Les Láches

Les Láches
Beneath The Untold


__ADS_3

“Tuh ‘kan! Aku bilang juga apa!” pekik Hera dari ujung telepon.


Tian bersyukur dirinya mengatur ponselnya ke dalam mode handsfree. Safira di sisi lain, mengumpat keras. Sepertinya, ia kurang beruntung karena lengkingan suara Hera di seberang telepon langsung menyerbu gendang telinganya. 


“Sudah aku duga bakalan jadian habis ini.” Hera melanjutkan, sama sekali tak mengacuhkan protes dari Safira.


“’Habis ini’ itu kapan? Pulang dari Kuba juga kamu sok-sok ngelamar.” Safira berhenti sejenak saat menyadari lidahnya selip, “ngeramal kalau mereka berdua bakalan pacaran. Kemarin juga pas Tian balik dari acara makan malam di rumah Meda, kamu bilang apa? ‘Besok pacaran tuh mereka’. Terus, minggu lalu pas kita ke taman...”


“Stop, stop! Nggak penting banget kamu bahas detailnya. Yang penting ‘kan tebakanku bener. Mereka bakal pacaran,” tukas Hera ngotot.


“Cuma orang buta yang nggak bisa nebak kalau Meda dan Tian akan pacaran,” sahut Safira sewot, “termasuk Afgar.”


Kediaman mengikuti kata-kata terakhir yang diucapkan Safira. Kalau mereka sedang berbincang secara langsung sekarang, bukannya melalui media telepon, Tian yakin bahwa ia dan Hera akan saling bertukar pandang tak nyaman. Karena begitulah efek yang disebabkan oleh pertengkaran pasangan yang sekaligus sahabat baik mereka tersebut. Kalau pertengkaran antara Safira dan Afgar sampai berlarut-larut, akan sulit bagi Tian maupun Hera untuk memihak di antara kedua orang tersebut. Alvin sendiri tentu akan mengikuti sisi mana pun yang dipilih oleh Hera.


"Jadi," Hera akhirnya menjadi yang pertama memecahkan kebekuan, "gimana progres dari proyek 'Mencintai dengan Damai'-mu itu?"


Hera menyebut nama rencana Safira –yang dinamai oleh Safira sendiri– untuk memperbaiki hubungannya dengan Afgar itu, seolah sedang mengutip sebaris kalimat dari sebuah buku yang sangat sakral.


"Aduh! Bikin emosi pokoknya! Aku udah mencoba untuk berubah biar bisa lebih dekat sama dia. Pulang dari Denpasar, aku kasih kabar ke dia kalau aku udah sampai di rumah. Kalian tahu apa?" Safira memberi jeda pada kata-katanya seolah mencoba menambah efek dramatis bagi kelanjutan ucapannya. "Dia tidur duluan malam itu tanpa nungguin kabar aku pulang dengan selamat atau nggak!"


"Mungkin karena masih dalam suasana berantem?" timpal Tian.


"Nggak tahu lagi deh! Terus, tadi waktu aku say, 'Morning, love', dia jawabnya satu jam berikutnya dengan pertanyaan, 'Ini Anan?'. Bisa-bisanya dia mikir hape-ku yang bahkan nggak bisa dibobol maling itu, kena bajak adikku." keluh Safira frustasi.


Tian menggaruk puncak kepalanya, bingung harus mengatakan apa untuk menanggapi hal itu. Di satu sisi, ia paham betapa Safira berharap tunangannya itu merespon semua pendekatannya dengan tindakan yang ia harapkan. Namun, di sisi lain, ia sadar bahwa sikap Afgar itu wajar. Mengingat selama ini Afgar dan Safira memang bukan tipe pasangan yang suka melakukan hal-hal romantis seperti Alvin dan Hera. Kedua pasangan terakhir itu malah tak segan untuk PDA.


"Jadi, kamu nyerah?" Tian akhirnya bertanya hati-hati.


"Nggaklah! Nyerah yang gimana dulu maksud kamu? Ngebalikin cincin tunangan yang pernah dikasih Afgar?" balas Safira cepat.


Sejenak Tian sempat merasa mendengar nada sinis pada ucapan sahabatnya itu, tetapi ia buru-buru membuang pikiran negatif itu dari kepalanya.


"Sewotnya sama Afgar aja. Jangan sama kita!" Hera menyemprot Safira dan gadis itu tertawa lebar.


"Maaf, Tian. Keceplosan."


