
Tian meletakkan ponselnya setelah mengirim pesan pada Meda. Kemarin, setelah pulang dari pesta Zaira, Adler mengajak seluruh anggota keluarganya, termasuk Diro, untuk makan di sebuah restoran seafood. Ia mungkin menyadari bahwa ketiga putrinya sama sekali tidak mengisi perutnya dengan makanan yang disajikan di pesta ulang tahun ibunya itu karena ke mana pun mereka melangkahkan kaki, akan ada banyak mata yang mengikuti dan melempar tatapan mencela ke arah mereka.
Sesampainya di rumah, Tian sudah luar biasa kelelahan dan dengan kondisi perut yang kekenyangan berkat “pesta” keduanya, tidak bisa mencegah rasa kantuk untuk menyerangnya.
Pagi harinya, Tian terbangun dengan suhu tubuh yang tinggi dan kepala yang sedikit pusing. Setelah memaksakan dirinya untuk turun menuju dapur dan mengisi perut, Tian meminum obat pereda demam dan kembali tidur. Tian baru terbangun beberapa menit lalu dan langsung melesat untuk mengambil wudhu karena waktu dhuhur hanya tersisa sekitar 15 menit lagi. Ia mengabaikan protes tubuhnya untuk kembali beristirahat karena ingin sekalian menunggu waktu salat berikutnya.
Saat menunggu itu, barulah ia mengingat niatnya untuk menghubungi Meda yang berulang kali gagal. Beberapa saat setelah ia meletakkan ponselnya, Lidia masuk ke kamar Tian. Gadis cilik yang jarang berkunjung ke kamar kakaknya itu bahkan mengajak Joan, adik Tian yang lain untuk mengantarkan sebaki bubur dan air putih.
“Mama tadi keluar sebentar buat nganter Marcela ke dokter. Dari tadi pagi badannya panas.” Lidia menjelaskan keberadaan Bella tanpa diminta.
Tian mengangguk kecil sembari mulai menyuap makanan yang dibawa kedua adiknya itu. Ia tak sampai hati menunda makan dengan alasan menjaga wudhu. Melihat wajah kedua adiknya saat menunggu ia memakan isi mangkuknya itu membuat Tian sekuat tenaga berusaha mengusir bayangan dirinya yang harus merasakan sensasi menggigil kedua kalinya saat kulitnya bersentuhan dengan air kran.
“Kak.” Joan yang duduk di sebelah Lidia tiba-tiba mulai menarik-narik ujung pakaian kakak keduanya itu.
Lidia menatap Joan sembari mengelus kepala adiknya itu.
“Iya, Jo. Kalau Mama belum pulang lima menit lagi, Kakak yang berangkat sendiri beli ceker setannya.” Lidia menjelaskan dengan sabar.
“Ceker setan?” Kening Tian berkerut saat mendengar nama makanan itu keluar dari bibir adik-adiknya. Setahunya, itu makanan pedas yang lumrahnya tidak dikonsumsi oleh anak kecil seumuran Joan.
Lidia yang seolah bisa menangkap kecemasan di wajah Tian segera membisikkan sesuatu di telinga kakaknya itu. “Aku biasanya beliin yang bumbu saos biasa buat Joan.”
“Sabar, ya?” kata Lidia lagi sembari berpaling kembali ke arah Joan.
Namun, Joan yang sepertinya sudah beberapa kali diminta bersabar, mulai mengamuk. Ia menarik-narik lengan kurus Lidia dengan tenaga dari tubuhnya yang terbilang bongsor untuk ukuran anak perempuan berusia 10 tahun.
“Belinya di mana, Lid?” tanya Tian yang berusaha mengimbangi jeritan dan tangisan keras Joan dengan suara lemahnya.
“Di depan sekolah Joan, Kak,” jawab Lidia dengan posisi tubuh sudah separuh terangkat dari kursi tempatnya duduk.
Mata Tian membulat. “Sekolah Joan yang baru?”
“Iya.”
“Dianter Pak Diro?” tanya Tian lagi.
“Pak Diro lagi jemput Papa, Kak.”
“Terus? Naik sepeda?” tebak Tian.
__ADS_1
Lidia mengangguk takut-takut. Ia sepertinya sudah bersiap melihat reaksi terkejut yang ditunjukkan kakaknya itu atas jawabannya. Sekolah baru tempat Joan belajar saat ini memang terpaut hampir lima kilometer jauhnya dari rumah mereka. Ide untuk menempuh jarak tersebut hanya dengan bersepeda sebenarnya bukan hal yang perlu diributkan. Hanya saja, jalanan yang harus dilewati oleh Lidia untuk mencapai sekolah baru Joan adalah jalanan yang ramai dilewati mobil dan kendaraan-kendaraan berbahaya lainnya.
