
Tian diam-diam memijat pelipisnya sembari melihat daftar menu yang terbuka lebar di hadapannya. Meda mengamati setiap gerak-gerik gadis itu sejak keduanya berpisah dengan Lisandro di depan sebuah restoran yang berada di jalan utama kota Viñales. Beberapa kali gadis itu menunjukkan ekspresi tidak nyaman di wajahnya. Awalnya, Meda mengira itu hanyalah efek dari kejadian sebelumnya. Namun, setelah melihat bahwa bibir Tian mulai memucat, Meda menyadari bahwa tubuh gadis itu sedang dalam kondisi kurang baik.
Meda menduga itu karena efek hujan tipis-tipis yang sempat turun dalam perjalanan menuju kota tadi. Karenanya, ia memesan segelas susu hangat pada pelayan yang mencatat pesanan mereka. Saat pelayan itu menjauh, Meda menuangkan air putih ke gelas Tian.
"Kamu sama sekali tidak minum apa pun sejak kita berangkat dari Havana." Meda menjawab pandangan bertanya-tanya gadis itu.
Tian tersenyum kecil. "Makasih."
"Kamu tidak bisa makan apa pun selain roti atau memang kamu sengaja cuma makan roti karena alasan tertentu?" Pertanyaan Meda berikutnya hanya dijawab sebuah kernyitan dahi oleh Tian.
"Kalau kamu memang tidak bisa makan apa pun selain roti, aku tidak akan memaksa kamu buat makan ayam panggang yang aku pesen tadi. Tapi, kalau kamu bisa makan-makanan selain roti, kali ini perutmu harus bener-bener diisi makanan berat," lanjut Meda sambil membersihkan peralatan makannya.
"Kenapa aku harus makan makanan kamu?" Tian tertawa bingung.
"Karena aku tidak akan bisa menghabiskan seporsi ayam utuh sendirian." Meda meletakkan serbetnya. "Tapi bukan itu masalahnya. Perut kamu bisa mencerna makanan selain roti, 'kan?"
Tian tidak bisa menghindar dari Meda yang menatap matanya dengan tajam. Akhirnya, Tian mengangguk lemah.
"Oke. Kalau gitu roti yang sudah kamu pesan bisa dibungkus." Meda menepuk-nepukkan telapak tangannya seolah baru saja menyelesaikan sebuah tugas berat.
"Ini buat aku?" Tian mengerjap bingung saat Meda mendorong gelas berisi susu hangat yang datang bersama pesanan lainnya ke arah Tian.
"Kamu kehujanan dan aku tidak membawa jaket yang bisa aku pinjamkan ke kamu. Jadi, aku harap itu cukup."
"Kamu juga kehujanan, 'kan?" Tian mengangkat sebelah alisnya.
"I'm fine."
"Kalau gitu aku juga fine." Tian mendorong gelas itu kembali ke arah Meda. "Jangan karena aku cewek, lalu kamu memandang aku sebagai sosok yang lemah."
"Cewek dan feminisme," dengus Meda. "Gini ya, Tian. Aku bukannya sedang mencoba bersikap seolah kamu perlu dilindungi atau apa. Aku melakukan ini karena aku lihat muka kamu pucat setelah tadi sempat kehujanan. Dan jangan nyalahin orang yang memandang kamu seolah kamu adalah orang yang lemah. Kamu sendiri bikin diri kamu kelihatan kayak orang kurang asupan gizi gara-gara tidak mau makan apa pun selain roti."
"Kamu kedengeran kayak Afgar."
Tian akhirnya menarik kembali gelas susu itu dan menyesap isinya. Sensasi hangat di perutnya itu merayap cepat ke seluruh tubuhnya.
"Tidak perlu Afgar, semua orang juga akan bereaksi sama kalau lihat apa yang kamu makan seharian ini."
Meda merebut kembali gelas itu dari tangan Tian dan menenggak isinya. Untung saja, berkat suhu yang cukup rendah di wilayah lembah Viñales, isi gelas itu tidak sepanas ketika baru diantar oleh pelayan tadi. Namun, tetap saja lidah Meda sedikit mati rasa karena tindakannya itu. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba tidak senang mendengar nama Afgar disebut.
