Les Láches

Les Láches
The Beginning of Chaos


__ADS_3

Setelah mengakhiri panggilannya teleponnya kepada Tian, sebuah senyum terlintas di bibir Afgar. Awalnya, senyuman itu terlihat lemah, tetapi lama-lama senyum itu melebar. Senyum itu bahkan berubah menjadi sebuah tawa lepas.


Afgar bersorak dalam hati. Rencananya berhasil. Ia memang sengaja mengkonfrontasi Tian terlebih dahulu mengenai pertengkaran kecilnya dengan Meda. Ia berpura-pura mengakui kesalahannya sebelum menyatakan akan mengalah dan menjauhi Tian sesuai permintaan Meda. 


Afgar melakukan semua itu karena ia sangat mengenal Tian. Bagaimana pun marahnya Tian kepada dirinya, gadis itu tidak akan pernah bisa menjauh darinya. Sejarah keduanya terlalu panjang untuk dihancurkan hanya dengan perintah dari Meda yang didasari oleh perasaan cemburu semata. Meskipun begitu, kalau Afgar tidak melakukan sesuatu, Meda akan semakin meracuni pikiran Tian dan membuat gadis itu membenci Afgar.


Afgar tahu caranya mungkin kotor. Namun, dia tak peduli. Mempertahankan simpati Tian agar tetap berada di pihaknya lebih penting daripada mencari pemecahan terbaik untuk masalahnya dengan Meda. Afgar sendiri bahkan tidak berniat berdamai dengan pemuda itu.


Ucapan Meda malam ini membuatnya semakin yakin bahwa Meda bukan orang yang tepat untuk Tian. Ia akan memastikan pemuda itu menjauh selamanya dari kehidupan Tian.


Saat tengah asyik memikirkan rencana terbaik untuk meraih tujuannya, Safira memanggil namanya.


“Kamu nggak mau ngerapiin kado-kado di kamar kamu?” tanya gadis itu sambil melipat tangannya di depan dada.


Afgar sedikit bingung saat melihat ekspresi dingin yang ditunjukkan oleh tunangannya itu. Namun, ia tidak mempertanyakan hal itu lebih jauh dan berjalan menuju kamarnya.


Beberapa bungkus kertas kado berserakan di permukaan permadani yang melapisi lantai kamarnya dan berbagai macam benda-benda asing ditata rapi di atas tempat tidurnya yang berukuran king size.


“Kamu udah hampir buka semua kado untuk aku. Jadi, kenapa kamu manggil aku?” tanya Afgar sambil berbalik menatap Safira yang kini tengah menutup pintu kamarnya.


“Karena ada yang mau aku tanyakan sama kamu,” jawab Safira sambil memandang Afgar balik dengan tatapan tajamnya.


Afgar duduk di sofa yang berada di sisi jendela kamar tanpa balkonnya itu sebelum menatap Safira kembali, menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya.


“Tiga hari kemarin, aku minta kamu jemput aku di kampus setelah aku selesai ujian praktikum. Masih ingat?”


Afgar mengangguk. “Hari itu aku nggak bisa jemput kamu karena ada janji.”


“Janji sama siapa?”


Afgar menyipitkan matanya sebelum menjawab pertanyaan Safira.

__ADS_1


“Kenapa kamu nanyain hal itu?”


“Ada kenalan aku yang bilang kalau dia ketemu kamu di dekat butik langganannya. Dia melihat kamu lagi sama cewek yang bukan aku. Jadi, kamu pergi sama siapa?” tanya Safira.


“Sama Tian,” jawabnya tenang. “Kamu tiba-tiba menanyakan soal masalah itu hari ini karena kamu udah tahu jawabannya, kan? Yang aku nggak ngerti adalah apa tujuan kamu mengungkit masalah itu lagi?”


“Nggak ngerti atau nggak mau mengerti? Atau kamu meminta aku untuk memahami kalau tindakan kamu yang lebih memilih Tian daripada aku itu hal yang wajar?” tanya Safira yang mulai meradang melihat sikap Afgar yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah itu.


“Aku udah bilang ke kamu kalau kamu nggak boleh membanding-bandingkan Tian dengan kamu. Kalian itu punya posisi berbeda di hidup aku!” seru Afgar sambil bangkit dari posisi duduknya.


“Prioritas yang berbeda juga, kan? Tian akan selamanya jadi nomor satu bagi kamu!”


“Karena Tian sahabat aku.”


“Oh, ya? Aku ragu kalau kamu akan tetap memprioritaskan 'sahabat' ketika posisi kami bertukar.” Safira menyipitkan matanya.


“Nggak perlu basa-basi, Fir. Sebenarnya apa yang mau kamu bilang?” Afgar bertanya dingin.


Usai mengatakan semua itu, Safira melangkah keluar dari kamar Afgar. Ia meninggalkan bangunan rumah itu melalui pintu belakang agar tidak perlu bertemu dengan keluarga tunangannya itu. Tidak mungkin juga ia berpamitan dengan penampilan yang entah akan terlihat seperti apa dengan wajah yang bersimbah air mata itu. Ia memasuki mobilnya yang terparkir di halaman samping rumah bersama dengan kendaraan-kendaraan pribadi kerabat dekat keluarga Afgar itu dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Berada di tempat yang sama dengan Afgar membuat dadanya semakin sesak.


Selepas kepergian Safira, Afgar menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya. Anehnya, ia sama sekali tidak memikirkan kemarahan tunangannya itu. Barangkali karena bukan sekali dua kali saja pertengkaran keduanya pecah karena masalah kecemburuan kecil dari Safira kepada Tian. Meskipun, yah, tentu saja pertengkaran kali ini tidak bisa dibilang kecil. Namun, sekali lagi, bukan hal itulah yang dipikirkan oleh Afgar.