"Nggak apa-apa, kok," ucap Tian sambil berusaha mengatur napasnya karena dadanya sedikit sesak saat memikirkan kemungkinan bahwa Safira menyimpan kemarahan padanya. Bahkan, matanya sedikit basah tanpa ia sadari.


"Intinya, aku belum nyerah soal usahaku buat merapikan hubunganku sama Afgar. Masih banyak yang belum aku tunjukin sama dia." Safira berkata lagi.


"Good luck, then," tukas Hera yang sepertinya masih sedikit emosi karena Safira membentak Tian.


Safira yang menyadari bahwa kata maaf saja tak cukup untuk memuaskan Hera, akhirnya mengalihkan topik pembicaraan dari dirinya dan berbalik menanyai Tian tentang rencananya setelah menjalin hubungan dengan Meda.


"Ya... pertama-tama mungkin aku mau mencoba mengenal Meda lebih dalam lagi. Soalnya, kemarin-kemarin aku sedikit jaga privasi dia pas mau nanya-nanya," jawab Tian sambil tersipu saat Safira bertanya apa langkah awal yang akan diambil Tian agar hubungannya dengan Meda bisa semakin mesra.


"Sama aja kayak zaman PDKT, dong. Masa pacaran cuma mau nanya-nanya aja. Sekalian aja ta'aruf," celetuk Safira gemas.

__ADS_1


"Ya, namanya juga pacar pertama. Masih polos lah," kata Hera sambil terkekeh.


Tian berdecak kesal, tak yakin apakah Hera sedang membelanya atau mendukung Safira untuk mengolok-olok langkah pendekatannya.


"Ya udah ajarin deh, Ra. Kamu 'kan lebih berpengalaman," suruh Safira.


Tian mengangguk bersemangat. Seperti yang dibilang Safira, Hera memang jauh lebih berpengalaman dalam urusan percintaan. Mantan kekasih Hera tak terhitung jumlahnya. Sejak SMP, awal mula gadis itu mengenal kata pacaran, ia sudah menjalin hubungan asmara dengan lebih dari sepuluh pria.


Mulai dari tutor pelajaran Kimia-nya saat baru duduk di kelas 8 yang masih anak kuliahan. Lalu ketua organisasi kesiswaan saat hendak naik ke kelas sembilan. Berikutnya, ketua tim bola voli yang membuat Hera memutuskan si ketua organisasi kesiswaan sebelum hubungan mereka genap satu bulan. Kemudian, menjelang ujian, ia kembali mematahkan hati pacar ketiganya itu karena berpindah hati pada seorang anggota tim bola voli SMA yang ditemuinya saat datang ke sebuah pertandingan untuk menyemangati pacar ketiganya itu.


Jangankan Safira yang hanya mendengar semua cerita itu saat ketiganya mulai dekat di kampus, Tian sendiri hampir tidak bisa mengingat semua mantan Hera itu sekalipun pernah bertemu langsung. Yang pasti Hera memang cukup berpengalaman dalam menghadapi berbagai tipe laki-laki di dunia, sehingga kisah masa lalunya itu tepat untuk dijadikan bahan referensi bagi seorang noob seperti Tian.


Hera mulai mengoceh tentang berbagai macam langkah yang diklaimnya dengan istilah "ciamik" untuk membuat hubungan Tian dengan Meda semakin mesra. Tian mendengarkan dengan seksama semua petunjuk dari Hera itu, bahkan mencatat dan merekam semua perkataan Hera. Safira tak mau ketinggalan ia ikut mengingat poin-poin penting yang bisa ia aplikasikan untuk melengkapi "teknik" miliknya.


"Intinya, aku setuju kalau semua hubungan itu basic-nya komunikasi, tapi kamu juga harus banyak menghabiskan waktu sama Meda. Kamu harus siap nemenin Meda beraktivitas dan sebaliknya Meda juga harus mau nemenin aktivitas kamu. Kalau perlu, kalian juga bikin daftar hal-hal yang belum kalian coba dan sediain waktu untuk mencoba hal baru itu berdua."


Hera mengakhiri petuah panjang lebarnya diiringi dengan sambutan tepuk tangan meriah dari Tian. Safira, di sisi lain, hanya bisa mencebik. Semua hal yang dibicarakan oleh Hera hanya menambah satu baris kalimat di dalam otaknya untuk dijadikan referensi demi mengembangkan hubungannya dengan Afgar.


Coba hal-hal baru!