“Nggak bisa,” putus Tian akhirnya.
Tangisan Joan yang hampir reda, kembali membahana saat mendengar perkataan Tian tersebut.
“Ya udah. Tunggu Mama ya, Jo.”
Lidia kembali mencoba membujuk Joan. Namun, perkataannya jatuh di telinga yang tuli. Joan semakin mengamuk.
“Kakak aja yang berangkat.” Tian bangkit dari sofa di kamarnya dan meraih sebuah kardigan berlengan batwing dari gantungan baju di kamarnya untuk melapisi sweat shirt navy serta celana pendeknya sebelum beranjak keluar kamar.
“Tapi, Kak Tian ‘kan lagi sakit. Kita tunggu Mama aja, ya.” Kali ini Tian lah yang menjadi sasaran bujukan dari Lidia.
“Nggak, Lid. Kalau Joan nggak mau nunggu sampai besok, Kakak berangkat sekarang. Mama udah cukup repot ngurusin Marcela,” tolak Tian tegas.
Mendengar penjelasan Tian tersebut, Lidia tidak berani menawar lagi. Ia hanya berpesan pada kakaknya itu untuk tidak mengebut saat menyetir mengingat kondisi Tian yang belum pulih benar. Tian menyanggupinya dan bergegas berjalan menuju garasi melalui pintu di ruang tengah. Kakinya sudah mencapai separuh anak tangga ketika ia merasa tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang. Tian menggerakkan tangannya untuk berpegangan pada railing. Namun, sebelum tujuannya itu tercapai, kegelapan melingkupi penglihatannya dan massa tubuh seolah meninggalkan dirinya. Sisa-sisa kesadaran yang coba ia pertahankan sampai akhir hanya membuatnya merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya sebelum akhirnya ia benar-benar kehilangan kemampuan untuk merasakan apa pun.
Tian terbangun dengan sebuah rasa sakit hebat yang mendera kepalanya. Namun, itu bukan apa-apa dibandingkan dengan rasa nyeri yang menyerang semua sendi di tubuhnya. Gejolak di perutnya yang kembali terasa, memperburuk segalanya. Tian ingin mengerang, tetapi suara yang coba dikeluarkannya terhenti di tenggorokannya yang terasa kering. Ia berusaha bergerak, tapi rasa sakit yang teramat sangat di sisi kanan tubuhnya membuatnya kembali merebahkan tubuhnya. Butuh waktu lama bagi Tian untuk mengingat hal yang terjadi kepadanya sebelum pingsan. Setelah mengingat semuanya, ia tiba pada sebuah kesimpulan bahwa ia menderita patah tulang berkat jatuh dari tangga menuju garasi.
"Hai."
Sebuah suara menyapa Tian saat gadis itu mencoba menerka-nerka siapa yang membawanya ke rumah sakit. Tian mencoba menggerakkan kepalanya untuk melihat sosok pemilik suara itu, tapi keterbatasan kemampuannya untuk bergerak membuatnya tak bisa berbuat banyak. Beruntung sosok itu sepertinya memahami ketidakberdayaan gadis itu dan memutuskan untuk bergerak mendekat, bahkan dengan perhatiannya mengambilkan segelas air putih untuk Tian. Tian tidak segera menerima gelas yang diserahkan kepadanya itu saat matanya mengenali sosok yang kini tengah duduk di dekatnya itu.
"Kenapa kamu di sini, Med?" tanya Tian yang masih tak menyangka bahwa sosok dalam balutan kemeja lengan panjang warna cream itu sama dengan sosok yang dirindukannya selama beberapa minggu terakhir.
"Kamu nge-chat aku dan meminta untuk bertemu hari ini." Meda melempar tatapan prihatin ke arah Tian dan sudah hampir meminta salah satu dokter jaga untuk mengajukan CT Scan kalau-kalau gadis itu mengalami amnesia disosiatif berkat benturan yang dialaminya.
"Iya, aku ingat. Yang aku tanyakan, dari mana kamu tahu kalau aku ada di rumah sakit? Kamu bahkan belum balas chat WA dari aku waktu aku mau keluar rumah."