Afgar malah memikirkan tentang kalimat Safira yang terakhir. Dia atau Tian? Afgar tertawa kecil. Tentu saja Tian. Sampai kapan pun, prioritasnya adalah Tian. Tak peduli bahwa pilihannya tersebut mungkin akan membuat dirinya mendapat label brengsek. Dalam pikiran seorang Afgar, selama ia bisa selalu dekat dan melindungi Tian, tak ada lagi hal yang lebih penting daripada itu.


***


Ponsel Hera berdering ketika dirinya saat dirinya sedang asyik bercengkerama dengan Alvin di kamarnya. Pemuda itu mengerutkan keningnya saat melihat kebingungan di wajah Hera yang tengah menatap layar ponselnya.


“Ada masalah?” tanya Alvin.


Hera menggeleng tak yakin sebelum menunjukkan ID Safira yang muncul di layar ponselnya.

__ADS_1


“Angkat aja dulu,” perintah Alvin, tetapi Hera menjawab dengan gelengan singkat dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja kamarnya.


“Aku akan telepon dia nanti,” putus Hera.


Alvin mengangkat bahunya sebelum kembali melanjutkan percakapan dengan kekasihnya itu.


“Jadi, kamu setuju kita ke Ubud?” tanyanya dengan mata berbinar.


Kedua sejoli itu memang tengah asyik membicarakan mengenai rencana liburan pertengahan semester yang akan dimulai beberapa pekan lagi. Kali ini keduanya sepakat untuk tidak berlibur berombongan seperti biasanya. Tian sudah punya Meda, sehingga Hera dan Alvin berpikir bahwa kali ini mereka semua bisa bebas untuk merencanakan liburan dengan pasangannya masing-masing.


“Aku setuju kita ke Ubud, tapi kamu yakin di sana ada tempat buat camping?” tanya Hera sangsi.


Alvin memang sempat menyebutkan bahwa dia berniat menghabiskan waktu liburannya di kota pusat kesenian di Bali itu dengan melakukan camping.


“Kamu nggak dengerin aku baik-baik, sih. Ini bukan sekedar camping, Sayang. Ini glamping. Asalnya dari kata glamour dan camping. Jadi, kita nanti akan berkemah dengan fasilitas yang lengkap dan mewah. Lokasinya ada di dekat hutan dan sawah. Kamu pasti suka,” jelas Alvin bersemangat.


Yang pasti suka adalah kamu, Vin.


Tentu saja, Hera hanya mengatakan hal tersebut dalam hati. Ia tidak ingin perkataannya itu membuat Alvin berpikir bahwa ia tidak akan menyukai perjalanan kali itu sebanyak dirinya. Pada kenyataannya, Hera bahkan siap melakukan apa saja untuk membuat Alvin melupakan masalahnya. Sayangnya, tak banyak yang bisa Hera lakukan untuk membantu memecahkan masalah kekasihnya itu.


Alvin memang bercerita mengenai konflik yang tengah terjadi di keluarganya. Dominiq, kakak kandung kekasihnya itu, hampir dipenjara karena kasus kekerasan yang dilakukan laki-laki itu kepada perempuan yang tengah dikencaninya. Kasus itu memang tidak sampai ke ranah media berkat kerja keras Yorik, tetapi perbuatan itu membuat putra sulung keluarga Petra itu kehilangan banyak dukungan sebagai kandidat terkuat untuk mewarisi perusahaan maskapai penerbangan milik ayahnya, Tristan Petra.


Sayangnya, posisi kandidat penerus perusahaan nomor satu itu tidak serta merta jatuh ke tangan orang kedua paling berpengaruh di perusahaan maskapai tersebut. Sosok tersebut dikirim oleh ayah Tristan untuk mengawasi cara Tristan Petra menjalankan bisnisnya. Secara jabatan, sosok tersebut berada di bawah Tristan Petra. Namun, secara wewenang, ia memiliki kuasa yang hampir sama dengan sang Direktur Utama. 


Beberapa pendukung Dominiq yang berada di dalam dewan direksi tidak hanya menolak untuk berganti sisi, tetapi juga mengangkat nama Alvin untuk menggantikan posisi Dominiq. Kepercayaan mereka yang tinggi pada Tristan Petra membuat mereka tidak bisa menerima orang lain yang berada di luar garis keturunan keluarga Petra untuk menjadi pemimpin mereka.


Hal itulah yang membuat Alvin sempat dilanda kebingungan. Sebab, ia bukan hanya tidak menyukai dunia bisnis, melainkan juga sangat membenci dunia yang membuat beberapa anggota keluarganya itu tidak bisa akur. Sejak kecil, ia melihat bagaimana ayahnya memperlakukan seluruh saudara-saudaranya seolah mereka adalah rival bisnis yang harus dijatuhkan. Sang ayah bahkan meracuni kedua putranya agar mengikuti pola berpikirnya. 


Alvin beruntung karena dia merupakan putra kedua sehingga tidak menerima doktrin yang terlalu ketat dari ayahnya. Namun, Dominiq jelas berbeda. Sebagai putra pertama, ia dituntut untuk menjadi sosok yang meneruskan segala tindakan Tristan.


Begitulah Dominiq dibesarkan. Pemuda itu bahkan diajari memusuhi keluarganya sendiri. Jadi, tak ada alasan baginya untuk tidak menjadikan orang asing sebagai musuhnya juga.

__ADS_1


__ADS_2