"Apa? Aku juga kehujanan." Meda melempar tatapan kesal pada Tian yang memandangnya dengan bingung.
Tian yang hampir terbiasa menghadapi tingkah eksentrik pemuda itu memutuskan untuk mengabaikannya dan mulai menusuk-nusuk permukaan ayam panggang yang diletakkan di tengah meja. Ia mencoba mencari bagian yang membuatnya mendapatkan potongan besar daging tanpa tulang. Meda yang melihat Tian "bekerja keras" hanya untuk makan, semakin yakin kalau label "lemah" tidak berlebihan untuk dilekatkan pada gadis itu. Ia meraih pisau dan piring Tian sebelum memotong bagian paha ayam itu.
"Jangan ada tulangnya." Tian meminta dengan sungguh-sungguh.
"Oke. Sekalian disuapin?" Meda bertanya dengan ekspresi yang dibuat seserius mungkin.
Tian langsung cemberut.
"Nasinya tambahin." Perintah Meda saat Tian hampir meletakkan sendok nasinya.
Tian menahan diri untuk tidak membayangkan Afgar atau menyebut namanya mendengar titah-titah yang diberikan pemuda itu. Mengingat tingkah Meda beberapa saat lalu, Tian hampir yakin kalau kali ini bisa saja Meda kalap lalu merebut kembali piring miliknya yang berisi potongan daging paha ayam yang telah dipisahkan dari tulangnya itu.
"Menurut kamu lagunya gimana?" Meda membuka percakapan kembali saat kediaman menyelimuti suasana makan malam itu.
"Enak," jawab Tian sekenanya.
"Lagunya, bukan ayamnya," cibir Meda yang melihat Tian masih asyik dengan potongan ayamnya yang kedua.
Tian mendongak kesal.
__ADS_1
"Iya, enak. Meskipun aku enggak tahu artinya."
"Ojalá pase algo que te borre de pronto.
Una luz cegadora, un disparo de nieve." Merdu suara Meda yang ikut melantunkan lagu yang diputar oleh sang pemilik restoran itu, menggelitik saraf-saraf pendengaran Tian, membuat gadis itu sepenuhnya mengalihkan perhatiannya dari makanannya. "Ojalá por lo menos que me lleve la muerte,
Para no verte tanto, para no verte siempre. En todos los segundos, en todas las visiones.
Ojalá que no pueda tocarte ni en canciones."
Meda tersenyum lembut pada Tian yang menatapnya dengan bibir sedikit terbuka.
"Judulnya Ojalá, artinya 'semoga'," terang Meda.
"Lagunya tentang apa?" tanya Tian sembari menopang dagu dengan tangan kanannya.
"Aku tidak tahu apa yang dipikirkan penulisnya saat bikin lagu ini. Tapi, yang aku tangkap, ini adalah lagu patah hati." Meda meneguk air putih dari gelasnya sebelum kembali menjelaskan. "Dia berharap tidak dipertemukan lagi dengan perempuan yang pernah dicintainya itu."
Tian menutup mulutnya. Matanya mendadak terasa basah. Ia tak menyangka pemuda itu mampu merangkum sebuah kepedihan dalam kalimat sesingkat itu.
Meda mendorong kotak tisu mendekat ke arah Tian.
"Thanks," balas gadis itu dengan suara parau.
Kedua muda-mudi itu meninggalkan teras restoran itu lima menit sebelum bus terakhir yang akan mengantar mereka kembali ke Havana tiba.
"Tidur aja kalau kamu capek. Aku bisa bantu jaga bawaan kita," tawar Meda begitu keduanya duduk di bangku belakang bus yang hanya diisi oleh lima orang pelancong itu.
"Kita bisa gantian separuh perjalanan nanti," balas Tian yang memang mulai merasa matanya susah terbuka, tetapi menahan diri karena tidak ingin menjadi beban bagi Meda.