***


Tian mengetik beberapa baris kalimat untuk mengakhiri bagian terakhir dari laporannya sebelum berlari ke arah sofa dan meraih ponselnya. Sebuah pesan dari Meda yang menanyakan apakah Tian ingin dijemput besok pagi membuat gadis itu tersenyum. Ia melupakan kejenuhan yang dirasakannya saat mengerjakan laporannya dan kembali bersemangat. Ia bahkan berniat melanjutkan kembali perjuangannya untuk menyunting hasil pekerjaan dan layout laporannya, yang sempat ditangguhkannya sampai esok hari itu.


"Oke. Jemput aku jam tujuh pas, ya. Aku ada kelas pagi-pagi besok."


Tepat ketika jam di dindingnya menunjukkan pukul 23.20, Tian menuntaskan pekerjaannya dan merangkak ke tempat tidurnya. Tentunya, setelah meraih ponselnya dan membawanya ke queen size bed miliknya. Ia membuka kunci layar ponselnya dan sedikit kecewa saat tak melihat nama Meda di sana. Rupanya yang mengirim pesan pada Tian sebelumnya adalah Afgar.


Pesan pertamanya setelah insiden di taman bermain beberapa minggu lalu. Karenanya meskipun tak berharap akan menerima pesan dari Afgar, Tian cepat-cepat memeriksa apa yang ingin dikatakan pemuda itu pada dirinya setelah sekian lama bungkam.


Tian. Besok aku jemput kamu, ya. Ada banyak hal yang mau aku bicarakan sama kamu.


Tian menggigit bibirnya. Ia sudah terlanjur mengiyakan tawaran yang sama dari Meda sebelumnya dan kalau harus memilih, tentu saja Tian ingin melihat wajah kekasihnya itu di hari pertamanya kembali masuk kuliah. Namun, Tian merasa bahwa Afgar dan dirinya memang punya banyak hal untuk dibicarakan. Karena itu, meskipun tahu bahwa yang dilakukannya setelah ini bisa menimbulkan kesalahpahaman jika sampai diketahui oleh Meda, ia tetap menyetujui ajakan Afgar.


Ia lalu mengirim pesan kembali kepada Meda untuk memberitahukan bahwa jadwal kelasnya diganti siang hari, sehingga Meda tidak perlu menjemputnya besok. Tidak akan ada kesalahpahaman karena semua yang dilakukannya adalah untuk menyelesaikan semua ketidaknyamanan di antara dirinya dan Afgar. Dan tidak akan ada kesalahpahaman kalau Meda tidak mengetahui pertemuan antara Tian dan Afgar.


Ya, Meda tidak perlu tahu, begitu putus Tian.


Esoknya, Meda bangun dan mengernyit heran saat menemukan dua pesan dari Tian yang isinya berbeda. Namun, Meda tidak menaruh kecurigaan sama sekali. Ia malah merasa bersemangat karena di akhir pesannya, gadis itu mengatakan bahwa ia akan datang ke rumahnya malam ini untuk mengunjungi orang tua Meda.


Meda sedikit ngeri membayangkan Tian bepergian sendiri ke rumahnya dengan kondisi tangannya yang masih digips itu. Ia juga merasa terganggu dengan fakta kalau Tian, sebagai seorang perempuan, lebih dulu berinisiatif untuk menyapa kedua orang tuanya setelah mereka meresmikan status hubungan mereka yang baru. Karenanya, Meda membalas pesan Tian dengan pemberitahuan bahwa dirinya akan menjemput Tian nanti malam, sekaligus untuk bertemu dengan Adler dan Bella.


***


Suara energik Ariana Grande pada salah satu lagunya yang berjudul Problem mengalun dari radio di Jaguar F milik Afgar. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai gedung universitas Tian dan Afgar tidak sampai dua puluh menit dan keduanya telah membuang waktu hampir lima menit untuk terdiam dalam buaian musik itu. Tian yang mulai tak sabar akhirnya memutuskan untuk membuka suara. Saat itulah ia menyadari bahwa Afgar sudah memandangnya terlebih dahulu.


"Jadi?" Tian memulai. "Apa yang mau kamu bicarakan?"

__ADS_1


"Banyak." Afgar mendesah.


Namun, saat Tian hampir memutar bola matanya pada jawabannya tersebut, Afgar kembali menambahkan.


"Tapi, yang pertama ingin aku dengar adalah jawaban dari pertanyaanku di taman bermain beberapa minggu lalu, sebelum Meda narik kamu pergi ninggalin aku dan Elmira."


