknya itu. Dahulu, Marita kecil tidak keberatan dengan pengaturan itu. Namun, seiring dirinya beranjak dewasa, ia semakin butuh ruang pribadinya sendiri.
Memang, Hera bukan tipe saudara yang suka ikut campur kepentingannya dan menyentuh barang-barang pribadi milik Marita. Hanya saja, terkadang Hera bisa menjadi benar-benar manja dan bossy kepadanya.
Beberapa menit kemudian, Hera keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk. Marita yang tengah bermain Candy Crush di ponselnya mengawasi tingkah kakaknya yang malah mematut-matut diri di depan kaca meja rias alih-alih segera mengganti handuknya dengan pakaian lengkap.
“Ra? Waras?” tanya Marita yang akhirnya tak tahan lagi melihat Hera.
“Udah berotot belum sih?” tanya Hera balik mengabaikan penghinaan yang dilontarkan saudarinya itu.
“Satu-satunya yang berotot itu lidahmu. Kalau udah ngomong nggak ada yang bisa ngalahin!” jawab Marita asal, membuat Hera langsung berbalik dan menerjang tubuh Marita yang tertelungkup di atas kasur.
Marita yang terlambat bergerak akhirnya hanya pasrah ketika tubuh Hera mendarat di atas punggungnya. Untung saja tubuh kakaknya itu kerempeng sehingga mentok-mentok punggungnya hanya akan keseleo akibat serangan mendadak itu.
“Aku udah mati-matian nge-gym sampai berbulan-bulan biar bisa dapat body kayak Safira. Jangan ngomong sembarangan kalau belum lihat baik-baik!” kata Hera sambil menjitaki kepala Marita.
“Please deh, Ra. Kalau mau bikin target body goal itu kayak Kak Tian. Okelah six pack-nya Kak Safira emang bikin iri, tapi asetnya Kak Tian itu lebih...” Marita berpikir sejenak demi memikirkan kata yang paling tepat untuk menggambarkan fisik salah satu sahabat kakaknya itu.
__ADS_1
“Lebih-lebih.” Akhirnya, hanya kata itulah yang mampu dikeluarkannya dari otaknya yang memang tak pandai merangkai kata-kata itu.
Hera mencebik kesal. Bukan karena Marita memanggil Tian dan Safira, juga sahabat-sahabatnya yang lain dengan sebutan “Kakak”–padahal dirinya hanya dipanggil nama tanpa embel-embel apa pun–melainkan karena lagi-lagi ia dibandingkan dengan Tian.
“Tian itu kejauhan, Ta. Aku harus implan biar bisa punya body kayak dia.” Hera bergumam pelan.
“Menurutmu dengan kamu menurunkan standar body goal-mu jadi selevel Kak Safira, kamu jadi berpikir kamu nggak perlu implan?” Marita menyeringai jahil. “Mim–”
Belum selesai Marita menyelesaikan perkataannya, sebuah bantal digebukkan keras-keras di puncak kepalanya. Pandangannya kabur sejenak berkat benturan itu. Sayangnya, saat ia berniat membalas kelakuan Hera, gadis itu sudah kabur ke arah walk-in closet-nya. Meninggalkan Marita yang misuh-misuh sendirian.
Setelah memakai busana lengkap, Hera keluar dari lemarinya dan meraih ponselnya dari dalam tas yang tadi dilemparkannya ke sofa. Saat berganti pakaian tadi, ia teringat telepon dari Safira semalam. Karena Hera sudah lebih dulu mengantuk sepeninggalnya Alvin semalam, ia lupa menghubungi sahabatnya itu kembali.
Hera menekan tombol panggil pada ID Safira, tetapi dengan segera operator menyatakan bahwa nomor gadis itu sedang berada di luar servis area. Perasaan Hera langsung tidak enak. Ia berniat menghubungi Afgar karena entah mengapa firasatnya mengatakan kalau ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya itu semalam, maka hal itu pasti berhubungan dengan Afgar. Sayangnya, pemuda itu juga tidak menjawab teleponnya.
Hera semakin gelisah. Ia berbalik ke arah Marita. Hendak meminta adiknya itu mengantarnya ke rumah Safira. Namun, sebuah panggilan masuk menghentikan niatnya. Melihat nama yang terpampang di sana, Hera tidak berani menunda lama untuk menjawab teleponnya. Sekuat tenaga, ia mencoba menyingkirkan kecemasannya pada Safira karena orang yang meneleponnya ini jelas mengalami sesuatu yang lebih mengkhawatirkan.
Hera cepat-cepat mengatur napasnya sebelum menjawab, “Halo, Vin?”
Marita yang melihat kekalutan di wajah Hera itu hanya bisa memperhatikan dalam diam. Akhir-akhir ini, ia merasakan perbedaan dari diri kakaknya itu. Hera yang biasanya gemar curhat padanya itu, kini lebih banyak memendam masalahnya sendiri.
Marita pun sering melihat kakaknya itu melamun sendiri, tetapi tidak mau mengaku saat ditanya. Ia akhirnya menyimpulkan bahwa permasalahan yang sedang disimpannya bukan permasalahannya sendiri. Dan nama yang baru saja disebut oleh Hera itu pastilah sosok yang berhubungan dengan semua itu.
Catatan Penulis:
__ADS_1
Misuh-misuh \= mengumpat