Meda yang memahami maksud Tian hanya mengangguk setuju meskipun ia sendiri tidak berencana untuk membangunkan gadis itu sebelum mereka tiba di hotel. Tian tertidur dengan cepat. Meskipun Meda sudah berkata akan menjaga barang bawaannya juga, gadis itu memeluk erat ranselnya sambil menyandarkan kepalanya di jendela bus. Awalnya, Meda membiarkan gadis itu sendirian. Namun, karena di tengah perjalanan bus itu melewati medan yang sedikit berkerikil dan membuat kepala gadis itu berkali-kali beradu dengan kaca bus, Meda memutuskan untuk menarik tubuh gadis itu agar bersandar di bahunya.
Tian menggeliat pelan. Refleks, tubuhnya mencoba mencari tempat bersandar yang lebih empuk karena pundak kurus Meda tidak bisa memberikan rasa nyaman untuk sisi kepalanya. Gadis itu baru berhenti bergerak-gerak ketika pelipisnya bersandar di sisi leher Meda. Uniknya, lengannya masih memeluk erat ransel itu di depan dadanya. Meda sendiri baru bisa kembali bernapas setelah gadis itu tenang.
Siksaan baru berhenti ketika Tian kembali mengubah posisi tidurnya menjadi bersandar tegak di kursi bus. Meda membiarkan Tian tetap berada di posisi itu setelah memeriksa bahwa mereka akan tiba di pemberhentian bus kurang dari 10 menit lagi.
"Tian. Kita sudah sampai Havana." Meda menepuk-nepuk lengan Tian lembut. Gadis itu membuka matanya perlahan, masih belum sepenuhnya terjaga ketika Meda membimbingnya untuk berjalan menuruni bus.
Tian baru benar-benar terjaga ketika hawa dingin Havana menyergap tubuhnya. Spontan dirinya merapatkan diri ke arah Meda. Pemuda itu tertawa kecil melihat Tian yang menggigil sambil memeluk ranselnya erat-erat.
"Yuk," ajak Meda sembari menggenggam tangan Tian dan membimbingnya berjalan menuju bangunan hotel mereka.
"Kenapa kamu enggak bangunin aku tadi?" Tian mencoba mengalihkan perhatian dari rasa aneh yang menjalar dari ujung jemari yang digenggam Meda itu.
"Kamu tidak sadar aku membangunkan kamu berkali-kali?" Meda pura-pura memasang wajah bingung.
Mata Tian melebar tak percaya. Ini pertama kalinya ada orang yang mengeluh saat membangunkannya. Biasanya Tian sangat mudah terbangun. Namun, mengingat bahwa hari ini memang cukup melelahkan, ia memutuskan untuk menelan mentah-mentah pernyataan Meda. Bibirnya hampir mengucapkan kata maaf ketika dilihatnya sudut bibir Meda berkedut-kedut. Beberapa detik kemudian, pemuda itu tertawa lepas.
Saat itulah Tian sadar kalau dirinya ditipu. Tian hanya bisa mendengus kesal, sementara Meda merasa berhasil membalas perbuatan Tian selama dalam bus tadi. Meskipun hal itu dilakukan Tian di luar kesadaran, tetap saja hal itu memberi dampak yang cukup menyusahkan baginya. Meda bahkan masih bisa merasakan debaran di dadanya saat mengingat momen tersebut.
"Besok kamu ada rencana ke mana?" tanya Tian saat keduanya berada di dalam lift yang menuju ke lantai tiga, tempat suite mereka berada.
"El Nicho," jawab Meda tanpa ragu.
Tian membuka bibirnya, bersiap untuk mengatakan sesuatu. Namun, beberapa detik kemudian ia merogoh ke dalam ranselnya dan mengeluarkan catatan miliknya.
"I know it." Tian kembali menatap Meda setelah selesai membaca sesuatu dari dalam buku kecil itu.
Meda hanya mengangkat bahu tak peduli.
"Serius deh. Kamu akan ikut ke mana aja aku pergi?" Tian terkekeh di sela ucapannya.
__ADS_1
Meda mengangguk mantap.
Pintu lift terbuka dengan diiringi dentingan nyaring.