"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau kamu suka sama aku, Ti?" tuntut Afgar yang menganggap bahwa alasan dari diamnya Tian adalah karena gadis itu tidak mengingat detail peristiwa di taman bermain itu.


Namun, dugaannya itu terbukti salah ketika Tian menatap matanya langsung. Gadis itu mengingat semuanya. Hanya saja ia enggan untuk memberikan jawabannya.


"Kenapa kamu juga nggak pernah bilang kalau kamu suka sama aku, Gar?"


Afgar menggigit bibirnya. Andai ia bertingkah dan berpikir seperti dirinya yang normal, ia akan dengan mudah memprediksi bahwa gadis itu pun akan berbalik melemparkan pertanyaan itu kepadanya. Hanya saja, beberapa minggu belakangan, otak dan hatinya bekerja seperti dua organ yang berada pada tubuh berbeda.


Hatinya berulang kali memerintahkan dirinya untuk segera menemui Tian setelah insiden di taman bermain, mencurahkan isi hati yang dipendamnya di tahun-tahun saat ia mulai menamai perasaan yang dimilikinya pada Tian sebagai cinta, mencoba menemukan alasan untuk memperbaiki masa lalu.


Namun, logika yang menekan perasaannya itu, mengatakan pada dirinya bahwa tak ada yang bisa ia bangkitkan dari masa lalu itu. Bahwa Tian mungkin sudah lupa sama sekali tentang perasaannya pada Afgar di masa lalu berkat keberadaan Meda. Dan bahwa Afgar sudah memiliki Safira. Otaknya terus-menerus mendengungkan fakta tersebut di rongga kepalanya, seolah kalau ia diam sedetik saja, Afgar akan lupa sama sekali pada sosok gadis yang menjadi tunangannya sejak dua tahun lalu itu.


"See? Kamu juga nggak bisa jawab, 'kan?" Suara Tian menarik Afgar dari lamunannya. "Itu karena alam bawah sadar kamu tahu kalau perasaan kamu itu cuma sesaat. Lagipula apa gunanya kita membahas semua ini, Gar? Kamu sudah punya Safira dan aku sudah punya Meda."


"Apa perasaan kamu ke aku dulu juga sesaat?" tanya Afgar lagi.


"Sudah aku bilang, kan? Itu semua udah nggak ada artinya, Gar."


Tian mengelak untuk menjawab, membuat rasa penasaran aneh yang bersarang di hati Afgar semakin meradang.


"Ada, Tian. Kalau dulu kamu bilang kamu suka sama aku, aku nggak akan nerima permintaan kamu untuk berkenalan dengan Safira. Kita bisa...."


"Cukup, Gar!" potong Tian.


Mata Tian dipenuhi kekecewaan dan kemarahan saat menatap Afgar.


"Kamu nggak boleh berandai-andai tentang masa lalu. Tidak ada kata kalau, yang ada adalah kenyataan. Kenyataan bahwa kamu adalah tunangan Safira dan kenyataan bahwa aku adalah pacar Meda. That's it!"


"Kamu pacaran sama Meda?" Afgar hampir berteriak saat mendengar perkataan itu meluncur dari bibir Tian.


"You heard me right." Tian menjawab cepat.


"Kenapa kamu nggak bilang sama aku?"


"Again, Gar! Aku juga nggak meminta kamu untuk lapor ke aku tentang siapa pun perempuan yang kamu ajak jalan setiap malam minggu. Kamu juga nggak bilang mau tunangan sama Safira sampai kamu ngirim undangan ke rumah, 'kan? Lantas kenapa aku harus melaporkan semua tentang aku dan Meda ke kamu?"


"Jadi, kamu cuma mau membalas..."


"Membalas? Apa yang harus aku balas? Kamu pikir urusan hati ini seperti pertandingan tinju yang harus saling balas?" Tian menggeleng tak mengerti. "Aku sayang sama Meda dan aku pacaran sama dia karena itu, bukan untuk menyakiti siapa-siapa. Apalagi sahabatku."


Tian turun dari mobil Afgar yang sudah tiba di pelataran kampus sejak beberapa menit lalu, meninggalkan Afgar yang semakin tenggelam dalam kekalutannya. Pemuda itu bahkan tak sadar bagaimana caranya ia bisa berhasil memarkirkan mobilnya tanpa menabrak sesuatu atau seseorang dalam prosesnya.

__ADS_1


__ADS_2