"Aku nelepon kamu dan yang jawab adik kamu. Mereka nangis heboh di telepon. Bilang kalau kamu jatuh dari tangga dan tidak sadarkan diri. Kebetulan aku lagi di jalan mau pulang waktu aku dengar kabar itu. Jadi, aku bisa cepat-cepat datang ke rumah kamu membawa kamu ke sini," jelas Meda panjang lebar.
"Thanks."
Tian akhirnya berkata pelan setelah cukup lama menimbang-nimbang kata apa yang paling tepat untuk dilontarkannya kepada Meda saat ini. Sebenarnya, otaknya memikirkan banyak hal untuk dikatakan, tetapi ia sadar mengungkapkan semua isi kepalanya tanpa terlebih dahulu berterima kasih kepada pemuda itu terasa sangat kurang sopan. Meda hanya menanggapi ucapan Tian dengan anggukan singkat.
"Adik-adikku di mana sekarang?" tanya Tian lagi.
"Di rumah. Harus ada yang tetep di rumah untuk menceritakan kronologi jatuhnya kamu di garasi kepada Mama Papamu. Menitipkan pesan itu sama penjaga di rumah kamu akan makan banyak waktu, sedangkan penanganan untuk luka dan patah tulangmu itu tidak bisa menunggu." Meda kembali memberikan penjelasan panjang lebar sehingga tidak menyisakan ruang bagi Tian untuk bertanya demi sekadar memanjangkan percakapan.
__ADS_1
"Aku udah pingsan berapa lama?" tanya Tian lagi.
Meda mengecek arlojinya sebelum menjawab. "Dua jam."
Keduanya kembali terdiam. Tian mencoba mengalihkan perhatiannya pada gips yang membalut tangan kanannya untuk mengatasi kecanggungan yang dirasakannya. Ia sebenarnya ingin membuka percakapan dengan Meda mengenai tujuannya untuk meminta bertemu, tetapi firasatnya mengatakan saat ini bukanlah waktu yang tepat. Orang tuanya bisa muncul kapan saja dan membuat pembicaraan di antara mereka terputus di tengah jalan. Akan lebih sulit untuk melanjutkan obrolan yang terhenti itu daripada memulainya.
Benar saja. Beberapa saat setelah Tian memikirkannya, kelambu yang memisahkan ranjangnya dengan ranjang pasien lain di ruangan Unit Gawat Darurat terbuka dan wajah ibunya yang sembab muncul di sana. Sedetik kemudian, ayahnya masuk dengan wajah lelah dan Marcela tertidur di gendongannya. Sebelum menyusul Bella untuk melihat kondisi Tian, ia mendekati Meda untuk mengucapkan terima kasih. Tanpa dirinya, Tian mungkin akan mengalami komplikasi yang lebih serius dari patah tulang akibat jatuhnya.
"Mana yang sakit, Nak?" tanya Bella yang kembali meneteskan air mata saat melihat gips di tangan putrinya itu.
Tian hampir ikut menangis melihat wajah ibunya itu kalau tidak ingat bahwa Meda masih berada di dekatnya. Meda yang seolah bisa membaca pikiran gadis itu akhirnya berpamitan untuk meninggalkan ruangan sejenak. Tian yang mengira bahwa pemuda itu akan pulang buru-buru mencegah kepergiannya tanpa sadar.
"Aku cuma mau ke kantin sebentar," kata Meda sembari tersenyum menenangkan.
Senyum pertama yang dilihat oleh Tian sejak insiden yang terjadi di antara mereka beberapa minggu lalu. Ada sedikit nyeri di dadanya saat mengingat bahwa masih ada kesalahpahaman yang tak tuntas di antara keduanya dan bahwa senyuman yang baru saja ditunjukkan padanya itu mungkin tak mengandung ketulusan. Saat Meda telah benar-benar pergi, Tian mulai menangis. Ada banyak hal yang coba dilipurnya dengan tangisan itu. Kesedihan saat melihat air mata ibunya, rasa bersalah ketika menatap wajah kelelahan ayahnya, hingga beban di hatinya yang tak kunjung berkurang karena konfliknya dengan Meda.
Saat tangisnya reda, Tian meminta Adler untuk membawanya pulang. Sembari menunggu ayahnya menyelesaikan administrasi pengobatannya, Tian menghubungi Meda untuk mencari tahu keberadaannya.
“Oke. Aku ke sana sekarang,” jawab Meda sebelum mengakhiri sambungan telepon.