"Thanks! Aku enggak bisa bayangin akan serepot apa aku kalau semisal hari ini enggak ada kamu. Maksudku, kalau enggak ada temen travelling." Tian menggosok tengkuknya salah tingkah.
Meda tersenyum lebar. "Tidak masalah. Kamu temen jalan yang asyik kok."
Keduanya berhenti di depan pintu kamar masing-masing yang bersebelahan.
"Night, Meda," kata Tian sebelum membuka pintu kamar dengan kunci yang dibawanya.
Meda membalas dengan lambaian tangannya.
"Tian?" Sebuah suara dari kamar utama yang berseberangan dengan kamar Tian membuat gadis itu hampir menjerit.
"Safira?" Tian berhasil mengenali sosok dalam balutan baju tidur berpotongan dada rendah yang kini berjalan ke arahnya itu.
"Kamu dari mana aja seharian ini, Ti?" Safira menarik Tian untuk duduk di salah satu sofa di ruang tengah suite itu.
"Jalan-jalan ke Viñales sama Meda. Afgar enggak cerita ke kamu?" Tian balik bertanya
"Jangankan cerita, ngomong aja enggak. Dia badmood berat waktu aku ketemu dia buat makan malam tadi. Dia bilang, dia nelepon kamu tadi siang. Habis itu dia diem sampai kami jalan balik ke kamar." Safira terlihat sedikit kesal.
"Maaf banget ya, Fir. Gara-gara aku ...."
Safira mengangkat tangannya sebelum gadis itu melanjutkan perkataannya lebih jauh.
"Bukan salah kamu. Sudah saatnya Afgar berhenti bersikap seperti itu ke kamu. Kalian sama-sama sudah dewasa. Sebentar lagi punya kehidupan sendiri-sendiri. Kamu dan dia bukan lagi anak kecil yang sehari-harinya cuma main bareng atau berangkat ke sekolah yang sama."
Ucapan Safira itu entah kenapa terasa sangat menusuk bagi Tian. Namun, Safira sama sekali tidak menangkap kesedihan yang terpancar di mata sahabatnya itu.
"Yang lebih penting adalah cerita antara kamu dan Meda. Kalian sudah bener-bener baikan, 'kan? Ya Tuhan! Aku ikut tegang denger kalian berantem di pesawat kemaren." Safira mengelus dada.
"Kami sedang saling mengenal aja, Fir." Tian tersenyum menenangkan.
Mata Safira menyipit.
"Boleh aku anggap ini sebagai sinyal positif?"
Dahi Tian berkerut. "Maksudnya?"
"Sinyal positif kalau ada benih-benih cinta di antara kalian berdua." Safira tertawa nyaring segera setelah menyelesaikan ucapannya.
"Cinta apa? Setengah hari aja aku enggak berantem sama dia itu sudah bagus banget." Tian menjawab malas.
"Kalian berantem lagi?" Senyuman di wajah Safira memudar.
"Iya. Kami sempat berantem tadi pagi, tapi setelah itu kami sepakat buat berdamai."
"Coba ceritain sedetail-detailnya semua kejadian hari ini." Safira melipat kedua kakinya dalam posisi bersila sambil bertopang dagu.
Tian menghela napas dan mulai berkisah.
"That's definitely love between you guys. Aku enggak percaya bakalan secepat ini bikin kalian cinlok!" Safira melonjak-lonjak bahagia.
"Safira, kami bahkan belum resmi temenan!" sergah Tian.
Safira menggeleng mantap.
"Aku mau mengenal kamu lebih baik, Tian." Safira mencoba menirukan kalimat yang diucapkan Meda untuk berbaikan dengan Tian tadi pagi.
__ADS_1
Tentu saja, gadis itu tidak menirukan dengan benar dan menyuarakan versinya sendiri. Tian memutuskan untuk tidak mengoreksi atau membenarkan pendapat sahabatnya itu. Tian memutuskan untuk menghemat tenaganya karena pembelaannya hanya akan jatuh ke telinga Safira yang telah ditulikan dan dibutakan oleh imajinasinya sendiri.