
Tian turun dari angkutan kota yang membawanya ke kampusnya yang berada di kawasan Jalan Tamansari. Ia melangkahkan kaki dengan hati sedikit berdebar karena ia baru beberapa kali saja bepergian dengan diantar angkutan umum. Sebelumnya, ia dimanjakan dengan keberadaan Afgar yang dengan mobilnya selalu siap mengantar ke mana pun dirinya ingin pergi. Hanya saja beberapa waktu terakhir, Tian memang memutuskan untuk benar-benar mencoba mandiri. Contohnya pagi ini, ia bersikeras untuk melarikan diri saat Afgar hampir menyeretnya masuk ke dalam mobilnya.
Tian berjalan menuju gedung yang menjadi lokasi kelas program studinya berada, tetapi Afgar, yang sudah terlebih dahulu tiba, menghalangi langkahnya saat dirinya baru mencapai gerbang universitas. Pemuda itu melempar pandangan kesal ke arah Tian dengan lengan terlipat di depan dada seolah Tian adalah mahasiswa baru yang baru saja melakukan sebuah pelanggaran di hari pertamanya mengikuti kegiatan PKKMB. Tian hanya bisa menyeringai kecut sambil mengangsurkan kedua lengannya ke arah pemuda itu.
“Mana tasku?” kata Tian mempertanyakan keberadaan tas jinjing berisi seragam kerjanya yang ditawan oleh Afgar saat ia menolak ikut ke dalam mobil Afgar.
“Di mobil,” jawab Afgar masih keki.
“Eh, ayo ambilin!” suruh Tian sambil celingukan mencari di mana letak lahan parkir universitas barunya itu.
“Nanti aja, pas balik kuliah,” balas Afgar sembari melingkarkan lengannya di leher Tian dan menarik gadis itu untuk kembali melanjutkan langkah.
“Emangnya kamu tahu kelas siapa yang lebih duluan selesai?” tanya Tian sembari mencoba melepaskan diri dari pitingan lengan Afgar.
Tian melakukan itu bukan tanpa sebab. Saat Afgar melakukan tindakannya itu, perhatian mahasiswa-mahasiswi lain yang sedang berada di jalanan menuju tujuan masing-masing teralihkan bukan hanya kepada Afgar, melainkan juga dirinya. Tian paling benci jadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Ia bahkan tak berharap menjalin hubungan pertemanan dekat dengan siapa pun kali ini. Namun, tenaganya yang terbatas itu tak cukup untuk membuatnya mampu melepaskan diri dari Afgar.
Afgar sebenarnya tahu bahwa Tian tidak nyaman mendapati perlakuan darinya itu, tetapi ia tetap melanjutkan tindakannya untuk membuat beberapa pasang mata yang kini sedang menonton itu mengetahui bahwa ia memiliki kedekatan spesial dengan Tian. Ia merasa cara itu cukup efektif untuk memperingatkan siapa pun yang ingin mendekati dirinya ataupun Tian. Afgar melakukan itu karena dirinya bisa melihat arti dari beberapa pandangan sarat makna yang ditujukan baik kepada dirinya maupun Tian sejak keduanya menginjakkan kaki masing-masing di pelataran universitas itu. Karenanya, Afgar tak berencana untuk melepaskan Tian sampai setidaknya keduanya tiba di gedung jurusan Tian.
“Tahu dong. Kamu kelar jam 11.30, aku jam 10.45,” jawab Afgar santai.
“Kalau kamu balik duluan, tasnya anterin ke kelas lho. Awas kalau nggak!” ancam Tian sambil menunjuk wajah Afgar yang akhirnya melepaskan pitingannya ketika keduanya tiba di koridor menuju ruang kelas Tian.
__ADS_1
“Aku di kampus sampai kamu balik kok,” balas Afgar.
“Ngapain kamu nungguin aku balik?” tanya Tian dengan sebelah alis terangkat.
“Siapa juga yang nungguin kamu. Ke-geer-an banget jadi orang!” celetuk Afgar sambil mencibirkan bibirnya.
“Nah itu tadi, katanya mau ke kampus sampai aku balik,” tukas Tian tak kalah sengit.