Meda tiba dalam waktu yang hampir bersamaan dengan Adler yang melempar pandang penuh arti kepada pemuda itu. Meda hanya membalas tatapan itu dengan sebuah seringai lebar. Tian yang penasaran dengan pertukaran isyarat di antara keduanya memutuskan untuk bertanya.
“Papa sama Meda ngapain?”
Kedua laki-laki itu kembali bertatapan. Meda menggelengkan kepalanya cepat sebagai isyarat agar Adler merahasiakan apa yang mereka “bicarakan”. Namun, Adler yang balas menggeleng pelan, menolak permintaan tersebut. Kalau bukan karena kesal atas jeda panjang yang tercipta antara pertanyaan yang ia lontarkan dengan jawaban yang seharusnya diterimanya, Tian pasti sudah tertawa geli melihat tingkah kedua laki-laki dewasa yang mengingatkannya pada interaksi antar dua bocah SD saat bertukar contekan itu. Tian melambaikan tangan kirinya yang tidak digips untuk menarik perhatian keduanya.
“Meda sudah bayar semua biaya pengobatan kamu, Ti,” jelas Adler akhirnya.
Meda menghela napas panjang sebelum memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan intens yang ditujukan Tian kepadanya. Tian menggigit bagian dalam bibir bawahnya sembari menerka-nerka apa yang sebenarnya terlintas di kepala Meda saat melakukan semua itu untuknya. Mulai dari menungguinya di rumah sakit selama ia tak sadarkan diri, lalu membayar administrasi rumah sakit untuknya. Semua itu tidak terlihat seperti tindakan yang akan dilakukan oleh laki-laki yang tidak menyimpan ketertarikan padanya. Padahal, sikapnya dalam beberapa minggu terakhir yang seolah menghindari Tian sejak pertemuan mereka yang terakhir memberikan kesan yang bertentangan.
“Oh ya?” Tian mencoba menunjukkan ekspresi terkejut yang normal, alih-alih kebingungan yang mendominasi perasaannya akibat tingkah Meda belakangan.
“Kalau begitu sebagai tanda terima kasih. Aku mau traktir kamu sesuatu,” lanjut Tian sambil melempar senyum lebar pada Meda seolah tak pernah ada masalah yang terjadi di antara keduanya.
Mau tak mau Meda mengikuti skenarionya.
Setelah mencuci rambutnya yang terkena cipratan darah dari luka di kepalanya dan mengganti pakaian kusutnya dengan gaun putih berkerah tinggi yang dibawakan oleh Bella, yang membuat Tian lagi-lagi mengalami pergolakan batin maha dahsyat karena keminiman ukuran dress tersebut, Tian menghampiri Meda yang menunggunya di lobi rumah sakit. Meda mengamati penampilan gadis itu dengan kening sedikit berkerut karena mengetahui bahwa gaya tersebut sedikit berbeda dengan preferensi Tian yang biasanya. Namun, saat menyadari gadis itu terlihat tidak nyaman dengan tatapannya, Meda mengalihkan perhatiannya dan mulai berjalan menuju mobilnya. Dalam hati, ia bersyukur karena hari ini ia membawa Mustangnya, alih-alih motor sport-nya untuk pergi bekerja.
Meda membukakan kursi penumpang untuk Tian saat melihat gadis itu kesulitan melakukannya dengan tangan kirinya yang tidak digips. Ia meletakkan jas slim fit miliknya di pangkuan Tian sebelum menutup pintu dan ikut memasuki mobil. Tian tersenyum tipis sebelum menggunakan jas itu untuk menutupi area kakinya yang terbuka.
__ADS_1
“Kita mau ke mana?” tanya Meda setelah mobilnya keluar dari lahan parkir.
Alih-alih menjawab, Tian mencondongkan tubuhnya untuk mengotak-atik GPS mobil Meda dan memberi isyarat dengan dagunya agar pemuda itu mengikuti petunjuk yang diberikan oleh benda itu. Meda melempar tatapan khawatir melihat Tian yang tiba-tiba jadi pendiam. Kontras dengan tingkahnya beberapa menit lalu, saat dirinya meyakinkan ayahnya untuk menyerahkan kartu ATM beserta PIN-nya sebelum memaksa laki-laki itu mengizinkan dirinya menghabiskan waktu berdua saja dengan Meda. Akhirnya, ia hanya bisa menelan kekhawatirannya kembali saat gadis itu memutuskan untuk memejamkan matanya, seolah menolak untuk memulai pembicaraan apa pun selama di perjalanan.