“Ya, tapi tujuannya bukan nungguin cewek orang. Aku tuh mau ngendon di perpus,” balas Afgar sambil mencoba mengamati ekspresi yang ditunjukkan oleh Tian saat mendengar kata "cewek orang" keluar dari bibirnya.
“Ngapain kamu di perpus?” tanya Tian tanpa menanggapi sebutan yang diberikan Afgar kepadanya, membuat Afgar sedikit kecewa.
Afgar jadi bertanya-tanya, apakah meskipun setelah Afgar mempengaruhinya berkali-kali Tian masih berpikir hubungannya dengan Meda belum berakhir? Atau semua kebungkamannya itu hanya sebagai tanda bahwa ia enggan membahas permasalahan itu lebih jauh dan hanya menganggap celetukan Afgar itu sebagai angin lalu?
“Hush! Yang bener nyebutnya. Nanti kalau skripsimu bermasalah terus nggak lulus, abis kamu kena papamu,” kata Tian sambil membuat gerakan tangan seperti mengiris lehernya.
Afgar hanya mengangkat bahunya dengan cuek dan melangkah pergi meninggalkan Tian sendirian.
***
"Tian, ya?" Sebuah suara yang menyebutkan namanya, membuat gadis itu memutar pandangannya ke arah sosok yang berdiri di samping kursinya.
__ADS_1
Tian mengamati setiap fitur dari wajah gadis yang memanggilnya itu—demi menanamkan sebuah ingatan yang bisa digunakannya untuk mengenali sosoknya saat bertemu dengannya di kesempatan lain—sebelum mengangguk dan membalas senyum yang ditawarkan olehnya.
"Aku Thea," ucapnya sambil mengulurkan tangannya untuk dijabat oleh Tian. "Udah berapa lama di Bandung?"
"Sekitar satu bulan," jawab Tian tanpa berniat menjelaskan lebih banyak dari apa yang ditanyakan oleh gadis berambut sebahu itu.
"Wah. Berarti belum banyak tahu tentang spot-spot nongkrong keren yang ada di Bandung, ya?"
"Gitu deh." Tian merespon dengan jawaban yang singkat lagi.
Ada yang berubah sejak hari di mana keluarganya berantakan dan Meda meninggalkannya untuk melalui semua hari-hari berat itu sendirian. Tian tidak lagi mudah membuka diri pada orang asing. Ia sadar benar mengenai hal itu meskipun baru berselang beberapa bulan sejak dirinya menjalani mimpi buruk kehidupannya itu. Karenanya, ia ingin menjaga jarak seaman mungkin agar tidak perlu terikat dengan orang-orang yang sangat mungkin menjauh darinya karena satu dan banyak hal.
"Kalau kapan-kapan kamu mau hangout bareng, kamu bisa hubungin aku," kata Thea sambil mengeluarkan ponselnya. "Boleh kan aku minta nomor kamu?"
Tian yang dulu pasti akan langsung mengiyakan hal itu tanpa pikir panjang, tetapi dirinya yang sekarang sudah bertekad untuk terlibat dalam urusan lain selain mengumpulkan uang untuk menyambung hidup dan lulus kuliah secepat mungkin. Karenanya, ia memutuskan untuk menolak permintaan Thea dengan halus, tetapi penuh ketegasan.
"Maaf. Aku nggak terlalu suka nongkrong. Selain itu, aku harus kerja part-time dari siang sampai malam," kata Tian sambil memindahkan barang terakhirnya dari atas meja ke dalam tas.
Bibir Thea mengerucut. Bukan karena kemarahan, melainkan kekecewaan. Wajahnya yang tadi berbunga-bunga mendadak menjadi terlihat memelas. Pertahanan kokoh Tian sedikit runtuh dan digantikan dengan perasaan iba melihat semua itu.
"Tapi, kamu bisa hubungin aku kalau ada informasi soal kelas dan apa pun yang perlu aku tahu mengenai kampus kita. Aku belum terlalu familiar dengan sistem di sini soalnya," ucap Tian sambil menyerahkan ponselnya dan memberi isyarat kepada Thea untuk memasukkan digit-digit nomor pribadinya.
__ADS_1
Thea menyambut permintaan itu dengan senang hati. Segera setelah Tian selesai menyimpan nomor itu dan berpamitan kepada Thea, ia melangkah ke luar dari ruangan kelas.